ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Teman Paling Dekat



Bimo mengejar Meca yang terlebih dahulu jalan di depannya.


Meca pun tetap tak menganggap Bimo yang masih memanggilnya.


Hampir dekat dengan Meca,Bimo pun segera menghentikan langkah kaki Meca.


Ia menarik tangan Meca agar Meca tidak berjalan lagi.


"Mec,kok Elo malah ninggalin gue sih? Kayaknya Elo beneran takut kehilangan Rengga ya?" Tanya Bimo secara bertubi-tubi pada Meca.


Meca pun mencoba sabar,Ia menarik nafas dan menghembuskan nafasnya dengan pelan. Ia berusaha tidak marah pada Bimo.


"Gue nggak tahu kenapa Kakak nanyain hal yang nggak jelas gini. Ok. Gue jawab pertanyaan aneh Kakak itu. Pastinya gue takut kalau Rengga kenapa-kenapa,walaupun bukan siapa-siapanya gue,tapi dia sudah gue anggep sebagai temen gue." Jelas Meca.


"Teman?" Tanya Bimo.


Kecemburuan Bimo berkurang setelah mendengar Meca mengatakan jika Rengga Ia anggap sebagai teman.


"Iya,udah puas kan?" Tanya Meca


"Belum. Masih ada satu pertanyaan lagi." Jawab Bimo


"Apalagi sih Kak?" Rengek Meca karena sudah capek meladeni Bimo.


"Kalau gue sakit,apa Elo juga khawatirkan gue karena sebagai temen?" Tanya Bimo dengan tatapan serius pada Meca.


"Eng...gak. Gue akan anggep Kakak sebagai temen yang paling dekat." Jawab Meca dengan sedikit ragu-ragu.


Lalu Meca pun melepaskan genggaman tangan Bimo darinya untuk kabur dari hadapan Bimo.


Setelah mengatakan ucapannya tadi,entah kenapa Meca merasa malu.


Lain halnya dengan Bimo,jika Meca merasa malu,Bimo pun malah merasa senang dan bahagia.


Walaupun Meca masih menganggapnya sebagai teman tapi kata 'paling dekat' lah yang membuat hati Bimo bahagia.


Melihat Meca kabur lagi darinya,Bimo pun mengejarnya lalu langsung memeluknya dari belakang.


Srrt....


Meca pun sangat terkejut saat Bimo tiba-tiba memeluknya dari belakang.


"Apa yang Kakak lakuin? Ada banyak orang yang lihat." Kata Meca sambil memperhatikan orang-orang disekelilingnya.


Memang Bimo dan Meca sekarang berada di depan rumah sakit,tentunya banyak orang yang lewat dan pastinya ada satu dua orang yang akan melihat adegan berpelukan Meca dan Bimo ini.


"Biarin mereka tahu,kalau kita teman yang paling dekat." Jawab Bimo dengan masih memeluk Meca dari belakang.


"Apa teman paling dekat juga berpelukan kagak gini?" Tanya Meca.


"Iya lah,biasanya mereka ngelakuin ini untuk bisa merasakan perasaan satu sama lain." Jawab Bimo.


Meca tidak bisa berkata-kata lagi. Bimo memang punya segala cara untuk bisa mendekati Meca.


Bahkan Meca pun sampai tersenyum mendengar ucapan Bimo yang menurutnya lucu.


Orang-orang yang lewat mulai menatap Meca dan Bimo. Sesekali mereka berbisik sambil senyum-senyum sendiri melihat keromantisan Meca dan Bimo.


Meca pun dapat melihat sebagian orang yang lewat sedang melihatnya.


Karena merasa malu,Meca pun melepaskan kedua tangan Bimo yang berada di pinggangnya.


"Bukannya tadi kita mau nebus obat? Ayo...ke apotek." Ajak Meca.


Ia pun segera jalan dahulu ke arah apotek.


Bimo pun senyum-senyum sendiri setelah mengingat Ia berpelukan dengan Meca tadi.


Ia tak peduli pada orang-orang yang disekitarnya sedang memandangnya seperti orang gila,karena Ia senyum-senyum sendiri tidak jelas. Apalagi di tengah jalan seperti ini.


"Ganteng,ganteng kok nggak waras ya..." Kata salah satu wanita yang lewat di depannya.


"Gue bukan orang gila!!!" Teriak Bimo pada wanita yang mengatainya tadi.


Tetapi wanita yang mengatainya tadi tidak kedengaran karena sudah berjalan menjauh dari Bimo.


"Gue harus menahan kebahagiaan gue. Jangan sampai gue senyum-senyum lagi." Gumam Bimo sambil menepuk-nepuk kedua pipinya dengan tangan kanannya secara bergantian.


Lalu Bimo pun memutuskan untuk menyusul Meca di apotek.