
Meca langsung membelakkan matanya karena terkejut dengan perilaku Bimo yang secara tiba-tiba memeluknya.
"Biarin gue peluk Elo sebentar aja." Kata Bimo yang terdengar pas di dekat telinga Meca.
"Tapi,untuk apa meluk gue?" Tanya Meca.
"Karena gue sangat seneng dapat perhatian dari Elo."Jawab Bimo.
'Segitukah Kak Bimo suka sama gue?' Batin Meca.
"Tapi bisa lepasin gue nggak? Gue harus kerja." Kata Meca
"Oh...iya gue lupa." Kata Bimo lalu melepaskan Meca dari pelukannya yang erat.
"Ya udah,gue masuk dulu. Kakak hati-hati pulangnya...." Kata Meca lalu membuka pintu toserba untuk masuk.
Bimo mengangguk-anggukkan kepalanya menanggapi Meca.Ia melihat Meca gugup setelah dipeluknya dan terburu-buru masuk toserba.
Bimo hanya senyum-senyum sendiri melihat tingkah laku Meca saat gugup sembari memperhatikan Meca yang sudah berjalan menjauh darinya.
Bimo pun memutuskan untuk kembali ke mobilnya dan bergegas pergi pulang.
Di lain sisi Meca diam-diam memperhatikan Bimo dari meja kasir.
Ia membuang nafasnya dengan lega karena Bimo sudah pulang.
"Gue nggak bisa ngerti sama perasaan gue Kak Bimo. Gue selalu ngerasa deg-deg an kalau dia bersikap romantis ke gue,tetapi kenapa gue nggak ngerasa senang setelah dia bersikap romantis sama gue?" Gumam Meca
Rumah Dio
Bimo tidak berencana langsung pulang setelah dari toserba Meca tadi,Ia memutuskan untuk mampir ke rumah sahabatnya yaitu Dio.
Ia pun telah sampai di depan rumah Dio.
Rumah yang mewah,tetapi tidak semewah rumah Bimo.
Dio memang anak orang kaya,ayahnya seorang pengacara terkenal sedangkan ibunya adalah seorang dokter ternama.
Tak heran rumahnya pun juga mewah dan gaya hidupnya pun juga mewah.
Bimo pun keluar dari mobilnya dan langsung menekan bel rumah Dio.
Tak lama kemudian datang seorang ibu yang cukup tua. Dia adalah seorang pembantu di rumah Dio.
Ia pun menghampiri Bimo yang berada di depan pintu.
"Oh.. mas Bimo to. Ayo mas silahkan masuk,Mas Dionya ada di didalam kamarnya." Kata Pembantu itu dengan ramah.
Pembantu di rumah Dio memang sudah hafal dengan Bimo,karena Bimo sering datang ke rumah Dio.
"Iya,makasih Bi...." Kata Bimo lalu berjalan menuju kamar Dio.
Kamar Dio
Bimo pun akhirnya telah sampai di depan kamar Dio.
Ia pun langsung membuka pintu kamar Dio yang tidak terkunci.
Terlihat Dio sedang bermain game PS dengan serunya.
"Bi...kasih situ aja minumannya." Kata Dio sambil bermain game dengan fokusnya.
Ia mengira yang masuk kamarnya adalah pembantunya,padahal temannya yaitu Bimo.
"Elo kira gue pembantu Elo? Tanya Bimo lalu menghampiri Dio yang sedang bermain game.
"Ckckck....ternyata Elo Bim." Decak malas Dio.
"Kok Elo gitu sama sahabat sendiri,kayak Elo nggak mau aja gue kesini." Kata Bimo.
"Emang iya. Gue males lihat muka Elo mulu." Kata Dio yang membuat Bimo kesal.
"Hei! Sialan Elo..." Umpat Bimo.
"Gue kesini itu,mau cerita sama Elo kalau gue tadi habis ngalamin hal yang membahagiakan." Kata Bimo.
"Gue tahu pasti tentang Meca. Elo udah diterima sama si Meca?" Tanya Dio sambil memainkan game PS nya dengan serunya.
"Iya tentang Meca,tapi gue seneng bukan karena Meca nerima gue. Gue seneng karena tadi gue bisa meluk Meca dan Meca hari ini kayak udah mulai suka gitu sama gue." Jawab Bimo.
"Hahahahah......aduh...sejak kapan temen gue jadi kayak cewek gini. Digituin aja senengnya minta ampun." Kata Dio sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ya iyalah gue seneng. Elo jangan ejek gue dulu ya....Meca tuh nggak kayak cewek lainnya,kalau di romantisin sedikit langsung jatuh cinta sama gue. Dia tuh beda,dia tuh susah di dapetin hatinya." Kata Bimo.
"Ok...gue bakal percaya kalau gue buktiin sendiri nanti." Kata Dio.
"Maksud Elo?" Tanya Bimo.
"Gimana kalau kita taruhan,kalau salah satu dari kita bisa bikin Meca jatuh cinta. Yang pertama bikin Meca jatuh cinta nanti bisa minta apa pun ke orang yang kalah cepat bikin Meca jatuh cinta. Gimana?" Saran Dio.
"Apa Elo gila? Meca bukan barang yang bisa dijadiin taruhan. Gue nggak akan setuju." Marah Bimo lalu pergi meninggalkan Dio sendiri di kamarnya.
"Hei Bim! Teriak Dio pada Bimo yang sudah mulai menjauh darinya.
Karena kesal Bimo menutup pintu kamar Dio cukup keras.
Brak...
Hal itu membuat Dio hanya geleng-geleng kepala melihat perliku sahabatnya itu.
"Kayak apa sih Si Meca? Bisa bikin Bimo tergila-gila gini." Gumam Dio.