
Sinar mentari bersinar dari ufuk timur. Burung-burung berkicauan di atas dahan pohon. Suasana sejuk bercampur hangat dirasakan tubuh manusia.
Hari kian berganti,pagi pun telah menyambut,meninggalkan malam yang gelap menjadi terang pada pagi hari.
Waktu menunjukkan pukul 7 pagi. Terlihat Ibunya Meca mempersiapkan sarapan di atas meja sambil menunggu Meca keluar dari kamarnya.
Setelah beberapa menit,akhirnya Ibunya Meca pun selesai mempersiapkan sarapan.
Ia pun duduk di kursi sambil menunggu Meca keluar.
Cukup lama Ia menunggu di kursi,tetapi Meca belum juga keluar dari kamarnya,padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah 8. Biasanya Meca akan keluar kamar pukul 7 lebih untuk sarapan lalu bekerja atau kuliah.
Karena curiga terhadap kondisi Meca,Ibunya pun langsung menghampiri Meca yang berada di dalam kamarnya untuk mengecek kondisinya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu dari tangan Ibunya Meca pun berbunyi.
Sambil mengetuk,Ibunya Meca pun memanggil nama 'Meca' berkali-kali.
Tetapi,anehnya tidak ada sahutan dari Meca setelah Ibunya memanggilnya berkali-kali.
Cukup khawatir,akhirnya Ibunya Meca pun langsung mencari kunci cadangan untuk membuka pintu kamar Meca.
Setelah menemukan kunci cadangan,Ibunya Meca pun langsung membuka pintu kamar Meca dengan kunci tersebut lalu terbukalah pintu kamar anaknya.
Setelah Ia masuk,ternyata Meca masih tidur di kasurnya. Melihat anaknya masih tidur,lantas Ia pun langsung menghampiri Meca untuk membangunkannya.
"Mec!! Ayo bangun,kamu harus kuliah dan bekerja lo..." Ucap Ibunya Meca dengan nada bicara yang lembut.
Mendengar suara dari Ibunya,Meca pun perlahan membuka kedua matanya yang masih berat.
Setelah Ia bangun,Meca merasakan hawa dingin menusuk-nusuk tulangnya sampai Ia menggigil karena kedinginan. Sampai-sampai bibirnya bergetar karena kedinginan.
Melihat kondisi anaknya,Ibunya Meca pun langsung merasa cemas dan takut terhadap kondisi tubuh Meca.
Ia pun langsung mengecek suhu badan Meca dengan menempelkan telapak tangannya ke dahi Meca.
Ibunya Meca pun sontak terkejut setelah mengetahui jika anaknya itu sedang demam tinggi.
"Ya ampun....badan kamu panas banget. Tunggu ya...Ibu carikan kendaraan untuk ke rumah sakit dulu.." Ucap Ibunya Meca dengan cemasnya.
"Ibu!! Nggak usah di rumah sakit. Aku diobatin di rumah aja." Lirih Meca.
"Tapi,kamu demamnya tinggi lo..." Sahut Ibunya Meca.
"Nggak apa-apa bu...Aku kuat kok." Lirih Meca.
"Ya udah kamu disini dulu ya...Ibu beliin obat dulu." Ucap Ibunya Meca.
Meca pun hanya mengangguk pelan.
Dengan segera,Ibunya Meca pun langsung keluar rumah untuk pergi ke apotik guna mencari obat yang akan diberikan kepada Meca nanti.
Sekitar 20 menit dari rumah,Ibunya Meca pun akhirnya pulang dari apotik.
Dengan segera,Ia pun langsung masuk rumah dan masuk ke dalam kamar Meca untuk memberikan obat kepadanya.
Sebelum memberikan obat kepada Meca,tak lupa Ia mengambil makanan untuk Meca makan sebelum meminun obat nanti.
"Meca!! Ibu masuk nih.." Ucap Ibunya Meca yang berada di depan pintu kamar anaknya.
"Iya bu..." Sahut Meca yang berada di dalam kamar.
Mendapat sahutan dari Meca,Ibunya pun langsung masuk dengan membawakan makanan beserta obat yang telah dibelinya tadi.
"Ini kamu makan dulu...habis itu langsung minum obat ya.." Perintah Ibunya Meca.
"Iya bu..." Sahut Meca.
"Oiya nanti kalau kamu butuh apa-apa langsung telpon Ibu ya..."
"Bukannya Ibu ada di rumah? Kenapa harus telepon segala?" Tanya Meca kebingungan.
"Ibu mau keluar dulu.." Jawab Ibunya Meca.
"Oh...ke pasar?" Tebak Meca.
Ibunya Meca pun tampak berpikir sejenak lalu berkata kembali "Iya ke pasar."
"Baiklah. Hati-hati ya bu..." Ucap Meca.
"Iya. Jangan lupa makanannya di makan dan minum obat!!" Ingat Ibunya Meca sebelum pergi meninggalkan Meca.
Meca pun hanya mengangguk pelan sembari tersenyum.
Ibunya Meca pun langsung keluar dari kamar Meca dan bergegas pergi keluar rumah.
Ia masih ingat dengan keputusan yang Ia buat kemarin yaitu ingin mencari tahu tentang masalah yang sebenarnya terjadi pada Meca beberapa hari ini.
Ia tak ingin Meca tahu jika Ia pergi untuk mencari informasi tentangnya,maka dari itu, Ia berbohong pada Meca jika Ia keluar rumah hanya untuk pergi ke pasar.
Sebab,Ia melakukan ini diam-diam adalah karena Ia khawatir dengan Meca dan juga karena saat Ia bertanya pada Meca,pasti anaknya itu akan menjawab dengan kalimat "Nggak apa-apa kok"
Sekitar 15 menit dari rumah,Ibunya Meca pun telah sampai di tempat tujuannya yaitu kampus Meca. Sebab pertama Ia pergi ke kampus Meca adalah untuk menemui Bimo guna mencari tahu tentang masalah yang sedang dihadapi oleh Meca,sehingga Meca tak mau bercerita padanya.
Memutuskan untuk bertemu Bimo bukanlah tanpa alasan. Ibunya Meca tahu jika anak putrinya itu sedang dekat dengan Bimo. Dari situlah, yang membuat Ibunya Meca yakin jika Bimo pasti cukup mengetahui tentang hidup Meca.
Ibunya Meca pun memilih untuk berdiri di depan kampus sambil menunggu Bimo datang. Untung saja,Ia masih hafal betul dengan mobil Bimo,karena seringnya Bimo pergi ke rumahnya.
Cukup lama Ibunya Meca berdiri disana,akhirnya mobil Bimo pun mulai terlihat memasuki halaman kampus.
Dengan segera,Ibunya Meca pun lari untuk mengejar mobil Bimo yang jalan menuju tempat parkir.
Ibunya Meca pun sabar menunggu Bimo sampai selesai memarkir mobilnya.
Setelah mobil Bimo terparkir,tampak Bimo pun keluar dari mobilnya.
"Bimo!!" Panggil Ibunya Meca dengan suara cukup lantang.
Mendengar namanya dipanggil,lantas Bimo pun langsung menoleh ke sumber suara tersebut.
Setelah Bimo menoleh,Ia cukup terkejut dengan orang yang baru saja memanggilnya itu,ternyata adalah Ibunya Meca. Ia heran mengapa Ibunya Meca bisa berada di kampus,apalagi tidak bersama Meca.
Lantas Bimo pun langsung menghampiri Ibunya Meca yang sudah berada cukup dekat darinya.
"Tante? Kok tante bisa disini?" Tanya Bimo.
Ibunya Meca pun tersenyum tipis lalu menanggapi pertanyaan Bimo kembali "Sebenarnya tante kesini mau ketemu sama kamu. Kamu ada waktu nggak?"
Bimo pun tampak bingung sesaat lalu menganggukkan kepalanya dengan pelan seraya berkata " Ada kok tante."
Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk berbincang-bincang di taman kampus sambil duduk berhadapan.
"Ada apa ya tante? Sampai mau bertemu saya di kampus." Tanya Bimo sambil mengulas senyum tipisnya.
"Sebenarnya tante mau tanya beberapa hal tentang Meca sama kamu. Apakah kamu tahu mengapa Meca belakangan ini tampak sedih?" Tanya Ibunya Meca tanpa basa-basi lagi kepada Bimo.
Bimo pun terdiam sesaat saat mendapat pertanyaan dari Ibunya Meca.
Ternyata Ibunya Meca belum tahu tentang masalah Meca selama ini.
Bimo heran dengan Meca,mengapa Ia tak menceritakan pada Ibunya sendiri dan malah memendamnya dan membuat Ibunya cemas seperti ini.
"Sebelumnya saya mau minta maaf dulu ke tante." Ucap Bimo.
"Maksud kamu?" Tanya Ibunya Meca dengan bingungnya.
"Saya..yang membuat Meca sedih,tante." Lirih Bimo sambil menundukkan kepalanya.
Ibunya Meca pun cukup tersentak dengan pernyataan Bimo itu. Ada beberapa pertanyaan yang terlintas di pikirannya.
Bagaimana bisa laki-laki yang baik seperti Bimo melukai hati Meca?
Apa Bimo tega membuat Meca sedih?
"Bisa kamu ceritakan semua masalah kamu dengan Meca? Supaya tante nggak salah paham sama kamu." Minta Ibunya Meca.
"Jadi,gini tante....
Bimo pun mulai bercerita tentang masalahnya dengan Meca mulai dari kesepakatan yang dibuat oleh Ayahnya untuk Meca dan akhirnya Meca menyetujui kesepakatan yang dibuat Ayahnya itu.
Bimo pun mulai bercerita tentang perasaan Meca yang sedih,saat terpaksa menyetujui kesepakatan yang dibuat Ayahnya,karena tak mau kehilangan beasiswa yang diberikan Ayahnya padanya.
Lalu Bimo pun membeberkan semua hubungannya dengan Meca selama ini,dari mulai berpacaran sampai putus,karena kesepakatan yang dibuat oleh Ayahnya itu.
Ibunya Meca pun perlahan paham dengan semua yang diceritakan oleh Bimo.
Ibunya Meca pun masih teringat saat Meca menanyakan pendapat padanya jika Ia akan berhenti kuliah dan langsung bekerja.
Waktu itu Ibunya Meca,menjawab dengan tegas jika Meca harus melanjutkan kuliahnya dengan biaya beasiswanya.
Tanpa sepengatahuannya,jika Meca sedang dilanda kebingungan karena kesepakatan yang diceritakan oleh Bimo tadi tentang beasiswanya.
Pikir Ibunya Meca,pasti setelah mendapat perintah darinya,Meca lantas langsung menyetujui kesepakatan itu karena tak mau membuat dirinya kecewa.
Setelah tahu semua yang dihadapi Meca selama ini,Ibunya Meca pun merasa bersalah pada anak putrinya itu.
Mengapa pada waktu itu,Ia tidak bertanya dahulu pada Meca,kenapa langsung menjawab dengan tegas atas pertanyaannya?
Memang benar,jika penyesalan memang selalu jatuh di akhir.
"Jadi,selama ini Meca terlihat bersedih,karena rasa bersalahnya sama kamu?" Tanya Ibunya Meca.
"Iya tante. Sampai Meca bilang ke saya,jika saya harus melupakannya dan mencari perempuan yang lebih baik darinya. Saya tidak tahu kenapa,Meca selalu merasa jika Ia adalah perempuan yang bodoh.
Saya tidak mau lagi,jika Meca terus merasa bersalah pada saya. Saya mau Meca bahagia lagi,tante." Ucap Bimo.
Ibunya Meca tampak menghela nafas sekejap lalu berucap kembali "Meca memang tidak suka melukai hati orang lain. Dia selalu ingin membuat orang disekitarnya bahagia. Itulah alasan dia ingin jadi psikolog. Tenang aja,tante akan bicara sama Meca nanti. Tante akan mencoba membuat dia bahagia lagi."
"Makasih tante..." Ucap Bimo sambil tersenyum tipis.
"Oiya tante,Meca hari ini ke kampus kan?" Tanya Bimo.
"Meca sakit hari ini,badannya demam pagi tadi." Jawab Ibunya Meca.
"Apa? Meca sakit tante? Apa demamnya parah? Apa sampai di opname?" Serbu Bimo dengan pertanyaan karena Ia cemas dengan kondisi Meca.
Ibunya Meca pun hanya geleng-geleng kepala sambil melempar senyumnya pada Bimo. Ia tak percaya jika Bimo sebegitu cintanya pada Meca,sampai-sampai merasa cemas berlebih seperti itu.
"Kok tante malah senyum-senyum gitu?" Tanya Bimo dengan raut muka kebingungan.
"Tante seneng banget ada yang mencintai anak tante,melebihi tante. Walaupun kamu udah putus sama Meca,tetapi rasa cinta kamu sama Meca tidak pernah pupus." Sahut Ibunya Meca sambil tersenyum.
Mendapat pujian dari Ibunya Meca,Bimo pun merasa malu sekaligus bahagia. Secara tidak langsung,Ia sudah mendapat restu dari Ibunya Meca lewat pujian tadi.
"Tenang aja.. Meca nggak apa-apa kok. Tadi,Tante sudah beri obat di rumah. Sakitnya nggak terlalu parah kok." Ucap Ibunya Meca kemudian.
"Oh..gitu tante. Syukurlah,semoga saja Meca lekas sembuh dari sakitnya dan luka hatinya." Ucap Bimo.
Ibunya Meca pun mengangguk pelan lalu berucap kembali " Ya udah.. ya tante mau pulang dulu. Sebelum itu,terima kasih kalau kamu mau luangin waktu untuk tante."
"Iya tante sama-sama." Sahut Bimo sambil tersenyum ramah.
Ibunya Meca pun berdiri dari duduknya,diikuti oleh Bimo,lalu berpamitan satu kali lagi pada Bimo.
Setelah Ia berpamitan dengan Bimo,Ia pun langsung beranjak pergi dari kampus untuk pulang ke rumahnya kembali.
Jangan Lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya.
Happy reading ๐