
Tik....tik....tik....
Bunyi hujan yang jatuh dari awan membasahi bumi. Malam yang kelam dengan hawa yang dingin karena hujan telah menerpa malam hari ini.
Hujan pada malam hari ini,seakan-akan menggambarkan suasana hati Meca yang sedang gundah dan sedih.
Seolah-olah awan pun ikut menangisi kesedihan Meca dengan turunnya hujan pada malam hari ini.
Sepulang dari pertemuannya dengan Bimo,Meca tidak langsung pulang. Ia berada di halte bus sambil terus menumpahkan air mata kesedihannya disana.
Walaupun Ia tahu,jika bus tidak akan datang karena sudah malam,Ia pun tetap menunggu di halte.Ia sudah tidak peduli dengan anggapan orang-orang yang lewat di depannya yang memandangnya dengan tatapan aneh,karena menangis di halte sendirian pada malam hari.
Yang Meca butuhkan sekarang adalah waktu sendiri untuk menumpahkan kesedihannya yang tidak bisa dibendung lagi.
******
Pada saat waktu bersamaan,Rengga pergi ke toserba. Ia tengah memilih minuman yang akan dibelinya disana.
"Elo tahu nggak? Di halte depan sana ada cewek yang nangis sendirian. Kasihan banget gue." Ucap seorang perempuan pada temannya.
Mendengar perkataan seorang perempuan itu,Rengga pun dibuat penasaran.
Tanpa pikir lama,Ia pun langsung menoleh ke arah halte yang yang dimaksud oleh perempuan tadi.
Dan benar saja,memang ada seorang perempuan tengah duduk sambil menundukkan kepalanya dengan badan yang bergetar.
Rengga pun terus menatap dengan iba pada perempuan yang menangis sendirian di halte tersebut.
Semakin Ia menatap dengan intens pada perempuan itu,Ia merasa seperti tidak asing dengan penampilan perempuan yang malang itu. Dari gaya rambutnya dan cara berpakainnya,tentu saja Ia selalu bertemu dengan perempuan yang seperti itu.
Tiba-tiba Ia terperanjat setelah berpikir jika perempuan itu tidak lain adalah Meca.
Dengan cekatan,Rengga pun langsung membayar minuman yang dipilihnya lalu lari keluar toserba untuk menemui perempuan itu guna memastikan jika perempuan itu adalah Meca atau bukan.
Karena waktu malam yang kian larut,Rengga pun cukup mudah untuk menyeberang jalanan karena lalu lalang kendaraan tidak terlalu ramai.
"Meca!!" Panggil Rengga dengan suara yang lirih begitu sampai di depan perempuan yang Ia yakini adalah Meca.
Perempuan itu pun langsung mengangkat kepalanya dan menghadap ke arah Rengga setelah namanya dipanggil olehnya.
Dugaan Rengga memang benar,perempuan yang menangis sendirian di halte bus itu adalah Meca.
Terlihat mata merah Meca dan sembab karena menangis terlalu lama.
Melihat Meca seperti itu,membuat Rengga kasihan dan bertanya-tanya dalam hatinya mengapa Meca bisa menangis sampai seperti itu. Yang Rengga tahu,jika Meca adalah perempuan yang kuat dan tidak cengeng,tetapi mengapa malam ini Ia terlihat sangat sedih,sampai menangis di tempat umum seperti halte ini.
"Rengga?? Kok Elo tahu gue ada disini?" Tanya Meca dengan suara yang serak karena menangis terlalu lama.
Rengga pun duduk di samping Meca lalu menatap wajah Meca dengan penuh iba.
Ia pun membuka minuman yang Ia beli tadi lalu diberikan kepada Meca.
"Minum dulu!!" Suruh Rengga sambil menyodorkan minuman pada Meca.
Tanpa penolakan,Meca pun segera mengambil minuman dari Rengga lalu meneguknya perlahan.
Setelah meneguk minuman,Meca pun menaruhnya di atas kursi.
"Apa ada masalah? Elo bisa cerita sama gue. Jangan sedih sendirian." Ucap Rengga.
"Reng,Elo pernah nggak merasa bersalah pada orang lain?" Tanya Meca dengan lirih.
"Tentu saja pernah. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak peduli jika orang itu baik,pasti pernah melakukan kesalahan dan pernah menyakiti orang lain.
"Iya. Padahal orang itu selalu baik sama gue,tapi gue selalu nyakitin dia. Apa gue pantas disebut orang baik?" Ucap Meca dengan mata yang berkaca-kaca,jika mengingat perlakuannya pada Bimo.
"Apa gue boleh tahu siapa orang yang Elo maksud itu?" Tanya Rengga yang mulai penasaran dengan cerita Meca.
"Orang baik itu adalah Bimo. Orang yang selalu sayang dan baik sama gue." Jawab Meca.
Rengga pun terkejut setelah mendapat kenyataan jika orang yang membuat Meca menangis seperti ini adalah Bimo.
Kebanyakan laki-laki lah yang membuat hati perempuan sakit,tetapi lain halnya dengan Meca dan Bimo ini.
Kenapa malah Meca yang membuat hati Bimo sakit,sampai Meca sedih karena rasa bersalahnya pada Bimo.
Pertanyaan itulah yang sedang membuat Rengga bingung dan penasaran dengan apa yang terjadi sebenarnya di antara Meca dan Bimo.
"Bimo?? Kok bisa? Gimana ceritanya?" Serbu Rengga dengan pertanyaan.
"Jadi gini ceritanya......
Meca pun menceritakan semua masalah yang dihadapinya dengan Bimo.
Dari mulai kesepakatan antara Ia dan Ayahnya Bimo yang membuat Ia dan Bimo putus,karena Ia menyetujui kesepakatan Ayahnya Bimo untuk tidak membatalkan biaya beasiswanya.
Dari keputusan Meca itulah yang membuatnya merasa bersalah pada Bimo karena sudah melukai hati Bimo dengan keputusan yang Ia ambil sendiri tanpa mempertimbangkan dengan Bimo.
Secara rinci Meca menceritakan masalahnya pada Rengga dengan sesekali menumpahkan air matanya jika mengingat kembali perlakuannya pada Bimo.
"Oh..begitu ceritanya. Kalau menurut gue sih Mec...Elo nggak sepenuhnya salah kok.
Sebenarnya yang salah itu adalah Ayahnya Bimo,dia nggak mikirin perasaan kalian berdua dan hanya mikirin dirinya sendirinya. Jadi,Elo jangan terlalu merasa bersalah sama Bimo,karena ini nggak sepenuhnya salah Elo." Jelas Rengga setelah mendengarkan cerita dari Meca.
"Tapi,sama saja gue tetap merasa bersalah karena gue juga egois dan nggak mikirin perasaan Bimo gimana setelah mendengar keputusan gue." Sahut Meca.
"Apa Elo bener-bener cinta sama Bimo?" Tanya Rengga dengan tiba-tiba. Entah apa yang membuatnya bertanya begitu kepada Meca.
"Tentu saja. Maupun sebelumnya gue nggak cinta sama Bimo,tapi dengan kesungguhan hatinya meyakinkan gue kalau rasa cintanya begitu besar kepada gue. Tapi,bodohnya gue menyiakan-nyiakan ketulusan cintanya." Sahut Meca.
"Apa karena itu Elo cinta sama Bimo?" Tanya Rengga.
"Enggak hanya itu. Juga karena Bimo adalah laki-laki yang baik,perhatian,walaupun terkadang dia suka marah-marah nggak jelas,tapi dia nggak pernah sedikitpun bikin gue kecewa." Ucap Meca.
"Mec!!" Panggil Rengga.
Meca pun segera menoleh ke arah Rengga yang berada disamping kananya.
"Jika,gue berusaha untuk jadi seperti Bimo,Apa boleh gue gantiin Bimo di hati Elo?" Tanya Rengga dengan tatapan yang serius.
Entah apa yang dipirkan Rengga saat ini,sehingga Ia bisa-bisanya mencari kesempatan di atas masalah putusnya hubungan Meca dan Bimo.
Dengan beraninya,Ia secara tidak langsung menyatakan perasaanya di hadapan Meca pada saat waktu yang tidak tepat seperti ini.
Meca pun sontak terkejut dengan pertanyaan Rengga itu.
Jelas sekali jika Meca paham dengan maksud pertanyaan Rengga tersebut.
Meca yakin jika Rengga sekarang sedang menyatakan perasaanya pada Meca,tetapi Rengga menggunakan cara yang berbeda.
Jangan Lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya.
Happy reading ๐