
Sejak Bimo tahu jika Meca beberapa hari ini tidak masuk kuliah dan lebih parahnya lagi Meca telah mengganti nomornya.
Bimo hari ini berencana untuk mencari keberadaan Meca. Walaupun Ia sudah tak lagi mempunyai status pacaran dengan Meca,tetapi Bimo masih belum bisa melupakan Meca sepenuhnya.
Rasa khawatir dan rasa rindu terhadap Meca masih menghantuinya.
Bimo berencana untuk tidak masuk kuliah pada hari ini. Ia akan pergunakan hari ini nanti,untuk mencari Meca kemanapun sampai Ia dapat menemukannya.
Masih pagi sekali,Bimo segera pergi ke rumahnya Meca.
Sesampainya Ia disana,ternyata ada seorang laki-laki yang menunggu di depan rumah Meca sambil duduk di kap mobilnya.
Siapa lagi kalau bukan Si Rengga yang selama ini terus mengejar Meca tanpa ampun.
Entah apa yang dipikirkan Rengga disana,menunggu di depan rumah seseorang tanpa tahu jika orang yang ditunggunya itu ada atau tidak ada.
"Elo lagi,Elo lagi. Males gue lihat muka Elo." Ucap Rengga sambil membuang muka saat berbicara pada Bimo.
"Cih...emang Elo aja yang ngerasa gitu. Gue juga enek lihat muka Elo. Eh,Elo nungguin Meca disini sudah berapa lama?" Ucap Bimo.
"Belum lama. Sebentar lagi pasti Meca keluar." Sahut Rengga.
Bimo tak sebodoh Rengga yang menunggu orang begitu lama,tetapi orang yang ditunggunya justru tidak ada.
Lalu Bimo pun memutuskan untuk mengetuk pintu rumah Meca guna memastikan ada tidaknya penghuni rumahnya itu. Yang Bimo lihat,rumah Meca tampak sepi dan tidak seperti biasanya saat Ia mengunjungi rumah Meca sebelumnya.
Tanpa pikir lama,Bimo pun berjalan ke arah pintu depan rumah Meca lalu langsung mengetuk pintu rumahnya sambil berkata 'Permisi,tante.'
Melihat Bimo mengetuk pintu rumahnya Meca,Rengga pun hanya memantau perbuatan Bimo dari jauh.
Cukup lama Bimo mengetuk pintu,tetapi tidak ada seorang pun yang menyahutnya.
Karena bunyi ketukan pintu itu semakin keras,sampai ada seorang wanita paruh baya yang tinggal di sebelah Meca menghampiri Bimo. Mungkin wanita paruh baya itu terganggu oleh suara ketukan pintu yang cukup kuat itu.
"Permisi,Nak. Penghuni rumah ini sedang tidak ada di rumah." Ucap wanita paruh baya itu saat berhadapan langsung dengan Bimo.
"Memangnya kemana bu? Apa sedang bepergian?" Tanya Bimo.
"Beberapa hari yang lalu saat saya lewat,saya melihat Ibu dan anaknya perempuan itu bawa banyak barang,kayak mau pindahan gitu." Sahut wanita paruh baya tadi.
Merasa penasaran dengan percakapan seorang wanita paruh baya dengan Bimo,akhirnya Rengga memutuskan untuk menghampirinya.
"Maaf,ibu tahu tidak Ibu dan anak perempuannya itu pergi kemana?" Tanya Bimo.
"Tunggu,jadi Meca dan Ibunya sedang nggak ada di rumah?" Tanya Rengga saat mendengar pertanyaan Bimo tadi.
"Diem dulu Elo!!" Perintah Bimo.
"Kalau itu saya nggak tahu mereka akan kemana. Mungkin mau pindah ke rumah saudaranya." Sahut wanita paruh baya itu.
"Maaf,bu. Ibu,punya nomernya Ibunya Meca tidak?" Pinta Bimo.
"Saya kayaknya punya. Kamu mau minta nomornya?" Tawar wanita paruh baya itu.
"Iya bu,boleh." Jawab Bimo sambil menganggukkan kepalanya.
Wanita paruh baya tadi pun langsung membuka ponselnya lalu menyuruh Bimo untuk mencatat nomor Ibunya Meca di ponselnya Bimo.
Setelah mendapat nomor telepon Ibunya Meca,Bimo pun mengucapkan terima kasih pada wanita paruh baya tadi karena telah memberikan informasi tentang Meca.
Wanita paruh baya tadi pun pergi setelah Bimo mengucapkan terima kasih padanya.
Kini Bimo langsung bertindak untuk menelepon Ibunya Meca lewat nomor telepon yang telah diberikan oleh wanita paruh baya tadi.
Sedangkan Rengga masih diam dan menunggu sampai sambungan telepon Bimo dan Ibunya Meca terhubung.
Bimo pun tampak gusar dan menghela nafas dengan kasar setelah mengetahui jika nomor Ibunya Meca sudah tidak aktif lagi. Itu artinya Ibunya Meca juga telah mengganti nomor teleponnya.
"Gimana?" Tanya Rengga singkat.
"Ibunya Meca sudah ganti nomor." Jawab Bimo.
"Apa berarti Meca juga mengganti nomornya?" Tanya Rengga kemudian.
Bimo pun menjawab Rengga hanya dengan anggukan kepalanya.
Tak mau putus asa,Bimo pun bergegas pergi untuk mencari informasi lebih mengenai keberadaan Meca.
"Gue mau cari Meca sampai ketemu." Jawab Bimo.
Lalu Rengga pun mengejar Bimo untuk berhadapan langsung dengannya.
"Gue ikut." Ucap Rengga.
Bimo pun berhenti sejenak,lalu menoleh ke arah Rengga sambil menatapnya dengan serius.
"Pertama kalinya gue bekerja sama dengan lawan gue." Ucap Bimo.
"Tenang saja. Gue akan cepat temukan Meca daripada Elo." Kata Rengga dengan percaya diri.
"Ok. Buktikan,jangan hanya bicara saja!" Sahut Bimo sambil tersenyum miring.
"Ok. Gue buktikan ke Elo." Kata Rengga.
Setelah itu,Rengga pun berjalan mendekati mobilnya lalu langsung membawa mobilnya pergi dari rumahnya Meca.
Bimo pun juga segera masuk ke dalam mobilnya dan pergi untuk mencari informasi mengenai Meca bersama lawannya itu.
Flashback On
Pada hari di saat Ibunya Meca pulang dari kampus Meca,Ia telah mendapat informasi dari Bimo. Setelah itu,Ibunya Meca sempat berbincang-bincang bersama Meca di dalam kamarnya.
Pada saat itu,Meca teringin mengungkapkan rencana yang Ia pikirkan untuk bisa membuat Bimo dan Rengga segera melupakannya.
"Ibu. Boleh nggak aku minta tolong sama Ibu?" Tanya Meca.
"Minta tolong apa?" Tanya Ibunya Meca balik.
"Ibu,aku ingin pergi mengindar dulu dari Bimo dan Rengga. Maka dari itu,ayo pindah dulu ke rumah Kakak dalam beberapa hari ini." Pinta Meca pada Ibunya.
"Kenapa kamu sampai segininya agar mereka melupakan kamu? Apa nggak ada cara yang lain?" Tanya Ibunya Meca yang mencoba memberikan saran pada anak putrinya itu.
"Ibu,aku sudah putuskan cara ini dengan matang-matang. Aku nggak mungkin memutuskan semua ini tanpa memikirkan resikonya. Jadi,tolong Ibu mau ya?" Ucap Meca sambil memohon pada Ibunya agar mau mengabulkan keinginannya.
Ibunya Meca tampak menghela nafasnya dengan gusar melihat anak putrinya yang begitu keras kepala itu.
"Terus kuliah kamu gimana kalau kamu pergi dari rumah ini?" Tanya Ibunya Meca.
"Ibu,tenang saja. Selama aku tidak kuliah,aku akan terus meminta tugas dari dosen-dosen aku nanti." Jawab Meca sambil tersenyum tipis.
"Ya udah lah...kalau itu mau kamu. Tapi,kamu nggak apa-apa melakukan semua ini?" Tanya Ibunya Meca.
"Nggak apa-apa kok bu. Terima kasih ya bu..." Ucap Meca sambil tersenyum gembira lalu langsung memeluk Ibunya dengan erat.
Ibunya Meca pun hanya tersenyum sambil membalas pelukan hangat dari anaknya itu.
Keesokan harinya Meca dan Ibunya sudah bersiap pergi ke rumah Kakaknya. Dua buah koper sudah berada di tangan Meca dan Ibunya. Itu artinya Mereka akan segera pergi meninggalkan rumahnya.
Sebelum pergi meninggalkan rumahnya,Meca sempat berdiri lama di depan rumahnya itu sambil menatap rumah yang pernah Ia tinggali bersama Ibunya itu.
Terasa berat memang meninggalkan rumah yang sudah lama dihuni. Banyak kenangan dan kejadian saat berada di rumahnya itu.
Tetapi,mau bagaimana lagi?
Ini semua adalah keputusannya sendiri. Meca mencoba segala cara apapun untuk bisa membuat Rengga dan Bimo melupakannya dengan cepat dan mungkin dengan cara ini mereka akan bisa segera melupakannya. Meca yakin jika Ia menghilang dari Bimo dan Rengga,maka Mereka berdua tak akan mencari-carinya lagi. Walaupun Bimo dan Rengga berusaha mencari keberadaanya,mungkin hal itu tidaklah mudah,karena Meca juga telah mengganti nomor teleponnya dan nomor telepon Ibunya. Sehingga mereka berdua tidak dapat menghubunginya atau melacaknya lewat nomor ponselnya.
Terlebih lagi,Meca tak memberi tahu siapapun jika Ia akan pergi ke rumah Kakaknya,jadi Bimo dan Rengga akan lebih sulit untuk menemukannya.
Meca berharap dengan melarikan diri dari Bimo dan Rengga,akan membuat mereka lupa dengan kehadirannya dan segera melupakannya.
Flashback Off
********
Di bab selanjutnya author akan menceritakan tentang misi Bimo dan Rengga untuk mencari keberadaan Meca.
Kalau menurut readers,apakah Bimo dan Rengga nanti bisa menemukan keberadaan Meca? Dan siapa yang duluan menemukan Meca di antara Bimo dan Rengga?
Tunggu kelanjutannya.....dan terus ikuti ceritanya......๐ฅฐ๐
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya...
Selamat membaca ๐