
Meca tidak tahu harus apa,Ia hanya berdiri diam dan menangis sambil membayangkan setiap perkataan Bimo tadi.
Dilain sisi,Angel sangat senang karena momen yang Ia tunggu-tunggu akhirnya datang. Angel berharap Bimo bisa melupakan Meca,dan ternyata harapan Ia bisa terwujud secepat ini. Selama ini Ia berusaha menjauhkan Bimo dengan Meca,tetapi usahanya tidak juga berhasil.
Sepertinya hari ini usahanya membuahkan hasil,Ia berhasil memisahkan Bimo dengan Meca.
Melihat Meca menangis,Angel malah bertambah senang. Ia pun mendekati Meca lalu berbicara dengannya.
"Mec,makasih ya...udah bantuin gue untuk dapetin Bimo lagi..ha...ha...ha.. " Ucap Angel dengan bahagianya sambil tertawa.
Mendengar Angel tertawa,Dea dan Lina pun juga ikut tertawa dengan puasnya.
Dea dan Lina akhirnya senang jika Bimo tidak mendekati Meca lagi. Itu artinya mereka tidak perlu susah-susah membantu Angel untuk mencari tahu tentang Meca lagi.
"Elo pikir gue bakal terima kalau Kak Bimo punya pacar kayak Elo gini? Gue berharap Kak Bimo punya pacar yang lebih baik dari gadis sialan ini." Sahut Meca lalu pergi dari hadapan Angel dan kedua temannya.
"Apa Elo bilang? Gadis sialan?" Marah Angel.
Angel merasa tak terima jika Ia dikatakan gadis sialan oleh Meca. Ia pun hendak menyusul Meca,tetapi langkahnya terhenti karena kedua temannya menahannya untuk menyusul Meca.
"Udahlah,jangan diladenin. Lagipula kan Bimo udah nggak suka lagi sama Meca. Gimana kalau Elo fokus untuk dapetin Bimo lagi aja?" Saran Dea.
"Iya betul kata Dea." Sahut Lina.
"Bener kata kalian,mendingan gue lupain dulu soal cewek nyebelin itu. Gue sekarang punya misi baru yaitu dapetin hati Bimo kembali." Ucap Angel lalu tersenyum bangga.
Dea dan Lina pun saling pandang dan melempar senyum. Mereka lega jika Angel bisa menuruti saran mereka berdua.
*******
Dari tadi Meca berjalan menuju taman untuk menenangkan pikirannya sebelum masuk ke dalam kelas.
Setelah sampai taman,Ia duduk di kursi sambil memikirkan perkataan Bimo tadi.
Kedua matanya pun masih terlihat berkaca-kaca jika mengingat perkataan Bimo yang menyakitkan tadi.
Hanya kata 'maaf' yang bisa Meca ungkapkan saat ini. Meca merasa sudah banyak menyakiri perasaan Bimo. Ingin rasanya mengatakan maaf sebanyak mungkin dihadapan Bimo sekarang.
Tapi apa boleh buat,sepertinya Bimo sudah tidak ingin melihat Meca lagi.
Saat memandang taman depan kampus,tiba-tiba Meca teringat oleh Bimo.
Waktu itu Bimo memaksanya untuk makan,tetapi Meca enggan memakan makananya. Saat itu juga,Meca tidak tahu jika Bimo sedang perhatian padanya. Meca pun marah-marah dengan Bimo karena sifat pemaksanya itu.
Saat mengingat kenangan bersama Bimo di taman,tiba-tiba senyum mengembang di bibir Meca setelah mengingat jika Bimo menggendongnya seperti sedang mengangkat karung beras.
"Waktu itu gue benci banget sama Kak Bimo..tapi seiring waktu dia sering bersama gue,kebencian gue sama Kak Bimo seakan hilang. Dan sepertinya keadaannya kebalik,Kak Bimo lah sekarang yang benci sama gue." Ucap Meca lalu menundukkan kepalanya untuk menangis.
*******
Bimo terus berjalan menuju rooftop untuk melepaskan semua rasa sakitnya disana.
Sesampai disana,Bimo langsung mengeluarkan air matanya yang tidak bisa Ia bendung lagi.
Waktu Ia bersama Meca tadi,Ia berusaha untuk menahan kesedihannya dihadapan Meca. Bimo melakukan itu,karena tidak mau Meca melihat Ia menampakkan kesedihan yang justru nanti membuat Meca menjadi ikut sedih.
Bimo masih tak percaya jika Ia memutuskan untuk melupakan Meca.
Ingin rasanya Ia menarik kembali ucapannya tadi,tapi apa boleh jadi penyesalan hanya datang di akhir.
Saat ini Bimo berdiri sambil melihat awan yang cerah di atas sana. Seakan awan pun tidak bisa menggambarkan suasana hatinya saat ini yang sedang suram.
"Gue harap gue beneran bisa lupain Elo Mec." Lirih Bimo sambil menampakkan senyum yang Ia paksakan.
Bimo dan Meca sama-sama sedih dengan putusnya hubungan mereka,tetapi mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan saat ini.
Mereka hanya bisa menahan kesedihan dan tidak akan melupakan kenangan yang pernah mereka buat sebelumnya.