Cross The World With System

Cross The World With System
Heldir Travion




Terakhir Xio ingat dia memejamkan mata didepan anak-anaknya. 


Dan saat ini ketika membuka matanya, ia terbangun di tempat yang sangat asing. Tempat tersebut hanya diselimuti kegelapan, dan air dibawah telapak kakinya.


Melihat sekelilingnya, Xio tidak menemukan apapun. Sampai tiba-tiba terdengar suara bergema dari seorang pria yang berbicara.


"Akhirnya... setelah menunggu berabad-abad kawan lamaku tiba juga!" Suara tersebut asing bagi telinga Xio.


"Siapa itu? Keluarlah!" Ucap Xio dengan santainya, karena tidak merasakan hawa ancaman sama sekali.


"Hahaha…" Suara tawa tersebut terdengar lebih jelas tepat di belakang Xio. "Rasanya aneh melihatmu tidak semenakutkan dulu lagi." 


"Aku juga tidak ingat punya teman pengecut yang tidak berani memperlihatkan dirinya." Sahut Xio.


"Heuuk! Ternyata kamu masih menjengkelkan."


Tidak lama kemudian muncul-lah seorang pria berjalan keluar dari dalam kegelapan. Dia berambut panjang berwarna pirang keputihan. Pria tersebut juga memiliki pupil mata berwarna emas, telinga runcing elf dan mengenakan armor emas seperti yang Xio gunakan sebelum dia berada disini saat ini.


"Apa kamu yang menarikku ke tempat ini?" Tanya Xio terlihat tidak senang.


"Benar Arcas, eh maksudku…"


"Xio."


"Xio, benar Xio! Benar aku yang memanggilmu ketempat ini." "Dan oh ya, karena mungkin kamu lupa denganku, maka aku harus memperkenalkan diri lagi." Ucap pria elf tersebut.


"Perkenalkan namaku Heldir Travion, mantan pemimpin ras elf." Dia memperkenalkan dirinya sambil sedikit membungkukkan dada seperti bangsawan yang sedang memperkenalkan diri pada yang derajatnya lebih tinggi.


Xio sebenarnya asing dengan Heldir, tapi karena dia dari tadi menyebut-nyebut kalau Xio temannya, jadi Xio pikir mungkin Heldir ini pernah ada hubungan dengannya atau Arcas.


"Xio Archon." Kata Xio.


Dibawah sana Heldir terlihat tersenyum mendengar nama belakang Xio.


"Cepat katakan kenapa aku dipanggil kemari!" Tegas Xio.


"Ayolah jangan tidak sabaran begitu? Aku hanya ingin reuni dengan rekan lamaku." 


"Kalau tujuanmu hanya untuk itu, sebaiknya aku kembali sekarang." Kata Xio, ia sudah akan melangkah ke belakang.


"Tunggu-tunggu! Baiklah aku hanya bercanda."


"Apa kamu ingin tahu dimana pecahan ingatanmu yang lain?"


Xio menghentikan langkahnya dan langsung memberikan Heldir tatapan tajam dan mencekam. Membuat badan Heldir merinding. 


'Walaupun kekuatannya belum pulih seluruhnya, tapi auranya tetap saja menyeramkan.' Batin Heldir.


"Baiklah kalau begitu aku akan mendengarkanmu." Kata Xio.


Whoosh!!


Tiba-tiba saja tempat tersebut berubah menjadi tempat dengan pemandangan alam yang indah. Di samping mereka sudah terdapat 2 kursi batu dan juga meja bundar yang sama-sama terbuat dari batu dengan 2 cangkir teh diatasnya.


"Silahkan duduk Yang Mulia." Ucap Heldir sekarang menjadi lebih sopan.


Xio mendengus dan langsung duduk di bangku batu tersebut. Dia tidak mengerti kenapa Heldir ini kadang bersikap formal dan non formal padanya. Xio hanya ingin mengetahui cara mendapatkan pecahan ingatanya lagi, karena ingatannya sebagai Arcas belum bertambah juga.


Heldir juga ikut duduk di kursi seberangnya Xio.


Dengan suara derasnya air terjun yang jelas terdengar, ditambah alunan sepoi-sepoi angin, Heldir pun mulai menjelaskan semuanya pada Xio.


Dimulai dari kenapa armor emasnya Heldir, yaitu Armor Wildleaf bisa ada di Xio.


Heldir bilang kalau armor tersebut merupakan armor yang istimewa. Karena armor tersebut dapat membuat Shield yang sangat kuat, dan menyerap semua jenis serangan. Semua serangan yang terserap berubah menjadi energi alam yang bisa mengeluarkan serangan balik, atau penyembuhan signifikan.


Xio pikir mungkin itu akan berguna untuknya jika dalam pertempuran yang setara.


Lalu Heldir memberitahu Xio cara untuk membuka ingatannya. Selain dapat terpicu dengan kejadian khusus, Ternyata ingatan Xio ini tersebar juga keseluruhan penjuru dunia.


"Lalu dalam bentuk apa pecahan ingatanku ini?" Tanya Xio.


"Permata kegelapan."


"Bagaimana aku mengenalnya? Banyak sekali permata berwarna gelap di dunia." 


"Permata ingatanmu ini beda dari yang lainnya. Terdapat aura mengerikan yang terpancar dari permata tersebut. Dan ada lambangmu disalah satu sisinya, seperti ini." Heldir kemudian menggambarkan sebuah lambang di atas daun dan menyerahkannya pada Xio.



"Apakah kamu tahu dimana saja pecahan itu tersebar?"  Tanya Xio.


"Posisi tepatnya aku kurang tahu, tapi kalau tidak salah setiap pecahannya dijaga oleh dewa-dewa lain dan juga makhluk-makhluk legenda." Jawab Heldir.


"Hmm kalau dipikir-pikir, apa kamu tidak memberitahuku saja kenapa aku bisa berakhir pada saat itu, dan kenapa ingatanku harus di segel?" Tanya Xio lagi.


Seketika wajah Heldir terlihat gelisah, tangannya bergetar hebat dan dari sorot matanya terlihat ketakutan yang mendalam sambil menundukkan kepalanya ia meminta maaf pada Xio.


"Maafkan aku...tapi aku memicunya."


"Hahh…" Xio menghela nafas. Dia menyeruput sedikit tehnya lalu berdiri. "Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya kamu takuti, tapi kalau tidak ada yang perlu dikatakan lagi aku akan kembali. Mungkin anak-anakku sudah menunggu terlalu lama."


"Anak? anak siapa?" Tanya Heldir.


"Hm? Anakku memangnya kenapa?" Heran Xio kenapa Heldir terlihat terkejut seperti itu.


Grep!


Heldir tiba-tiba saja berdiri dan langsung memeluk Xio.


"Hei! Ada apa ini?" Gertak Xio rasanya menggelikan jika di peluk oleh sesama pria seperti itu. Meskipun dia pernah berpelukan dengan ayahnya.


"Selamat! Selamat! Aku turut gembira kamu sudah punya keturunan." Kata Heldir terharu 


Xio heran kenapa Heldir terlihat sangat terharu mendengar Xio punya anak. Memangnya di kehidupan sebelumnya dia tidak punya keturunan, tapi bukankah dia punya 6 istri?


Menjengkelkan sekali ketika hanya dirinya yang tidak mengenal jelas tragedi apa yang sudah menimpanya dimasa lalu. Tentu saja Xio penasaran kenapa ada hubungannya dengan dewa-dewa juga. Tapi ia memilih untuk mencari tahunya sendiri, karena percuma saja bertanya pada Heldir yang seperti memiliki trauma berat.


***


Disisi Leon dan Lena.


Mereka berdua sudah menunggu selama lebih dari dua jam sambil melihat keluar jendela, memperhatikan elf-elf yang sedang beraktifitas. 


"Kak aku bosan…apa tidak ada yang bisa kita lakukan?" Keluh Lena.


"Sabar dulu saja. Mungkin papah tidak lama lagi bangun." Jawab Leon.


"Lalu mau kita apakan dia?" Tanya Lena menunjuk ke belakang, ke arah seorang wanita elf cantik. Wanita elf itu berlutut di lantai dengan mulut dibungkam dengan lakban, dan tangannya kunci ke belakang menggunakan borgol tahanan seperti di bumi.


"Kata mamah kita tidak boleh membunuh orang tanpa izin papah atau mamah, jadi kita tunggu saja papah untuk menentukan nasibnya nanti." Jawab Leon.


Sementara wanita elf itu membelalakkan matanya tidak percaya anak kecil yang lucu seperti mereka bisa mengatakan membunuh dengan sangat enteng. Dia penasaran siapa sebenarnya kedua anak kuat tersebut yang bisa menyergap dan menyekapnya seperti saat ini.


Wanita elf tersebut terlihat ingin melepaskan borgol di tangannya, tapi entah kenapa besi aneh yang baru pertama dilihatnya itu mengunci tangannya sangat kencang dan sulit untuk dibuka.


"Emmm! Emmm!" Wanita elf tersebut ingin berteriak, tapi mulutnya tertutup.


Lena melirik kearah Leon, yang ternyata Leon juga melirik ke arah matanya terlebih dahulu. Mereka berdua segera berlari ke arah ruangan tersebut. Sedangkan wanita elf tersebut keheranan kena dya anak tersebut terlihat sangat gembira dan semangat.


Di dalam ruangan.


Dengan armor emas yang tidak ada pada tubuhnya lagi. Xio membuka matanya dan menurunkan kakinya dari ranjang ke lantai. Sampai tiba-tiba dia mendengar suara yang berlari ke arahnya.


"PAPAH..!!"


Grebb!


Xio mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Leon dan Lena.


Cup! Cup!


Dia mengecup kepala Leon dan Lena bergantian. Dan mengelus keduanya sambil tersenyum. "Anak-anak papah tidak nakal kan?" Ucap Xio.


Leon dan Lena menengadah melihat wajah Xio dan menggeleng-gelengkan kepala mereka.


"Pintar…" kata Xio menjepit hidung mereka gemas dengan jari.


Leon dan Lena tersenyum.


Sementara itu ada sesosok makhluk kecil bersayap yang terbang melongo melihat tingkah Xio barusan. 



Benar itu adalah Heldir yang ikut ke dunia nyata menjadi seekor peri. Karena Heldir merupakan roh, jadi dia tidak bisa menampakkan wujudnya lagi di dunia nyata. Tapi berkat bantuan Xio Heldir akhirnya bisa melihat dunia lagi walaupun hanya menjadi peri kecil.


Heldir melongo melihat Sikap penyayang dan lemah lembut  Xio pada dua anak yang disebut anaknya tersebut. Tapi dia lebih terkejut lagi ketika mengetahui kalau Xio mempunya dua anak sekaligus, apalagi mereka sudah lumayan besar.


Heldir terbang kehadapan Xio.


"Apa ini? Bagaimana bisa kamu punya anak seusia ini di umurmu yang masih muda?" Kata Heldir.


Xio tidak mendengarkannya. Sedangkan Leon dan Lena yang melihat seekor peri terbang berputar-putar didepan Xio, mereka hanya mendengar suara serangga terbang saja.


Peri memang tidak bisa dimengerti bahasanya oleh siapapun kecuali orang yang sudah mengikat kontrak dengannya. Dan Heldir sudah menjalin kontak dengan Xio, sehingga hanya Xio saja yang bisa membuat suara aslinya.


"Apa ini peri kontrak papah?" Tanya Lena.


"Iya, namanya Heldir Travion. Dia peri yang sudah sangat tua." Jawab Xio.


"Keren… Papah bisa membuat kontrak dengan peri!" Kata Lena kagum.


Soalnya peri cenderung tidak menyukai makhluk hidup lainnya, dan mereka hanya hidup dengan varian mereka saja. Yang Lena tidak tahu kalau itu bukanlah peri sungguhan, melainkan seorang elf tua teman ayahnya di kehidupan sebelumnya.


"Papah, kita menangkap seorang elf wanita yang ingin masuk kerumah ini tadi. Dia sudah kita ikat, tapi kita tidak tahu harus diapakan." Kata Leon.


"Baiklah ayo, biar papah saja yang mengurusnya." Kata Xio diangguki Leon dan Lena.


Leon dan Lena berjalan di depan diikuti oleh Xio juga Heldir.


Baru keluar ruangan saja Xio sudah dapat melihat elf wanita yang berlutut di lantai dengan borgol di tangan dan mulut dilakban. Wanita elf tersebut memang cantik dengan rambut pirangnya, dan juga dadanya yang besar sedikit terbuka terlihat sangat menggoda. Tapi yang namanya Xio, sudah tidak aneh jika dia bersikap biasa saja, sebab menurutnya tidak ada yang lebih baik dari pada punya istrinya.


Sedangkan wanita elf tersebut langsung merasakan dadanya berdebar sangat kencang ketika melihat seorang pria yang sangat tampan dan bertubuh atletis seperti Xio. Wajahnya memerah dan tubuhnya menjadi hangat. Sudah dipastikan kalau wanita itu langsung jatuh cinta dalam pandangan pertama pada Xio hanya dengan melihat penampilannya saja.


Xio mengambil kursi kayu dekat meja makan dan meletakkannya di depan wanita elf tersebut, kemudian dia duduk di kursi tersebut.


Meskipun elf tersebut menyukai Xio, tapi dia masih waspada ketika Xio berjalan kedekatannya.


Srakk!


Xio mencabut lakban di mulut wanita tersebut dalan sekali tarikan.


"Ahh!" Desah erotis wanita elf tersebut merasa bibirnya ikut tercabut dengan lakban itu.


Heldir memperhatikan ekspresi Xio yang masih saja datar meskipun di depannya sudah ada wanita cantik berdada besar dengan ******* seksi.


"Ayolah kawan! Apa kamu tidak punya nafsu? Kenapa tidak kamu pakai saja wanita seksi ini?" Kata Heldir.


Takkk!


Xio menyentil Heldir hingga melesat jauh.


"Siapa kamu?" Tanya Xio pada wanita tersebut.


Wanita elf tersebut menengadah dan menatap Xio tajam. "Siapa aku?! Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Siapa kalian ini? Dan apa yang kalian lakukan di rumahku?!" Gertak wanita elf tersebut.


"Jangan menggertak di depan anak-anakku dan jawab saja pertanyaanku." Kata Xio Menaikkan satu kakinya di paha.


'Jadi dia ayah anak-anak itu! Kalau anaknya saja sekuat itu, bagaimana dengan ayahnya.' Batin elf tersebut tidak tahu kalau Xio bisa mendengarkan batinnya.


'Sytem cek statusnya!' Ucap Xio dalam hati.


「 Nama: Meryl Aldora


     Job: Ksatria kerajaan Sylvaine


     Elemen: Angin


     Ras: Elf


     Level: 5.700.                           」


"Meryl Ksatria kerajaan Sylvaine yah…" Kata Xio.


Meryl yang sedang menunduk membelalakkan matanya terkejut Xio bisa mengetahui nama asli dan pekerjaannya.


"Ksatria kalah dengan dua anak enam tahun. Apakah kerajaan Sylvaine ini tidak punya orang yang lebih baik untuk menjadi Ksatria?" Kata Xio.


Meryl sadar dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Dia hanya bisa menunduk dan menggertakan giginya ketika jabatan dan kerajaannya dihina.


Heldir yang mendengar soal kerajaan langsung mendekat kembali ke dekat pundak Xio.


"Cepat tanyakan, di kerajaan tersebut ada pohon Travion atau tidak?" Kata Heldir.


Xio kembali menatap Meryl yang ada di bawahnya tersebut.


"Apa yang kamu ketahui soal pohon Travion?" Xio bertanya.


Lagi-lagi Mery dikejutkan dengan pertanyaan Xio mengenai pohon Travion tersebut. Meryl mengetahui kalau pohon Travion merupakan pohon suci yang terdapat di istana kerajaan Sylvaine. 


Pohon itu merupakan pohon berkah dari moyang para ras Elf, tapi hanya keluarga kerajaan saja yang tahu keberadaan pohon tersebut. Dan pohon tersebut juga dijaga sangat ketat. Konon katanya pohon tersebut memiliki harta dan artefak yang luar biasa, tapi hanya keturunan atau yang punya darah asli moyang mereka saja lah yang bisa mengambilnya.


"Baiklah kamu mengetahuinya." Kata Xio dapat menebak hanya dengan melihat ekspresi Meryl saja.


"Tidak! Tidak! Aku tidak tahu apa yang kamu maksud pohon apa itu." Banyak Meryl.


"Oh benarkah seperti itu?" Kata Xio tersenyum miring dan tiba-tiba saja tangannya sudah terpasang sepasang sarung tangan hitam. "Biar aku mengeceknya sendiri." Xio memegang kepala Meryl, dan Meryl memejamkan matanya seketika.


Heldir heran apa yang sedang Xio lakukan, dan apa fungsi sarung tangan tersebut.


...*****...


...BERSAMBUNG...