ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 159



Rengga pun sudah tak kuat lagi menahan rasa sakitnya,lama-kelamaan penglihatannya pun mulai gelap dan akhirnya Rengga pun jatuh pingsan di kursi rodanya.


Saat itu juga,Meca pun kembali menghampiri Rengga dengan membawa orang-orang yang dimintai tolong tadi.


Meca pun tambah panik saat melihat Rengga sudah tak sadarkan diri di kursi rodanya.


Sebelum sakit Rengga tambah parah Meca pun segera meminta orang-orang tadi untuk langsung mengangkat tubuh Rengga. Sebagian ada yang memanggil perawat untuk mengurus Rengga nanti.


Sedangkan Meca membawa kursi roda yang dipakai Rengga tadi. Serta mengikuti orang-orang yang membopong tubuh Rengga untuk dibawa ke ruang inapnya.


Di waktu yang sama,tibalah Ibunya Rengga di rumah sakit. Beliau baru saja kembali dari rumahnya. Beliau kembali dengan membawa tas yang berisikan baju ganti.


Saat Ibunya Rengga melewati taman,beliau kebetulan melihat Meca berlari ke arah pintu masuk rumah sakit dengan membawa kursi roda. Ibunya Rengga pikir jika Meca baru saja kembali dari taman bersama putranya.


Beliau tahu,sebab Rengga sudah meminta izin padanya untuk pergi ke taman bersama Meca. Mau tak mau,Ibunya Rengga pun menyetujui permintaan anak satu-satunya itu.


Tetapi,yang membuat Ibunya Rengga merasa heran adalah saat melihat Meca mendorong kursi roda tanpa ada Rengga yang duduk di kursi roda tersebut.


Lantas dimana putranya?


Tak mau dibuat penasaran,akhirnya Ibunya Rengga pun menghampiri Meca guna menanyakan langsung padanya.


Sebelum Meca hilang dari penglihatannya,Ibunya Rengga pun segera berlari sambil memanggil-manggil nama Meca dari kejauhan.


"Meca!!"


Meca pun menengok kanan dan kiri setelah mendengar jika namanya di sebutkan dengan keras.


Saat Meca menengok ke arah kiri,baru Ia mendapati orang yang memanggil-manggil namanya tersebut ternyata Ibunya Rengga.


Ibunya Rengga tampak berlari kecil ke arahnya.


"Tante. Rengga...." Ucap Meca dengan panik sampai bingung untuk mengatakan apa yang terjadi pada Rengga pada Ibunya Rengga.


"Kenapa?? Dimana Rengga? "Tanya Ibunya Rengga dengan wajah panik pula setelah melihat raut wajah Meca yang terlihat cemas.


Di dalam benak Ibunya Rengga terpikirkan jika terjadi sesuatu pada putranya.


"Tiba-tiba kepala Rengga sakit lagi tante,sekarang dia akan diperiksa dokter." Ucap Meca setelah berhasil menenangkan kepanikannya.


"Ya ampun. Rengga...."Ucap Ibunya Rengga sambil menangis lalu langsung lari meninggalkan Meca untuk menyusul putranya yang akan diperiksa tersebut.


Melihat Ibunya Rengga pergi,lantas Meca pun langsung mengikutinya.


Tepat saat Ibunya Rengga dan Meca sampai,para suster dan dokter baru saja akan menangani Rengga.


Dokter dan beberapa suster sudah masuk ke dalam ruang inap Rengga.


Saat seorang suster akan menutup pintu,tiba-tiba Ibunya Rengga datang menghampiri seorang suster tersebut.


"Suster,anak saya tidak apa-apa kan? Dia akan baik-baik saja kan?" Tanya Ibunya Rengga dengan rasa paniknya.


"Ibu,mohon tenang. Kita akan berusaha mengobati putra Ibu dengan baik. Silahkan Ibu tunggu di luar dulu." Ucap suster dengan ramah.


Lalu suster itu pun langsung masuk ruang inap Rengga dan tak lupa menutup pintu ruang inap Rengga.


Melihat Ibunya Rengga sedih,Meca pun segera menghampirinya untuk mengajaknya duduk dan mencoba menenangkan beliau sejenak agar tak terlalu ketakutan.


Pemeriksaan Rengga berlanjut sampai 30 menit kemudian. Entah apa yang dilakukan dokter dan para suster di dalam hingga membutuhkan waktu yang lama hanya untuk memeriksa keadaan Rengga.


Atau keadaan Rengga semakin parah?


Entahlah,tetapi Meca berharap Rengga bisa pulih kembali seperti semula.


Meca kasihan pada Ibunya Rengga yang terus dibuat sedih dan ketakutan saat kondisi Rengga tiba-tiba drop seperti ini.


Tak lama kemudian,dokter dan para suster tadi keluar dari ruang inap Rengga secara bersamaan.


Melihat dokter dan para suster itu keluar,Ibunya Rengga pun langsung beranjak dari duduknya dan berhamburan menghampiri dokter yang menangani Rengga.


"Bagaimana dokter kondisi anak saya? Baik-baik saja kan?"


"Saya sudah menyuntikkan obat anti nyeri untuk meredakan sakit kepalanya. Tapi,untuk sekarang anak Ibu masih belum siuman. Ibu,tunggu saja sampai siuman."


"Oh..Begitu. Dok,apa anak saya akan sering kesakitan seperti itu setelah operasi?"


"Sebenarnya kepalanya akan tidak sering sakit,jika putra Ibu tidak banyak memikirkan sesuatu yang membuat otaknya berpikir dengan keras. Mungkin tadi,putra Ibu sedikit banyak berpikir sehingga kepalanya merasa sakit lagi.


Tolong ya bu,jangan biarkan putra Ibu stress agar kesehatannya cepat pulih!"


Meca pun dari tadi mendengar pembicaraan antara Ibunya Rengga dan dokter tersebut.


Meca pun ternganga saat mendengarkan penjelasan dari dokter itu.


Mengapa demikian?


Karena dokter tadi mengatakan jika kepala Rengga sakit setelah Ia memikirkan sesuatu dengan keras.


Lantas Meca pun langsung teringat saat Ia berada di taman tadi bersama Rengga. Sebelum kepala Rengga sakit,Meca sempat menanyakan tentang keadaan ponselnya semalam kepada Rengga. Dari situ,tampak Rengga berpikir dengan keras saat akan menjawab dan menjelaskan tentang pertanyaannya.


Apa mungkin itu sebabnya kepala Rengga sakit?


Tetapi,mengapa Rengga sampai berpikir keras hanya untuk menjawab pertanyaan yang cukup mudah itu?


Apa mungkin Rengga benar-benar berbohong padanya tentang ponselnya,sehingga Ia terus mencari alibi untuk menyanggah setiap jawaban??


Apa benar begitu?


"Meca!" Panggil Ibunya Rengga.


Meca pun langsung membuyarkan lamunannya setelah mendengar Ibunya Rengga memanggilnya. Lalu Ia langsung menoleh ke arah Ibunya Rengga sambil berkata " Iya tante, ada apa?"


"Tolong kamu jaga Rengga dulu! Tadi,katanya suster tante disuruh mengambil resep obat untuk Rengga."


"Iya,tante."


"Tentu tante."


Setelah itu,Ibunya Rengga pun pergi dari hadapan Meca.


Setelah melihat Ibunya Rengga menghilang dari penglihatannya,lalu Meca pun langsung masuk ke dalam ruang inap Rengga.


Meca pun duduk di kursi sebelah tempat tidur Rengga sambil mengamati kondisi Rengga yang masih terbaring lemas dengan kedua mata yang terpejam.


"Maaf,karena gue lagi Elo jadi kesakitan seperti ini. Tidak seharusnya gue tanya hal yang nggak penting seperti tadi."


Tak ada sahutan dari Rengga,memang karena Rengga masih belum siuman dari pingsannya.


Sesaat kemudian,tiba-tiba mata Rengga yang terpejam terlihat bergerak.


Apa mungkin Ia akan sadar dari pingsannya??


Meca pun terus mengamati Rengga dengan seksama.


Dan benar saja,kedua mata Rengga mulai terbuka pelan-pelan.


"Elo sudah siuman,syukurlah." Ucap Meca sambil tersenyum senang.


Melihat Meca ada di sampingnya,Rengga pun mencoba bangun dari terbaringnya.


Akan tetapi,kepalanya terasa sakit saat Ia akan bangun.


"Elo jangan bangun dulu! Tiduran aja!" Perintah Meca sambil membantu membaringkan tubuh Rengga dengan hati-hati.


Akhirnya Rengga pun berbaring di tempat tidurnya kembali.


"Kalau masih sakit,gue panggilkan dokter aja."


"Nggak usah. Ngga terlalu sakit banget kok. Bentar lagi juga sembuh."


"Beneran??"


"Iya. Ibu gue dimana?"


"Oh,tante tadi disuruh suster untuk mengambil resep obat untuk Elo."


Rengga pun mengangguk-anggukan kepalanya pertanda Ia mengerti maksud Meca.


"Jangan memikirkan apa-apa dulu! Istirahat aja dengan baik!"


Rengga pun menuruti perintah Meca,Ia pun memejamkan kedua matanya.


Bukan hanya menuruti perintah Meca saja,memang kepala Rengga masih lumayan sakit. Sehingga,Ia memutuskan untuk kembali tidur.


Tut...tut....tut....


Bunyi dering ponsel menggema di telinga Rengga maupun Meca.


Meca yakin jika dering ponsel itu berasal dari ponselnya.


Lalu,Meca pun langsung mengecek ponsel miliknya. Setelah Ia cek,ternyata yang meneleponnya adalah Bimo.


Meca pun langsung tersenyum bahagia,akhirnya orang yang ditunggu-tunggunya meneleponnya juga.


Sejak tadi,Rengga melihat Meca yang sedang mengecek ponselnya.


Rengga merasa kesal saat melihat Meca tersenyum saat mengetahui orang yang meneleponnya.


Karena Rengga tahu,jika orang yang menelepon Meca adalah Bimo.


Ia tidak akan membiarkan Bimo dan Meca saling berhubungan saat ini.


Sebelum Meca menjawab panggilan telepon dari Bimo,Rengga pun segera mencegatnya.


"Meca!! Bisa nggak jangan jawab telponnya? Gue mau istirahat."


"Oh,maaf. Kalau begitu gue jawab telponnya di luar aja ya..."


"Tapi,kan Elo harus jaga gue disini. Elo masih bisa kok jawab telponnya nanti."


"Ya udah kalau begitu." Ucap Meca sambil menutup panggilan telepon dari Bimo lalu menyimpan ponselnya kembali.


Bukan berarti Meca pasrah saja dan menuruti perintah Rengga.


Sebenarnya Ia sudah tahu maksud Rengga menyuruhnya untuk tidak menjawab panggilan telepon dari Bimo ini.


Meca berpikir jika Rengga mungkin sudah tahu kalau Bimo meneleponnya. Maka dari itu,Rengga terus membuat alasan agar Ia tak menjawab panggilan telepon dari Bimo.


Meca tahu,jika Rengga sangat tidak suka pada Bimo karena Rengga iri saat melihat Bimo lebih dekat dengannya dibandingkan dia.


Sepertinya Meca sudah menemukan jawaban ketika Rengga berbohong kepadanya soal ponselnya yang dia bilang baterainya habis,padahal masih cukup penuh. Meca tahu alasannya adalah karena Rengga ingin menyembunyikan panggilan telepon Bimo darinya agar Ia dan Bimo tidak saling berhubungan.


Mengapa Meca menyimpulkan semua itu?


Karena buktinya memang telah ada. Pada saat Rengga berbohong memang ada banyak panggilan telepon dari Bimo dan sekarang pun Rengga lagi-lagi membuat alibi supaya Ia tidak menjawab telepon dari Bimo.


Meca tak habis pikir dengan perilaku Rengga seperti ini. Jika Rengga sedang tidak sakit,mungkin Meca langsung memarahinya,akan tetapi di tengah kondisi Rengga yang tidak sehat. Meca memutuskan untuk membiarkannya saja,biarlah Rengga melakukan apa saja yang diinginkannya.


Meca pun hanya mengikuti permainannya saja.


Jika nanti Ia tidak sedang bersama Rengga,Meca akan menelepon Bimo dan menjelaskan semua apa yang telah terjadi.


Untuk sekarang Meca lebih fokus untuk berusaha membuat Rengga lebih sehat dulu. Ia tak mau mengurusi masalah ini sekarang.


*******


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘untuk menaikkan popularitas novel saya...๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Happy reading ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ