
...----------------...
"Huss..jaga bicaramu bagaimanapun juga dia yang sudah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang tampan. Tapi jika ditanya sih, mungkin aku memang masih mencintainya, walaupun kemarin aku mendengar kabar yang membuatku sangat sakit." Ucap sang permaisuri kembali terlihat dia menatap pria di balik cermin dengan wajah yang murung.
"Sudahlah Permaisuri... jangan memikirkannya lagi. Sudah 3 hari anda terlihat sedih...Walaupun saya tidak tahu kenapa anda bersedih, tapi saya tahu anda pasti dibuat sakit hati lagi oleh manusia itu. Permaisuri kan tahu sifat manusia memang egois"
...----------------...
Kembali ke sisi Xio saat ini. Setelah selesai mengunjungi makam ibunya, Xio pun pergi dari makam tersebut dengan berpamitan terlebih dahulu pada ibunya untuk pulang.
“Den Xio sudah mau pulang?” Tanya pria penjaga makam.
“Iya paman.” Jawab Xo. “Paman, apa tidak lama ini ada yang mengunjungi makam ibu?” Tanyanya pada penjaga makam.
“Oh itu. 3 hari lalu Tuan Presiden berkunjung ke makam nyonya Alexander sendirian.”
‘Hmm...untuk apa Baswara berkunjung ke makam Nadia?’ Heran Jhonatan. ‘Mungkin dia rindu juga dengan Nadia.’ Pikirnya.
“Oh paman Baswara...Baiklah kalau begitu kami akan pulang sekarang. Oh dan ya terimakasih sudah merawat makam Ibu.” Ucap Xio berpamitan.
Dia berjalan menuju mobil Jhonatan begitu dengan yang lainnya. Mereka bepergian menggunakan mobil Jhonatan yang Lumayan besar, sehingga bisa muat semuanya sekaligus.
Jhonatan Duduk di kursi depan seorang diri, karena dia yang menyetir. Sedangkan yang lainnya duduk di kursi belakang.
“Karena sudah siang, kita sebaiknya makan dulu. Kebetulan Ayah sudah menyuruh Juli untuk reservasi di Restoran dekat sini.” Kata Jhonatan melajukkan Mobilnya emnuju restroran tersebut. Jhonatan sengaja menyuruh Juli meresevasi untuk keluarganya saja, dia tidak mau waktu makan siangnya terganggu oleh orang lain. ditambah lagi agar para bayi bisa merasa tenang.
Selesai makan di restoran tersebut, dan karena hari sudah menjelang sore hari, jadi mereka pun memutuskan untuk langsung pulang saja.
Mobil hitam itu memasuki halaman yang sangat Luas tersebut. Tapi disana juga terlihat sudah ada mobil berwarna Silver yang terparkir di halam rumah.
“Papah bukankah itu mobilnya kakek Presiden?” Tanya Leon.
“Sepertinya memang benar. Ayo kalian turun duluan.” Kata Xio membukakan pintu mobilnya.
‘Kenapa dia ada disini?’ Batin Jhonatan segera turun dari mobil.
Terlihat di depan rumah ada baswara sedang duduk di kursi dengan beberapa bodyguard disisinya. Dia langsung berdiri dengan wajah yang terlihat tidak senang ketika melihat Jhonatan turun dari mobil. Tapi wajahnya langsung kembali normal ketika melihat Xio dan yang lainnya turun dari mobil setelah Jhonatan.
Dari kejauhan Xio sudah bisa mencurigai jika Baswara sepertinya terlihat punya masalah dengan Jhonatan.
"Hai cucu-cucu kakek!" Baswara mengelus kepala Leon dan Lena.
"Paman tumben sekali... berkunjung ke sini." Sapa Xio.
"Seharusnya paman yang bertanya seperti itu. Satu tahun kalian di luar negeri, dan tidak mengabari paman dulu. Apa kamu menganggap paman seperti orang asing?" Tanya Baswara.
Saat Xio terjebak di dunia Flix dan tidak bisa kembali ke bumi selama satu tahun, baswara pernah bertanya pada Chris. Dan Chris bilang kalau Xio sedang berlibur bersama keluarganya ke kampung halaman Jhonatan.
"Ah..ha-ha.. bukan seperti itu Paman, tentu saja paman masih bagian dari keluargaku."Jawab Xio tertawa canggung.
"Paman kesini ingin melihat bayi-bayimu dan Ellisa. Sekalian ada urusan dengan ayahmu." Kata Baswara.
"Oh, kalau begitu ayo masuk kedalam. Biar ngobrol nya di dalam saja." Ujar Xio.
"Tidak apa-apa, kalian duluan saja kedalam nanti paman menyusul dengan ayahmu." Kata Baswara.
"Baiklah, ayah nanti ajak paman masuk!" Seru Xio.
"Iya…"
Setelah Xio, Ellisa, Rose dan anak-anak masuk kedalam rumah. Baswara langsung mencengkram kerah kemeja Jhonatan dan didorongnya hingga punggung Jhonatan terbentur cukup keras ke bagian samping mobil.
"Baswara ap-"
Buk!
Tidak sampai selesai disana keterkejutan Jhonatan dengan sikap Baswara. Dia langsung mendapatkan pukulan tepat di pipi bagian kanan oleh kepalan tangan Baswara yang cukup kuat.
Tidak cukup dengan sekali pukulan di wajah, Baswara kembali meninju perut Jhonatan. Hingga membuat Jhonatan terjatuh karena perutnya langsung terasa sangat Lemas seperti pengap.
“Tuan cukup..!”
Terlihat baswara akan meninju Jhonatan lagi, tapi ditahan oleh para bodyguardnya.
“Lepaskan! biar aku menghajar bajingan sialan ini!”
“Tapi Tuan suara anda akan terdengar ke dalam rumah.”
Jhonatan berusaha berdiri dengan susah dan juga batuk-batukan.
“Sepertinya kamu sudah mengetahui sesuatu…” Kata Jhonatan mengusap darah yang ada di sudut bibir dengan punggung tangannya.
Baswara langsung mencengkram kerah Jhonatan dengan ekspresi yang terlihat sangat emosi setelah dilepaskan oleh bodyguardnya.
“Aku sudah memberimu satu lagi kesempatan, tapi kamu malah menyia-nyiakannya!” KAta baswara tepat didepan muka Jhonatan. “Satu minggu lagi kamu akan menikah dengan Megan, dan kamu masih berani mengunjungi Nadia. Apa kamu tidak punya muka hah?!” Bentaknya.
“Ternyata kamu sudah tahu…” kata Jhonatan sambil tersenyum miring.
Merasa diremehkan oleh Jhonatan, cengkraman Baswara menjadi semakin kencang. “Sepertinya memang benar kamu sudah tidak mau hidup lagi. Bertahun-tahun aku menaruh perasaan pada Nadia dan tidak mengungkapkannya, karena Nadia lebih memilihmu. Aku tidak menikah sampai saat ini, karena aku masih mencintai Nadia. Tapi apa yang sudah kamu lakukan...lagi dan lagi kamu menghancurkannya. Andai saja ketika Nadia Sakit saat itu aku tidak punya masalah, mungkin dari dulu Nadia dan Xio sudah hidup bahagia denganku.”
Mendengar perkataan Baswara,Jhonatan sangat terkejut dengan pernyataannya. Dia tidak pernah tahu kalau Baswara ternyata menyukai Nadia.
“Apa kamu tidak pernah merasa bersalah pada Nadia hah? Sampai saat ini aku bahkan tidak pernah menyentuh seorang wanita karena selalu teringat dengan wajahnya yang ramah dan murah senyum itu. Sepertinya aku memang salah membiarkan Nadia bersamamu.” Kata Baswara. “Sepertinya Xio belum tahu tentangmu dan Megan. Menurutmu bagaimana reaksinya jika dia tahu tentang ini?” Tambahnya.
Tanpa mereka tahu kalau Xio dari tadi sudah melihat dan mendengar pembicaraan mereka yang membuatnya sedikit tersentak ketika mendengar ayahnya akan menikah lagi, dan Baswara yang ternyata menyukai Ibunya.
Dari yang Xio ingat. Megan adalah anak dari mantan presiden negara X. Dari dulu Megan memang sudah menyukai Jhonatan, tapi karena profesinya sebagai Model sekaligus aktris, dia lebih memilih untuk fokus pada karirnya dahulu. TApi dari dulu Xio sudah tidak senang dengan wanita tersebut.
“Jadi ayah sering keluar dari rumah karena wanita itu…” Gumam Xio.
Xio tidak ingin langsung menengahi perdebatan antara Jhonatan dan Baswara. Dia ingin mendengar semuanya terlebih dahulu dari mereka.
Kembali ke sisi Jhonatan dan Baswara. Selesai baswara berbicara, Jhonatan tidak memperlihatkan reaksi apapun. Dia tidak membuka suara ataupun berekspresi. Tapi tiba-tiba saja dia memegang kedua pergelangan tangan Baswara yang sedang ,mencengkram kerah bajunya.
“Aku sudah lelah hidup didunia ini dengan dipenuhi rasa bersalah...Biarkan aku mati...dan bertemu dengan istriku lagi...Jika kamu berpikir aku tidak memikirkan Nadia itu akan menjadi dosaku. Setiap Malam aku juga selalu membayangkannya tidur di pelukanku karena aku sangat mencintainya.”
“Jika kamu mencintainya, Lantas kenapa kamu selalu menyakitinya?”
“Aku tidak pernah berpikir sekalipun untuk menyakiti atau membuat Nadia kecewa, Tapi karena situasi lah yang selalu membuatku tidak tahu harus berbuat apa.”Kata Jhonatan. “Apa kamu ingat ketika aku menjadi buronan di seluruh negara karena difitnah menjadi dalang atas peretasan Bank Dunia? Saat itu Ayahnya Megan lah yang masih menjabat sebagai Presiden dan mau membantuku menyelesaikan masalah tersebut.Tentu saja aku sangat berterima kasih padanya dan merasa berhutang budi, karena kalau tidak mungkin saat itu aku sudah dihukum mati.”
“Beberapa bulan Yang lalu dia menghubungiku dan mengatakan kalau ingin menikahkanku dengan Megan sambil terus membicarakan Jasanya padaku saat itu yang sudah pasti ingin membuatku membayarkan hutang budinya. sehingga aku tidak bisa menolaknya, karena Nadia sendirilah yang mengatakan padaku untuk membalas kebaikan seseorang seperti seseorang itu baik padamu.”
“Apa aku menginginkan semua itu..? Jujur saja dari dulu aku sangat ingin mengakhiri hidupku yang selalu salah ini. tapi di lain sisi aku tidak tega jika harus membuat anakku sendirian lagi tanpa ada sosok orang tua yang mendukung dirinya dari belakang.”
“Sudahlah Baswara cepat akhiri saja aku. setidaknya aku tahu kamu menganggap Xio seperti anakmu sendiri. Jadi aku bisa tenang jika itu kamu karena kamu temanku.” Kata Jhonatan menutup semua kejujuran yang sudah dia katakan.
Baswara yang sudah mendengar semua perkataan Jhonatan Pun menjadi tidak berdaya, karena dia tahu kalau Jhonatan tidak berbohong dan sedang bersungguh-sungguh saat ini.
“Ckk..!” Baswara berdecak dan melepaskan cengkraman tangannya dari leher Jhonatan.
“Daripada mengakhiri hidupmu, lebih baik kamu mengatakan semuanya pada Xio. Aku tidak ingin Nadia menyalahkanku karena sudah mengirimmu padanya.” Kata Baswara acuh tak acuh langsung berjalan meninggalkan Jhonatan dan Masuk kedalam rumah, meninggalkan Jhonatan yang masih membatu di sana.
‘Kamu lihatkan istriku sayang? masih banyak orang yang menyayangimu disini selain aku dan juga Xio. tapi sayangnya kamu tidak akan menyadarinya disana, karena mereka bilang jika di surga sangat menyenangkan sampai tidak akan bisa mengingat dan peduli lagi dengan yang ada di dunia. aku ingin segera meninggalkan dunia ini dan pergi menghampirimu di surga.’ Batin Jhonatan meratapi nasibnya yang seperti vas bunga retak, bisa hancur kapan saja ketika bebannya terlalu berat.
Sementara itu Xio yang dari tadi memperhatikan mereka di dalam rumah di lantai paling atas tepat di kamarnya sambil menengok keluar jendela. dia ikut merasakan prihatin dengan kondisi Jhonatan karena bagaimanapun Jhonatan tetaplah ayahnya.
“Sebaiknya aku bicarakan ini dengan nenek nanti.” Gumamnya berbalik dan meninggalkan Jhonatan juga karena mendengar Ellisa memanggilnya.
“Sayang cepat turun..Paman sudah menunggu di bawah!” Seru Ellisa.
“Iya sebentar sayangku.” Jawab Xio berjalan menuju lemari pakaiannya untuk berganti baju.
Selesai berganti pakaian, Xio pun turun kebawah untuk mengobrol dengan Baswara. dia bersikap biasa saja seperti memang tidak tahu apa-apa soal masalah yang dilihatnya di halaman depan tadi.
Baswara ikut malam bersama dengan mereka, tapi tidak dengan Jhonatan. sesaat setelah masuk kedalam rumah, dia langsung masuk ke dalam kamarnya dan mengurung diri didalam sana tidak ikut makan malam bersama.
Baswara juga mengatakan pada Xio untuk memberitahu ayahnya, Besok temui dia di rumahnya.
Setelah Baswara pulang, Xio mengajak Rose untuk berbicara di ruangan kerjanya. sedangkan Ellisa dan anak-anak berkumpul di ruangan keluarga sambil menonton film.
“Apa nenek sudah tahu kalau ayah akan menikah satu minggu lagi?” Tanya Xio.
“Oh jadi kamu juga sudah mengetahuinya yah..” Kata Rose dijawab anggukan oleh Xio.
“Tenang saja nenek sudah menyelidiki semuanya.” Tambahnya.
“Jadi apakah benar kalau ayah pernah terlibat masalah dengan bank dunia?” Tanya Xio lagi.
“Benar itu terjadi ketika kamu masih 2 bulan didalam kandungan ibumu. Mungkin yang kamu tahu kalau mantan presiden X lah yang membantu ayahmu...”
“Hah? memangnya bukan dia ya yang membantu ayah?” Heran Xio.
“Benar dialah yang membantu ayahmu, tapi dia sendiri jugalah yang sebenarnya menyebabkan Jhonatan masuk kedalam rencana jahatnya. Orang itu yang sudah mencurangi Bank dunia, dan dia menjadikan Jhonatan seperti pelaku utamanya, karena saat itu karir Jhonatan memang sedang dalam puncak.”
Brakk! Xio memukul meja.
“Beraninya orang itu menjebak ayah saat ibu sedang hamil!” Gertak Xio.
“Saat itu nenek masih belum kembali ke dunia luar, jadi baru tahu masalah ini saat menyelidikinya belakangan ini. Ayahmu tidak tahu kalau Azril juga sebenarnya bermain dibelakang layar untuk bisa membantunya.”
“Sekarang biar nenek tanya..apa kamu memperbolehkan ayahmu menikah lagi?” Tanya Rose.
Xio terdiam sejenak.
“Tentu saja aku tidak mau jika ayah mencintai wanita lain selain ibu....tapi jika itu demi kebahagiaannya, maka aku akan membiarkannya. itupun kalau ayah benar-benar menyukainya dan aku tidak akan membiarkannya kalau perempuan itu hanya memanfaatkan ayah saja.” Ucap Xio sedikit mengernyitkan dahinya.
“Sepertinya aku memang harus berbicara langsung dengan ayah masalah ini.” Tambahnya.
“Sebaiknya kamu jangan langsung bicara intinya pada Jhonatan, biarkan dia yang mengatakannya secara langsung. Masalah orang itu biar nenek saja yang mengurusnya.” Ujar Rose.
“Baiklah nenek, kalau begitu aku mau menemui ayah dulu.” Kata Xio berpamitan dan kemudian berjalan keluar ruangan.
“sepertinya malam ini nawa seseorang akan melayang.” Kata Rose meregangkan jari-jarinya dengan tersenyum menyeramkan.
.
.
.
.
Tok! tok!
Xio mengetuk pintu kamar Jhonatan yang sangat hening.
“Ayah ini aku..bolehkah aku masuk?” Tanya Xio, tapi tidak ada jawaban sama sekali.
Ketika Xio mengecek gagang pintunya, ternyata tidak dikunci. Terlihat kamar Jhonatan sangatlah gelap gulita, dan saat Xio melangkahkan kakinya, dia merasa seperti menginjak pecahan kaca.
Clik!
Xio menyalakan lampu yang berada di samping pintu agar membantu penerangan, ingin melihat dengan jelas. Ketika lampu sudah dinyalakan, alangkah terkejutnya Xio melihat seisi ruangan kamar tersebut yang sangat berantakan. banyak benda-benda yang hancur hingga berserakan di lantai.
Dia langsung merasa tersentak ketika melihat Jhonatan tergeletak dilantai dengan dahinya yang bercucuran darah. melihat ke cermin disampingnya yang hancur dan juga ada bercak darah, kemungkinan besar kalau Jhonatan membenturkan kepalanya di cermin.
“Ayah!!” TEriak Xio langsung berlari menghampiri Jhonatan.
Suara Xio barusan terdengar hingga ke lantai bawah, sehingga Ellisa dan anak-anak yang sedang menonton televisi pun bisa mendengar suaranya.
...****************...
...BERSAMBUNG...