Cross The World With System

Cross The World With System
Onisilas-sekerheav



...----------------...


Didalam Ruangan kerja Xio.


"Sebaiknya kamu mengatakan yang jujur kali ini." Ucap Xio.


"Baik Yang Mulia..........."


Azco menceritakan semuanya mengenai Falma yang ia temui waktu itu. Karena Azco berpikir sudah tidak ada lagi yang harus ditutup-tutupi, semua buktinya sudah ada di depan mata saat ini. Dia juga menceritakan bagaimana bisa dirinya dan Chintya bisa sampai mengadopsi Falma tanpa kebohongan.


"Saya dan Chintya sudah menganggap nya seperti anak kami sendiri." Ucap Azco.


Bruk!


Tiba-tiba saja Azco bersujud dilantai.


"Saya mohon jangan apa-apakan anak saya Yang Mulia. Saya bersedia melakukan apapun jika itu demi Falma dan Chintya." Lirih Azco tanpa sadar satu tetes air mata lolos keluar dari kelopak matnya dan menetes kelantai. Ia tidak sanggup membayangkannya jika Falma sudah tidak ada dan apa jadinya dengan Chintya.


Azco tidak mau Anak sesusia Falma tidak dapat merasakan kebahagiaan sedikitpun karena sedari kecil Falma belum pernah merasakan perasaan tersebut. Azco juga tidak ingin membuat Chintya patah hati jika tahu apa sebenarnya tugas yang di berikan Xio.


Falma yang melihat Azco seperti itupun langsung memeluknya dan menepuk-nepuk kepala Azco.


"Hahhh...Azco bangunlah." Ucap Xio menghela nafas. "Aku tidak ingin melihatmu bersujud lagi seperti itu."


"Apakah yang Mullia tidak marah padaku?" Ucap Azco.


"Aku memang sedikit marah padamu, tapi bukan marah karena alasanmu barusan." Jawab Xio. "Aku tidak senang karena kamu sudah berbohong padaku. Coba saja kamu jujur padaku pada waktu itu, aku juga tidak mungkin memanfaatkan anak kecil." Lanjutnya.


"Hahh.." Xio menghela nafas sekali lagi. "Apakah semua orang juga mengira aku ini keji dan tidak berperasaan?"


'Iya' ingin Azco menjawab seperti itu, karena jika melihat Xio membantai musuh-musuhnya sudah tidak terlihat lagi seperti manusia lebih terlihat seperti makhluk berdarah dingin yang keji dan sadis, tapi Azco pendam pikirannya itu sendiri karena tidak berani menjawab secara langsung pada Xio.


Azco masih menunduk dengan posisi berjongkok satu kaki tidak berani menatap Xio secara langsung karena ia mengira Xio belum memaafkannya.


Walaupun mereka sudah tidak terikat kontrak, tapi Perasaan pelayan dan tuan tidak pernah hilang seperti sudah takdirnya Azco menjadi pelayan Xio selamanya.


"Baiklah aku sudah memaafkan mu, tapi lain kali tidak ada lagi kebohongan padaku. Sekarang aku akan membiarkanmu merawat anak itu." Ucap Xio karena ia juga memiliki perasaan bagaimana menjadi seorang ayah dan memiliki anak kecil yang sama umurnya.


"Terimakasih Yang Mulia! Saya berjanji tidak akan pernah berbohong lagi kepada anda!" Seru Azco dengan wajah serius.


Xio tersenyum, "Siapa namamu nak?" Tanya Xio pada Falma.


"Maaf Yang Mulia biar saya yang menjawab, namanya Falma." Jawab Azco.


"Apakah..." Kata Xio dijawab anggukan oleh Azco.


"Hmmm seperti itu yah." Xio membelai dagunya sendiri sedang berpikir.


"Apakah kamu ingin berbicara?" Tanya Xio lagi dan dijawab angguk-anggukan oleh Falma. Tentu saja perkataan Xio barusan membuat Azco terkejut karena bagaimana bisa seorang berkebutuhan khusus bisa normal kembali. Tapi disisi lain ia juga percaya saja karena tidak pernah ada yang mustahil jika itu yang di ucapkan oleh Xio langsung.


"Apakah itu bisa Yang Mulia?" Tanya Azco percaya tidak percaya.


"Istriku bisa menyembuhkannya." Jawab Xio beranjak dari tempat duduknya. "Ikuti aku!" Ujarnya berjalan keluar dari ruangan tersebut. Azco pun mengikuti Xio dari belakang sambil memegang tangan Falma dengan perasaan bahagia lanataran jika Falma bisa berbicara maka ia akan seperti anak-anak normal.


Sementara itu disisi Ellisa. Saat ini dia sedang berada di kamarnya sambil memperhatikan Nathan dan Tassa yang sedang tidur dengan tenang sembari menunggu Xio kembali.


Tokk! tok!


"Sayang bisa kamu keluar dulu?!" Terdengar suara ketukan pintu dan suara Xio dari luar.


'Hmm tumben sekali tidak langsung masuk?' Heran Ellisa karena biasanya Xio tidak pernah mengetuk pintu terlebih dahulu jika kekamarnya sendiri.


"Tunggu sebentar!" Seru Ellisa. Dia segera mengenakan pakaiannya kembali karena barusan dirinya tidak berbusana sama sekali sebab baru selesai bermain dengan Xio. Selesai mengenakan pakaian dan merapihkan rambutnya sedikit, Ellisa pun membukakan pintu kamarnya.


Ellisa melihat Xio sedang bersandar di pintu sambil menilangkan kedua lengan. disana juga ada Azco serta seorang anak kecil perempuan.


"Salam Yang Mulia Ratu!" Azco memberikan salam hormat sambil menundukkan kepala.


"Ah ya Azco tidak perlu terlalu formal seperti itu." Jawab Ellisa. "Dan siapa anak imut yang kamu bawa ini?" Tanyanya.


"Perkenalkan namanya Falma, Saya dan Chintya mengangkatnya menjadi anak kami kemarin." Jawab Azco tersenyum ramah.


"Oh Selamat ya!" Seru Ellisa mengelus kepala Falma.


"Terimakasih Yang Mulia." Kata Azco


Ellisa kemudian melirik kearah Xio.


"Sayang bisakah kamu membantu anaknya Azco, dia memiliki gangguan dalam berbicara." Ujar Xio masih saja memanggil Falma dengan sebutan anaknya Azco.


"Malangnya..." Kata Ellisa. "Baiklah aku akan menyembuhkannya."


"Terimakasih! Terimakasih Yang Mulia!" Seru Azco gembira.


Ellisa mengangguk sambil tersenyum. "Falma bersiaplah." Kata Ellisa. Dia kemudian memegang kepala Falma sambil memejamkan matanya guna Fokus ketika sedang proses.


"Onisilas-Sekerheav." Gumam Ellisa dengan Seketika muncul Cahaya berwarna biru dari telapak tangannya yang secara perlahan-lahan menyelimuti Tubuh Falma.


[Onisilas-Sekerheav :


Merupakan Skill yang di miliki oleh hanya sang Ratu kehidupan beserta keturunannya saja. Skill ini memiliki Efek yang mampu menghilangkan kutukan ataupun penyakit dari lahir. Tapi penggunaannya sangatlah menguras mana yang tidak sedikit. ]


Xio memegang pundak Ellisa untuk menyalurkan mananya karena dia tahu Skill yang Ellisa gunakan akan menghabiskan 60% mana.


Ellisa tersenyum walaupun sedang memejamkan mata, ia dapat merasakan aliran sejuk dan nyaman yang tersalur di dalam tubuhnya, dan sudah dapat dipastikan kalau itu adalah Xio yang sedan membantunya.


Sementara Azco yang melihatnya merasa beruntung, sebab kapan lagi ia bisa dibantu seperti ini oleh dua sosok yang istimewa dan mulia dihadapannya saat ini.


Dua puluh menit berlalu, dan Perlahan cahaya yang menyelimuti Falma pun mulai memudar, itu tandanya penyembuhan sudah akan selesai.


"Sudah Selesai, Terimakasih sayang." Ucap Ellisa dibalas senyuman oleh Xio.


"A-ayah..." Falma mengucapkan kata pertamanya dengan terbata-bata serta mata yang berkaca-kaca.


Grep!


Azco Langsung memeluknya dengan mata yang berkaca-kaca juga terharu sekaligus senang akhirnya Falma bisa berbicara. Falma pun membalas pelukan Azco dengan perasaan gembira.


Azco lalu berdiri tegap menhadap Xio dan Ellisa. Dia langsung membungkukkan tubuhnya sambil mengucapkan terimakasih terus-menerus lantaran jika bukan karena Xio dan Ellisa tidak mungkin Falma bisa berbicara.


Saat ini Azco sudah tidak sabar ingin menunjukkan keajaiban tersebut pada Chintya dan ingin melihat bagaimana reaksinya nanti.


"Pulanglah dan tunjukkan pada Chintya." Ujar Ellisa tahu perasaan Azco.


"Baik sekali lagi terimakasih Yang Mulia!" Ucap Azco dijawab anggukan oleh Xi dan Ellisa.


Azco pun langsung menggendong Falma dan beranjak pergi dari sana.


Xio menepuk pantat Ellisa lumayan keras dan sampai membuatnya mendesah sedikit.


"Kamu nakal sekali sih tidak mengenakan dalaman seperti ini." Ucap Xio lalu mendekatkan bibirnya di telinga Ellisa. "Apa kamu ingin menggodaku?" Sekali lagi Xio menepuk pantat Ellisa.


Tidak ada jawaban sama sekali dari Ellisa, dan dia terlihat hanya menunduk terus-menerus.


Xio pun baru sadar apa yang barusan dia lakukan, karena tadi dia memukul pantat Ellisa tanpa sadar sebab sudah merasa terangsang.


"Sayang, sayang maafkan aku. barusan aku melakukannya tanpa sadar." Ucap Xio memejamkan matanya sudah siap apabila Ellisa mau menampar atau memukul dirinya.


"Lakukan lagi..." terdengar suara Ellisa pelan.


"eh?"


Xio membuka matanya dan melihat wajah Ellisa yang sudah memerah dam sangat menggoda.


"Kamu serius?" Xio memastikan.


"Iya aku mau kamu menampar pantatku lagi." Jawab Ellisa sambil menggigit ibu jarinya seperti sudah tidak sabar dengan aksi Xio berikutnya.


Dengan sigap Xio langsung menggendong Ellisa dan membawanya kedalam kamar karena yang dibawah sana sudah berdiri tegak lagi saja. Dia tidak menyangka ternyata Ellisa menyukai ia menepuk pantatnya.


Saat ini posisi mereka sudah seperti orang tua yang akan menghukum anaknya dengan Ellisa tengkurap di paha Xio.


"Ini hukuman karena tidak menggunakan Daleman keluar kamar."


Pakk!


.


.


.


.


Xio beberapa kali memukul pantat Ellisa. Dan Ellisapun terlihat sangat menikmatinya juga dengan mengeluarkan suara-suara seksi dari mulutnya.


"Dan ini sebagai hadiahnya karena sudah mau menungguku." Ucap Xio mengeluarkan senjata miliknya yang kokoh dan sudah mengeluarkan sedikit air dari ujung senjata tersebut.


Dengan mata berbinar Ellisapun langsung menggenggamnya dan memasukkannya kedalam mulut.


Xio tersenyum walaupun kali ini permainannya terasa berbeda dari biasanya tapi sama-sama membuat dirinya bergejolak dengan lidah Ellisa yang dengan lihai memutari senjatanya. sementara jari miliknya sedang asik menjelajahi bagian dalam area sempit Ellisa.


...----------------...


Sedangkan di luar gerbang istana terlihat para budak sudah dilepaskan rantai-rantainya yang berarti mereka sudah tidak terikat kontrak dengan Keith lagi.


"Apakah ada yang ingin kalian katakan sebelum pergi ke neraka?" Ucap Sebas pada Keith dan juga Molt yang berlutut di depannya.


"A-" Baru juga mau membuka mulutnya, Kepala Keith dan Molt sudah bolong terlebih dahulu.


"Tidak ada lagi yang perlu dikatakan oleh orang seperti kalian." Ucap Sebab dengan jari telunjuk yang berasap.


"Gram bawa dua mayat ini dan berikan pada peliharaan Yang Mulia." Kata Sebas.


"Baik!" Jawab Gram tegas kemudian membawa kedua mayat tersebut di pundaknya seperti sedang membawa karung.


Dibawah tanah istana itu terdapat aquarium yang sangat besar, dan nakhluk yang menghuni aquarium tersebut merupakan makhluk terganas dan Ter agresi di lautan yaitu makhluk bernama "pesce della morte". Walaupun Tampilannya yang indah, tapi dengan ukuran serta gigi-giginya yang tajam mampu melahap 2 kapal bajak laut sekaligus.



Xio mendapatkan makhluk tersebut ketika ia berkunjung ke kota pesisir laut, karena mendapat laporan dari para nelayan disana yang selalu mendapat keresahan lantaran banyak yang pergi ketengah laut untuk mencari ikan tapi tidak pernah kembali lagi.


Kebali ke saat ini.


Setelah Gram pergi, Sebas pun berjalan menghampiri Leon dan Lena yang sedang membagikan makan pada para mantan budak dibantu oleh para pelayan.


"Makanlah, setelah makan aku akan menunjukkan tempat tinggal baru kalian." Ucap Leon.


"Tapi tuan muda kami hanya seorang budak budak, tidak pantas menerima makanan berharga seperti ini." Ucap Salah seorang pria.


"Kata siapa kalian budak? aku sudah melepaskan status tersebut dari diri kalian semua, jadi jangan ada yang menganggap diri sendiri masih seorang budak. karena di kerajaan ini semua masyarakatnya memiliki kesenjangan sosial yang sama." Jawab Leon. "Tidak hanya itu, tapi aku juga dapat menjamin kehidupan yang aman dan nyaman untuk semua yang mau tinggal dan bekerja keras di kerajaan ini." Lanjutnya.


Sebas tersenyum mendengar kata-kata Leon yang sudah seperti seorang peimpin dewasa sedangkan tubuh dan mentalnya masih seperti anak-anak. Dia saat seperti sedang melihat Xio jika masih anak-anak. Begitupun dengan Jhonatan yang tidak jauh dari sana memperhatikan Leon seperti kembali kemasa lalu melihat Xio saat masih seumuran dengan Leon.


"Akan kutegaskan sekali lagi, tidak ada perbudakan di kerajaan ini! dan tidak warganya yang sengsara!" Tegas Leon dengan dada tegap halnya pemimpin. "Apa kalian Paham?!!"


"PAHAM!!" Jawab semuanya.


"Kakek sebas nanti tolong arahkan mereka ketempat tinggal barunya di distrik perumahan dan pertanian yang masih belum terisi saja. Biar aku saja yang membuat laporannya pada Papah." Ucap Leon.


"Baik Pangeran." Jawab Sebas menundukkan kepalanya.


"Oh iya, dan satu lagi masukkan anak-anak yang tidak memiliki orang tua ke panti asuhan kalau tidak ada yang mau merawatnya." Tambah Leon.


"Saya paham Pangeran." Jawab Sebas tersenyum dalam hati.


"Baiklah kalau begitu aku akan pergi dulu. Lena ayo!" Seru Leon menarik tangan Lena.


"Kakak kita mau kemana?" Tanya Lena.


"Apa kamu sudah lupa? tadi kan kita mau bermain dengan adik-adik kita." Jawab Leon.


"Oh iya aku lupa." kata Lena menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Setibanya di depan kamar Xio mereka langsung mengetuk pintu kamar tersebut.


Tokk! tok! tok!


"Nghh..!! ada apa anak-anak?" Sahut Xio didalam kamar.


"Papah kita ingin mengajak bermain dengan Nathan dan Tassa." Jawab Lena.


"Ahh..! Tunggu disana beberapa menit lagi." Sahut Xio lagi.


"Apa papah baik-baik saja?"


"Iya nghh papah baik-baik saja tunggu sebentar lagi."


...--------SATU BULAN KEMUDIAN--------...


...----------------...


...BERSAMBUNG...