
Meca masih tak percaya ia bertemu lagi dengan laki-laki yang menolongnya saat dia hampir mati oleh maling. Ia sekarang harus bertemu laki-laki itu setiap hari karena laki-laki itu adalah kakak senior yang mengampu ekstrakurikulernya.
"Kalian jadi udah kenal satu sama lain?" Tanya Kakak senior satunya.
"Ya nggak sih,cuman gue tadi ketemu dia ngadepin maling,tapi malah dia yang mau dibunuh. Makanya gue tolongin sok-sokan banget sih nolongin orang malah dianya yang mau kena sial." Ejek laki-laki itu pada Meca."
"Owh berarti gue yakin lo kesini bukan untuk masuk taekwondo tapi lo mau hampirin Bimo kan terus lo mau beliin minum atau snack buat Bimo, gue yakin banget karena udah banyak cewek yang kesini buat nglakuin hal yang sama." Kata Kakak senior dengan panjang lebar.
"Maaf, emang tadi gue ditolongin sama Kakak Bimo tapi gue kesini nggak mau ngasih minuman ataupun snack karena gue lagi hemat uang dan gue nggak kenal sama kak Bimo." Jelas Meca pada kakak senior itu.
"Owh lo belum kenal gue, kenalin gue Bimo Ardiansyah." Kata Bimo sambil menjulurkan tangan pada Meca.
Meca tak membalas juluran tangan Bimo seperti saat Bimo menolong Meca.
"Ya gue udah kenal, kenalin nama gue Mecalina putri biasanya dipanggil Meca,gue dari jurusan psikologis." Jelas Meca pada Kakak senior dan Bimo.
"Kenalin nama kakak Dio bimantara panggil aja kak Dio." Kata Kak Dio pada Meca.
"Kak Dio saya tadi denger,kakak Dio taruhan sama Kak Bimo kalau ada cewek yang masuk taekwondo Kak Dio mau kasih kak Bimo uang 1 juta kan?" Tanya Meca pada kak Dio dengan santai.
"Hei-hei bener juga, mana uangnya?" Tanya Bimo dengan santainya.
"Ya,ya nanti gue usahain kasih deh. Eh gara-gara lo ni masuk sini abis kan duit gue." Kata Kak Dio menyalahkan Meca.
"Makanya kak jangan taruhan,taruhan itu nggak baik jadinya diri sendiri yang rugi." Kata Meca pada Kak Dio
Tanpa disadari Bimo melihat Meca senyum-senyum sendiri. Tiba-tiba Bimo membisikkan sesuatu pada Kak Dio.
Meca melihat kedua laki-laki itu dengan curiga.
"Gimana kalau kita tes dulu lo beneran mau masuk ekstra ini dengan sepenuh hati lo atau lo mau pdkt sama kita." Kata Kak Dio pada Meca.
"Ni kedua cowok percaya diri amat kayak dia banyak yang naksir aja." Batin Meca
"Gue tanya sebenarnya lo punya tujuan apa masuk taekwondo?" Tanya Kak Dio pada Meca.
"Gue mau belajar bela diri untuk jaga diri gue sendiri dan orang lain yang perlu pertolongan gue." Kata Meca dengan jujur.
Bimo mendengar ucapan Meca sangat tersentuh. Tak tau mengapa ia langsung percaya dengan ucapan Meca tadi. Mungkin karena tadi Meca menolong orang yang kecopetan di jalan, jadi ia yakin kalau Meca adalah cewek yang baik dan tak mungkin ikut taekwondo untuk modus padanya dan Dio.
"Lo diterima di ekstrakurikuler taekwondo selamat gabung ya." Kata Bimo dengan ramah.
"Bim cepet amat nerimanya,ini kan baru pertanyaan pertama." Heran Kak Dio pada Bimo.
Kemudian Bimo bisik-bisik lagi pada Dio.
Meca tak mengerti ada cowok yang suka bisik-bisik gini.
"Gue yakin dia nggak bakal modus sama kita,buktinya tadi ia cuek banget bicara sama kita." Bisik Bimo meyakinkan Dio.
"Eh bener juga sih ni cewek kayaknya beda deh." Kata Dio dalam hati.
"Ya udah lo gue terima, selamat mulai besok lo harus latian disini dan nggak boleh telat." Kata Dio tegas
"Ya terima kasih kak, ya udah gue pergi dulu." Kata Meca pada kak Dio dan Bimo.
"Eh tunggu dulu minta no hp lo kalau lo nggak masuk ekstra karena ijin atau sakit lo bisa telfon gue." Kata Bimo pada sambil menyodorkan Hp pada Meca.
Meca lalu mengetik no hpnya pada hp Bimo. Meca tak berpikir yang aneh-aneh saat ia Bimo meminta no hpnya.Tetapi lain halnya dengan Dio karena setahu dia Bimo tak pernah minta no hp cewek kalau bukan ceweknya sendiri yang minta. Dio pikir ada sesuatu pada Bimo tentang Meca.