Cross The World With System

Cross The World With System
Lena dan beruang putih



...----------------...


Ketika dalam perjalanan mencari Lena, kebetulan sekali Leon berpapasan dengan Azco. Azco juga terlihat sedang menjinjing seseorang yang tidak lain yaitu Zekiel.


Di perjalanan tadi Azco bertemu dengan Zekiel dan langsung membawanya, dan saat terjadi ledakan besar barusan, Azco langsung buru-buru melesat kearah ledakan tersebut karena sudah tahu siapa yang menyebabkan ledakan sebesar itu.


Azco langsung melepaskan Zekiel dari jinjingannya dan kemudian memutar-mutar tubuh Leon untuk memeriksa apakah ada yang lecet atau tidak.


"Pangeran, apakah anda tidak kenapa-napa?" Tanya Azco masih memutar tubuh Leon, takut Leon terluka karena kalau sedikit saja Leon terluka, maka ia akan kena marah oleh Xio.


"Iya aku tidak kenapa-napa." Jawab Leon sbil memegang keningnya "dan berhentilah memutar-mutar tubuhku.".


"Hufft baguslah kalau tidak kenapa-napa." Azco menghela nafas.


"Ya ayo sekarang kita harus mencari Lena!" Seru Leon diangguki oleh Azco.


Sementara itu disisi Lena, saat ini ia sedang mencari timnya. Tapi ketika sedang berjalan, ia tidak sengaja mendengar tangisan yang berasal dari sungai.


Lena berjalan kearah suara tersebut, dan yang pertama ia lihat yaitu Seekor beruang putih gendut dan besar sedang menangis di pinggir sungai.


"hiks...hiks...kenapa aku tiba-tiba menangis?" Kata beruang tersebut.


"Itu karena kamu baru saja meminum air dari sungai menangis."


Beruang tersebut langsung menoleh kebelakang dan ia melihat seorang gadis cantik berambut putih berjalan mendekatinya.


"Hiks....apakah kamu mengerti apa yang aku katakan?" Tanya beruang masih menangis dan dijawab anggukan oleh Lena. Beruang tersebut terkejut karena baru tahu kalau ada manusia yang bisa mengerti bahasanya.


Sesampainya di dekat beruang itu, Lena kemudian mengelus bulu halus Berung tersebut. dan entah bagaimana beruang tersebut langsung dapat merasakan rasa nyaman dan tenang ketika telapak tangan Lena bersentuhan dengan bulunya.


"Tuan beruang kenapa kamu meminum, air sungai ini?. Apakah kamu tidak tahu kalau selama 24 jam kamu tidak di obati makan kami tidak akan berhenti menangis selamanya." Ucap Lena.


"Apa?!" Respon beruang itu. "Nona apakah kamu tahu bagaimana cara mengobatinya?" Tanyanya.


"Aku tahu resep dan cara membuat penawarnya, tapi saat ini aku tidak memiliki bahan-bahannya." Jawab Lena.


"Tapi kamu tenang saja, aku tahu bagaimana cara mendapatkan bahan-bahannya dengan cepat." Kata Lena kemudian mengeluarkan sebuah harmonika berwarna hijau di tangannya.


Harmonika tersebut adalah sebuah item yang bisa menarik perhatian binatang-binatang dengan Suara yang di keluarkan nya. Xio sengaja memberikan harmonika tersebut pada Lena, karena tahu Lena sangat suka dengan hewan-hewan apalagi Lena juga bisa berbicara dengan mereka.


Lalu Lena-pun Mulai meniup harmonika tersebut dan memainkannya sehingga menciptakan lagu yang menenangkan hati karena suara dari harmonika itu seperti suara dari alam.


Beruang awalnya bingung kenapa Gadis dihadapannya itu malah memainkan musik, tapi tak berselang lama satu persatu hewan-hewan kecil seperti burung, kelinci, tikus, dan lainnya satu-persatu mulai datang menghampiri Lena dan mengelilinginya. Hewan-hewan tersebut seperti ikkit bersenandung mengaluni musik Lena.


Pemandangan yang sangat indah dilihat dan didengar, itulah yang dapat orang Katakan kalau melihat Lena saat ini.


Dengan seorang gadis cantik nan imut berdiri ditengah ramainya Hewan-hewan kecil menari dan bersenandung sambil diiringi alunan musik.


Setelah banyak hewan-hewan yang berdatangan, Lena pun memberhentikan permainan musiknya. "Hai teman-teman!" Sapa Lena tersenyum dan dijawab oleh suara-suara khas hewan-hewan tersebut, seperti kicauan burung, decitan tikus dan lain-lainnya.


"Apakah kalian mau membantuku mencari bahan-bahan untuk menyembuhkan tuan beruang?" Tanya Lena Berjongkok.


"Baiklah kalau begitu tolong Carikan ......." Lena menjelaskan apa-apa saja yang harus di ambil. Selesai menjelaskan tugas mereka, Semuanya langsung bubar dan berpencar untuk memulai pencariannya.


"Nah sekarang kita tinggal tunggu saja mereka kembali." Ucap Lena berjalan kembali mendekati si beruang.


"Apakah mereka benar-benar bisa melakukannya?" tanya beruang.


"Tenang saja, aku jamin sebentar lagi juga mereka kembali." Jawab Lena. "Ngomong-ngomong tuan beruang, apakah aku boleh berbaring di punggungmu?" Tanya Lena sedikit malu-malu.


"Silahkan saja." Jawab Beruang langsung tengkurap seakan mempersilahkan Lena untuk segera naik ke punggungnya.


Lena langsung saja naik keatas punggung si beruang kemudian membaringkan tubuhnya dan berguling-guling diatasnya. Beruang tersebut tertawa melihat kelakuan Lena yang seperti anak kecil, karena beruang tersebut melihat Lena dalam ilusi jadi ia tidak tahu kalau Lena sebenarnya memang anak kecil.


"Tuan beruang bulumu sangat halus dan wanginya juga seperti bunga." Ucap Lena.


"Hehe...hiks..hiks..itu karena aku selalu merawat buluku." Kata sang beruang tertawa tapi juga menangis sehingga membuat Lena tertawa, begitupun dengan sang beruang yang ikut tertawa tapi masih di selingi dengan isakan tangis.


"Hahaha...Siapa sih yang menciptakan sungai ini?, sungguh kreatif sekali." Ucap Beruang.


"Ehmm sungai ini dibuat oleh papahku." Jawab Lena dengan santainya.


"Hahh?, sungguhan?" Tanya beruang dan di jawab anggukan oleh Lena.


"Apakah orang tua nona adalah dewa?" tanya beuang lagi.


"Aku tidak menganggap mereka seperti dewa, tapi lebih dari dewa. Karena merekalah yang sudah memberikan rasa sayang dan kebahagiaan padaku yang sebelumnya belum tahu bagaimana rasanya disayangi oleh kedua orang tua." Jawab Lena.


"Aku dan kakakku sangat menyayangi mereka lebih........ dari apapun." Lanjutnya memanjangkan kata Lebih.


Awalnya beruang semapat bingung apa yang dimaksud dengan belum tahu bagaimana rasanya disayangi kedua orangtua, tapi kemudian ia berpikir kalau meungkin kalau kedua orangtuanya saat ini bukanlah orang tua kandungnya.


"Oh lihat mereka sudah kembali." Kata Lena menunjuk hewan-hewan yang tadi dimintai pertolongan olehnya.


Lena langsung turun dari punggung sang beruang dan kemudian mengeluarkan alat-alat untuk membuat ramuan.


Lena juga mengeluarkan Lux agar membuatkannya api. Setelah semua bahan-bahan sudah siap, Ia pun langsung memulai membuat ramuan penawarnya.


hanya butuh waktu setengah jam saja dan Lena pun telah selesai membuat penawar tersebut. Ia langsung menyuruh beruang tadi untuk langsung meminum penawar tersebut, dan ternyata benar saja sang beruang tiba-tiba saja sudah tidak menangis lagi.


"Terimakasih nona sudah membuatkan ku penawarnya!" Ucap beruang sambil menunduk.


"Ya sama-sama, aku senang bisa membantu." Jawab Lena. "Tuan Beruang, bolehkah aku tidur di punggungmu lagi?" Tanya Lena karena ia sangat suka dengan kelembutan bulu beruang tersebut, sehingga membuatnya seperti sedang diatas kasur yang hangat dan lembut.


Beruang tersebutpun mempersilahkannya. Lena langsung membaringkan tubuhnya diatas punggung sang beruang dan kali ini ia sambil memainkan harmonikanya kembali sehingga memanggil lebih banyak hewan-hewan kedekatnya.


********


"Sayang aku akan keluar lagi." Ucap Xio diangguki oleh Ellisa. posisi mereka saat ini saling berhadapan dengan Xio yang duduk dibawah, sedangkan Ellisa duduk di pangkuan Xio.


"Ahhh!!" Ellisa dan Xio mendesah bersamaan, dan Ellisa langsung memeluk Xio dan mencakar punggung nya.


Ketika Ellisa mencoba untuk bangkit, malah ditahan oleh Xio dengan mendekapnya. "Jangan dulu mencabutnya, biarkan seperti ini untuk sementara, karena aku ingin mengunjungi anak-anakku agak lama lagi." Ucap Xio tidak membiarkan Ellisa mencabut itunya walupun sudah terlihat cairan-cairan putih yang sudah bercucuran di area bawahnya. Elissa pun hanya bisa pasrah duduk diatas Xio dengan memeluk Xio, walaupun dia merasakan sesuatu yang masih berdenyut-denyut didalamnya.


"Lihatlah sayang anak kita sangat cantik." ucap Xio menunjuk layar yang menunjukkan Lena sedang tiduran diatas beruang sambil memainkan harmonika.


Ellisa melirik kearah yang ditunjukkan Xio dan tersenyum, "Heem apakah kamu bisa mengambil gambarnya?" Kata Ellisa dengan suara agak Lemas.


Muachh!!


Sebenarnya layar yang menampilkan setiap peserta tersebut adalah hasil rekaman layar dari alat seperti drone kamera yang berbentuk layaknya tanaman kecil, dan alat tersebut Xio beli dari System dengan harga yang tidak terlalu mahal.


"Ngomong-ngomong mau sampai kapan kamu akan membiarkannya didalamku?" Tanya Menatap Xio serius, tapi malah kelihatan imut oleh Xio.


"Hehe sampai aku sudah tidak tegang lagi." Jawab Xio langsung mencium bibir Ellisa dan kemudian berdiri dengan masih memangkunya. "Apakah kamu sudah siap keronde berikutnya?"


"Serius kita akan lanjut?" Tanya Ellisa


Xio tersenyum, "Bukankah aku tadi sudah mengatakannya, aku akan menydahinya kalau itu ku sudah lemas." Jawab Xio mendudukan Ellisa dikursinya dan kemudian mulai memaju mundurkan pinggulnya.


'Kalau begini si tidak akan ada selesainya.' Batin Ellisa sambil membelalak matanya karena milik Xio menembusnya sampai dalam.


********


Kembali ke sisi Lena, Saat ia masih berbaring di atas punggung sang beruang, tiba-tiba saja ia merasakan ada beberapa orang yang sedang berjalan kearahnya.


"Nona sepertinya ada beberapa orang yang sedang kemari." Kata Beruang yang ternyata merasakannya juga.


Tiba-tiba saja di langit terlihat ada banyak sekali anak panah yang mengarah tepat di atas Lena serta teman-teman hewannya.


"Aqua:Defension!" Lena meneriakkan Skill-nya, dan karena mereka berada didekat sungai sehingga dengan cepat munculah barrier yang terbuat dari air mengelilinginya.


Walaupun terbuat dari air, tapi ternyata anak panah yang melesat dengan cepat tersebut tidak mampu menembus pertahanan yang Lena buat sama sekali, dan malahan anak-anak panah tersebut langsung tenggelam didalam pertahan milik Lena.


"Boleh juga ternyata kamu gadis kecil." Terdengar suara seoarang pria dewasa dari balik semak-semak.


"Hah?, memangnya kenapa kalau aku bisa?, apakah itu masalah?" Ucap Lena dengan polosnya. beruang yang mendengarnya pun berusaha agar tidak tertawa.


Dari balik semak keluarlah pria yang berbicara barusan dan dibelakangnya terdapat beberapa orang lagi yang kemungkinan adalah teman satu Tim-nya.


"Hei bocah!, cepat pergilah!, kami hanya akan membunuh monster-monster yang bersamamu." Ucap salah seorang pria.


"ckckck tidak sopan sekali, sudah datang-datang langsung menyerang, dan sekatang tiba-tiba ingin mengusirku." kata Lena berdecak. membuat pria barusan dan temannya seketika merubah ekspresi wajahnya menjadi marah.


"Sudahlah bos, kita langsung serang saja!" Seru salah serang pria.


"Nona pergilah!, biar aku yang melawan mereka." Ujar beruang.


"Jangan khawatir, aku juga bisa melawan mereka sekaligus." jawab Lena, sementara orang-orang yang melihat Lena menjadi bingung karena dari tadi Lena berbicara sendiri atau dengan beruang.


"Siapkan busur kalian!" perintah salah seorang pria yang kemungkinan adalah ketua timnya, merekapun langsung mengarahkan busur mereka kearah Lena dan beruang.


"Aqua:Caresio!" Sebelum mereka melepaskan anak panah mereka sudah terdahulu oleh Lena yang meneriakkan Skillnya.


Air sungai yang seawalnya tenang, seketika membumbung tinggi kelangit sudah seperti ombak yang sudah siap untuk menerjang.


Para pria yang tadinya berniat untuk menyerang Lena tiba-tiba saja di buat melongo sambil menenggak keatas menatap langsung Air yang membumbung tinggi keatas tersebut. Secara bersamaan mereka menelan Saliva nya.


"Lari!!!" Seru ketuanya, tapi sayangnya mereka sudah terlambat karena air tersebut sudah mulai turun dan langsung menerjang mereka semua dengan kerah dan hingga ada yang sampai membuatnya menabrak pohon. Akhirnya merekapun mati karena tenggelam, namun tidak benar-benar mati, karena mereka akan di kembalikan ke arena.


"Wow!!, Nona hebat sekali!" kagum beruang dengan mata berbinar.


"Haha itu biasa saja." jawab Lena, "Oh ya namaku Lena, jadi panggil saja aku Lena." lanjut Lena memperkenalkan dirinya tanpa menggunakan nama samaran nya.


"Apakah tuan beruang tidak mempunyai nama?" Tanya Lena di jawab anggukan oleh beruang.


"Bagaimana kalu aku memberikan nama untuk tuan beruang?" Ujar Lena.


"Tapi bukankah itu berarti melakukan kontrak?" Tanya beruang.


"Memangnya kenapa?, apakah tuan beruang tidak mau membuat kontrak denganku?" kata Lena bertanya balik dengan ekspresi sedih.


"Ah tidak-tidak bukan begitu, tentu saja aku mau." Jawab beruang tidak tega melihat wajah bersedih Lena.


"Baiklah sekarang namamu adalah Felco!" Ucap Lena seketika bersemangat.


"Terimakasih nona!" Kata beruang yang sudah memiliki nama Felco. "Kalau boleh tahu apa arti nama Felco?" tanyanya.


"Felco artinya putih, karena kamu mempunyai bulu yang seputih salju jadinya aku memberikanmu nama tersebut." Jelas Lena.


"Hmm aku sangat suka dengan namanya!" kata Felco tersenyum.


Lena langsung memeluknya dan menggesek-gesekkan pipi mereka gemas, Felco yang di perlakukan seperti itupun sekitaka wajahnya tersipu.


"Nona bukankah nona sedang mencari Kaka nona?" tanya Felco dan dijawab anggukan oleh Lena.


Felco kemudian langsung mengangkat Lena dan mendudukannya di punggungnya. "Kalau begitu ayo kita cari bersama!" Ucap Felco mulai berjalan dengan Lena menunggangi dirinya.



Mereka berjalan dengan diikuti hewan-hewan kecil dibelakang mereka karena mereka sangat suka berada di dekat dengan Lena.


"Nona ada yang bergerak kearah sini dengan kecepatan tinggi!" Kata Felco.


Lena tersenyum dan turun dari punggung Felco, "Itu kakakku." jawab Lena dan benar saja tiba-tiba saja Leon sudah berada dihadapan mereka.


"Lena!, Apakah kamu tidak apa-apa?, barusan kakak melihat air yang sangat tinggi berasal dari arah sini." tanya Leon memeriksa sekeliling tubuh Lena.


"Aku tidak apa-apa, lalu ledakan tadi apakah Kakak yang membuatnya?" Jawab Lena bertanya balik.


"Hehe iya tadi....." Leon menceritakan ceritanya ketika melawan ular tadi pada Lena.


Felco yang kebetulan melihat ledakan besar tadi yang ternyata di sebabkan oleh Leon serta skill milik Lena tadi, satt ini hanya bisa berkata 'Adik dan kakak sama-sama monster'.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG