
...----------------...
"Kakek juga berkata kalau kakek menyayangi papah dan sangat ingin menghadiri pernikahan papah" ucap Leon, Xio termenung s jenak mengingat kembali mimpi yang dialaminya semalam.
"Yasudah kalian jangan menagis lagi, kita tunggu saja sampai pemeriksaannya selesai" Ucap Xio langsung menggendong Leon dan Lena dan duduk di kursi dekat pintu ruang UGD.
"Sayang apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Ellisa karena melihat Xio bengong daritadi.
"Sebenarnya semalam didalam mimpiku aku bertemu dengan ibuku dan ibuku berkata kalau dia sudah memaafkan ayah, ibuku juga berbicara padaku untuk segera memaafkan ayahku" jelas Xio tentang mimpinya semalam, tak lama kemudian dokter keluar dari dari balik pintu.
"Apakah ada kerabatnya?" ucap dokter.
"Iya saya dok!" sahut Xio berdiri.
"Bagaimana keadaannya dok?" tanya Xio.
"Pasien terkena 2 kali tembakan yang hampir mengenai jantungnya jadi kami masih bisa mengatasinya, tapi yang lebih parahnya adalah racun yang ada didalam tubuhnya, kami duga racun tersebut sudah lama menggerogoti tubuh pasien" Jelas sang dokter.
"Lalu bagaimana, apakah racunnya masih bisa disembuhkan?" tanya Xio lagi, tapi sang dokter hanya menggelengkan kepalanya.
Xio langsung menerobos masuk keruangan UGD, sang dokter ingin menghentikan langkah Xio, tapi Xio langsung membuat pingsan dokter tersebut. Saat Xio masuk kedalam ruangan Xio dapat melihat melihat beberapa perawat yang sedang membenahi barang-barangnya.
"Hei kamu tidak moleh masuk kemari" ucap perawat. Xio juga membuat semua perawat yang ada disitu pingsan.
Xio kemudian mendekat kearah Jhonatan yang sedang terbaring tak sadarkan diri, Xio langsung meminumkan antidote yang baru saja dibelinya, tak lupa Xio juga meminumkan HP potion untuk Jhonatan, agak lama Xio menunggu tapi tak ada perubahan sama sekali pada Jhonatan.
'System kenapa tidak ada perubahan sama sekali?' tanya Xio.
[Karena luka nya sangat parah dan racunnya sudah menyebar sejak lama, Maka potion antidote tersebut akan lama efeknya bereaksi]
"Huff syukurlah" Xio menghela nafasnya lega, kemudian Xio kembali keluar.
"Papah, apakah kakek tidak apa-apa?" tanya Lena.
"Tidak apa-apa, kita tinggal menunggu kesembuhannya saja" jawab Xio, sedangkan Adam dan Chris dari tadi kebingungan karena, bagaimana bisa Xio yang keluar kota dapat kembali hanya beberapa menit saja dan juga apa baru saja Xio lakukan didalam ruangan UGD, tapi mereka lebih memilih diam.
"nghh apa yang baru saja terjadi?!" ucap dokter yang baru bangun dari pingsannya.
"Tidak ada dokter, anda silahkan periksa kembali kondisi pasien!" ucap Xio,dan dokter tersebut langsung masuk kembali untuk memeriksa Jhonatan, tak lama kemudian dokter tersebut dokter tersebut keluar dari ruangan dengan wajah terkejut setelah memeriksa kondisi Jhonatan.
"Ini sangat mengejutkan, kondisi pasien sudah mulai mem baik secara perlahan dan kemungkinan besar pasien akan sadar besok siang" ucap dokter.
"Baiklah terimakasih dokter, anda bisa memindahkannya ke ruang rawat inap VIP" Jawab Xio.
"Baiklah kalau begitu saya permisi" ucap dokter melangkahkan kakinya pergi.
"Sayang kamu ajak anak-anak makan dulu dikantin rumah sakit, aku akan pergi menemui asisten ayah dimall yang sedang mencari pelakunya" ujar Xio menyerahkan beberapa lembar uang untuk Ellisa.
"Baiklah nanti aku akan menjaga ayahmu" jawab Ellisa, Xio mengangguk dan berjalan pergi keluar bersama dengan Adam dan Chris. mereka masuk kedalam mobil yang dibawa oleh Adam.
"Paman cepat bawa aku ke mall yang baru saja dikunjungi oleh ayahku" ucap Xio, Adam mengangguk dan langsung melajukan mobilnya ketempat tujujuan.
Sesampai nya di tempat, Xio dapat melihat banyak sekali polisi yang sedang memeriksa setiap sudut mall tersebut dan juga mall tersebut telah ditutup sementara, Xio berjalan masuk menuju ruang cctv karena diberitahu kalau Juli berada di ruang cctv.
"Maafkan saya tuan muda tapi kami belum menemukan pelakunya, kami hanya menemukan ciri-ciri pakaian yang dipakai si pelaku melalui cctv. saat ini polisi sedang menahan semua orang yang memiliki ciri-ciri yang sama dengan pelaku" Jawab Juli.
"Hahh kira-kira siapa yang ingin mencelakai anaku?" Xio menghela nafas dan duduk di kursi yang ada disitu.
"Oh iya tuan muda saya merekam cuplikan Vidio saat tuan Jhonatan dan anak-anak saat sedang bermain, dividio Tersebut juga si pelaku tertangkap kamera tapi wajahnya kurang jelas karena buram" Juli menyerah kan handphone yang tadi dipakai untuk memotret Jhonatan bersama Leon dan Lena.
Xio mengambil handphonenya dan memeriksa Vidio serta beberapa foto yang ada di galeri.
'Ternyata ayah masih mengingat coklat kesukaanku' batin Xio saat melihat foto jhonatan besama dengan Leon dan Lena yang sedang memegang coklat kesukaanya, Xio juga mengingat kembali masalalunya ketika masih kecil dia sering bermain bersama dengan Jhonatan dan Nadia ibunya.
'Tunggu dulu kenapa orang ini selalu ada di setiap gambar, dan Sepertinya aku pernah bertemu dengannya' Xio melihat ada seorang pria yang selalu ada dalam foto-foto tersebut, Xio mengingat-ingat dimana dia pernah bertemu dengan pria tersebut.
'Ah benar dia adalah orang yang bersama j*alang tersebut waktu malam itu' Xio mengingat kalau ternyata pria tersebut adalah orang yang bersama Serly waktu itu tapi Xio tidak tahu nama pria tersebut.
"Paman tolong periksa semua orang yang pernah berhubungan dengan Serly mau itu teman atau kerabatnya" ucap Xio menyerahkan kembali handphonenya ke Juli.
"Aku akan kembali kerumah sakit, paman tolong bantu apman July menyelidikinya" ucap Xio menatap Chris dan Adam.
"Baik tuan muda!" jawab Adam dan Chris serentak.
"Apakah tuan muda tidak perlu diantar?" ujar Adam.
"Tidak perlu aku sendiri saja" jawab Xio dan berjalan keluar ruangan tersebut, Xio berjalan menuju toilet untuk menggunakan shadow teleportationnya karena Xio sudah meninggalkan beberapa shadow soldier dirumah sakit.
tak lama kemudian Xio sudah berada di toilet yang berada dirumah sakit, Xio keluar dari toilet dan berjalan menuju meja resepsionis untuk menanyakan ruangan jhonatan.
"Permisi, diruangan mana pasien yang bernama Jhonatan Alexander diarawat?" tanya Xio. tapi resepsionis tersebut malah bengong memandangi wajah Xio.
"Halo, Mba!?" Xio melambaikan tangannya dihadapan resepsionis itu.
"ah iya maafkan saya, Pasien dirawat diruangan VIP nomer 03 di lantai dua" jawab resepsionis tersebut dengan wajah memerah karena terpesona dengan wajah Xio.
Setelah mendapatkan nomor kamar Jhonatan, Xio segera pergi meninggalkan resepsionis tersebut yang masih memandangi wajahnya. saat Xio sudah dekat dengan ruangan Jhonatan tiba-tiba.
Plakk!
Suara tamparan keras terdengar dari dalam ruangan Jhonatan yang pintunya tidak tetutup, Xio langsung berlari menghampiri ruangan jhonatan, saat Xio masuk ruangan Xio dapat melihat Serly yang pipinya sudah berwana merah dan melihat Ellisa yang wajahnya sedang marah.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG