
...----------------...
Ellisa terkagum-kagum melihat sebuah ruangan besar yang di setiap dindingnya dipenuhi dengan sepatu-sepatu koleksi yang bermacam-macam dan terlihat mahal. Ia baru saja diajak Jhonatan melihat koleksi sepatu-sepatu miliknya yang memiliki ruangan sendiri di rumah tersebut.
Melihat dari banyaknya koleksi-koleksi peralatan sport yang Jhonatan miliki, sudah dapat dipastikan Jhonatan sangat menyukai olahraga, dilihat dari tubuh kekar dan bugarnya juga.
"Banyak sekali sepatu ayah. Tapi kenapa bagian sini ukuran sepatunya lebih kecil?" Tanya Ellisa menunjuk salah satu sisi ruangan yang dipenuhi sepatu yang ukurannya sedikit lebih kecil dari sepatu-sepatu di sisi lain.
"Oh itu semua punya Xio," Jawab Jhonatan, "kamu pasti baru tahu! Xio dulu punya hobi yang sama dengan ayah, tapi entah sejak kapan dia tiba-tiba tidak pernah menyentuh jenis olahraga apapun lagi. Dulu bahkan Nadia ibunya Xio pernah memarahi kita berdua karena sering membeli sepatu-sepatu ini...katanya pemborosan, padahalkan laki-laki kalau punya hobi susah dihentikan." Lanjutnya.
'Kalau aku jadi ibu juga pasti akan memarahinya sih.' Batin Ellisa melihat ruangan besar tersebut yang dipenuhi sepatu, bahkan tidak terhitung jumlahnya.
"Hmm...aku jadi ingin melihat Xio bermain basket juga. Pasti keren!" Seru Ellisa melihat-lihat koleksi Xio.
"Haha kamu memang benar. Xio sangat hebat dalam olahraga apapun, di sekolahnya selalu mendapat juara jika ada kompetisi. Gadis-gadis dari sekolahnya pun mengidolakan dia, bahkan yang berbeda sekolah." Ucap Jhonatan berjalan ke arah bagian sepatu Xio.
"Kalau begitu Xio jangan olahraga!" Sahut Ellisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Haha sepertinya kamu cemburu…" Jhonatan mengambil sepasang sepatu Xio di raknya, "Tenang saja, Xio dari dulu tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada gadis-gadis manapun, dan sikapnya sangat cuek. Kecuali pada ibunya, kalau dengan Nadia, dia sudah seperti bayi manja sekali. Nih buatmu!" Jhonatan menyerahkan Ellisa sepasang sepatu berwarna putih dengan gambar Dewi-Dewi cantik di setiap sisinya.
"Xio menggambarnya sendiri, katanya sih untuk ibunya. Tapi sepertinya dia telat dan belum sempat memberikan ini." Kata Jhonatan.
"Tapi, Xio bilangkan ini untuk ibu!" Tolak Ellisa.
"Ambillah, kamu sama-sama wanita yang berarti dan sangat penting untuknya."
"Ah, baiklah..." Ellisa Pun dengan pasrah menerimanya. Ia melihat lukisan yang dilukis dengan tangan tersebut sangat cantik, dan ia melihat ada sebuah tulisan di sudut bawahnya yaitu "for my angel" yang berarti Xio benar-benar ingin menyerahkan sepatu tersebut ke wanita spesialnya.
Ellisa melirik kearah Jhonatan, yang ternyata sedang tersenyum kepadanya melihat Ellisa sudah menyadari tulisan tersebut. Ellisa pun balas tersenyum senang mendapatkan barang spesial milik Xio.
"Apa ayah hanya mengoleksi sepatu sport saja?" Tanya Ellisa.
"Tentu saja tidak, masih banyak ruangan lain yang dipenuhi dengan koleksi-koleksi kita bertiga. Kalau kamu mau melihat-lihat silahkan saja, biar ayah panggilkan pembantu dirumah ini untuk menemanimu." Ujar Jhonatan.
"Tidak perlu, nanti saja. Aku ingin Xio sendiri yang mengajakku melihat-lihat tempat tinggal masa kecilnya." Jawab Ellisa tersenyum.
.
.
.
.
.
Beberapa saat telah berlalu, Ellisa sudah berangkat bersama Jhonatan, Juli, dan Fellis bertugas untuk membantu Ellisa memegang Nathan dan Tassa. Jhonatan ternyata akan bertanding di kampusnya dulu, dan lapangan basketnya yang berada didalam ruangan.
Sebelum masuk ke ruang lapangan pun Ellisa sudah dapat melihat banyak sekali bodyguard yang tersebar di kampus tersebut. Wajar saja karena teman-teman tim Jhonatan merupakan orang-orang penting sehingga mereka pasti akan membawa banyak bodyguard.
Jhonatan mengajak Ellisa bertemu dengan temannya terlebih dahulu, karena pertandingan dimulai sekitar 30 menitan lagi. Mereka memasuki salah satu ruangan di belakang lapangan tempat para teman Jhonatan sudah berkumpul semua.
Ketika Jhonatan masuk beserta Ellisa dan Juli serta Fellis, Mata semua orang di dalam ruangan tersebut sekitar 7 orang langsung tertuju pada Ellisa sambil ternganga. Kecuali satu orang yang tersenyum yaitu Baswara. Ia langsung berjalan menghampiri Ellisa dan menyapanya.
"Ellisa! Paman cukup terkejut kamu mau ikut dengan Jhonatan melihat acara olahraga para orang tua."
"Ahaha paman bisa saja. Sekali-sekali aku ingin melihat ayah bertanding."
"AYAH!??" Teriak semua orang melengking membuat Jhonatan dan yang lainnya harus menutup telinga.
"Kalian berisik sekali!" Gertak Jhonatan.
"Jantungku hampir loncat tadi. Aku Kira tadi kamu bersama Nadia dewiku." Ucap salah seorang pria dengan rambut blonde bernama Tom yang Ellisa juga tahu kalau pria itu merupakan aktor terkenal.
"Siapa yang kau panggil dewimu Sial*n?!" Seru Jhonatan.
"Baiklah baiklah aku tahu...Nadia hanya dewimu seorang." Elak Tom.
"Haha ayolah kapten jangan marah-marah!" Seru seorang pria bernama Henri dengan bekas luka di matanya. Penampilannya sangat menyeramkan sudah seperti seorang Yakuza dengan tato penuh di leher dan lengannya. Tapi semua orang tahu ia merupakan bos di industri pertambangan terbesar se-Asia.
"Tapi ngomong-ngomong sejak kapan kamu punya anak perempuan?" Tanya seorang lagi bernama Roland yang mengenakan kacamata, ia merupakan seorang jaksa ternama.
"Ini menantuku, tapi sudah kuanggap seperti putriku sendiri." Jawab Jhonatan.
"Halo perkenalkan saya Ellisa." Dengan sopan Ellisa memperkenalkan dirinya dengan senyuman yang manis membuat hati semua orang meleleh. Mereka semua pun menyambut Ellisa dengan baik dan ramah, mereka juga memuji kecantikan Ellisa serta keimutan bayi-bayinya.
"Aku tidak menyangka Xio sudah punya wanita secantik ini yang mirip ibunya, apa kamu dan Xio punya selera wanita yang sama dan bisa seberuntung ini?" Ucap Henri karena memang benar sebagian besar ciri-ciri tubuh Ellisa hampir sama dengan Nadia, diamana rambutnya sama berwarna putih, dan parasnya yang sama-sama rupawan.
"Lalu dimana jagoan kita itu?" Tanya Tom merujuk pada Xio. Teman-teman Jhonatan sangat akrab dengan Xio dan sangat baik kepadanya seperti menganggap Xio anak mereka sendiri.
Ketujuh orang tersebut tahu Nadia sudah meninggal dan Jhonatan menikah lagi, tapi tidak ada yang datang sama sekali ke pernikahannya tersebut, karena mereka tidak senang mengetahui kabar tersebut. Tapi hingga saat ini tidak ada yang tahu bahwa Xio hidup menderita setelah Nadia pergi karena mereka tidak pernah mau berkunjung atau menemui Jhonatan sehingga mereka pun mengira Xio akan hidup bahagia dengan Jhonatan karena tahu dari dulu Jhonatan menyayangi putranya semata wayangnya itu.
Sampai beberapa bulan yang lalu setelah pernikahan pertama Xio dan Ellisa yang sedikit sederhana, Baswara yang masih berhubungan dengan Jhonatan pun mengabari teman-temannya semua bahwa Jhonatan sudah tidak bersama istri barunya lagi. Dan teman-temannya pun mau menerima Jhonatan kembali.
"Begini Xio dan Ellisa……."
Jhonatan juga mengatakan kalau saat ini Xio sedang melaksanakan adat sebelum pernikahan seperti yang dulu ia lakukan. Tapi Jhonatan bilangnya Xio diluar negeri, karena tidak mungkin ia mengatakan bahwa Xio berada di dunia lain.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari dulu? Tahu begitu aku bisa menyiapkan terlebih dahulu hadiah untuk jagoan ku. Kamu juga Baswara, kenapa tidak mengatakannya pada kita?" Ucap Henri.
"Haha maaf-maaf.." kata Baswara.
"HEY! TUA-TUA BANGKA!" Tiba-tiba saja terdengar suara seorang perempuan yang menggebrak pintu. "Kenapa kalian lama sekali hanya mengganti baju sa-" Ia berhenti menggerutu dan dan pandangannya langsung tertuju pada Ellisa. Ia adalah Adele istri Roland dan merupakan teman dekat Nadia.
Sekali lagi seperti tadi Adele salah paham, dan Jhonatan harus menjelaskan sekali lagi meski Adele sepertinya masih sedikit menanam rasa kecewa padanya. Tapi akhirnya Adele pun mengerti dan berkali-kali ia memuji kecantikan Ellisa yang menurutnya mirip dengan temannya yaitu Nadia.
"Ayo sayang ikut dengan Tante! Biarkan para tua bangka yang lelet ini mengganti pakaian mereka." Ajak Adele sambil membawa Nathan dan Tassa menuju keluar pintu, tapi tiba-tiba berhenti untuk menatap tajam Jhonatan dan kemudian pergi keluar bersama Ellisa dan Fellis.
"Roland, istrimu seperti ingin membunuhku." Kata Jhonatan. Meletakkan tasnya di meja dan mengeluarkan pakaian serta perlengkapan lainnya di dalam tersebut.
"Yah siapa suruh kamu mengecewakannya!" Sahut Roland mengedikkan bahu.
"Hmm aku mengerti." Kata Jhonatan membuka pakaiannya dan mengenakan Jersey timnya, begitupun dengan yang lainnya.
Pertandingan basket kali ini tidak hanya pertandingan biasa, tapi juga untuk memperebutkan wilayah dengan pihak luar negeri yang seumuran dengan mereka. Siapa yang menang maka wilayah tersebut miliknya. Teman tim Jhonatan dari berbagai golongan orang-orang berpengaruh, begitupun dengan tim lawan. Sehingga penonton yang hadirnya pun sangat banyak sekali dari berbagai golongan, tapi tidak ada media yang merekam lajunya pertandingan karena orang-orang penting seperti mereka tidak memperbolehkan adanya yang merekam.
Tim Jhonatan sangat santai, tapi masih konfiden karena dari dulu belum pernah kalah dalam permainan bola basket.
Ellisa menonton bersama dengan Adele di jajaran depan dengan istri dari Henri, tom, dan istri serta anak dari yang lainnya. Sementara Nathan dan Tassa dijaga oleh Fellis serta Juli di ruangan berbeda karena di lapangan sangat berisik. Ellisa juga dapat mendengar sorakan para gadis-gadis muda yang meneriakkan nama Jhonatan sambil menjerit-jerit ketika sedang bermain.
"Apa ayah seterkenal itu?"
"Jhonatan memang banyak penggemarnya, apalagi para gadis-gadis muda." Kata Adele.
"Bagaimana tidak. Di umurnya yang segini, dia masih tampan ditambah dengan badannya yang kekar membuatnya semakin terlihat maskulin. Apalagi semua orang tahu Jhonatan kekayaannya berlimpah, jadi tidak aneh kalau gadis muda pun banyak yang menyukainya." Sahut Effie istrinya Tom yang duduk di samping Ellisa, "tapi lebih beruntung lagi kamu yang mendapatkan anaknya yang lebih tampan, jika sudah tersebar kabar Xio sudah punya perempuan secantik kamu, pasti para gadis diluar sana akan berteriak histeris mengetahui pangeran pujaan mereka telah punya seseorang. Bahkan Xio pernah mau dijodohkan dengan seorang putri di negara lain, tapi Jhonatan menolak keras perjodohan tersebut." Lanjutnya.
"Haha Tante bisa saja." Ellisa terkekeh kecil. 'apa benar Xio tidak pernah punya kekasih sebelum bertemu denganku?' batinnya. Ia berpikir jika banyak wanita yang suka dengan Xio, apa Xio benar-benar tidak pernah menyukai balik satu wanita pun?
Ellisa tersenyum sendiri mengingat apa yang dikatakan Jhonatan sebelumnya. Ia percaya Xio tidak pernah menyukai wanita manapun ketika itu. Tapi yang mengherankan ketika baru pertama kali bertemu dengan Ellisa, Xio sudah tahu caranya berciuman dan memanjakannya di ranjang layaknya seorang pria berpengalaman jika itu juga pertama kali baginya.
"Hahh…" Ellisa menghela nafas berhenti memikirkannya dan kembali fokus melihat Jhonatan bertanding.
Pertandingan terus berlalu hingga malam pukul setengah tujuh dengan kemenangan telak didapatkan oleh tim Jhonatan yang memperoleh poin 25 sedangkan tim lawan hanya 9 poin saja.
Dengan badan yang bercucuran keringat Jhonatan berjalan ke arah Ellisa yang sedang memberikan tepuk tangan. "Bagaimana penampilan Ayah?" Ucap Jhonatan.
"Ayah sangat keren!" Sahut Ellisa mengacungkan kedua ibu jarinya dibalas senyuman lebar oleh Jhonatan dengan memperlihatkan deretan giginya.
Tapi tiba-tiba saja ada 2 orang di belakang Jhonatan yang menerkamnya. Ia adalah Tom dan Henri. "Malam ini kita ditraktir kapten!" Seru mereka berdua.
"Semuanya maaf aku harus kembali duluan." Kata baswara datang menghampiri.
"Apa kamu tidak mau ikut makan malam bersama dulu?" Tanya Tom.
"Tidak apa-apa kalian bersenang-senanglah dan jangan lupa peras habis uang Jhonatan. Aku masih ada urusan penting sampai Jumpa!" Ia tersenyum sambil melambaikan tangannya dan berjalan pergi bersama dengan dua orang bodyguard dibelakangnya.
Jhonatan dan yang lainnya pun hanya bisa menghela nafas, karena mereka tidak bisa memaksa baswara untuk ikut. Lalu setelah mereka berganti pakaian, mereka pun pergi bersama-sama ke restoran bintang lima bersama para istri dan anaknya, serta para bodyguardnya masing-masing.
Di Sebuah ruangan besar di dalam restoran yang sudah di booking, Nathan dan Tassa asyik di pangku bergantian oleh para istri-istri teman Jhonatan. Mereka sangat menyukai kedua bayi mungil tersebut karena katanya Nathan dan Tassa sangat menggemaskan dan baik jarang menangis.
"Kalau Nadia ada disini dia pasti sangat senang punya cucu kembar yang lucu ini." Kata Effie yang memangku Tassa.
"Benar," Adele mengangguk "Nadia kan sangat suka anak kecil." Tambahnya.
Jhonatan hanya bisa mendengarkan obrolan para wanita tentang istrinya yang sedikit menyinggung dirinya juga. Karena ia tahu mereka pasti menyalahkan Jhonatan atas kepergian Nadia.
Ellisa juga dapat melihat ekspresi Jhonatan yang berubah.
Setelah beberapa lama di restoran tersebut menghabiskan waktu mengobrol dan makan, mereka pun memutuskan untuk pulang sebab tidak baik jika bayi diluar rumah malam hari. Jhonatan yang membayar tagihannya dengan total ratusan juta ia keluarkan dengan mudah.
Di perjalanan pulang didalam mobil.
"Tante dan juga om semuanya baik-baik ya yah!" Kata Ellisa yang duduk di kursi belakang mobil bersama Jhonatan sambil menggendong Nathan dan Tassa.
"Mereka memang baik, ketika ayah masih jadi mahasiswa bersama ibunya Xio, mereka sudah seperti keluarga kedua ayah. Tapi sepertinya teman-temannya Nadia masih sedikit membenci ayah." Kata Jhonatan menatap sendu Nathan dan Tassa di pangkuannya. "Hahh...itu wajar sih, ayah tahu memang ayah yang bersalah." Ia menghela nafas.
Saat-saat dimana Nadia sakit parah, sebenarnya tidak ada yang mengetahui kisah mereka berdua yang sebenarnya. Jhonatan tidak sepenuhnya bersalah, dia hanya lelah dan harus termakan emosi ketika dipaksa untuk menyerah.
Jalan yang buntu Jhonatan temui ketika segala kemampuan sudah dikeluarkan. Paksaan untuk menyerah tersebutlah yang akhirnya membuat Jhonatan harus berbalik arah dan tersesat di jalan penuh jebakan.
Ia sebenarnya ingin menceritakan semuanya pada Xio, tapi mengingat semua kekerasan serta lontaran kata kasar yang pernah ia lontarkan pada Xio membuat ia tak kuasa mengatakan sikapnya yang lemah sebagai seorang pria dan juga seorang pemimpin keluarga.
Dipaksa menyerah oleh keadaan memang menyebalkan, tapi bertemu jalan buntu setelah semua pengorbanan yang dilakukan terasa lebih mematikan.
...****************...
...BERSAMBUNG...