
...----------------...
Setelah selesai membicarakan perihal pernikahan Xio dan Ellisa, mereka memutuskan untuk tidur karena hari sudah malam. Setelah mengantarkan Leon dan Lena tidur, Xio dan Ellisa juga pergi kekamarnya untuk tidur. Saat sampai dikamar Ellisa bertanya pada Xio.
"Sayang kita akan menikah di bumi atau di dunia Flix?" Tanya Ellisa.
"Mungkin dikedua nya." jawab Xio.
"Apakah kamu tidak ingin memberitahukan ayahmu tentang dunia Flix?" Tanya Ellisa lagi.
"Aku akan memberitahunya, tapi bukan sekarang." Ucap Xio membaringkan tubuhnya di atas kasur, kemudian dia menepuk-nepuk bantal disampingnya memeberi tanda pada Ellisa agar tidur disampingnya.
Ellisa menuruti permintaan Xio dan tidur disampingnya kemudian Xio langsung memeluknya erat, dan menutup matanya menuju alam mimpi begitupun ellisa. Xio berjanji tidak akan melakukan hubungan bada sampai mereka menikah.
Malam berganti pagi, hari ini adalah hari diamana Jhonatan akan pindah kerumah Xio. seluruh penghuni rumah sudah bangun untuk mempersiapkan perpindahan Jhonatan, tapi masih ada satu orang yang masih tidur dengan lelapnya yaitu Xio, sementara Ellisa sudah bangun dan membantu anak-anak merapihkan barang bawaan.
"Ellisa, apakah Xio belum bangun?" tanya Jhonatan.
"Belum, Xio tertidur sangat lelap, sepertinya dia kelelahan." Jawab Ellisa.
"Kalau begitu aku akan bermain dengan Leon dan Lena diluar." Ucap Arthur langsung menggendong keduannya dan bwrjalan keluar.
"Hey curang, aku juga ingin bermain dengan cucuku!" Sahut Jhonatan langsung menyusul Jhonatan.
Ellisa tertawa melihat tingkah Jhonatan dan Arthur yang seperti anak kecil sedang memperebutkan mainan. Karena hari sudah agak siang, Ellisa memutuskan untuk membawa makanan untuk Xio kekamarnya. Saat Ellisa masuk kamar, twrnyata Xio sudah bangun dan sedang berganti pakaian.
"Ternyata kamu sudah bangun, aku membawa makananmu." Ucap Ellisa menaruh makanannya di meja.
"Terimakasih, apakah kamu sudah sarapan?" Ucap Xio mengecup kening Ellisa dan langsung duduk di kursi.
"Aku sudah makan bersama-sama ayah dan anak-anak." Jawab Ellisa dan ikut duduk di kursi yang ada di depan Xio.
"Umm baiklah." ucap Xio dan langsung mulai memakan makanan yang ada dihadapannya. Saat Xio sedang makan Ellisa terus memperhatikan wajah Xio, sehingga membuat Xio heran.
"Apakah ada sesuatu diwajahku?" Tanya Xio.
"Tidak, aku juga tidak tahu kenapa aku ingin terus melihat wajahmu." Jawab Ellisa.
"Begitukah?, mungkin karena wajahku yang terlalu tampan!" Ucap Xio menyombongkan dirinya.
"pasti banyak yang menyukai wajahmu dan ingin merebutnya dariku." Lirih Ellisa. Xio langsung menggenggam tangan Ellisa dan menatapnya.
"Aku hanya akan memberikan seluruh tubuhku untukmu, begitupun sebaliknya aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhmu sedikitpun.!" Ucap Xio menatap lekat mata Ellisa.
"Terimakasih!" Ucap Ellisa tersenyum.
"Nah kan kalau kamu tersenyum, kecantikannya menambah berkali-kali lipat." Ucap Xio, kembali melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Xio dan Ellisa menghampiri anak-anak yang sedang bermain.
"Apakah ayah sudah mengemas semuanya barang ayah?" Tanya Xio.
"Sudah, tapi ayah kasihan pada para orang yang bekerja dirumah ayah jika ayah pindah" Jawab jhonatan.
"Kalau begitu, aku pekerjakan saja mereka ditempatku." Ujar Xio dan diangguki oleh jhonatan.
"Baiklah, kita berangkat saja sekarang" Ucap Xio.
Merekapun memasuki mobil masing-masing, Xio bersama Ellisa dan anak-anaknya, sedangkan Jhonatan bersama Arthur dan Adam. Chris dan Juli tidak ikut karena harus mengurus perusahaan, Xio juga semalam sudah memanipulasi ingatan Adam, chris dan Juli agar mereka mengiranya akalai dirumah Xio memang sudah ada mansion dan juga para pekerjanya.
Saat sudah sampai merekapun memarkirkan mobilnya didepan rumah.
"Xio apakah ini rumahmu?" Tanya Jhonatan karena melihat rumah Xio yang sederhana tapi lumayan besar.
"Iya ini rumahku, apa rumahku terlalu kecil?" Ucap Xio bertanya balik.
"Bukan terlalu kecil, tapi ayah salut saja pemilik perusahaan no 1 di negara ini ternyata rumahnya sangat sederhana." Jawab jhonatan. kemudian merekapun masuk kedalam rumah dan menyimpan barang-barang yang mereka bawa.
Setelah selesai merekapun kembali berkumpul diruang keluarga.
"Masih ada 2 kamar lagi, ayah mertua bisa menempati yang satunya" Jawab Xio.
'Mungkin aku harus memperbesar rumah ini' Batin Xio, dia berpikir pasti keluarganya akan bertambah.
"Lalu Xio mansion besar yang berada di belakang rumah milik siapa?" Tanya Jhonatan, karena tadi saat turun dari mobil dia melihat mansion besar yang terletak di belakang rumah.
"Itu mansionku tempat untuk para pekerja!" jawab Xio.
"Papah Azco kemana?" tanya Lena, Lena teringat kalau kemarin Azco ikut bersama Xio kerumah Jhonatan.
"Iya juga papah dari tadi tidak melihat Azco." jawab Xio.
"Apakah yang kalian maksud kucing yang berwanerna hitam?, kalau tidak salah tadi ayah lihat kucing itu tidur di taman rumah ayah." sahut Jhonatan.
"Haduhh kerjaannya tidur terusss." ucap Xio menepok jidatnya sendiri.
"Kalau begitu biar saya yang ambilkan." ujar Adam.
"Terimakasih paman." balas Xio, dan Adam pun langsung keluar menuju rumah Jhonatan.
"Aku akan keluar dulu!" Xio ikut keluar dan berjalan menuju mansion tempat para bawahannya, saat Xio masuk Xio langsung disambut oleh para bawahannya.
"Kamu!, kemarilah!" ucap Xio menunjuk salah satu bawahannya, orang yang dipanggilpun mendekat kearah Xio.
"Siapa namamu?" tanya Xio.
"Nama saya Riki, yang mulia!" Jawab orang tersebut yang bernama Riki.
"Tunjukan Ruangan untuk menahan tahanan" Perintah Xio, kemudian Riki pun mengantarkan Xio menuju ruangan yang seperti gudang.
Saat sudah sampai Xio langsung mengeluarkan Serly dari bayangannya, terlihat Serly yang kebingungan karena tadinya dia berada dikegelapan tapi sekarang sudah ada di dalam ruangan yang asing, sampai dia mendengar suara yang dikenalnya.
"Riki, ikat dia dikursi." ucap Xio, dan Riki langsung mengambil kursi dan tali tambang, kemudian mengikatkannya pada Serly.
"Hei Lepaskan!!" Serly memberontak, tapi karena tenaga Riki lebih kuat jadi Riki dengan mudah mengikat Serly.
"S*alan, Xio lepaskan aku!!" teriak Serly yang masih memberontak.
"hahh?, untuk apa aku melepaskanmu, orang yang sudah berkali-kali ingin menghancurkan keluargaku sebaiknya aku hancurkan saja hidupnya, tapi itu sepertinya tidak akan. mm o cukup." Ucap Xio tersenyum menyeramkan, Xio mengeluarkan katananya dan mulai menyayat kulit tangan Serly.
"arghh...!!" Teriak Serly kesakitan.
"H-hentikan, aku berjanji akan melakukan apapun!" Ucap Serly.
"apapun?, memangnya apa yang bisa kamu lakukan untuku?" ucap Xio dan menempelkan katanya di dagu Serly.
"Aku bisa menjadi alat pemuas untukmu, jadi tolong lep-" Belum selesai dengan ucapannya, pipi Serly sudah berdarah karena di sayat oleh Xio.
"L*cur murahan, bahkan aku tak Sudi menyentuhmu sedikitpun." Ucap Xio dan lanjut memotong salah satu tangan Serly.
Xio keluar bersama Riki meninggalkan Serly yang sedang mengerang kesakitan akibat kehilangan satu tangannya.
Xio memutuskan untuk membiarkan Jhonatan membalaskan dendam nya juga.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG