Cross The World With System

Cross The World With System
LATIHAN



...----------------...


Setelah kejadian taman istana yang terselimuti es tadi, Penelusuran dan pencarian pentunjuk pun di lakukan hingga malam hari untuk mengetahui siapa sebenarnya dalang di balik penyerangan terhadap Ellisa dan anak-anak.


Pencarian tersebut berlangsung hingga malam hari karena tidak ada satupun petunjuk yang dapat di temukan, bahkan sudah keseluruh sudut-sudut mereka menelusurinya.


"Apakah tidak ada penjaga sama sekali di depan gerbang ke taman?" Tanya Xio.


"Seharusnya ada Yang Mulia, tapi entah kemana mereka juga ikut menghilang." Jawab Sebas.


"Lalu bagaimana dengan penjaga germang masuk istana?" Tanya Xio lagi karena ia berpikir tidak mungkin ada orang yang bisa masuk ke wilayah istananya kecuali lewat gerbang depan saja.


"Semua penjaga gerbang di istana ini tidak melihat ada orang asing satupun yang masuk kedalam wilayah istana Yang Mulia." Jawab Sebas


Xio duduk di kursi dengan kedua jari mengusap dagu. "Siapa orang yang sudah berani masuk ke dalam istana ini?" Gumamnya.


"Saya berpikir kalau orang itu sepertinya punya kemampuan berkamuflase atau mungkin bisa jadi teleportasi kemana saja." Ucap Sebas.


"Yahh aku pikir itu bisa saja terjadi, mengingat tidak ada satu orangpun yang melihat melihat orang asing." Kata Xio setuju dengan pendapat Sebas.


"Sebas perintahkan orang-orang memperluas pencariannya, bila perlu hingga keseluruh sudut pulau terbang ini." Perintah Xio.


"Baik Yang Mulia." Jawab Sebas membungkukkan dadanya sedikit.


Xio pun menghilang dari hadapan sebas dalam sekejap mata, ia berpikir kembali kekamarnya saja karena sudah malam dan kasihan Ellisa sendiri dikamar karena Leon dan Lena pasti sudah tidur dikamar mereka jika jam segini.


Xio memperketat semua keamanan di karena tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi, ia bahkan menaruh beberapa penjaga di setiap depan pintu ruangan apapun itu. Terutama di depan kamarnya dan kamar anak-anak. Ia tidak peduli jika para penjaganya bisa mendengar setiap suara-suara yang di keluarkan olehnya dan Ellisa ketika berhubungan.


Sesampainya di kamar, Xio melihat Ellisa sedang berada di balkon menatap pemandangan langit malam. Ia berjalan-jalan dengan Sembunyi-sembunyi berniat mengagetkan Ellisa. Tapi langkahnya terhenti ketika mendengar suara dalam hati Ellisa.


'Apakah aku pantas disandingkan dengan Xio yang sempurna dalam segala aspek?'


'Selama ini aku hanya bisa menyusahkan nya saja dan hanya menjadi beban untuk dirinya. Aku takut Xio lelah jika aku terus menyusahkannya, kenapa aku sangat lemah? padahal baru saja mendapatkan kekuatan dari makhluk legenda yang masuk kedalam tubuhku itu.'


'Sekarang aku harus berlatih lebih keras lagi agar tidak selalu menyusahkan Xio.'


Xio tersenyum lalu langsung memeluk dan melingkarkan tangannya di perut Ellisa.


"Kamu bukan beban sayang, kamu juga tidak pernah membuatku lelah untuk terus menjagamu. Kamu itu keberuntungan ku dan pendukungku yang paling setia." Kata Xio mencium rambut Ellisa.


"Banyak sekali keberuntungan dan kebahagiaan yang aku dapatkan darimu, seperti bisa memelukmu, menciummu dan mempunyai anak darimu. Yang lebih membuatku menjadi orang paling beruntung yaitu bisa bertemu dan menjadi pasangan mu sampai waktu kita habis." Lanjut Xio dengan nada lembutnya yang terdengar jelas di telinga Ellisa.


Xio merasakan ada tetesan air menyentuh tanggannya yang sedang melingkar di perut Ellisa.


"Terimakasih.. terimakasih.." Suara Ellisa terdengar sedikit bergetar. Xio langsung saja memutar tubuh Ellisa untuk memeluknya dari depan karena ia tahu kalau tetsan air barusan adalah tetesan air mata yang berasal dari Ellisa.


Xio memeluk Ellisa erat, dengan membenamkan wajah Ellisa di dadanya dan juga sambil mengelus punggung Ellisa.


"Tidak usah berterimakasih sayang, memang sudah jadi kewajiban ku sebagai suami membuat istrinya hidup aman, tentram dan damai. Aku berjanji akan melindungi mu bahkan jika harus segalanya." Ucap Xio, lalu mencium kening Ellisa.


"Kalau begitu tolong latih aku bagaimana pun caranya agar aku tidak menjadi istri lemah dari suami yang kuat, karena aku juga ingin bisa sekuat dirimu dan berguna untukmu!." Kata Ellisa menatap mata Xio.


"Berguna untuku....bagaimanapun caranya...." Xio pura-pura berpikir dengan mengusap dagunga sendiri.


Tiba-tiba saja ia menyeringai kemudian langsung memangku Ellisa dan tersenyum menyiitkan matanya mearah Ellisa. Ia langsung masuk kembali kedalam kamar lalu menjatuhkan Ellisa di atas kasur.


"Latihan pertmanya yaitu latihan ketahanan." Ucap Xio tersenyum sambil membuka sabuk yang dikenakannya dihadapan Ellisa lalu membuka celananya hingga nampaklah benda Xio yang sudah sangat tegak dan berdiri dengan kokoh.


"Ayo kita lihat apakah kamu bisa melewati latihan pertama yaitu kamu harus menatapku dan tidak boleh tergoda dengan ini selama 10 menit." Ucap Xio menunjuk benda miliknya.


"Hemm ini sih terlalu mudah! karena aku bukan orang mesum sperti-" Ellisa langsung berhenti berbicara ketika melihat Xio menggenggam benda miliknya sendiri dan mulai memainkannya. Ekpresi Xio, badan kekar Xio, dan benda besar dibawahnya itu terlihat sangat seksi dimata Ellisa.


Ellisa pikir itu akan mudah karena hanya menatap benda Xio saja, tapi dengan Xio yang sedang memainkannya itu membuatnya menjadi sangat Sulit, dan terlihat ekspresi Ellisa saat ini terlihat seperti sangat ingin menyentuhnya.


Ellisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Tidak, aku harus bisa melewati latihan pertama ini!" Serunya dengan tegas. Xio tersenyum melihat Ellisa yang seperti itu.


beberapa menit kemudian. Ellisa masih bisa bertahan sejauh ini tapi dilihat dari wajahnya terlihat sudah tidak bisa mengontrolnya lagi karena permainan Xio semakin panas.


"Bertahanlah sayang kamu pasti bisa tinggal 2 menit lagi." Xio memberi semangat dengan wajah seksinya.


.


.


.


"Tinggal 10 detik lagi." Xio mulai menghitung mundur dari 10 dan ia semakin mempercepat pergerakan tempo tangannya mengocok bendanya.


3


2


1


Selesai hitung mundur Xio langsung mengarahkan benda miliknya di wajah Ellisa lalu mengeluarkan cairan-cairan putih yang lumayan banyak mengenai seluruh wajahnya.


Ellisa langsung mendorong kekasur Xio ketika dia sudah selesai mengeluarkan semuanya. Saat ini posisi mereka yaitu Xio berada di bawah Ellisa.


"Latihan pertama sudah selesai dan aku sangat menyukai hadiah hangatnya." Ucap Ellisa menjilat sekitar bibirnya sendiri yang terdapat cairan putih kental itu.


"Kamu sangat suka dengan hadiahku yah...kalau begitu.." Xio tiba-tiba saja membalikkan posisinya, sehingga dirinyalah yang sudah berada diatas Ellisa.


"Kalau begitu aku akan memberikan lebih banyak hadiah seperti itu disini." Xio menyeringai dan memegang area Ellisa yang ternyata sudah sangat basah.


Malam itu pun mereka habiskan dengan pergulatan di atas kasur yang sangat membara dan tidak ada hentinya tersebut, tidak peduli dengan para penjaga yang berjaga didepan pintu harus mendengar suara-suara menggairahkan didalam kamar.


Ellisa sudah tahu dari awal kalau Xio hanya bercanda saja ketika bilang kalau yang mereka lakukan semalam untuk latihan, karena tidak mungkin ada latihan seperti itu. Tapi Ellisa mengikuti permainan dan permintaan Xio.


Ellisa dibangunkan dengan Xio dihadapannya yang sedang menghisap p*ting miliknya.


"Apakah kamu mau jadi bayi lagi?" Kata Ellisa.


"Hehe aku harus memuaskan diriku sekarang sebelum nanti dua ini di kuasai oleh si kembar." Ucap Xio tersenyum mesum.


Ellisa menepuk Jidatnya sendiri berpikir Xio beralasan saja, karena bayinya akan lahir masih lumayan lama yaitu 5 bulan lagi.


"Sayang lihatlah." Xio menunjukan benda miliknya yang terlihat sudah tegak. "Sekali lagi ya..?" Ucapnya memohon seperti anak kecil.


"Hahh baiklah." Jawab Ellisa pasrah. ia sudah tahu setiap pagi benda milik Xio akan selalu tegang, dan akan meminta dirinya untuk membuat benda tersebut kembali lemas.


Mood pagi telah terlewati. dan saat ini mereka berdua sudah benar-benar di tempat latihan bersama dengan Leon dan Lena dengan pakaian lengkap untuk latihan, karena Xio berniat untuk melatih mereka bertiga sekaligus.


"Sayang kamu berlatih sihir saja terlebih dahulu dengan Lena." Ujar Xio. Xio memberikan latihan yang ringan-ringan dulu terhadap Ellisa karena saat ini Ellisa sedang hamil, jadinya ia takut terjadi sesuatu pada kandungannya kalau langsung latihan yang berat.


"Baik!!" Jawab Ellisa dan Lena tegas. mereka berdua menganggap latihan ini sangat penting, jadi mereka terlihat sangat bersemangat Sekali.


Xio memberikan 2 buah buku pada Ellisa dan 1 buah buku untuk Lena. "Ini adalah Skil-skill yang aku ciptakan sendiri silahkan kalian untuk mempelajarinya." Ucap Xio.


"Aku akan mengetesnya nanti kalau sudah selesai dengan anak yang menantang bertarung ayahnya sendiri ini." Ucap Xio lagi dan di jawab anggukan oleh Ellisa dan Lena.


Xio membalikan badannya menghadap Leon yang sudah siap dengan kuda-kudanya.



"Baiklah anak muda apa yang ingin kamu tunjukkan pada Papah Yang Mulia ini?" Ucap Xio tersenyum.


"Bersiap-siap lah Papah Yang Mulia." Jawab Leon.


"Maju saja papah selalu si-" Ucap Xio terhenti ketika melihat Leon dengan seceoat kilat sudah berada dihadapannya dengan mata pedang tertuhu pada wajah Xio.


Leon tersenyum karena ia berpikir Xio terkejut dengan kecelananya, tapi tiba-tiba saja Xio juga tersenyum balik padanya dan mendorong pedang Leon dengan hanya satu jari saja sehingga membuat Leon sedikit mundur.


"Nak kamu terlalu lam-" Lagi-lagi ucapan Xio terhenti karena saat ini Leon sudah berada di samping kirinya dengan pedang yang sudah siap di ayunkan, tapi seperti tadi Xio kembali menahannya dengan satu jari saja.


Saat serangan ketiganya nya, dan ketika Xio akan menahannya lagi tiba-tiba saja Leon menghilang dan muncul di dua sisi yang berbeda. Terus saja Leon menyerang dengan sangat cepat hingga terlihat dirinya menjadi sangat banyak, tapi itu merupakan satu Leon saja yang saking cepatnya ia bergerak hingga meninggalkan bayangan bayangan dirinya.


'Kenapa tidak ada yang mengenai papah sama sekali?' Batin Leon, karena sedari tadi walaupun ia sudah semakin cepat dalam tempo menyerangnya Xio bisa menahan semua serangannya dengan santai dan terlihat mudah.


Xio tersenyum mendengar batinan Leon sambil masih terus menahan pedang nya yang semakin lama semakin cepat.


"Seranganmu memang sudah sangat cepat dan kuat, tapi jika temponya terus sama maka akan mudah tertebak kearah mana kamu menyerang selanjutnya."


"Jangan terus mengarahkannya ketitik vital karena hal paling utama dilindungi oleh musuh adalah titik vital mereka, cobalah sesekali untuk mengecoh nya untuk membuat dia kebingungan sehingga kamu bisa langsung menumbangkannya dengan satu serangan di titik yang tebuka." Jelas Xio dan Leon pun mendengarkan semua yang Xio katakan dengan seksama sambil masih terus menyerang.


Leon menyerap terlebih dahulu semua yang Xio katakan sampai akhirnya ia pun langsung mencobanya.


Suara dentingan pedang terus terdengar hingga tak lama kemudian hening seketika.


"Wuhhh barusan itu sangat berbahaya" Terlihat saat ini Xio sedang mencapit pedang Leon dengan kedua jari saja, Pedang Leon sudah terarah disatu titik yaitu di bagian bawah pusar Xio.


"Barusan itu sudah bagus, tapi hampir saja kamu tidak akan bisa mempunyai adik lagi." Ucap Xio karena baru saja ia akan kehilangan alat untuk membuat bayi lagi.


Sementara itu Saat ini Leon sedang kebingungan dengan maksud mengatakan ia tidak akan bisa mempunyai adik lagi. Tapi Disisi lain ia merasa senang dan bangga karena di puji dan di akui kekuatannya oleh Xio.


"Papah apa maksudnya tidak mempunyai adik lagi? Bukannya mamah saja yang bisa membuatkan adik untukku? apakah papah juga bisa membuat adik juga? kalau begitu cepat buat juga biar aku dan Lena punya banyak adik sekaligus." Ucap Leon dengan polos.


Alis Xio berkedut karena baru ingat kalau anak-anaknya masih sangat polos.


"Tidak sayang, laki-laki tidak bisa mengandung dan hanya perempuan saja yang bisa mengandung juga melahirkan. Untuk lebih lanjutnya sebaiknya kamu ketahui saja nanti ketika sudah besar." Jawab Xio mengelus kepala Leon.


"Papah selalu saja mengatakan kalau aku akan tahu ketika sudah besar, tapi kapan besar itu?" Tanya Leon cemberut.


"Haha kamu sabar saja, nanti ketika sudah di 12 tahun baru kamu akan tahu." Kata Xio tertawa melihat Leon cemberut.


"Humm baiklah.." Jawab Leon.


Mereka berdua pun berjalan menuju tempat Ellisa dan Lena sedang berlatih sihir.


"Ngomong-ngomong dari mana Leon bisa mempelajari Skil-skill baru yang hebat seperti tadi?" Tanya Xio.


"Apakah papah serius mengatakan kalau tadi itu hebat?" Leon bertanya balik dan di jawab anggukan oleh Xio sambil tersenyum.


"Yeayyy! papah mengatakan Skill yang kubuat sendiri hebat!!" Seru Leon terlihat sumringah.


Xio terkejut karena baru saja Leon bilang kalau dirinya membuat Skill sendiri. Sedikit tidak percaya Xio pun bertanya kembali untuk memastikannya karena bagaimana bisa anak seusianya bisa menciptakan Skil-skill sendiri.


"Apakah benar anak papah membuatnya sendiri?" Tanya Xio.


Leon berpikir sejenak dengan menaruh jari telunjuknya di bibir bawah. "Hmm yah aku membuatnya sendiri." Jawab Leon dengan santainya.


"Apakah tidak ada yang membatu Leon?" Tanya Xio lagi.


"Tidak ada, karena Skil-skill itu selalu secara tiba-tiba terbayang didalam pikiran." Jawab Leon masih berjalan sumringah dan meloncat-loncat.


"Dasar namanya anak kecil." Gumam Xio tersenyum melihat tingkah lucu Leon.


Tapi disisi lain Xio semakin penasaran dengan kemampun Leon dalam berpedang yang sudah terlihat sangat expert. Karena kalau saja lawannya tadi bukan Xio atau berada dibawah Xio, sudah dipastikan orang tersebut tidak akan mampu mengimbangi kekuatan Leon.


...----------------...


...BERSAMBUNG...


...JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA AGAR ATHOR RAJIN UPDATE CHAOTER BARU😊...