
Meca dan Bimo hanya saling memandang satu sama lain. Mereka paham dengan keadaan orang tua Faris mengapa memutuskan untuk tinggal disini. Tetapi Faris terlalu kecil untuk mengetahui alasan orang tuanya. Meca yakin masalah mengapa alasan orang tuanya pindah di dekat pembuangan sampah akhir ini mungkin karena ekonomi yang tidak mencukupi kebutuhan lainnya.
"Sudah berapa lama kamu tinggal disini?" Tanya Bimo pada Faris.
"Sejak aku umur 10 tahun Kak. Sekarang umur aku mungkin sudah 12 tahun. Jadi 2 tahunan aku tinggal disini." Jelas Faris.
Bimo menanggapinya dengan menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan Meca.
"Kamu pernah sekolah nggak?" Tanya Meca.
"Pernah tapi cuma sampai kelas 4 aja. Karena orang tua aku udah meninggal waktu aku mau naik kelas 5." Jawab Faris.
"Begitu ya. Kamu kan pasti udah bisa membaca dan menulis,kamu harus ajarin adik kamu supaya dia juga bisa kayak kamu. Kalau bisa kamu jadikan masa depan adik kamu bisa lebih baik." Saran Meca.
Bimo melihat Meca sangat kagum,Ia tak percaya orang secuek dan segalak Meca bisa menjadi orang bijaksana. Bimo pun yang laki-laki tidak bisa sebijaksana Meca.
"Iya Kak aku ajarin adik aku sebisa aku.
Aku juga kasihan lihat adik aku,dia belum pernah merasakan kebahagiaan kayak aku. Kalau aku dulu masih bisa sekolah dan bermain sama teman-teman aku,sedangkan adikku dia tidak punya kebahagiaan dan kesenangan yang dirasakan anak-anak kecil seumurannya." Jelas Faris sambil matanya berkaca-kaca.
Sedangkan adiknya masih memakan nasi goreng yang diberikan Meca tadi. Ia tak mengerti apa yang diucapkan oleh Kakaknya itu. Ia masih terlalu kecil untuk memahaminya. Umurnya saja baru 5 tahun.
Tanpa sadar Meca mulai meneteskan air matanya. Meca merasa iba pada kedua anak kecil itu. Ia juga merasakan kesedihan yang dialami oleh Faris dan adiknya. Bagaimana tidak anak kecil seperti Faris dan adiknya harus menanggung hidupnya sendiri. Padahal kalau anak-anak seumuran Faris dan adiknya itu masih butuh kasih sayang dari orang tuanya.
Melihat Meca menangis Bimo langsung khawatir.
"Mec,elo nggak papa?" Tanya Bimo khawatir.
"Enggak papa kok Kak. Gue cuma terharu aja." Jawab Meca sambil mengusap air matanya yang sudah mendarat di pipinya.
"Faris,pasti orang tua kamu bangga sama kamu. Kamu Kakak yang baik dan pengertian sama adik kamu. Kakak yakin kalau kamu besar nanti,kamu bisa jadi orang sukses. Karena Kakak yakin kamu orang yang baik dan pekerja keras." Kata Meca sambil matanya berkaca-kaca.
"Aminn Kak. Aku juga yakin kok Kak,kalau Kakak juga akan sukses kedepannya. Karena aku yakin Kakak adalah orang yang baik." Kata Faris pada Meca.
"Kakak nggak didoain ni...." Canda Bimo pada Faris.
"Hehehe... iya Kak. Semoga Kakak juga sukses kedepannya." Kata Faris sambil tertawa.
Bimo pun ikut tertawa sambil mengelus lembut kepala Faris. Begitu juga dengan Meca.
Adik Faris hanya menatap datar ketiga orang ini yang sedang tertawa. Karena Ia tidak tahu apa yang sedang ditertawakan oleh ketiga orang ini.
Tring...tring.....
Tiba-tiba handphone Meca berbunyi. Menandakan ada yang menelepon Meca.
Ia pun langsung membuka handphonennya dan ternyata yang meneleponnya adalah ibunya.
Meca pun langsung mengangkatnya.
Meca : Halo Bu.
Ibu : Meca kamu kemana aja? Ini sudah jam 9 malam,tapi kamu belum pulang juga. Kamu baik-baik aja kan?
Meca : Aku nggak papa kok buk. Ini aku udah mau pulang.
Ibu : Syukurlah kalau begitu. Ibu khawatir tau sama kamu. Ya udah cepet pulang ya. Hati-hati nanti pulangnya.
Meca : Iya Bu....
Lalu panggilan Meca dan Ibunya pun berakhir.
Meca lupa kalau ini sudah larut malam. Ibunya selalu khawatir pada Meca karena Meca adalah anak cewek. Ibunya khawatir jika Meca bertemu laki-laki yang jahat saat Meca di jalan.
Maka dari itu,Ibunya Meca selalu menelepon Meca jika Meca keluar rumah terlalu lama atau pulang tidak di jam-jam yang sama seperti biasanya.