
...----------------...
Kemana roh seseorang ketika mereka meninggalkan dunia?
Tentu saja mereka akan pergi ke After Life atau alam dimana semuanya dimulai kembali setelah suatu kehidupan berakhir. Mungkin kebanyakan orang yang sering berbuat kebajikan selama hidupnya akan menggambarkan Kehidupan setelah kematian akan menjadi kehidupan dimana semuanya akan terasa nyaman, aman dan menyenangkan.
Benar. Orang yang selama hidupnya lebih sering beramal baik akan hidup seperti di Afterlife. Dan tempat untuk orang-orang tersebut dinamakan Sanctuary (Surganya para roh baik yang telah meninggal dunia).
Sedangkan untuk orang yang sering berbuat buruk dan banyak membuat dosa selama hidupnya, mereka pastinya akan ditempatkan di tempat seharusnya mereka berada. Tempat yang penuh dengan penderitaan dan juga siksaan untuk pertanggung jawaban dari perbuatan buruk mereka sendiri. Dan nama tempat tersebut adalah Tartarus (Nerakanya para roh berdosa yang telah meninggal dunia).
Kedua tempat tersebut dipimpin oleh seorang Permaisuri yang sangat dihormati sekaligus ditakuti oleh seluruh jiwa yang pernah berhadapan dengan dirinya. Dan disetiap tempat itu juga memiliki seorang penjaga yang bertugas untuk menjaga perbatasan. Karena jika tidak ada penjaga, mungkin saja bagi roh yang berada di Tartarus melarikan diri, dan menerobos masuk kedalam Sanctuary sebab tidak tahan dengan penyiksaan Tartarus.
Pemimpin World After Life : Diana (Permaisuri Agung sekaligus penjaga tatanan Afterlife)
Penjaga Sanctuary : Serason
Penjaga Tartarus : Haranik
.
.
.
.
.
Di Suatu tempat dimana cahaya tidak pernah redup, pepohonan hijau serta bunga di sekitarnya yang terlihat segar. hewan-hewan kecil seperti kelinci, tupai, landak, katak, burung-burung dan masih banyak lagi. Hewan-hewan tersebut berkeliaran di antara rerumputan hijau pendek dengan permukaan yang tidak terbuat dari tanah, tapi lebih terlihat seperti awan. Suasana disana jadi semakin asri ditambah dengan suara gemuruh air terjun yang nyaman didengar.
Tepat ditengah tempat indah tersebut, terlihat seorang wanita dengan rambut panjang berwarna putih dan dihiasi oleh mahkota daun berwarna emas. Wajahnya yang sangat cantik dibuatnya semakin mempesona dengan senyumannya yang sangat manis sambil mengelus seekor merpati yang bertengger di atas pahanya.
Wanita tersebut sedang duduk di kursi singgasananya yang megah berhiaskan emas dan berlian di segala sisinya.
Benar wanita tersebut adalah seorang permaisuri dunia After life, Diana. Para dayangnya duduk bersimpuh di depan singgasana miliknya berjajar seperti membuat jalan setapak.
Saat sang permaisuri Diana mengambil secangkir air jernih untuk diminum…
Pyarr!!
Gelas kaca tersebut jatuh ke lani dan pecah menjadi pecahan kaca yang bersebaran.
Dayang-dayangnya pun lantas kaget sekaligus panik ditambah lagi permaisurinya nampak seperti sedang kesakitan, melihat diana menekan kepalanya. Merpati yang tadi bertengger diatas pahanya pun langsung pergi terbang meninggalkan Diana.
"Permaisuri..!!" Terkejut para dayang yang langsung bangun dan ingin membantu Diana.
“Aku tidak apa-apa.” Ucap Diana memberikan tanda pada mereka untuk tenang dengan melambaikan tangannya. Dia kemudian mengacungkan jari telunjuknya yang bersinar, membuat pecahan gelas kaca tadi kembali menyatu dan utuh lagi begitupun dengan air di dalam gelasnya.
Para dayang pun kembali ke tempat mereka semula dan duduk bersimpuh seperti tadi.
‘Perasaan buruk apa barusan?’ Batin Diana sekejap tadi merasakan sesuatu yang buruk.
“Permaisuri Agung… Serason meminta Izin untuk bertemu dengan Permaisuri.” Ucap salah satu Dayang dengan sopan.
“Emm suruh dia kemari.” Jawab Diana.
“Baik permaisuri…” Dayang tersebut melayang dan menembus permukaan seperti menembus awan.
Tidak Lama kemudian Dayang tersebut kembali bersama dengan seorang Pria berambut pendek berwarna pirang keemasan yaitu Serason sang penjaga Sanctuary. Serason langsung berjongkok satu kaki di depan Diana dengan satu tangannya yang menyentuh permukaan.
“Salam Permaisuri Agung..” Serason memberikan salam Hormat sambil menunduk kepalanya.
“Angkat dagumu dan Katakan apa yang ingin kamu katakan.” Kata Diana langsung pada intinya tidak mau berbasa basi.
“Permaisuri Agung…Hamba dan juga Heranik menemukan ada sesosok jiwa tersesat yang terjebak di jembatan E.N.D.”
“Kenapa harus melapor padaku? bukankah kalian bisa mengurusnya sendiri?” Tanya Diana.
Jembatan E.N.D adalah Jembatan yang menghubungkan antara dunia fana dan juga dunia Afterlife. Sebelum memasuki dunia After Life biasanya para jiwa yang sudah mati akan diukur atau ditimbang terlebih dahu amal baiknya dan juga amalan buruknya. Sehingga bisa ditentukan akan masuk kemana mereka setelah itu.
“Maafkan saya Permaisuri Agung…Tapi saya pikir jiwa tersebut merupakan kenalan Permaisuri saat di bumi. Dan anehnya lagi Jiwa tersebut tidak memiliki amal baik maupun amal buruk yang dapat diukur.” Jawab Serason.
“Kenalanku di bumi?” Bingung Diana.
“Benar, jiwa tersebut sama persis seperti manusia yang Permaisuri Cintai. Ayahnya pangeran Agung.” Kata Serason Lagi.
“Apa!!” Diana Terkejut dan langsung bangkit dari singgasananya. “Itu tidak mungkin...Apa kamu bermain-main denganku?” Tambahnya mengeluarkan sedikit tekanan yang membuat
orang-orang disana berkeringat dingin.
“Hamba tidak berani berbohong…Permaisuri Agung..” Kata Serason Gemetar.
“Kalau begitu cepat bawa dia kemari!!” Seru Diana.
“Baik Permaisuri..” Jawab Serason.
Dengan Tubuh yang Lemas, Diana duduk kembali di singgasananya menanti orang yang sudah lama dirindukannya.
Tidak butuh waktu lama. Serason pun sudah kembali lagi bersama dengan penjaga Tartarus yaitu Heranik yang memiliki rambut hitam panjang seperti Vampire. Mereka berdua membawa seorang Pria yang memiliki pupil mata berwarna biru cerah seperti batu berlian. Benar pria tersebut adalah Jhonatan.
Alangkah terkejutnya Diana ketika melihat orang yang dibawa oleh Serason dan Heranik tersebut. Tidak berbeda Jauh dengan Jhonatan yang terkejut juga ketika melihat Diana.
“Nadia…” Sebuah nama yang paling dicintai Jhonatan keluar dari mulutnya ketika menatap Diana bersamaan dengan kedua kakinya pun yang tanpa sadar bergerak sendiri melangkah menuju Diana.
“Perhatikan langkahmu!” Ucap Heranik langsung berada di hadapan Jhonatan menghalanginya. “Manusia egois sepertimu, tidak pantas berada dekat dengan Permaisuri Agung!” Lanjutnya membuat Jhonatan terhempas ke belakang. dan tersungkur disana.
Sebenarnya para dayang dan juga para orang yang berperan penting sudah tahu masa lalu Diana sebagai Nadia yang saat itu pernah menjadi Istri Jhonatan saat dirinya turun ke bumi.
Mereka Pun menjadi sangat membenci Jhonatan karena sudah mengkhianati Permaisuri mereka. tak heran jika saat ini Jhonatan dipandang rendah oleh mereka.
“Haa….masih bertanya untuk dimaafkan? bukankah seharusnya kamu sudah sadar akan hal itu?” Kata Hiranik dengan nada merendahkan.
“Memilih seonggok sampah yang tidak berguna dan membuang Permata yang tiada duanya. Apa ada manusia lain yang lebih bodoh darimu?” Tambah Serason.
Mereka berdua terus mengeluarkan kata-kata yang sangat tajam membuat Jhonatan sangat terpojokan merasakan keterpurukan dengan semua masa lalu yang menyakitkan yang pernah dirasakan Nadia.
Walaupun Jhonatan merasa sakit dengan semua fakta yang mereka katakan, tapi disisi lain ada yang lebih tersakiti lagi mengingatnya. Bagi Nadia tidak ada yang lebih menyakitkan ketika mengingat dia pernah tidak di pedulikan dan dikhianati oleh orang yang dicintainya.
"Cukup!" Satu kata dari Nadia dan dengan ketukan jarinya, Semua yang ada disana menghilang seketika menyisakan dirinya dan Jhonatan saja.
Mendengar kembali suara Nadia, tanpa sadar setetes air mata jatuh dari mata Jhonatan. Mendengar kembali suara orang yang berharga baginya berpikir ini hanya mimpi, tapi rasa sakit saat tersungkur tadi masih terasa yang berarti ini semua kenyataan.
Mengangkat dagunya, Jhonatan kembali disadarkan kalau saat ini adalah kesempatan nya untuk bisa kembali bersama dengan cinta sebenarnya. Dia berdiri dan berjalan lurus, tapi ketika sudah sangat dengan Nadia, tubuhnya seperti menabrak kaca bening yang keras.
"Aku tidak akan membiarkanmu mendekatiku sebelum kamu menjelaskan apa alasanmu pergi ke dunia orang mati." Kata Nadia.
Jhonatan tersenyum. "Ha..apa kamu bercanda sayangku? Tentu saja aku ingin berada di sisimu lagi. Berat rasanya ketika aku hanya bisa melihat bayang-bayang mu saja di depanku." Jawab Jhonatan.
"Haha...ha…" Nadia yang awalnya tertawa seketika air mata mulai turun ke pipinya dengan derasnya. "Ternyata kamu memang bodoh yah...Apa kamu sungguh mementingkan aku daripada urusan duniawi mu itu?"
"Setelah melihat Anak kita bahagia dengan istri dan anaknya..kupikir sudah cukup peranku sebagai ayah untuk mendampinginya. Sudah tidak ada lagi urusan di dunia yang penting lagi untukku laksanakan. Jadi tolong ijinkan aku tinggal denganmu." Jawab Jhonatan memegang penghalang tersebut sambil tersenyum.
"Apa menurutmu dengan pergi ke dunia orang mati seperti ini sangat mudah bagimu? Apa kamu tidak berpikir bagaimana perasaan Xio ketika ditinggalkan lagi oleh orang tuanya? Apa kamu tidak pernah menyadari kalau Sejak saat kecil Xio selalu ingin menunjukkan pencapaiannya padamu mau itu kecil atau besar? Tidakkah dia menunjukkan itu lagi padamu? Xio hanyalah seorang anak yang masih membutuhkan perhatian dari orangtuanya."
Jhonatan dijatuhkan pertanyaan yang bertubi-tubi oleh Nadia. Dia benar-benar baru sadar kalau saat Xio menyombongkan dirinya sendiri, itu adalah saat dia menunjukkan pencapaiannya. Dia tidak berpikir kalau selama ini ternyata Xio masih menganggapnya penting.
"Sudah cukup Jhonatan kamu melukai hatinya 3 tahun yang lalu. Apa kamu tidak kasihan dengan luka-luka dihati yang terus menyakitinya?"."Jujur saja aku juga tidak ingin meninggalkan Xio saat itu, tapi waktulah yang berkata lain dan tidak membiarkanku untuk tinggal lebih lama."
Jhonatan diam tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun, karena saat ini dia sedang meratapi semua kebodohannya sendiri. Dia menyadarinya, walaupun otaknya pintar dalam hal duniawi, tapi dia sangat bodoh dalam masalah memahami perasaan.
"Sekarang pilihlah. Kamu ingin tetap di alam orang mati ini? atau kembali ke dunia manusia? karena aku sayang pada anakku, jadi aku akan membiarkanmu untuk mendampinginya selama aku tidak ada." Ujar Nadia.
Jhonatan terdiam sejenak. Pantas saja terkadang Xio memang masih sangat impulsif seperti anak kecil. Dan
Jika dia kembali ke dunia manusia, memang benar bisa memberikan lebih banyak perhatian pada Xio dan bisa memberinya contoh menjadi orang dewasa yang benar walaupun dirinya juga masih kurang.
"Apa kalau aku memilih tetap disini, aku bisa bersamamu lagi?" Tanya Jhonatan.
Nadia menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kamu akan berada dalam kekosongan. Karena ku adalah orang yang tidak memiliki takdir." Ucapnya.
"Hahh...kalau begitu percuma saja." Jhonatan menghela nafas. "Baiklah kalau begitu kembalikan saja aku kedunia. Tapi sebelum itu aku ingin meminta satu permintaan."
"Apa itu?" Tanya Nadia.
"Aku ingin menyentuh wajahmu sekali saja." Jawab Jhonatan.
'Menyentuh wajahku? Mungkin tidak apa-apa kalau hanya menyentuhnya sedikit saja.' Pikir Nadia
"Baiklah, tapi hanya menyentuhnya sedikit saja. Kemarilah!" Kata Nadia.
Jhonatan membelalakkan mata saking senangnya bisa menyentuh Nadia kembali. Dia berjalan kearah Nadia yang duduk diatas singgasana. Tangannya perlahan dia naikkan hingga akhirnya menyentuh wajah yang halus itu kembali dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, karena ini adalah perpisahannya kembali. Nadia yang disentuh oleh Jhonatan pun memejamkan matanya karena tadi belum siap disentuh kembali oleh Jhonatan.
Tidak mau menyia-nyiakan perpisahannya, dengan cepat Jhonatan mendekatkan wajahnya dengan wajah Nadia, dan mencumbu bibirnya Nadia. Nadia yang terkejut pun langsung membuka matanya, tapi entah kenapa dia tidak bisa menolaknya sama sekali, karena ciuman Jhonatan terasa sangat bermakna hingga dia pun memejamkan matanya kembali meresapi sensasi cumbuan tersebut.
Setelah beberapa menit, mereka pun melepaskan ciumannya. Terlihat wajah Jhonatan yang menjadi cerah kembali, mungkin karena setelah sekian lama akhirnya bisa merasakan lagi sensasi bibir Nadia yang lembut dan juga manis.
"Kenapa kamu malah menciumku?!" Seru Nadia dengan wajah merah merona.
"Bukankah kamu juga menyukainya istriku sayang?" Kata Jhonatan berbisik di telinga Nadia.
"Sudah..!!" Nadia mendorong wajah Jhonatan. "Aku akan mengembalikanmu sekarang." Serunya.
Tubuh Jhonatan pun secara perlahan memudar menjadi transparan. "Mungkin kalau saatku tiba, kamu mau menerimaku lagi." Ucap Jhonatan tersenyum sebelum seluruh tubuhnya sudah memudar sepenuhnya. Dan saking fokusnya pada Nadia, Jhonatan lupa menanyakan kenapa dirinya dipanggil yang Permaisuri Agung? Sebenarnya apa kedudukan istrinya di alam orang mati? Apa Nadia juga memiliki kekuatan sihir seperti Xio?
Banyak sekali yang ingin ditanyakan nya, tapi sayangnya waktunya berada disana sudah habis.
"Aku akan menunggu sampai saatnya itu Jhonatan, suamiku..."
...----------------...
Sementara itu di rumah Xio, atau lebih tepatnya di kamar Jhonatan. Saat ini terlihat Jhonatan yang sedang terbaring di atas kasur dengan Ellisa yang duduk di tepian kasur sedang mengobati Jhonatan.
Disana juga ada Xio yang sedang memegang punggung Ellisa untuk menyalurkan mananya. Terlihat mereka berdua sudah bercucuran keringat karena mana yang di keluarkan memang tidak main-main.
"Bertahanlah ayah...aku tidak mau ditinggalkan sendirian lagi…" Gumam Xio.
Beberapa saat yang lalu ketika Xio menemukan Jhonatan tergeletak di lantai, dia langsung memanggil Ellisa untuk memeriksanya. Dan Ellisa mengatakan Kalau Jhonatan terluka parah di bagian kepalanya dan roh atau jiwanya tidak ada. Tapi jantungnya masih berdetak. Yang berarti Jhonatan belum pergi seutuhnya.
Ellisa mengetahui satu Skill yang bisa menarik kembali jiwa yang belum terpisah seutuhnya dan nama skill tersebut yaitu 'Blessing of the Star'. Ellisa mengatakan pada Xio kalau mananya tidak akan cukup untuk menggunakan skill tersebut. Jadi Xio pun dengan segera membantunya dengan menyalurkan mananya.
Saat penyembuhannya dimulai, mana mereka berdua serasa disedot dengan paksa dengan berangsur-angsur. Tapi untungnya Xio selalu menyediakan Pil mana untuk mengisi ulang mananya.
"Apa masih lama sayang?" Tanya Xio tidak tega melihat Ellisa yang nafasnya sudah sangat tidak beraturan lagi.
"Tinggal sebentar lagi…" Jawab Ellisa.
Tidak lama kemudian cahaya yang keluar dari telapak tangannya pun perlahan sudah mulai memudar yang berarti dia sudah berhasil mempertahankan setengah lagi Jiwa milik Jhonatan.
"Sudah selesai…" Ucap Lemas Ellisa saking lelahnya. Xio yang melihat Ellisa akan terjatuh pun segera menangkapnya dan menggendongnya.
"Terimakasih sayang...Sekarang istirahatlah." Ucap Xio mengecup kening Ellisa.
...****************...
...BERSAMBUNG...
...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTAR NYA...