Cross The World With System

Cross The World With System
Pesta



...----------------...


Keesokan harinya, Kompetisi pun dimulai kembali dan semuanya berjalan dengan lancar. Satu-persatu tim sudah gugur dan melaju sampai Final yaitu tim Chyntia Serta tim Gard.


Pertarungan antar kedua tim sangatlah sengit Karena kekuatan masing-masing tim terlihat setara. Sampai akhirnya Tim Gard la yang memenangkan juaranya.


Saat tibanya acara penyerahan hadiah, Xio sendirilah yang menyerahkan hadiahnya secara langsung. Alangkah terkejutnya Gard dan semua penonton karena hadiah yang Xio berikan antara lain yaitu sepuluh juta keping koin emas, senjata-senjata tingkat tinggi untuk setiap orang di tim nya, lalu Mansion mewah yang berada di kerajaan Regalia, dan yang paling luar biasa serta membuat orang tercengang adalah Gard yang langsung diangkat menjadi kesatria untuk melindungi kerajaan Regalia.


Xio mengangkat Gard menjadi kesatria juga tidak sembarangan asal pilih, Ia dapat melihat potensi Gard yang lumayan hebat. Serta Xio juga harus mengumpulkan banyak orang kuat lainnya untuk menjadikannya sekutu nya sehingga ia bisa membuat persiapan jika akan ada yang menyerang ataupun untuk menyerang.


"Gard Ashray, Apakah kamu bersedia mengabdikan seluruh hidupmu untuk kerajaan Regalia?" Ucap Xio.


Gard langsung berlutut satu kaki dihadapan Xio sambil menundukkan kepalanya, "Saya bersedia Yang Mulia." Jawab Gard dengan sungguh-sungguh.


Xio mengeluarkan pedangnya kemudian mengangkatnya dibatas kedua bahu Gard secara bergantian. "Dengan ini kami sudah resmi menjadi kesatria untuk kerajaan Regalia." Ucap Xio menyarungkan kembali pedangnya.


Semua orang bersorak gembira dan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah untuk Gard. Gard saat ini ia merasa sangat terhormat karena baru saja orang yang menjadi panutannya mengangkat dirinya menjadi kesatria secara langsung.


Sebagai juara kedua, Xio juga memberikan hadiah yang lumayan besar untuk Chyntia beserta timnya. Yaitu 5 juta Koin emas serta satu unit mansion dan beberapa senjata tingkat tinggi.


Penutupan acara tersebut yaitu dengan di adakannya pesta yang berlangsung sampai malam. Ada yang sedang memakan makanan hidangannya, dan ada juga yang berdansa di iringi alunan musik bernuansa kerajaan Eropa.


Azco berdansa dengan Chintya, Leon dengan Lena, dan yang lucunya yaitu Jhonatan yang berdansa dengan Rose. Jhonatan sebenarnya Bingin menolak, tapi Jhonatan sulit untuk menolak karena Rose memasang wajah memelas serta bilang kalau ia ingin merasakan masa mudanya seperti dulu.


Tapi tidak ada yang bisa mengalahkan perhatian Xio dan Ellisa, karena mereka terlihat sangat Elegan sekaligus mempesona ketika berdansa. Semua orang disana sangat terpukau dengan mereka berdua sudah seperti melihat keindahan alami dari dewa ketampanan dan sewi kecantikan.


Tidak ada kekurangan dari mereka berdua. Begitulah kira-kira yang bisa orang-orang katakan saat memperhatikan Xio dan Ellisa.


Prokk! prok! prokk!


Semua orang memberikan tepuk tangan ketika Xio dan Ellisa selesai berdansa. Mereka berdua membalas semua tepuk tangan tersebut dengan senyuman kemudian Xio membawa Ellisa terbang kelangit lalu duduk kembali di singgasananya.


"Sayang tolong besok suruh Azco untuk mengajak Chintya dan teman-temannya ke istana." Ucap Ellisa.


"Memangnya mau apa?" Tanya Xio.


"Aku sedikit merasa bosan di istana karena tidak punya teman wanita, jadi aku ingin berteman dengan mereka." Jawab Ellisa


"Hmm." Xio hanya berdehem saja dengan ekspresi wajahnya yang menjadi datar. Bukan tanpa alasan, tapi Xio tidak suka kalau ada wanita yang masuk ke istananya. Walaupun ada juga beberapa pelayan wanita, tapi para oelayan tersebut sudah tidak mempunya perasaan atau mereka sudah seperti boneka yang hanya bisa menjalankan tugas mereka masing-masing.


"Yasudah tidak usah." Kata Ellisa agak cemberut. Ia sebenarnya tahu alasan kenapa Xio tidak mau ada wanita yang masuk ke istananya, yaitu karena Xio tidak mau ada wanita yang jatuh hati padanya. Tapi yang Ellisa tidak tahu alasan lainnya yaitu karena Xio tidak mau kekurangan waktu berduaan dengan Ellisa.


"Hahhh.." Xio nenghela nafas. "Baiklah aku akan memberi tahukannya pada Azco, tapi dengan syarat tidak boleh terlalu lama." Ucap Xio karena ia tidak tega melihat wajah Ellisa. Ia juga berpikir Ellisa memang belum mempunyai teman wanita sama sekali dan tidak mungkin kalau Xio membatasi terus hubungan sosialnya.


Cupp!


"Terimakasih suamiku!" Ellisa mencium pipi Xio sambil tersenyum manis sehingga membuat Xio tersipu.


"Sayang maukah kamu memanggil ku seperti barusan sekali lagi?" Tanya Xio menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Suamiku!" Seru Ellisa tanpa ragu masih tersenyum.


Xio langsung saja mencium bibir Ellisa dalam, "Panggil aku seperti itu lagi setiap hari istriku." Ucap Xio melepaskan ciumannya dan menatap mata Ellisa sambil tersenyum.



"Kita pulang sekarang saja yah?" Ujar Xio.


"Lalu bagaimana dengan anak-anak?" Tanya Ellisa.


"Anak-anak bisa pulang dengan ayah dan nenek nanti." Jawab Xio.


"Baiklah, sepertinya ada yang tidak sabar ingin mengunjungi buah hatinya." Ucap Ellisa.


Dengan seketika mereka berdua pun langsung menghilang dari sana dan muncul kembali di kamarnya. Xio langsung saja menidurkan Ellisa diatas kasur kemudian mencium bibirnya sambil melucuti semua pakaianya serta pakaian Ellisa.


Setelah Beberapa menit mereka bergulat lidah dengan tubuh yang sudah tidak mengenakan pakaian samasekali. Xio Juga Sudah Siap memasukkan benda miliknya.


Xio memasukkannya secara perlahan dimulai dari kepala batangnya dan terus memajukan pinggulnya hingga sudah setengah dari batangnya masuk kedalam. Xio juga melihat Ellisa yang mencengkram kasur dengan membelalakkan matnya entah karena sedang kesakitan atau sedang kenikmatan. Tapi yang pasti Xio terlihat sangat menikmatinya.


Setelah beberapa jam bermain di atas ranjang, mereka belum selesai juga melakukan aktivitas nya.


Ellisa merasakan benda milik Xio berdenyut-denyut didalam sana yang berarti Xio sudah akan keluar sehingga Ellisa menambahkan kecepatan temponya. Sampai Akhirnya Xio pun tidak henti-hentinya menyemburkan benih-benih nya didalam Ellisa bahkan sampai meleber keluar.


Xio mencabut miliknya lalu mencium bibir Ellisa tipis dan berbaring disampingnya sambil memeluk erat pinggangnya.


Ellisa juga memeluk Xio erat dan mereka berdua pun memejamkan matanya untuk segera pergi ke alam mimpi.


...----------------...


Malam pun berganti pagi. Ellisa terbangun karena ia mencium harum makanan yang membuat perutnya keroncongan. Ia melirik kesamping kiri kanannya tapi tidak menemukan keberadaan Xio, sampai akhirnya ia menemukan Xio sedang duduk di depan meja dan tersenyum kearahnya.


Xio kemudian berjalan kearah Ellisa lalu memangkunya. Ia kembali duduk di kursinya dengan tambahan Ellisa yang duduk diatas pangkuannya.


Pandangan Ellisa langsung terfokus pada banyaknya masakan diatas meja yang kelihatannya enak-enak semua.


"Apakah kamu yang memasak ini semua?" Tanya Ellisa.


"Iya semalam kamu bilang ingin makan makanan Indonesia, jadi aku memasak ini semua khusus untukmu." Jawab Xio terkekeh sambil mengelap air liur yang sudah menetes di sudut mulut Ellisa.


"Biar aku mengsuapimu." Ujar Xio sudah menyendok makanannya.


"Ehmmm!!, wasanyua eunak swekali!!" Ucap Ellisa dengan mulut yang masih penuh. Xio hanya bisa tertawa dan mencubit gemas pipinya melihat tingkah Ellisa yang seperti anak kecil.


...----------------...


"Apakah kamu serius Yang Mulia Ratu mengundang kita?" Tanya Chintya.


Azco mengangguk, "Yah kalian semua sebaiknya segera bersiap-siap." Ucapnya.


Mereka semua langsung kegirangan karena senang sekaligus merasa terhormat diundang oleh seorang Ratu.


"Tunggu dulu, Kita kan tidak mempunyai pakaian formal, apalagi kita tidak mengerti tata Krama untuk berhadapan dengan Ratu." Ucap Chintya membuat semuanya hening seketika.


Azco tersenyum lalu mengeluarkan kotak besar dihadapan mereka. "Bukalah kotak itu." Ujar Azco.


"Ada apa di dalamnya?" Tanya Chintya. "Buka saja dulu." Jawab Azco.


Chintya pun maju kemudian membuka kotak tersebut yang isinya ternyata sekotak penuh pakaian wanita.


"Kalian bisa memakai pakaian itu." Kata Azco.


Cupp!


Chintya mengecup pipi Azco, "Terimakasih sayang." Ucap Chintya membuat pipi Azco seketika langsung memerah.


"Ayo semuanya pilih pakaian kalian!" Seru Chintya mengabaikan Azco yang sedang tersenyum senyum sendiri.


Setelah beberapa lama memilih pakaian yang cocok untuk mereka, mereka pun kemudian langsung kekamar masing-masing untuk berganti pakaian, sementara Azco menunggu diruang tamu karena ialah yang akan mengantarkan mereka nanti ke istana.


Tidak lama kemudian Para wanita pun keluar dari kamar mereka dengan mengenakan pakaian yang di pilihnya tadi. Tapi pandangan Azco langsung tertuju pada penampilan Chintya yang menurutnya sangat cantik.


"Ayo kita berangkat, kereta kudanya sudah ada di depan." Ucap Azco menggandeng tangan Chintya keluar dari mansion diikuti oleh yang lainnya di belakang.


Setelah keluar dari mansion, sudah terlihat sebuah kereta kuda yang terparkir di halaman. Azco kemudian membukakan pintu kerata tersebut dan mempersilahkan wanita-wanita tersebut masuk. Setelah para wanita masuk, Azco juga ikut masuk kedalam dan duduk di samping Chintya.


"Apakah kalian juga merasa gugup?" Tanya Chintya.


"Yah aku takut melakukan suatu kesalahan." Jawab Camilla salah satu teman Chintya.


"Tidak usah terlalu tegang kalian bersikap sewajarnya saja tapi harus masih menghormati Yang Mulia Ratu." Ucap Azco.


"Yah benar!!" Seru Lena yang tiba-tiba saja muncul di jendela depan kusir.


"Tuan Puteri!!" Terkejut semua orang yang ada didalam kereta.


"Kenapa anda ada disini?, dengan Siapa anda kesini?" Tanya Azco karena ia takut Xio marah kalau tahu Lena ikut bersamanya.


"Denganku." Ucap Leon dengan santainya. "Dan juga dengan kakek Sebas." Lanjutnya menunjuk Sebas yang sedang duduk ditempat sang kusir. Sementara kusir sebelumnya sudah tidak ada.


Azco hanya bisa menghela nafas dan menepuk jidatnya sendiri, lantaran sudah tahu kalau Leon dalam Lena keluar dari istana tanpa seijin Xio. Karena biasanya mereka berdua hanya akan keluar dengan Sebas jika tidak ijin pada Xio.


"Tante tenang saja mamah baik kok, mamah juga mengundang Tante semua ke pesta tehnya untuk berteman dengan Tante semua." Ucap Lena di angguki oleh Leon.


...----------------...


Kembali ke sisi Ellisa dan Xio. Mereka berdua terlihat baru saja selesai mandi dan sedang mengenakan pakaian.


Selesai mengenakan pakaiannya, Xio merangkul pinggang Ellisa lalu mencium keningnya. "Sayang maaf aku harus rapat sekarang jadi tidak bisa menemanimu." Ucap Xio.


"Tidak apa-apa lagi pula aku akan berkumpul dengan para wanita, memangnya kamu mau di kerumuni wanita?" Ucap Ellisa tersenyum sambil mengancingkan kemeja Xio. Karena Xio selalu kebiasaan tidak mengancingkan semua kancingnya sehingga menampilkan dada bidangnya.


Ellisa tidak mau ada orang yang melihat pemandangan dada bidang Xio walaupun tidak ada wanita sama sekali yang ikut rapat.


"Baiklah aku akan berangkat sekarang." Ucap Xio mencium kening Ellisa sekali lagi. "Oh iya kalau Azco sudah ada suruh dia bertemu denganku langsung." Tambahnya diangguki oleh Ellisa. Xio pun berjalan keluar dari kamar lalu menutup pintu kamarnya kembali.


Diluar kamar ternyata sudah ada Mammon dan Belphegor yang sedang menunggunya. Mereka berdua memberika salam pada Xio dan dijawab anggukan olehnya. Xio langsung berjalan menuju tempat rapat diikuti oleh kedua bawahannya di belakang.


Tak berselang lama, Ellisa juga keluar dari kamarnya dan di sambut dua orang pelayan wanita yang mengantarnya menuju taman tempat pesta teh diadakan.


Sesampainya di taman, Ternyata Chintya beserta teman-temannya sudah ada disana sedang duduk di kursi yang sudah di sediakan.


Mereka semua langsung berdiri dan menundukkan kepalanya ketika melihat Ellisa untuk memberikan salam padanya. Ellisa tersenyum lalu menyuruh mereka duduk kembali begitupun dengan dirinya.


"Oh ya Azco, Xio menyuruhmu untuk menemuinya." Ucap Ellisa karena melihat Azco juga ada disana.


"Baik Yang Mulia." Jawab Azco berjalan meninggalkan mereka.


"Jadi bisakah kalian mengenalkan diri kalian masing-masing?" Ujar Ellisa.


"Sebelumnya kami ingin mencupakan terimakasih karena Yang Mulia telah mengundang kami. Jujur saja kami merasa terhormat diundang kesabaran ini." Ucap Chintya. "Baiklah perkenalkan nama saya Chintya Fontana." Lanjutnya memperkenalkan dirinya lalu dilanjutkan dengan teman-teman nya memperkenalkan nama mereka juga.


Selesai perkenalan, mereka kemudian mengobrol cerita-cerita yang hanya bisa dimengerti oleh wanita saja sambil memakan kue dan cemilan yang sudah ada diatas meja.


mereka sebenarnya melihat tanda-tanda bekas gigitan dileher Ellisa tapi tidak berani membicarakannya karena itu adalah masalah privasi.



"Chintya kapan kamu akan menikah dengan Azco?" Tanya Ellisa tiba-tiba sehingga membuat wajah Chintya tersipu malu.


"Ehmm masalah itu saya akan menunggu keputusan dari Azco nya langsung." Jawab Chintya malu-malu karena mengira Ellisa tidak tahu hubungannya dengan Azco.


"Kalau begitu aku akan menyuruh Azco untuk segera melamarmu." Kata Ellisa dengan santainya.


Chintya langsung gelagapan karena bingung harus bicara apa. Sementara teman-temannya hanya bisa tertawa melihat Chintya yang salah tingkah seperti itu.


...----------------...


...BERSAMBUNG...