ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Kepikiran



Meca memasuki kamarnya dengan langkah yang gusar karena mendengar penjelasan Ibunya yang ingin dirinya mempunyai pacar. Apalagi pilihannya adalah Bimo.


Entah kenapa Meca belum bisa menganggap Bimo sebagi laki-laki yang baik setelah Ia menolak mentah-mentah Citra.


Untuk menyegarkan pikirannya dan badannya,Meca memilih untuk mandi terlebih dahulu.


Tanpa pikir panjang,Meca pun langsung mengambil handuk yang ada di tempat jemuran yang berada luar kamarnya dan pastinya melepas sepatu yang dikenakannya dan diganti dengan sandal rumah kesangannya.


Setelah semua siap,Meca pun segera bergegas pergi ke kamar mandi.


Tetapi saat Meca akan pergi ke kamar mandi,handphone Meca tiba-tiba berbunyi.


Meca pun langsung mengambil handphonenya yang Ia letakkan di atas meja.


Ia melihat siapa yang meneleponnya.


Tertera nama penelepon di layar handphone Meca yaitu 'Kak Bimo'.


Awalnya Ia bingung mengapa Bimo meneleponnya. Tapi jika dipikir-pikir kalau ada yang penting dibalik panggilan Bimo,lantas Ia pun langsung mengangkatnya.


Bimo : Halo Mec.


Meca : Halo Kak,ada apa ya?


Bimo : Mec,Ibu Elo masih marah nggak sama Elo? Kalau masih marah,Gue besok ke rumah Elo dan jelasin kenapa Elo bisa pulang terlambat.


Meca pun mendengarkan dengan seksama ucapan Bimo.


Meca pun tiba-tiba berpikir jika Bimo nanti ke rumahnya,pasti Ibunya sangat senang sekali. Karena pemikiran Ibunya yang katanya Bimo itu benar-benar laki-laki yang baik.


Setelah itu,Ibunya akan menyuruhnya untuk mendekati Bimo.


Meca memikirkan hal itu pun langsung geleng-geleng kepala sambil berkata 'tidak...' di dalam hatinya.


Bimo : Mec,kok elo diam aja?


Meca : Eh iya Kak,tadi kan Kakak mau ke rumah gue. Mending nggak usah Kak karena gue udah jelasin ke Ibu gue ditambah lagi Ibu gue juga udah nggak marah lagi sama gue gitu Kak hehe....


Bimo : Tapi kan Mec..


Meca : Udah dulu ya Kak. Udah malem gue ngantuk bye.....


"Kenapa sih ni Kak Bimo telepon kok nggak jelas." Gumam Meca dengan kesal sambil menaruh handphonennya kembali ke meja.


Meca pun mengambil handuk yang akan Ia gunakan untuk mandi tadi di atas kasurnya.


Ia pun melanjutkan rencananya untuk pergi menyegarkan badanya dengan mandi.


Di Rumah Bimo


Di dalam kamarnya yang luas Bimo mondar-mandir ke kanan dan ke kiri sambil memegangi handphonennya.


Bimo menggeram kesal karena panggilan teleponnya di matikan oleh Meca.


Sebelumnya tidak ada perempuan yang mematikan panggilan teleponnya terlebih dahulu selain dirinya yang mematikannya dahulu.


"Dasar Meca,Elo tu kenapa cuek banget sama gue? Masa iya dia juga cuek sama semua laki-laki gini?" Gumam Bimo dengan kesal sambil melihat layar handphonennya yang tertera riwayat panggilan teleponnya dengan Meca.


Bimo pun memutuskan untuk tidak memikirkan lagi.


Ia pun berbaring di atas ranjangnya yang empuk sambil menyilangkan kedua tangannya ke belakang kepalanya untuk dijadikan bantal.


Bimo pun memandang langit-langit rumahnya sambil berpikir sejenak.


Tiba-tiba di atas langit-langit rumahnya terdapat wajah Meca yang sedang tidur dengan imutnya.


"Hei! Kenapa ada Elo ha? Minggir dari sana gue lagi kesel sama Elo. Minggir jangan ada di pikiran gue! " Teriak-teriak Bimo dengan kesal karena Ia tiba-tiba memikirkan Meca,padahal Ia sedang tidak ingin memikirkannya.


Bimo pun melempar guling yang ada di tempat tidurnya ke atas langit-langit rumahnya supaya wajah Meca tidak terlihat lagi.


Buk....


Terdengar suara gulingnya yang jatuh ke lantai karena Ia lempar ke atas.


Sepertinya cara itu tidak berhasil untuk menghilangkan wajah Meca yang sedang tidur.


Padahal semestinya yang Ia lakukan untuk menghilangkan wajah Meca yang terus terngiang-ngiang di pikirannya adalah dengan tidak membayangkan selalu wajah Meca yang sedang tidur di mobilnya tadi.


Mungkin Bimo sudah tergila-gila dengan Meca sampai-sampai wajah Meca saja selalu terngiang-ngiang di pikirannya.