
...----------------...
Setelah selesai di perusahaan nya, Xio langsung mengajak mereka ke butik untuk memilih gaun untuk Ellisa dan saat ini mereka sedang dalam perjalanan kesana.
"Sayang kenapa kamu bengong dari tadi?" Tanya Xio. Walaupun sedang menyetir tapi ia dapat melihat Ellisa yaang nampaknya sedang memikirkan sesuatu.
"Aku sedang berpikir apakah kamu akan tidur dengan wanita lain gara-gara tidak bisa melakukannya denganku, tapi tidak apa-apa juga sih kalau memang kamu sudah tidak bisa menahan nya dan melakukannya dengan wanita lain asalkan kamu bahagia." Jawab Ellisa.
"Ellisa, lihat aku!" Kata Xio menatap Ellisa, Ellisa pun menurutinya. "kamu benar-benar cinta aku atau tidak?" Tanya Xio membuat Ellisa terkejut dengan pertanyaan barusan tapi kemudian ia pun mengangguk dengan cepat.
"Lalu kenapa kamu selalu berbicara kalau kamu memperbolehkan aku bersama wanita lain seolah-olah kamu sudah tidak mencintaiku lagi." Ucap Xio menatap mata Ellisa dengan tangan yang masih fokus menyetir. "Sudah berulang kali aku mengatakan kalau aku akan setia pada kamu saja, harus berapa kali lagi aku mengatakan nya agar kamu benar-benar mempercayainya?" Lanjut Xio.
Ellisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah kaca mobil, "Maafkan aku, Bukannya aku tidak mempercayaimu, Aku hanya tidak ingin kamu kesepian kalau aku sudah tidak ada." Ucapnya.
"Sudah cukup kalau kamu sudah mengerti, dan kita jangan pernah membicarakan hal ini lagi." Ucap Xio karena tahu Setiap mereka membicarakan hal tersebut Ellisa hanya berpura-pura kuat diluar saja.
"Kita fokus saja pada pernikahan kita besok." Lanjutnya dan diangguki Oleh Ellisa.
Tak lama kemudian merekapun Akhirnya sampai di tempat tujuan. Saat masuk, mereka sudah dapat melihat Jhonatan dan Arthur sudah ada disana.
"Ayah sedang apa disini?, lalu bagaimana persiapannya?" Tanya Xio.
"Ayah hanya ingin melihat bagaimana ketika Ellisa dan kamu Ellisa dan kamu mengenakan gaun pernikahan." Jawab Jhonatan. "dan untuk persiapan dirumah sudah diurus oleh orang-orang mansion." Lanjutnya.
"Huff baiklah." Ucap Xio pasrah. Kemudian Ada seorang perempuan menghampirinya dengan membawa satu set gaun dan juga jas yang telah Xio pesan dari Italia dengan dia yang mendesainnya sendiri.
Xio langsung masuk kedalam bilik ganti sementara Ellisa masuk kedalam sebuah ruangan yang ditunjukkan oleh pegawai disana karena untuk memakai gaun tersebut harus ada yang membantunya.
Tidak butuh waktu Lama bagi Xio untuk berganti pakaiannya. Ia melihat ke cermin dan berpikir kalau rambut panjang tidak sesuai jadi ia mengubah nya menjadi pendek kembali.
Saat Xio keluar dari ruangan tersebut, Semua pasang mata langsung tertuju pada dirinya. Bagaimana tidak dengan penampilan nya yang terlihat sempurna seperti itu membuat orang tidak bisa beralih pandangan darinya.
"Bagus, Cocok sekali denganmu bahkan terlihat seperti ayah waktu muda." Puji Jhonatan.
"Yah terserah ayah saja." Jawab Xio karena tidak mau berdebat. "Lalu bagaimana dengan Ellisa?" Tanya xio.
"Ellisa belum keluar, Tapi ayah yakin Ellisa bakalan terlihat luar biasa." Jawab Jhonatan.
"Tentu saja, mengenakan apapun Ellisa akan tetap terlihat cantik." Jawab Xio Sombong. Jhonatan pun mengiyakan saja karena kalau sedang memuji Ellisa Xio tidak akan ada hentinya.
"Sayang bagaimana menurutmu penampilanku?" Terdengar suara Ellisa Di belakang Xio.
Ketika berbalik, Xio langsung terpukau dengan penampilan Ellisa. Tapi kemudian langsung menarik Ellisa kedalam ruangan kembali dan menguncinya dari dalam.
"Xio kamu ini kena-" belum sempat Ellisa mengucapkan kalimatnya sudah keburu disosor oleh Xio yang mencium bibir nya. dan perlahan tangannya mulai menggerayangi setiap inci tubuh Ellisa.
"Maafkan aku sayang, aku audah tidak bisa menahannya lagi karena entah kenapa tiba-tiba saja aku merasa sangat terangsang." kata Xio melepaskan Ciumannya beralih pada leher Ellisa. Dan Ellisa pun hanya mengangguk.
Xio melucuti semua pakaian yang ia pakai kemudian mulai melucuti gaun Ellisa sampai mereka berdua bugil tanpa ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.
"Sayang Apakah benar tidak apa-apa?" Tanya Xio karena ia takut Ellisa menilalnya namun Ellisa menjawabnya dengan anggukan yang berarti mengiyakannya.
Jhonatan dan Arthur dari tadi mengetuk-ngetuk pintu ruangan tersebut karena takut Xio menyakiti Ellisa.
"Xio buka!, Apa yang kamu lakukan pada Ellisa!" Kata Jhonatan.
"Awas saja kalau kamu menyakiti Ellisa sedikit saja!" Kata Arthur namun sayangnya suara mereka berdua tidak akan terdengar sampai kedalam ruangan tersebut.
"Kakek Tenanglah, Papah tidak akan mungkin menyakiti mamah." Ucap Lena.
"Palingan juga papah tidak ingin orang lain melihat kecantikan mamah." Tambah Leon.
Jhonatan dan Arthur pun berpikir kembali memang benar apa yang dikatakan anak-anak karena Xio tidak mungkin menyakiti Ellisa.
Satu jam mereka menunggu tapi Xio dan Ellisa belum keluar-keluar juga.
"Sebenarnya apa yang dilakukan anak ini sampai satu jam didalam sana?" Kata Arthur bertanya-tanya. Sementara Jhonatan hanya senyum-senyum sendiri karena ia sudah dapat memperkirakan apa yang sedang terjadi di dalam ruangan.
Bughh!!
"Kamu seperti tidak mengerti anak muda saja." Kata Jhonatan memukul punggung Arthur.
"Maksudanya?" Arthur belum mengerti apa yang dimaksud oleh Jhonatan. "Ohh... Hoho dasar anak muda padahal sedang di tempat publik." Kata Arthur.
Cklekk!
Pintu ruangan itu terbuka dan namoaklah Xio yang sedang memangku Ellisa yang terlihat lemas dan tertidur di pangkuan Xio. mereka berdua pun sudah kembali mengenakan pakaian biasa.
"Hoho Anak muda kamu terlalu bersemangat." Kata Jhonatan menepuk punggung Xio.
"Hehe habisnya mau bagaimana lagi jika melihat wanita miliku terlihat sangat cantik dihadapanku, Dan juga aku tidak ingin orang-orang melihat Kecantikan Ellisa." Jawab Xio.
'Ternyata benar apa yang dikatakan Leon' pikir Jhonatan dan Arthur.
Merekapun langsung keluar dari tempat tersebut dan menuju mobilnya. Xio menidurkan Ellisa dikursi belakang diatas pangkuannya karena Xio menyuruh Jhonatan yang menyetir.
Sementara Leon dan Lena bersama dengan Arthur di mobil Jhonatan. Karena sudah beberapa bulan dibumi Arthur jadi sudah bisa mengemudi bahkan sekelas dengan Skill pembalap, mengingat dirinya yang merupakan ras iblis jadi tidak takut terluka. Namun ketika sedang mengemudi dengan anak-anak Arthur Akan lebih hati-hati agar membuat mereka aman dan nyaman.
Sesampainya dirumah, Xio langsung memangku Ellisa dan membawanya kedalam kamar untuk menidurkan nya.
"Tidur yang nyenyak sayang, Aku sudah mendapat kabar baik untuk kita." Ucap Xio mencium kening Ellisa kemudian pergi keluar kamar.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG