
...----------------...
"Papah, ini dimana?" Tanya Lena.
"Iya, perasaan tidak ada tempat berlatih seperti ini di kerajaan kita." Tambah Leon.
"Tunggu sebentar, ada yang kemari." Ucap Xio segera memasukan mobilnya ke dalam inventory lalu membawa Leon dan lena masuk kedalam bayang, di samping benteng tinggi yang tertutup akar serta dedaunan hijau.
Mereka bertiga mengintip di dalam bayangan.
Tidak lama kemudian terdengar banyak suara derap langkah kaki serta suara orang-orang yang berbicara sedang berjalan ke tempat tersebut.
Sampai munculah segerombolan orang dengan rambut panjang berwarna pirang, telinga yang runcing, dan badan yang tinggi. Dari ciri-cirinya sudah dipastikan kalau mereka dari ras Elf.
Para Elf itu sepertinya akan memulai latihan mereka dengan senjata andalannya yaitu panah. Masing-masing dari mereka mengambil busur panah juga anak panahnya yang ada di tepi lapangan.
Satu persatu dari mereka menarik anak panah di ujung busur, lalu melepaskannya. Tidak ada satupun dari mereka yang tidak mengenai target, semuanya tepat sasaran. Bahkan ada yang bisa membuat anak panahnya menjadi berkali-kali lipat dan membelokkannya di udara.
Leon dan Lena menatap mereka kagum.
"Papah, apa semua elf bisa seperti itu?" Tanya Lena.
"Hm, para elf dari lahir sudah diberkahi bakat memanah dan mana yang banyak. Jadi mereka sangat unggul jika pertarungan jarak jauh." Jawab Xio.
"Tapi ingat, walaupun mereka hebat dalam serangan jarak jauh, mereka juga mempunyai sihir yang hebat-hebat. Jadi jangan terlalu gegabah kalau mau menyerangnya dalam jarak dekat." Tambahnya.
"Tapi, bukankah elf tidak suka pertempuran?" Tanya Leon.
"Benar elf tidak suka bertempur. Tapi kalau terdesak, mereka juga bisa menjadi ganas." Jawab Xio.
"Oohhh.." Leon dan Lena ber oh ria, baru memahami sesuatu.
Xio melihat ekspresi Leon keheran memperhatikan para elf tersebut.
"Apa kamu menyadarinya juga?" Tanya Xio.
"Iya!" Leon mengangguk, "Bagaimana rata-rata level mereka sangat tinggi?" Tanyanya.
Xio tersenyum dan mengelus kepala Leon, "Ternyata anak papah cepat tanggap juga yah." Ucapnya.
"Apa kamu penasaran?" Lanjutnya bertanya.
Leon mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kalau begitu ayo kita cari tahu!" Seru Xio yang sama-sama penasaran.
"Tunggu dulu! Kata mamah, kita tidak boleh membuat rusuh di tempat orang." Sahut Lena.
"Lena sayang...kita bukan mau membuat rusuh, tapi papah mau mengajak kalian berjalan-jalan dulu di tempat tinggal para elf ini. Lena mau kan ikut dengan papah dan kakak kan?" Kata Xio menurunkan sedikit badannya, dan mengelus kepala Lena.
Lena melihat-lihat sekitar terlebih dahulu, ia dapat melihat semuanya serba hijau. Pepohonan yang menjulang tinggi dengan daun yang lebat, rumput-rumput pendek ditambah bunga-bunga cantik.
Xio tersenyum melihat ke arah mata Lena tertuju.
"Baiklah kalau begitu ayo!" Seru Xio mengangkat mereka berdua. "Lena jangan bilang mamah yah…" tambahnya.
"Hufft baiklah." Jawab Lena pasrah karena dia juga sebenarnya ingin melihat-lihat tempat tinggal para elf yang indah dan tentu saja makanan para elf.
Xio membawa Leon dan Lena ketempat yang sepi terlebih dahulu. Sampai dia menemukan sebuah rumah di atas dahan pohon besar yang sepertinya tidak berpenghuni. sebab daun-daun yang dijadikan sebagai atap terlihat agak kekuningan. Tidak seperti rumah-rumah lainnya yang masih berwarna hijau segar.
Walaupun tidak jauh dari rumah tersebut terdapat elf-elf yang sedang menjalankan aktivitas mereka. Xio tidak terlacak sama sekali, sebab Xio pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam bayangan.
Saat sudah berada didalam rumah berbentuk bundar dengan luas tidak terlalu besar, Xio pikir kalau dulunya rumah tersebut hanya dihuni oleh satu orang saja.
Anehnya seisi ruangan, lantai, serta peralatan yang terlihat masih bersih dan terawat dengan baik, berbeda dengan luarnya seperti rumah yang akan roboh.
Xio keluar dari dalam bayangan di tengah ruangan bersama dengan Leon dan Lena.
"Pah, bukankah ini terlihat seperti rumah berpenghuni?" Tanya Lena pada Xio.
"Tidak...rumah ini sudah tidak disentuh lagi oleh penghuninya sekitar lebih dari dua bulan." Jawab Leon.
"Betul kata kakakmu!" Sahut Xio.
"Bagaimana kakak bisa tahu?" Tanya Lena.
"Lihat saja selai juleberi itu." Kata Leon menunjuk setoples selai berwarna hijau diatas meja.
"Ohh aku mengerti." Kata Lena mengangguk paham.
"Anak-anak papah memang pintar." Xio memuji sambil mengelus kepala mereka.
---
Juleberi merupakan sejenis beri berwarna biru yang biasanya dijadikan sebagai selai, rasanya manis dan sedikit gurih. Di kerajaan regalia beri ini sedikit sulit untuk ditemukan, karena tidak banyak yang menanamnya.
Juleberi harganya relatif mahal, sebab rasanya yang unik dan cara cara merawatnya yang sulit. Selain itu, berbeda dengan selai-selai lainnya yang masa kadaluarsanya lama, bisa sampai 1 hingga dua tahun. Selai juleberi ini sangat mudah kadaluarsa. Jika didiamkan dalam keadaan terbuka masa kadaluarsanya sekitar 1 bulan, sedangkan kalau tertutup bisa sampai 3 bulan.
Jika sudah mau basi, warnanya akan berubah menjadi hijau, yang semakin lama akan menjadi kuning atau sudah basi.
Begitulah cara Leon bisa mengetahui kalau rumah tersebut sudah tidak ditempati selama lebih dari dua bulan. Sedangkan ruangan yang bersih itu merupakan sihir, yang bisa menjaga kebersihan dengan sendirinya.
---
'System, apa ada sesuatu yang dapat membuatku seperti elf di toko?' Tanya Xio dalam hati.
...「 Ramuan Qelps: Ramuan ini dapat merubah Tuan menjadi elf untuk 1 hari....
...10.000/Botol ramuan 」...
'Berikan aku 10 botol ramuannya!'
...「 Membeli 10 Botol ramuan Qelps dengan harga 100.000 Berhasil. Point System anda tersisa 84.900.000 」...
Ditangan Xio muncul botol-botol ramuan kecil dengan cairan didalam nya yang berwarna hijau.
"Anak-anak, kemari!" Xio memanggil Leon dan Lena yang barusan sedang melihat-lihat furniture para elf yang ramah lingkungan.
Leon dan Lena pun kembali menghampiri Xio.
"Minum ini masing-masing satu." Ujarnya memberikan 1 botol ramuan tersebut pada Leon dan Lena.
"Untuk apa ini pah?" Tanya Leon.
"Ramuan itu bisa membuat kalian menjadi elf untuk satu hari." Jawab Xio.
"Ohh baiklah."
Leon dan Lena membuka tutup botol masing-masing ramuan yang dipegangnya, dan kemudian meminumnya dalam sekali tegukan.
"Uekk! Ramuannya sangat pahit!" Kata Leon menjulurkan lidahnya setelah meminum semuanya.
"Iya pahitnya membekas di lidahku!" Tambah Lena.
Xio yang melihat mereka kepahitan, segera mengeluarkan kukis buatan Ellisa dari inventorinya. "Makanlah cookies manis buatan mamah kalian ini." Ujarnya.
Leon dan Lena segera menggigit satu gigitan dari kukis tersebut.
"Emm... cookies buatan mamah memang yang terbaik…" Kata Leon menikmati kukis tersebut.
"Heem! Aku tidak merasakan pahit lagi." Sahut Lena.
Sementara Xio sendiri sedang memperhatikan perubahan mereka. Telinga mereka tumbuh menjadi lancip dan pupil matanya juga berubah warna menjadi kuning keemasan. Tidak hanya itu, rambut Leon perlahan mulai tumbuh sampai sepunggung, sedangkan rambut Lena sepanjang betisnya.
Mereka berdua yang sedang asik menikmati kukis belum sadar kalau penampilannya sudah berubah.
Xio berjongkok di depan mereka sambil tersenyum.
"Apa enak cookies nya?" Tanya Xio.
"Emm!" Jawab mereka berdua mengangguk.
"Coba sekarang kalian lihat cermin dekat rak buku itu!" Kata Xio menunjuk cermin setinggi orang dewasa di samping rak buku.
Leon dan Lena menoleh ke arah jari Xio menunjuk.
Gulp!
Keduanya langsung menelan kukis yang masih ada dalam mulut, terkejut dengan perubahan mereka.
"Lihat! rambut kakak jadi panjang!" Seru Lena.
"Rambut Lena juga bertumbuh sedikit!" Tambah Leon.
"Hbaguslah, sekarang giliran papah.aha mau bagaimanapun juga kalian tetap lucu." Xio tertawa mengelus kepala mereka dan mencubit pipi chubby nya gemas.
"Aww...Papah!!" Seru Leon dan Lena.
"Hahaha...baiklah, kalau begitu sekarang giliran papah." Ucap Xio tertawa puas, sementara Leon dan Lena mengusap-usap pipi mereka masing-masing.
Xio lalu berjalan ke sebuah ruangan dengan pintu yang ditutupi semacam gorden kain sutera. Ia memutuskan untuk meminum ramuan tersebut di ruangan terpisah, karena sekalian untuk berganti pakaian.
Ternyata ruangan tersebut merupakan sebuah kamar tidur, sebab terdapat ranjang queen size yang terlihat empuk disana.
"Bagus...disini juga ada cermin." Kata Xio merujuk pada cermin yang tergantung di dekat lemari kayu berwarna coklat tua itu.
Xio berdiri di depan cermin tersebut memandang dirinya sendiri terlebih dahulu. Kemudian ia meminum ramuan Qelps tadi dalam satu tegukan.
Tidak butuh waktu lama ramuan tersebut bekerja. Perlahan ujung telinganya mulai tumbuh menjadi lancip, rambutnya juga tumbuh hingga sepunggung.
Sampai tak lama kemudian, kedua matanya memancarkan cahaya yang sangat terang. Disusul dengan seluruh tubuhnya yang ikut bercahaya tak kalah silaunya.
"Tunggu! Apa yang terjadi?!" Terkejut sekaligus heran Xio. Sebab Anak-anaknya tadi tidak terjadi seperti yang dialaminya saat ini.
Leon dan Lena yang sedang makan kukis di luar juga dapat melihat cahaya Silau yang menembus gorden penghalang pintu. Mereka menutupi mata dengan lengan karena cahaya tersebut sangat menyilaukan mata dan menyelimuti seisi rumah.
"Kakak! Apa yang terjadi dengan papah!?" Teriak Lena. Masih menutupi penglihatannya.
"Tidak tahu!" Sahut Leon.
Beberapa saat kemudian. Cahaya yang keluar dari dalam ruangan yang dipakai Xio tadi mulai meredup, mereka berdua pun mulai membuka matanya perlahan.
Penasaran apa yang terjadi pada Xio, Leon dan Lena segera berlari ke dalam ruangan tersebut.
"Wow…!!!" Takjub kedua bocah itu dengan mata berbinar melihat ayahnya.
Wajahnya tidak berubah, masih tampan seperti sebelumnya. Tapi Pupil mata berwarna Emas, serta armor emas mengkilat yang menutupi tubuhnya lah yang membuat Leon dan Lena tertegun melihat ayah mereka.
Seperti sedang menatap seorang dewa, mata mereka tidak berkedip sama sekali.
"Waw papah keren sekali!"
"Darimana papah mendapatkan armor emas ini?"
"Barusan itu cahaya apa yang menyilaukan?"
"Apa papah sudah menjadi dewa?"
Sambil menyelidiki Xio dari dekat dengan antusias, Leon dan Lena terus menjatuhkan pertanyaan yang Xio sendiri juga kebingungan dengan apa yang sudah terjadi dengan dirinya.
Yang Xio ingat, tubuhnya bersinar dan tiba-tiba semua armor tersebut sudah melekat padanya.
"Tunggu sayang, biar papah berpikir sejenak." Ucap Xio.
Leon dan Lena pun berhenti menyelidik seputaran armor emas Xio itu. Mereka menengadah menatap Xio heran.
'System kenapa armor ini ada padaku?'
...「 PERINGATAN! Dalam 3 menit tuan akan dikirim ke bawah alam sadar! 」...
'Tunggu! Tunggu! Apa maksudmu?'
「Hitung mundur dimulai 179...178…」
'Sial! Mendadak sekali…' Xio menggerutu dalam hati.
Dia berjalan ke dekat ranjang dan duduk bersandar di tengah di kepala ranjang.
"Kemarilah!" Ucapnya menepuk-nepuk permukaan ranjang di kiri kanannya, menyuruh Leon lan Lena duduk disana.
Keduanya menuruti apa kata Xio dan duduk di sampingnya.
"Dengar, kalau papah tiba-tiba tertidur jangan panik dan tetaplah tenang. Kalian berdua jangan keluar dari rumah ini apapun yang terjadi. Kalau ingin makanan ambil saja di dalam cincin ini." Ucap Xio menyerahkan sebuah cincin penyimpanan.
"Tunggu apa yang akan terjadi dengan papah?" Tanya Lena khawatir dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Jangan menangis...papah akan baik-baik saja." Jawab Xio tersenyum mengusap-usap kepala Lena, Lalu kepalanya Leon. "Temani adikmu dan jangan biarkan ada yang masuk kedalam rumah...Apa kamu mengerti?!" Tegasnya. Dijawab angguy oleh Leon.
Xio tersenyum.
「8...7…」
"Baiklah papah mau tidur dulu…" Ucapnya seraya matanya yang tiba-tiba mengatup. Kedua tangannya melorot dari atas kepala Leon dan Lena.
Xio pun tertidur diatas ranjang dengan posisi bersandar pada sandaran ranjang. Leon menaruh kedua tangan Xio diatas perutnya.
"Ayo! Kita tidak boleh mengganggu papah." Ajaknya pada Lena.
Lena mengangguk, dan mereka berdua pun turun dari ranjang lalu berjalan keluar ruangan.
Tapi Lena kembali menoleh kebelakang melihat Xio.
"Kak, apa papah akan baik-baik saja?"
"Kalau papah bilang baik-baik saja, berarti tidak akan terjadi hal buruk pada papah." Jawab Leon berjalan di depan Lena.
"Semoga saja begitu." Lena menyusul di belakang Leon dan kembali menutup gorden pintunya.
***
Sementara itu di bumi, di sisi Ellisa.
Krekk
Pintu kamarnya dibuka. Dia memasuki kamar dengan Nathaniel dan Natassa yang tertidur di pangkuannya. Kakinya melangkah ke arah tempat tidur lalu meletakkan mereka di atas ranjang berdampingan.
"Ahh bayi-bayiku imut sekali!" Seru Ellisa berdiri di samping ranjang sambil menatap bayinya gemas dengan senyuman di bibirnya.
Ellisa mengeluarkan handphonenya dan mulai memotret kedua bayinya dari segala angle dengan tenang agar tidak membangunkan si buah hati.
"Aku akan mengirim foto-foto ini pada suamiku." Gumamnya sambil tersenyum menatap layar handphone.
"Eh tunggu. Mengirim gambar saja bolehkan?" Dia kebingungan, sebab takut nantinya malah melanggar adat.
"Hmm…" Ellisa menengadah keatas dengan jari membelai dagunya sendiri seperti sedang berpikir.
"Ah biarlah, inikan cuma foto anak-anak." Dia pun akhirnya memutuskan untuk mengirim gambar-gambar tersebut.
Setelah gambar-gambar tadi dikirimnya, Ellisa meletakkan handphonenya di atas rak disamping ranjang. Dia duduk di tepian ranjang Lalu mengambil sebuah buku novel di atas rak tersebut.
Saat membuka halaman terakhir ia membaca, ia menemukan sebuah kertas kecil yang terdapat tulisan tangannya.
"Kalau kamu menemukan kertas ini berarti saat ini kamu sedang bosan." Ellisa membaca tulisan tersebut yang tulisan tangannya sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan suaminya.
Memang benar kalau sedang bosan atau tidak ada pekerjaan Ellisa sering memutuskan untuk membaca buku. Meskipun Ellisa tidak pernah memberitahukan kebiasaannya tersebut pada Xio, tapi Xio sendiri yang sering memperhatikannya.
Saat kertas tersebut di balik, dia menemukan tulisan lagi. Isi tulisan tersebut, "Bacalah halaman terakhir novel ini."
Ellisa tersenyum. Entah kenapa sekarang dia sudah mulai merindukan Xio.
Karena penasaran apa yang sudah Xio rencanakan, dia pun langsung membuka halaman halaman terakhir dari buku tersebut.
Dia menemukan sebuah kutipan dari lembar terakhir novel tersebut.
"Aku harap kamu merindukanku sebanyak aku merindukanmu"
Sebuah senyuman yang manis terlukis di wajah cantik Ellisa. Dia pikir Xio pasti sudah membaca novel komedi romantis itu lebih dulu darinya.
"Curang sekali... sekali aku lebih merindukannya." Gumam Ellisa.
Biasanya pada waktu luang seperti ini, Ellisa akan membaca buku diatas pangkuan Xio. Tapi sekarang dia hanya bisa membayangkan Xio ada disisinya dengan melihat sebuah frame foto dia di dinding.
"Sekarang Xio sedang apa yah..?"
...****************...