ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 98



Meca terkejut setelah melihat Bimo mengeluarkan motor ninja dari garasi rumahnya. Dia bingung mengapa Bimo mengantarnya menggunakan motor dan bukan mobil yang biasa Bimo pakai sehari-hari.


"Mobil Kakak kemana? Kan biasanya pakai mobil." Tanya Meca.


"Mobil gue kan di rumah Elo. Masa Elo lupa?" Jawab Bimo.


Meca lalu berpikir sejenak sambil mengingat mengapa mobil Bimo bisa ada di rumahnya.


Cukup lama berpikir,akhirnya Meca ingat jika tadi Bimo ke rumahnya dan menjemputnya menggunakan mobil tapi Ia tidak mau diantar Bimo,lalu Ia naik bis dan Bimo pun ikut Ia naik bis. Dan pastinya mobil Bimo masih ada dirumahnya sejak tadi.


"Oh...iya.. gue lupa he..he.." Ucap Meca sambil menunjukkan tawa bodohnya.


Bimo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Setelah mengeluarkan motornya,Bimo kembali ke dalam garasi rumahnya untuk mengambil helm untuk dirinya dan Meca.


Sebelum berkendara dengan motor,Bimo tak lupa memakai helm untuk menjaga keselamatannya di jalan.


Setelah menemukan dua helm,lalu Ia keluar dari garasi rumahnya dan kembali menghampiri Meca.


"Nih..pakai helm dulu." Suruh Bimo sambil menodongkan helm pada Meca.


Meca pun mengambil helm dari tangan Bimo lalu langsung memakai helm yang diberikan Bimo tadi. Begitu juga dengan Bimo,Ia langsung memakai helmnya.


Setelah itu,Bimo menyalakan mesin motornya.


"Naik!!" Suruh Bimo.


Meca pun hanya menuruti kata Bimo,Ia pun langsung naik ke boncengan motor Bimo.


"Pegangan!!" Suruh Bimo setelah Meca naik ke boncengan motornya.


"Ah...nggak usah lah. Kalau gue naik motor sama Kakak laki-laki gue aja gue nggak pernah pegangan kok." Sahut Meca.


"Gue mau ngebut lo ini..." Ucap Bimo.


"Iya nggak apa-apa ngebut aja.." Timpal Meca.


"Yakin nggak apa-apa?" Tanya Bimo mencoba megakinkan Meca.


"Iya Kak. Udah lah..ayo cepet berangkat keburu telat nanti." Ucap Meca agak kesal karena Bimo terus bicara dan tidak langsung berangkat.


"Ok.. kalau gitu." Ucap Bimo sambil bersiap-siap menekan laju gas motornya.


Reng...


Bunyi motor Bimo sangat keras,motornya hampir menyolot ke depan. Hal itu,membuat Meca kaget dan refleks langsung memeluk Bimo dari belakang.


Karena Meca kesal,Meca pun langsung melepaskan pelukannya pada Bimo lalu memukul punggung Bimo.


"Hei Kak!! Jangan bercanda deh!!"Bentak Meca.


"Ha...ha...ha..kan tadi gue udah suruh pegangan,malah Elo nya nggak mau." Ucap Bimo sambil tertawa dengan puas.


Lalu Bimo menarik kedua tangan Meca dan menempatkannya ke pinggangnya.


Supaya nanti Meca tidak ketakutan lagi jika Ia membawa motornya dengan laju.


Melihat kedua tangannya di tarik oleh Bimo,Meca mencoba menepisnya. Tetapi Bimo terus menarik kedua tangannya dengan kuat sehingga Meca hanya bisa pasrah.


"Kedua tangan Elo tetap di pinggang gue. Jangan dilepas nanti saat di jalan." Pinta Bimo sambil mengenggam kedua punggung tangan Meca yang Ia kalungkan di pinganggnya tersebut.


"Iya..iya. Ya udah lah..cepet berangkat." Ucap Meca tidak sabaran untuk sampai di toserbanya karena memang hanya butuh waktu 10 menit saja.


"Ok..gue pastiin untuk sampai kesana hanya butuh waktu 8 menit aja." Ucap Bimo dengan percaya dirinya.


"Emang bisa?" Tanya Meca masih tidak percaya.


"Janji Elo harus pegangan terus." Ucap Bimo sambil bersiap-siap menancap gas motornya.


Brem..brem...brem...


Setelah siap,Bimo pun langsung membawa motornya dengan laju.


Meca pun langsung terkejut setelah Bimo mulai menjalankan motornya.


Bagaimana tidak? Bimo langsung melajukan motornya dengan kecepatan 80 km/jam. Untuk motor sejenis ninja seperti motor Bimo,pasti kecepatan tersebut sudah sangat laju sekali.


"Gue takut Kak...jangan kenceng-kenceng bawa motornya..ha..." Teriak Meca ketakutan.


Karena takut,Meca semakin memperat pelukannya di pinggang Bimo.


Sementara Meca takut,Bimo malah senyum nyengar-nyengir. Bimo senang karena Meca sangat dekat dengannya.


Melihat Meca ketakutan tak lantas Bimo mengurangi kecepatan motornya,malah Ia lebih laju membawa motornya.


"Kak..maafin gue..jangan balas dendam gini..." Ucap Meca yang mulai tidak jelas karena saking takutnya.


Bimo hanya senyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ucapan Meca yang tidak jelas.


Sedangkan Meca hanya menenggelamkan mukanya ke punggung Bimo karena takut sambil memeluk erat Bimo supaya tidak jatuh.