Cross The World With System

Cross The World With System
Hantu bajak laut



...----------------...


Leon bersama dengan Lena, Salma dan Zekiel sekarang sudah siap-siap di dermaga untuk naik kapal tersebut.Dido juga mengantar kepergian mereka sampai dermaganya saja.


"Pangeran apa anda benar-benar yakin mau memecahkan kasus ini?" Tanya Dido nampak tidak yakin dan khawatir.


"Ini sudah jadi kewajiban ku karena perintah dari Yang Mulia." Jawab Leon penuh percaya diri.


"Ba-baiklah, kalau begitu semoga anda baik-baik saja." Ucap Dido. Dia sebenarnya tidak menyangka kalau rumor yang terjadi di kotanya akan sampai pada sang Raja, dan Rajanya langsung yang menurunkan perintah pada sang pangeran. Dido tidak tahu kalau itu hanya kebohongan. Meski Xio memang sudah mendengar rumor tersebut, tapi dia belum bertindak sama sekali.


Leon segera naik kapal karena Lena bersama Salma dan Zekiel sudah naik lebih dulu dari tadi. Dan kapal mereka pun segera berlayar dengan awak kapal sejumlah 10 orang yaitu 6 bawahan Dido, dan keempat anak tersebut.


Sementara Sebas terlihat sedang mengawasi di ketinggian langit terbang dengan jarak cukup jauh dari kapalnya Leon.


Sebenarnya di guild petualang sudah tersebar quest untuk mencari tahu kapal hantu tersebut, tapi tidak ada yang berani mengambil quest tersebut karena mereka takut dengan hantu dan juga masalahnya berada di tengah laut dimana bisa terdapat banyak banyak hal berbahaya, seperti badai, dan monster laut.


Leon juga sudah mendapatkan informasi kalau ikan-ikan yang biasa para nelayan tangkap mulai berkurang dan para warga berpendapat kalau kapal hantu tersebutlah yang mengambil ikan-ikan dilaut.


Cukup aneh, karena hantu memangnya bisa makan?


Selain itu, dia juga diberitahu kalau kapal hantu itu memang tidak terlihat dan bisa terletak secara acak. Tapi jika bisa menebak secara acak letaknya, maka kapal tersebut akan terlihat dengan sendirinya.


Kali ini Leon sudah berdiri didepan dek kapal dengan tangan disilangkan, menatap lautan dan bibirnya tersenyum seperti seorang kapten bajak laut di televisi.


Sudah satu jam mereka berlayar di tengah lautan, tapi belum juga bertemu dengan kapal hantu tersebut.


Seorang pria berjenggot menghampiri Leon.


"Maaf Pangeran, apa sebaiknya kita tidak kembali saja?" Ujarnya dengar takut.


Leon melirik kearah para awak kapal lainnya yang juga terlihat sudah lesu, begitupun dengan Zekiel karena ia mengalami mabuk laut.


Leon dibingungkan dengan pilihan antara terus lanjut atau kembali. Lalu ia pun terpikirkan sesuatu.


"Kalau kapal hantu itu tidak muncul, maka aku hanya harus memaksanya muncul!" Seru Leon langsung menoleh kearah Lena. "Lena bisa tolong bantu kakak?"


"Apa yang harus kubantu?" Tanya Lena.


"Tolong kamu bunyikan harmonika pemberian papa waktu itu!"


Meskipun tidak tahu apa yang sedang direncanakannya, Lena tetap mengangguk lalu mengeluarkan harmonikanya dari cincin ruang. Ia kemudian meniup harmonika tersebut dengan lagu yang enak didengar dan menenangkan.


Para awak kapal bingung kenapa Leon malah menyuruh Lena memainkan alat musik, tapi mereka juga kagum dengan kehebatan Lena bermain musik padahal hanya dengan harmonika saja.


"Hei semuanya Lihat!" Tunjuk Zekiel melihat tidak jauh dari kapal mereka terdapat puluhan lumba-lumba yang berenang melompat-lompat ke permukaan.


Semuanya lantas menoleh ke arah yang ditunjuk Zekiel. Mata mereka berbinar melihat keindahan sekumpulan lumba-lumba yang berenang bersama.


Tidak hanya di satu sisi, tapi disisi lain juga ternyata terdapat banyak lumba-lumba yang berenang juga mengelilingi kapal layar mereka. Tidak hanya lumba-lumba, tapi masih banyak lagi berbagai macam ikan yang tertarik dengan permainan musik Lena.


"Wahh! Ada hiu!" Panik Zekiel ia melihat sirip punggung puluhan hiu berenang ke arah kapalnya.


Semua awak kapal juga nampak terkejut, baru kali ini mereka melihat puluhan hiu berenang bersamaan.


"Pangeran apa yang harus kita lakukan?!" Tanya salah satu awak kapal.


Leon malah tersenyum dan melirik kearah Lena yang masih meniup harmonikanya. Seakan mengerti rencana kakaknya, Lena mengangguk dan berjalan kedepan dek kapal dengan terus melantunkan lagu di harmonikanya.


Ketika Lena sudah di depan dek kapal, ikan-ikan juga mengikutinya ke depan kapal.


Leon berdiri disamping Lena dan membisikkan sesuatu yang dijawab anggukan olehnya dan kemudian berhenti memainkan musiknya. Ia kemudian melihat ke bawah memandang ikan-ikan dilaut.


"Semuanya, aku butuh bantuan kalian. Apa kalian bersedia membantuku?" Ucap Lena cukup keras.


Semua ikan mengepak-ngepakan sirip mereka mengerti perkataan Lena..


"Apa katanya?" Tanya Leon pada Lena karena hanya Lena yang bisa mengerti mereka.


"Mereka semua mau membantu!"


"Baiklah kalau begitu, begini rencananya…" Leon kembali membisikkan rencananya pada Lena. Dia mengangguk, dan kemudian menyampaikan apa yang dikatakan Leon barusan.


"....Baiklah semuanya, berpencar sekarang!!" Teriak Lena. Dengan cepat bermacam-macam ikan yang jumlahnya ribuan tersebut langsung berenang ke segala arah dengan pergerakan lebih agresif. Seperti terjadi kericuhan di laut tersebut.


Sebas yang melihat dari atas langit tersenyum kagum dengan ide mereka. Meskipun ia berpikir sebenarnya mereka bisa saja melakukannya dengan cara lain yaitu dengan memanggil Golem air milik Lena.


Tidak lama setelah para ikan membuat kerusuhan, tiba-tiba saja muncul pusaran air yang sangat besar. Namun untungnya pusaran air tersebut tidak terlalu dekat dengan kapal layar mereka, karena kalau tidak mungkin sudah tersedot kedalam pusaran tersebut.


"Hahaha akhirnya muncul juga!" Leon tertawa. Sementara yang lainnya ketakutan melihat pusaran air sebesar itu. Jika dibandingkan dengan kapal mereka mungkin seperti sebuah titik di dalam gayung.


Langit seketika menjadi mendung bersama dengan Guntur yang bergemuruh di atas pusaran tersebut. Ombak menjadi tinggi dan tidak terkendali, membuat kapal mereka terus berguncang seperti sedang terguncang badai.


Tidak lama kemudian sebuah kapal yang sangat besar muncul dari dalam pusaran tersebut. Ukurannya 6 kali lebih besar dari pada kapal yang Leon tumpangi bahkan lebih besar dari kapal pesiar yang ada di bumi. Kapal tersebut benar-benar seperti kapal bajak laut dengan sebuah bendera bajak laut yang berkibar.


"SIAPA YANG BERANI MENGGANGGUKU?!" Terdengar suara menyeramkan seseorang yang kedengarannya sangat marah.


Semua awak kapal yang bersama Leon merinding mendengar suara yang menyeramkan tersebut. Bersamaan mereka menoleh ke arah Leon, tapi malah dibuat ternganga olehnya. Bukannya takut, mata Leon malah terlihat berbinar seperti seorang anak yang diberikan mainan baru.


Ditempatnya berdiri, Leon dapat melihat samar seseorang berdiri di tepi dek kapal besar tersebut. Ia seperti kapten bajak laut dengan topi bajak lautnya, dan juga tangan bajak lautnya yang seperti pengait.


Tiba-tiba saja bajak laut tersebut menyadari keberadaan kapal Leon dan menoleh ke arahnya. Leon juga merasa kapal mereka seperti sedang balik arah, dan benar saja ketika menoleh, ia melihat salah seorang sedang memutar balikan kemudi.


"Hei apa yang kau lakukan!?" Gertak Leon.


"Saya tidak mau mati pangeran!" Sahut orang tersebut tergesa-gesa.


"Kamu terlambat kalau tidak mau mati sekarang." Ucap Leon menunjuk kapal hantu tadi yang sedang bergerak ke arah kapalnya dengan kecepatan penuh.


"Kalian rupanya yang menggangguku!" Suara menyeramkan tadi kini terdengar sangat dekat. Semuanya menoleh ke arah suara tersebut sambil menenggak karena kapal hantu itu sangat tinggi.


Dilihatnya seorang Undead mengenakan pakaian bajak laut tersebut, dengan kepala tengkorak yang menyeramkan ditambah dengan hantu-hantu kru nya yang memenuhi kapal.


"AAHH HANTU!!" Teriak Lena dan Salma berlari ke arah Leon dan bersembunyi di belakangnya karena ketakutan ditambah lagi dengan suara Guntur yang terus menggelegar menambah suasana horor. Sedangkan 6 orang yang tadi kini mereka saling berpelukan berdempetan dengan tubuh gemetar.


Leon melirik ke arah Zekiel yang ternyata sudah pingsan duluan. Ia menepuk keningnya sendiri karena ternyata hanya dirinya saja yang tidak takut hantu.


"Apa yang ditakutkan dari hantu?" Celetuknya dengan polos lalu mengayunkan satu kali pedangnya dengan dialirkan energi sihir dan langsung menumbangkan beberapa roh di kapal seberangnya. Beberapa roh yang tumbang tersebut langsung menghilang seperti asap sementara sisa kawanannya masih menumpuk.


Trangg!!


Leon menahan pedang Undead itu dengan pedangnya, sehingga pedang mereka saling beradu dan bergesekan serta menciptakan bunga api di gesekan nya.


Dengan sedikit dorongan, Leon berhasil membuat kapten bajak laut itu mundur 2 langkah. Tapi lagi kapten bajak laut tersebut melesat ke arah Leon kali ini menggunakan gerakan yang terus-menerus menerjang dengan pedangnya. Leon juga terus menangkisnya dengan pedangnya menunggu kesempatan untuk menyerang balik.


Sementara itu Lena melihat hantu-hantu kru kapal kapten bajak laut itu juga mulai menyeberang satu persatu ke kapalnya. Lena melihat ada yang mau membawa Zekiel yang sedang tergeletak, dan dengan cepat ia pun menembakkan sihirnya pada hantu yang akan membawa Zekiel, lalu dia berhasil memusnahkan satu roh dengan sihirnya.


"Salma bawa Zekiel kemari! Aku akan melindungimu!"


Salma mengangguk dan langsung berlari ke arah Zekiel, setiap ada hantu yang mendekatinya, Lena langsung menembaknya hingga Salma pun berhasil membawa Zekiel dengan menggusur kakinya. Meskipun keduanya takut melihat hantu, tapi kali ini mereka tidak memikirkannya karena keadaan sedang tidak baik-baik saja.


"TUAN PUTRI AWAS!!" Teriak salah satu pria di tepi dek sana yang sedang bertarung juga dengan beberapa hantu.


Lena tidak sadar di belakangnya ada beberapa hantu yang akan menerjangnya. Ketika ia menoleh ke belakang, benar saja ada dua hantu yang akan menerkamnya. Tapi tiba-tiba…


Whoosh!!


Sebuah lontaran sihir kegelapan mengenai langsung kedua hantu tersebut dan melenyapkannya. Ternyata Erebos, Shinwa hewan kontrak Leon yang telah menolongnya. Itu juga berkat Leon yang mengeluarkannya untuk membantu Lena.


Karena semakin banyak hantu yang berdatangan, Lena pun mengeluarkan Lux untuk membantunya dan menciptakan barrier air yaitu "Aqua:Defension" Untuk melindungi semua kecuali Leon. Karena Leon sedang beradu pedang dengan kapten bajak Laut sehingga mereka terus bergerak kesana dan kemari.


Sebas diatas sana kebingungan, harus membantu mereka atau tidak. Meskipun Sebas tahu Leon dan Lena tidak mungkin kalah dari mereka, tapi melihat mereka kerepotan dengan jumlah sebanyak itu bisa menyusahkan mereka sendiri. Di sisi lain ia juga tahu Leon tidak ingin dibantu. Dan jika membantunya sekarang, Leon pasti akan marah dan cemberut seharian, karena Xio pernah mengalaminya di cemberutin Leon.


***


Sementara itu di istana kerajaan regalia, lebih tepatnya di tempat berlatih Xio tadi.


Nampak di tengah lapang tersebut kini Xio sedang terduduk di tanah sambil menyelonjorkan kakinya. Keringat di wajah serta badannya bercucuran dengan pakaiannya juga yang sudah kotor karena latihan barusan bersama Azril.


"Tangkap ini!" Dari tepi lapangan Azril melemparkan sebuah minuman kaleng pada Xio sambil berjalan ke arahnya.


Xio menangkap minuman kaleng tersebut, membuka tutupnya dan meminumnya dengan beberapa tegukan.


"Kita lanjutkan lagi latihannya nanti." Ucap Azril sudah berdiri disana dan menyodorkan tangannya.


Xio memegang tangan Azril dan langsung berdiri. Ia melihat langit sudah berwarna jingga dan melihat jam tangannya sudah mau hampir jam 5.


"Kenapa anak-anak belum pulang yah?" Herannya.


"Biasalah anak-anak kalau sudah asyik suka lupa waktu." Sahut Azril.


"Kalau begitu aku akan menyusulnya."


Xio berjalan begitu saja melewati Azril.


"Kamu mau pergi seperti itu?" Azril memperhatikan pakaian Xio yang kotor dan wajahnya yang cemong, "mandi dulu dan ganti pakaian dulu sana!" Suruhnya.


"Hhh baiklah…" Xio menjawab dengan pasrah dan langsung menghilang dari sana seketika.


Muncul kembali ia di kamarnya untuk mandi. Setelah mandi dan berganti pakaian mengenakan kemeja hitam dan celana putih. Xio mendengar suara kericuhan di luar. Ketika mengintip dari jendela, ia dapat melihat kapal besar seperti kapal bajak laut terbang di langit kota.


Dari jauh Xio juga dapat Melihat seorang anak yang tidak lain yaitu Leon berdiri di bagian depan kapal tersebut sambil mengenakan topi bajak laut.


"Dari mana anak ini mendapatkan kapal sebesar itu..?" Xio menggeleng-gelengkan kepala, "aku tanya Sebas dari mana mereka." Lanjutnya dan kebetulan ada suara ketukan di depan pintunya yang tidak lain adalah Sebas.


Xio menghampirinya dan menanyakan semua yang dilakukan anak-anaknya. Sebas pun menceritakan semuanya tanpa menyisakan satu peristiwa pun termasuk kebohongan Leon pada Dido.


Alis Xio berkedut mendengarkan cerita Sebas, lalu bersama Sebas ia pun segera berjalan keluar istana untuk menghampiri anak-anaknya yang sudah berada di halaman istana.


Sesampainya di halam depan Istana, Sudah banyak prajurit yang datang juga untuk menyaksikan kapal besar tersebut. Azco, Para osa dan kebajikan pun ada disana.


Leon, Lena, Salma dan Zekiel sudah berdiri tepat di bawah depan bayang-bayang kapal besar tersebut.


Xio berjalan dengan gagah dan elegan nya ke arah mereka.


"Siapa diantara kalian yang sudah membohongi walikota Southampton?" Tegasnya.


Mereka berempat yang awalnya tersenyum-senyum karena mengira Xio tidak akan mengetahui kejadian disana. Tapi mereka seketika langsung menunduk.


"Jawab cepat!" Tegasnya lagi dengan wajah serius.


Secara bersamaan Lena, Salma dan Zekiel melirik ke arah Leon.


Leon terkejut karena teganya mereka mengorbankan dirinya.


"Ohh... jadi Leon sudah berani berbohong menggunakan nama papa hm?!"


"Tidak papa! Bukan begitu, Aku minta maaf!"


"Baiklah kamu dihukum! Ikuti aku!" Seru Xio.


Dengan pasrah Leon pun berjalan di belakangnya karena memang merasa bersalah.


Xio menoleh kebelakang, "Kalian juga aku hukum!" Ucapnya pada Lena, Salma dan Zekiel.


Dengan kompak keempat anak itu pun harus mengikuti Xio untuk menjalankan hukuman mereka yaitu di perpustakaan. Hukuman mereka yaitu harus menulis surat permintaan maaf pada Dido karena telah membohonginya dan mengatakan semua kebenarannya.


Sebagai kepalanya Leon harus menulis 50 surat, sedangkan yang lainnya hanya hanya 20 surat saja karena mereka mengikuti Leon.


Ditengah meja perpustakaan keempat anak tersebut pun dengan pasrah menjalankan hukuman Xio diawasi oleh Sebas. Ditengah meja itu juga sudah terdapat tumpukan kertas, tinta, pena serta makanan dan minuman untuk mereka.


"Sebas awasi mereka, jangan ada yang curang dan jangan keluar perpustakaan sampai semuanya selesai!"


"Baik Yang Mulia."


Xio berjalan keluar dari perpustakaan sambil terkekeh kecil dengan ditemani Azco berjalan di sampingnya.


'Mungkin walikota itu mendadak akan mendapatkan banyak surat sekaligus.' Batin Azco.


...****************...


...BERSAMBUNG...