ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 90



Rasa canggung menyelimuti Meca dan Bimo. Mereka diam antara satu sama lain,tidak ada yang bicara bahkan saling tatap muka pun tidak.


Keheningan pun terjadi diantara mereka berdua.


"Mec,Kak!!" Panggil sebutan nama mereka secara bersamaan. Meca memanggil 'Kak' sedangkan Bimo memanggil 'Mec'.


"Kakak duluan aja yang ngomong." Saran Meca.


"Elo dulu aja." Timpal Bimo.


"E..boleh nggak naik ke rumah pohon lagi?" Tanya Meca agak sedikit gugup.


"Boleh,siapa yang nggak ngebolehin." Jawab Bimo dengan senang hati.


"Terima kasih ya Kak. Gue naik lagi ya.." Kata Meca.


Bimo menganggukkan kepalanya pertanda Ia menyetujui Meca.


Meca pun langsung pergi ke rumah pohon tadi.


Ia sebenarnya masih ingin lama-lama berada di rumah pohon,tetapi karena masalah kesalahpahamannya tadi Ia buru-buru turun.


Padahal Ia belum menikmati pemandangan dari atas rumah pohon itu.


Maka dari itu,Meca memutuskan untuk naik ke rumah pohon itu lagi.


Meca pun mulai menaiki kayu pertama dan seterusnya hingga sampai di atas rumah pohon.


Bimo pun mengikuti Meca untuk menemaninya ke rumah pohon.


Setelah sampai,Meca dan Bimo pun duduk bersampingan sambil melihat pemandangan dari atas.


"Wah...pemandangannya bagus banget dari atas sini." Ucap Meca dengan takjub.


"Gue tahu Elo pasti suka pemandangan kayak gini,makanya gue bawa Elo ke sini." Kata Bimo.


"Tapi,Kakak buat taman ini bukan untuk gue kan?" Tanya Meca.


"Oh...enggak,gue buat taman ini untuk Kakak perempuan gue. Gue pernah baca buku diarynya disitu dia nulis kalau dia pengen taman yang di dalamnya ada rumah pohon." Jelas Bimo.


"Oh...gitu...kalau boleh tau nama Kakak perempuannya Kak Bimo siapa?" Tanya Meca.


"Namanya Sina." Jawab Bimo.


"Oh...Kak Sina namanya,Kak Sina cantik banget di foto itu. Gue jadi pengen ketemu langsung sama dia." Kata Meca sambil melihat foto Sina yang terpampang di dinding kayu rumah pohon itu.


"Kenapa?" Tanya Meca dengan heran.


"Karena dia sudah nggak ada di dunia ini." Kata Bimo dengan nada bicara mulai pelan.


"Apa maksudnya Kakak,Kak Sina udah meninggal?" Tanya Meca.


Bimo pun menganggukkan kepalanya pada Meca sambil menunjukkan senyum tipisnya.


"Maaf ya Kak,gue jadi ngingetin kesedihan Kakak kehilangan Kak Sina." Kata Meca.


"Nggak apa-apa Elo juga kan nggak tahu." Timpal Bimo.


Entah kenapa Meca merasa Bimo sangat sedih setelah mengingat kembali kematian Kakak perempuannya.


Setelah menjelaskan tentang Kakak perempuannya,Bimo menundukkan kepalanya seperti menahan kesedihan yang amat menyakitkan.


Meca merasa tidak enak sudah mengungkit kembali kematian Kakak perempuannya.


"Kakak nggak apa-apa?" Tanya Meca


"Nggak apa-apa." Jawab Bimo dengan singkat.


"Kakak jangan sedih gitu,gue yakin Kak Sina disana pasti seneng bisa mempunyai adik yang perhatian,sampai-sampai Kak Bimo wujudin apa yang diinginkan Kak Sina. Gue yakin pasti Kak Sina bangga sama punya saudara kayak Kak Bimo." Ucap Meca mencoba menenangkan Bimo agar tidak terlarut sedih atas kematian Kakaknya.


"Emang ya kalau jurusan psikolog itu harus bisa nenangin hatinya orang yang lagi sedih gini." Kata Bimo sambil melemparkan senyum manisnya.


"Ha...ha...ha...Kakak bisa aja." Ucap Meca sambil tertawa.


"Tapi Mec,gue sedih itu karena mengingat penyebab kematian Kakak gue yang tragis." Ucap Bimo.


Meca pun mulai berhenti tertawa setelah memperhatikan Bimo yang mulai serius dengan ucapannya.


"Tragis,Maksud Kakak?" Tanya Meca.


"Kak Sina itu meninggal karena dibunuh,maka dari itu gue masih nggak rela atas kematian Kak Sina." Jawab Bimo.


"Dibunuh?" Tanya Meca dengan nada bicara meninggi karena terkejut setelah mendengar penyebab kematian Kakak perempuannya Bimo ternyata adalah dibunuh.


Pantas saja bila Bimo masih sedih jika mengingat mendiang Kakaknya yang takdir kematiannya adalah dibunuh.


Meca yakin waktu itu pasti Bimo sangat tertekan dan sedih saat melihat Kakaknya meninggal gara-gara dibunuh orang.