
Meca terpaksa berbohong kepada Dhira soal temannya SMP karena dia malu bertanya pada Dhira langsung,jika Ia lah cewek yang ditembak cowok yang Ia maksud dalam ceritanya itu pada Dhira.
Lebih rumitnya lagi cowok itu adalah Bimo.
Di Kamar Meca
Malam pun tiba,terlihat Meca sedang berbaring di tempat tidurnya yang nyaman.
Ia menatap atap-atap kamarnya sambil memikirkan ucapan Dhira tadi.
"Masa iya gue suka sama Kak Bimo? Bahkan mulut gue bicara kalau Kak Bimo tipe ideal gue. Eh....nggak,nggak,nggak.." Gumam Meca sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tapi kenapa tiba-tiba Kak Bimo nembak gue ya? Apa jangan-jangan dia cuma bercanda ya...? Ah....nggak tau ah... Gue ketimbang pusing-pusing mikir itu mending gue tidur aja." Gumam Meca sambil menarik selimutnya ke badannya dan tak lupa guling kesayangannya untuk Ia peluk.
Meca mulai memejamkan matanya lalu Ia terlelap dalam tidurnya.
Tak terasa pagi pun datang,matahari mulai muncul dari sebelah timur.
Meca sudah bangun dari tidurnya dan segera bergegas pergi sarapan dengan ibunya.
Biasanya Ia tidak sempat makan sarapan dengan Ibunya karena Ia harus buru-buru pergi ke toserba untuk bekerja shift pagi,tetapi hari ini Meca mempunyai kelas pagi jadi Ia tidak harus buru-buru ke toserba karena Ia mempunyai shift siang.
Sudah tersaji sepiring nasi dan lauk telor mata sapi,tempe,serta sambal tomat di meja makan.
Meca langsung duduk di kursi dekat meja makan untuk langsung sarapan.
Begitu juga dengan Ibunya yang dari tadi sudah memulai sarapannya.
"Ayo bu...makan. Hah....Ibu udah habis setengah?" Kaget Meca karena melihat piring Ibunya yang nasinya dan lauknya sudah habis setengah.
"Iya. Soalnya Ibu mau cepet-cepet ke pasar." Jelas Ibu Meca sambil mengunyah makanannya.
"Oh...iya-iya pelan-pelan bu makannya nanti keselek." Saran Meca.
Ibu Meca hanya menganggukkan kepalanya kepada Meca sambil makan.
Tak selang beberapa lama,Ibu Meca sudah selesai makan dan berpamitan pada Meca untuk pergi ke pasar.
Meca pun juga sudah menyelesaikan sarapannya dan mencuci piring serta gelas yang ada di meja makan.
Setelah selesai, Meca segera pergi mengunci pintu rumahnya dan pergi ke kampus.
Meca pun sampai di kampusnya. Sepanjang jalan Meca tempuh,banyak anak-anak kampus yang melihatnya lalu berbisik-bisik pada teman satunya.
"Gue udah menyangka ini akan terjadi. Mending Gue nggak usah peduliin aja." Batin Meca.
Meca memilih tidak menghiraukannya dan berjalan lurus saja sambil sedikit menundukkan kepalanya.
Meca pun telah sampai di depan ruang kelasnya tetapi tiba-tiba Ia dipanggil oleh seseorang cewek yaitu Citra.
"Mec..tunggu. Ekstrakurikulernya diadakan pagi ini ya jam 10. Elo nanti bisa ijin sama dosen Elo kalau udah jam 10." Kata Citra sambil ngos-ngosan karena berlari.
"Oh...iya Kak. Tapi kenapa ya Kak di majuin jadwalnya?" Tanya Meca bingung.
"Gue juga nggak tahu. Gue juga baru dibilangin sama Dio tadi. Ya udah ya Gue pergi dulu mau siap-siap buat nanti." Kata Citra.
Oh...iya Kak." Kata Meca.
Meca pun masuk ke kelasnya dan mulai menerima materi dari dosennya.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 10.00. Itu artinya Ia harus ijin untuk pergi ke ruang ekstranya.
Setelah ijin kepada dosennya dan diperbolehkan,Meca pun langsung keluar dari kelasnya dan bergegas menuju ke ruang latihan taekwondo.
Ruang Ekstrakurikuler Taekwondo
Meca pun sampai di depan ruang taekwondo. Ia melihat sudah banyak anak-anak yang masuk ke ruang latihannya tersebut.
Saat Meca masuk,Ia sudah di sambut oleh Dio yang bertepuk tangan padanya.
"Maaf Kak. Gue terlambat lagi." Kata Meca sambil menundukkan kepalanya.
"Siapa yang mau marahi Elo. Gue mau ucapin selamat ke Elo karena Elo udah bisa bikin hati Bimo luluh lagi sama cewek. Apa Elo udah punya jawaban buat cinta Bimo ke Elo?" Tanya Dio pada Meca.
Meca cukup terkejut mendengar kata-kata dari Dio,Ia tidak tahu harus berkata apa. Apalagi Dio bicara di depan semua anak-anak yang ikut taekwondo.
Belum lagi Citra yang ikut mendengarnya pun ikut terkejut setelah mendengar ucapan Dio tadi.
Mungkin Bimo sudah bercerita pada Dio karena Dio memang sahabat karibnya.
Tetapi oleh Dio langsung ditanyakan langsung oleh Meca yang membuat Meca tambah bingung akan menjawab Dio apa.