
...----------------...
Hari demi hari Xio lewati dengan memberikan penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya, dan tentu saja pada Istrinya juga.
Walaupun Nathan dan Tassa setiap malam masih tidur dikamar Xio dan Ellisa, Tapi itu tidak membuat mereka berdua absen dalam hubungan intimnya yang setiap malam sudah pasti terjadi. Tapi mereka melakukannya ketika sudah menidurkan anak-anak.
Xio memasang barrier di ranjang Nathan dan Tassa agar suara-suara berisik yang dikeluarkan saat berhubungan tidak menggangu tidur nyenyak si bayi. Tidak hanya itu saja, barrier tersebut juga memiliki manfaat lainnya seperti mencegah adanya serangga yang masuk, dan yang lebih luar biasa yaitu barrier itu juga dapat memperkuat mana si bayi.
Sudah satu bulan semenjak kelahiran Nathan dan Tassa, dan saat ini dimalam hari mereka terlihat sudah tertidur lelap. Sementara kedua orangtuanya sedang melakukan kegiatan panas di atas ranjang dengan suara-suara merdu terdengar ke-sekeliling kamar.
"Sayang...kali ini keluarkan didalam.." Kata Ellisa yang sedang mencengkeram punggung Xio, lantaran sudah terasa kalau benda milik Xio sudah berdenyut-denyut dan membesar di dalam miliknya.
"Tapi aku belum siap untuk menambah anak." Jawab Xio masih tetap menggerakkan pinggulnya maju mundur.
Sudah beberapa kali belakangan ini saat mereka berhubungan dan ketika sudah mencapai puncaknya, Xio selalu mencabut miliknya dan memilih mengeluarkan cairannya diluar. Itu karena ia takut jika mengeluarkannya didalam akan membuat Ellisa hamil lagi.
Bukan tdak ingin menambah anak, tapi Xio tidak ingin jika kejadian di masa lalu terulang kembali pada Ellisa.
"Tidak usah khawatir, aku bisa mengatur kalau aku mau punya anak lagi atau tidak kok." Ucap Ellisa, karena memang saat ia sudah menjadi high demon maka ia bisa mencegah kehamilannya walau rahimnya di sembur oleh benih-benih kental.
Xio tersenyum lalu mencium bibir Ellisa sambil menambambah kecepatan tempo gerakan maju-mundurnya, hingga ia sudah mencapai puncak dan mengeluarkan cairannya yang sangat banyak di dalam yang bahkan membuat cairan-cairan tumpah keluar.
Saat Xio mengeluarkan cairan tersebut, Ellisa mencengkeram punggung Xio dengan kuat menggunakan kukunya. Bahkan membuat punggung Xio terlihat ada bekas-bekas cakaran sampai akhirnya Xio pun mencabut bendanya.
"Aku mau membersihkan tubuh dulu." Kata Ellisa merangkak kesisi kasur berniat mengambil handuk yang berada di atas rak untuk segera kekamar mandi.
Tapi saat Ellisa merangkak, tidak sengaja ia memperlihatkan lubang surgawi-nya pada Xio. Sehingga yang tadinya di bawah sana sudah tertidur selesai melakukan pergulatan, tapi tiba-tiba saja itu langsung bangun dan berdiri dengan kokoh kembali.
"Kamu mau kemana sayang? yang tadi itu hanya pemanasan saja." Ucap Xio yang sudah berlutut di belakang Ellisa melihat pemandangan indah dan langsung menusukkannya dari belakang.
Tangan Ellisa yang sudah hampir sampai menyentuh handuk di atas rak itu tiba-tiba berhenti, karena mendengar perkataan Xio ditambah dengan Rasa yang sulit di jelaskan ketika benda besar itu masuk secara tiba-tiba.
Sehiy berlanjutlah kegiatan yang menguras keringat tersebut antara Xio dan Ellisa yang selesai sampai pukul 2 malam karena mendengar suara Nathan yang menangis.
Dengan terpaksa Xio pun harus memberhentikan kenikmatannya barusan karena anaknya lebih menjadi prioritas dibandingkan kegiatannya dengan Ellisa.
Xio dan Ellisa berjalan ke arah Nathan yang sedang menangis.
"Cup.. cupp... anak papah kenapa nangis?" Xio mengangkat Nathan dan menimang-nimangnya.
"Sepertinya Nathan poop deh." Kata Ellisa.
"Oh iya benar."
"Tolong kamu buka popoknya yang itu, biar aku ambilkan popok yang baru." Ujar Ellisa dijawab anggukan oleh Xio.
Xio pun menidurkan Nathan di tempat ganti popok, sedangkan Ellisa berjalan menuju lemari bayi untuk mengambil popok baru.
Saat Ellisa kembali ketempat Xio, ia melihat kalau wajah Xio sudah basah kuyup sementara Nathan sendiri sedang tertawa imut khas bayi.
"Hahaha...Anak mamah nakal sekali mengencingi papahnya sendiri." Ellisa tertawa karena ia sudah menebak kalau air yang ada di wajah Xio adalah air pipisnya Nathan.
Bukannya tidak senang, tapi Xio juga malah ikut tertawa karena dapat melihat tawa lucunya Nathan.
"Haha... kecil-kecil sudah nakal yah.." Xio terkekeh sambil menciumi wajah Nathan.
Selesai mengganti popoknya, Ellisa duduk di sisi ranjang untuk menyusui Nathan. Tapi bukan Nathan saja yang disusui melainkan Xio juga ikut memainkan dan mengendor P*ting Ellisa disisi berlawanan dengan anaknya.
"Benar kata ayah, aku seperti punya 3 bayi saja." Kata Ellisa geli melihat kelakuan Xio yang seperti bayi, tapi bedanya bayi bergigi sehingga membuat Ellisa merasa ngilu saat gigi Xio menyentuhnya.
"Hehe selagi yang satunya lagi menganggur karena Tassa tidur, jadi kenapa tidak aku saja kan?" Ucap Xio.
"Iya iya terserah kamu saja." Jawab Ellisa pasrah.
...----------------...
Malam berganti pagi.
Pagi-pagi sekali Leon dan Lena sudah datang kekamar Xio untuk melihat Nathan serta Tassa. Tidak hanya hari itu saja mereka datang kekamar Xio setiap pagi, tapi kemarin-kemarinnya pun keduanya tidak pernah terlewat untuk mengunjungi Nathan dan Tassa.
Walaupun pada awalnya Leon dan Lena takut Xio serta Ellisa melupakan mereka, dan lebih memperhatikan Nathan juga Tassa, Tapi ternyata pikiran mereka sajalah yang terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Karena faktanya Xio maupun Ellisa tetap memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang seperti biasanya.
Hari ini adalah jadwalnya Leon dan Lena yang akan berlatih bersama Xio. Selesai sarapan pagi tadi, mereka bertiga sudah ada di tempat latihan. sementara Ellisa duduk di kursi yang berada di sisi lapangan sambil menggendong Nathan dan Tassa, serta di temani oleh sebas dan 2 pelayan wanita yang berdiri di belakangnya.
"Samangat kakak!!" Seru Ellisa sambil mengacung-acungkan tangan Nathan dan Tassa.
Semua yang ada di tempat itu tersenyum melihatnya. Termasuk Xio karena bukan hanya Nathan dan Tassa saja yang lucu tapi Ellisa juga menurutnya sangat lucu.
Tapi tiba-tiba saja Xio melihat kilauan-kilauan di langit, kilauan-kilauan itu melesat dengan sangat cepat kearah Xio hingga terlihatlah bentuk aslinya, yang ternyata itu adalah pedang-pedang Air namun terlihat tajam dan kuat.
Tidak hanya pedang pedang-pedang air itu saja yang sedang bergerak kearahnya, tapi Xio juga sudah merasakan kalau ia sedang di kelilingi oleh hawa panas. Hawa panas itu seketika berubah menjadi pusaran-pusaran api berwarna merah darah.
Api-api di sekelilingnya serta pedang-pedang air diatas atas langit itu bersamaan melesat sepersekian detik kearahnya .
Clebb!
Clebb!
Clebb!
BOOMM!
Terdengar suara pedang-pedang yang menancap dan diakhiri dengan suara ledakan akibat pusaran api tadi yang bersentuhan.
"Papah belum bilang mulai loh.."
Leon dan Lena langsung menoleh ke belakangm mereka. Merekapun dapat melihat Xio yang sudah berdiri di belakangnya tanpa ada yang terluka atau tergores sedikitpun di pakainya.
"Papah sendiri kan yang pernah bilang jangan berikan musuh kesempatan bersiap, jadi kita menyerang papah saat lengah tadi." Ucap Leon.
Alis Xio berkedut karena ia memang pernah berkata seperti itu, tapikan itu jika berhadapan dengan musuh sungguhan. Apa mereka menganggap papahnya sendiri musuh? begitulah batinan Xio sambil tersenyum kecut.
"Yasudah kita lanjutkan saja." Kata Xio menghilang dari tempat barusan ia berdiri dengan sekejap mata saja.
"Khh! kenapa tiba-tiba tubuhku berat sekali?!" Ucap kesusahan mengangkat kakinya karena serasa tubuhnya di tekan ke permukaan.
"Emm aku juga sama." Kata Lena yang sedang dalam kondisi sama dengan Leon.
"Ayo semangat anak-anak, kalian pasti bisa mengalahkan papah!!" Ellisa bersorak dari tempatnya untuk memberikan semangat pada Leon dan Lena.
Leon dan Lena mengangguk serta terlihat wajah dari wajah mereka yang menjadi semakin bersemangat setelah di berikan semangat oleh Ellisa.
'Hiks suaminya sendiri tidak di beri semangat'
...----------------...
Sementara itu di sisi Azco yang sedang berada di benua Vir dihomu (Benua manusia setengah hewan).
Azco menjalankan tugas dari Xio yaitu untuk mencari Hati dari ras demi human bernama Boldur, walaupun sejenis dengan Domba tapi memiliki tanda berwarna silver di bagian tanduknya. Selain itu tugas Azco juga yaitu untuk melihat kondisi benua ini karena raja mereka sudah mati dari lama sekali.
Dataran tandus, kering dan gersang, serta panasnya terik matahari membuat Azco tidak dapat melihat satupun tanaman atau sehelai rumput yang tumbuh di sana. Tidak hanya itu Sejauh mata memandang pun tidak ada satupun bangunan atau Makhluk hidup yang bisa dilihatnya.
"Sejak kapan benua ini menjadi gurun tandus seperti ini?" Gumam Azco. Ia menggunakan bentuk naganya agar bisa mendapatkan penglihatan yang lebih luas jika melihat dari langit.
Azco mengingat terakhir kali ia datang ke benua demi human itu masihlah banyak pepohonan serta tanaman yang tumbuh di sana.
"Apakah aku datang dari sisi yang salah?" pikirnya karena diantara benua lainnya, benua inilah yang terluas walaupun yang hidupnya sedikit bahkan tidak sebanyak yang hidup di benua Virminium (Manusia).
Azco terus melanjutkan perjalanannya karena ia mengira kalau dirinya memang datang dari sisi yang berbeda.
Satu jam kemudian akhirnya Azco menemukan tanda-tanda kehidupan yaitu sebuah kerajaan yang terletak di tengah-tengah dataran gersang itu. Dari atas Azco melihat kerajaan itu memiliki luas yang lumayan, tapi tidak seluas kerajaan Regalia.
Dari jauh Azco merubah kembali wujudnya menjadi manusia tapi memiliki ekor seperti kadal agar saat masuk ke kerajaan itu tidak di curigai.
Tidak mau ribet, Azco menggunakan tekhnik ilusinya untuk melewati gerbang penjagaan yang di jaga oleh dua orang manusia setengah anjing berbadan besar.
Azco langsung berjalan seperti orang normal setelah berhasil melewati gerbang penjagaan. Ia tidak mau menghabiskan banyak waktu di tempat itu untuk mencari tahu apa yang sebenarnya sudah terjadi, jadi ia pun lebih memfokuskan untuk mencari ras boldur itu.
Azco melihat perbudakan dan pengemis masih bertebaran di kerajaan ini, bahkan orang berkelahi di tempat umumpun tidak ada penjaga yang datang untuk melerai samasekali.
Setelah lama mencari Azco tidak menemukan satupun keberadaan atau petunjuk ras Boldur di kerajaan itu.
Azco memutuskan untuk beristirahat sebentar, ia masuk ke dalam bar yang lumayan ramai kemudian memesan minuman. Banyak orang yang memperhatikannya di dalam bar tersebut karena pakaian yang di kenakan Azco tergolong bagus dilihat dari kebersihan dan kualitasnya.
"Sigh.. kalau begini lebih baik aku menggunakan pakaian orang biasa saja tadi." Gumam Azco.
"Dan lagi kemana aku harus mencari ras Boldur itu?" Batinnya. Azco tidak berani kembali ke kerajaan sebelum menyelesaikan apa yang di perintahkan oleh Xio.
Saat Azco sedang duduk sambil meneguk minumannya, tiba-tiba saja ada dua orang wanita setengah kelinci dan setengah kucing yang mengenakan pakaian seksi berjalan kearahnya.
Mereka langsung duduk di samping kiri-kanan Azco.
"Tuan apakah anda membutuhkan sesuatu?" Ucap wanita setengah kelinci genit dengan jari-jarinya yang sudah menyentuh dada Azco. Sementara wanita yang satunya lagi menyentuh paha Azco.
Mereka berdua sangat menempel dengan Azco, bahkan ia bisa merasakan buah dada mereka yang bisa dibilang besar menyentuh lengannya.
"Pergilah." Ucap Azco masih baik ingin mengusir mereka dengan cara halus.
"Ayolah tuan, kita ingin melihat bagaimana jagoan dibawah ini saat di atas ranjang." Kata wanita itu masih terus menggoda Azco dengan suara centilnya, tangan mereka juga perlahan menggerayangi tubuh Azco.
Crack!
Gelas kayu yang ada ditangan Azco hancur berkeping-keping, sebab ia menggenggam gelas tersebut dengan kuat. Saat mereka berdua masih menyentuh dada dan pahanya Azco masih biasa saja, tapi ketika tangan kedua wanita sudah akan sampai di area terlarangnya tanpa sengaja Azco menambah kekuatan genggamannya. Itu karena ia tidak bisa mentolerir jika sudah ada yang berani menyentuh miliknya selain Chintya seorang.
Azco langsung mencengkeram pergelangan tangan kedua wanita itu dengan sangat kuat hingga terdenganr suara retakan tulang yang sangat ngilu jika di dengar.
"Akhhhhhh!!!!" Kedua wanita itu berteriak kesakitan bahkan mereka sampai berguling-guling dilantai karena saat ini pergelangan tangan mereka sakitnya tidak main.
Pandangan semua orang yang ada didalam bar tersebutpun langsung menuju kearah dua wanita yang sedang berguling-guling kesakitan di lantai itu.
Azco berjongkok di depan kedua wanita itu lalu mengangkat kepala mereka dengan menjambak rambutnya hingga mereka wajah mereka sudah berhadapan dengan Azco.
"Aku sudah memberikan kalian kesempatan pergi dengan baik hati tadi, tapi sayang kalian sudah menyia-nyiakan kebaikanku." Ucap Azco dengan tatapan Sinis.
Jedug!!
Azco membenturkan kepala dari kedua wanita itu kelantai hingga terlihat keduanya sudah tidak sadarkan diri bukan karena mati, tapi Azco hanya membuat keduanya tidur untuk beberapa hari saja.
Azco berdiri dan membalikkan badannya memutuskan pergi dari dari bar itu untuk melanjutkan pencariannya. Tapi ketika sudah dekat dengan pintu keluar, ia dihalangi oleh beberapa orang serta ada satu orang setengah badak diantara mereka yang memiliki tubuh lebih besar dari yang lainnya.
"Kamu pikir bisa pergi dari sini setelah membuat cacat barang-barang ku?" Ucap manusia setengah badak itu."
...----------------...
...BERSAMBUNG...