ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 126



Pagi hari yang cerah pun datang bersamaan dengan hari Senin yang diyakini orang adalah hari dimulainya rutinitas sehari-hari,seperti bekerja atau sekolah maupun kuliah.


Pagi hari,Bimo sudah berada di depan rumah Meca untuk berangkat ke kampus bersama. Kebetulan mereka masuk kuliah di jam yang sama.


Ketika Bimo akan mengetuk pintu rumah Meca,tiba-tiba pintu terbuka dan menampakkan batang hidung Meca di depan pintu dengan raut muka terkejut, karena Bimo berada tepat di depan pintunya saat Ia membuka pintu. Untung tidak bertabrakan dengan Bimo.


"Bimo? Ada apa?" Tanya Meca.


"Ayo berangkat kuliah bersama!!" Tawar Bimo.


Meca pun hanya mengangguk pelan lalu berjalan di belakang Bimo yang berjalan duluan menuju mobilnya.


Saat akan masuk ke mobil Bimo,tiba-tiba Meca teringat dengan kejadian kemarin saat Bimo terlihat cemas setelah menerima panggilan telepon.


Kemarin,Ia belum sempat menanyakannya pada Bimo. Mungkin kali ini adalah waktu yang tepat untuk menanyakan rasa penasarannya itu.


"Bimo!!" Panggil Meca.


Bimo pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobilnya,lalu menghampiri Meca yang berada di samping kiri pintu mobilnya.


"Apa ada masalah kemarin?" Tanya Meca saat Bimo berada di hadapannya.


Bimo pun tersenyum saat menyadari Meca ternyata memperhatikannya.


Bimo pun duduk di kap depan mobilnya sambil memandang wajah Meca yang sejajar dengannya,setelah Ia duduk dan Meca berdiri. Memang Meca terlihat pendek jika bersanding dengan Bimo.


Jika Meca berdiri,Ia hanya sejajar dengan pundak Bimo saja.


"Kenapa Elo nanya? Elo khawatir ya..sama gue?" Tanya Bimo sambil mengejek Meca.


"Gue nanya beneran. Jangan bercanda deh!!" Ucap Meca dengan kesalnya.


"Kenapa Elo nanya gitu?" Tanya Bimo sekali lagi pada Meca.


"Karena gue ngerasa Kakak terlihat cemas setelah mendapat telepon kemarin. Gue kira ada masalah. Tapi,nggak ada masalah kan?" Sahut Meca.


"Enggak kok. Kemarin,Papa gue pulang,terus gue di telpon untuk pulang. Udah itu aja." Ucap Bimo.


Bimo tidak mau menjelaskan masalahnya kemarin pada Meca,karena menurut Bimo rencana Ia kuliah di luar negeri itu tidak akan terjadi.


Jadi,Bimo memilih tidak memberitahu Meca.


Meca pun akhirnya sudah mengerti tentang masalah Bimo kemarin.


Tetapi,Meca merasa belum puas dengan penjelasan Bimo. Meca merasa jika Bimo menyembuyikan sesuatu dari penjelasannya tersebut.


Tak mau terlalu dipikir,Meca pun memilih untuk mengabaikannya. Toh,Bimo juga terlihat baik-baik saja.


Setelah percakapan ringan,akhirnya Bimo dan Meca pun masuk mobil lalu berangkat ke kampus.


Saat mobil Bimo berjalan,dibelakangnya terdapat seorang laki-laki menaiki motor dengan helm yang menutupi wajahnya sedang mengikuti mobil Bimo dari belakang.


Bimo pun tidak sadar jika ada orang yang mengikutinya. Ia malah asyik berbincang-bincang dengan Meca di dalam mobil.


******


Meca dan Bimo akhirnya sampai di kampus.


Setelah mobil Bimo ditempatkan di halaman parkir, Ia dan Meca pun turun dari mobil bersama.


Saat Meca baru turun dari mobil,para cewek heboh saat melihat Meca keluar dari mobil milik Bimo. Secara,Bimo adalah laki-laki terkenal di kampus yang Meca tempati ini. Mereka tak percaya,jika Bimo sedang berduaan dengan cewek seperti Meca.


Tak sedikit dari mereka yang bisik-bisik pada temannya sambil melihat Meca.


Ada pula yang menyindirnya dengan suara yang cukup keras,sehingga Meca mendengarnya.


"Kalau beneran Bimo sama tuh cewek pacaran,berarti Bimo termasuk laki-laki yang bodoh karena seleranya nggak setara dengan wajahnya yang tampan." Ucap salah satu cewek yang terdengar di telinga Meca.


Meca memang tak peduli jika ada yang membicarakannya ataupun mengejeknya.


Tetapi,jika Bimo yang diejek karenanya.


Meca merasa tidak enak hati pada Bimo,karena sudah merusak citra diri Bimo.


"Mec,ayo!!" Ajak Bimo sambil menggandeng tangan Meca,tetapi dengan cekatannya Meca langsung menepis tangan Bimo.


"Nggak usah. Kakak duluan aja! Terima kasih ya Kak,tadi udah kasih aku tebengan. Kalau enggak,pasti udah telat aku ke kampusnya. Memang Kakak itu senior terbaik." Ucap Meca seolah-olah sedang berbicara dengan seniornya di kampus.


Dengan begitu citra diri Bimo tidak akan jatuh karena Meca.


Dan benar saja,ide Meca membuahkan hasil. Cewek-cewek yang membicarakannya tadi langsung beranggapan jika Meca dan Bimo tidak berpacaran.


Meca pun merasa lega jika idenya berjalan sesuai rencananya.


Jika Meca merasa lega,lain halnya dengan Bimo. Bimo bingung dengan sikap Meca tadi. Ia bingung mengapa Meca memanggilnya Kakak,padahal Meca sudah sepakat jika akan memanggilnya dengan sebutan namanya.


Terlebih lagi,Meca begitu sopan dengan dirinya. Sikap Meca tadi,tidak seperti Meca yang Ia kenal.


"Aku duluan Kak!!" Pamit Meca sambil menunjukkan senyumnya pada Bimo.


Bimo pun tidak menjawab Meca,Ia hanya bisa mengeryitkan dahinya karena masih kebingungan.


"Kenapa kita bisa nyangka jika cewek kagak gitu,pacarnya Bimo. Bukankah kita terlalu bodoh untuk beranggapan seperti itu." Ucap salah satu cewek yang mengejek Meca tadi sambil tertawa bersama teman-temannya karena kebodohannya.


Ucapan cewek itu pun terdengar di telinga Bimo. Setelah Bimo memikirkan maksud ucapan cewek tadi. Ia pun menarik kesimpulan,jika yang membuat Meca menjadi aneh tadi adalah karena gunjingan cewek itu.


Pikir Bimo,Meca pasti malu dan sedih karena ejekan cewek tadi.


Tanpa pikir lama,Bimo pun langsung menyusul Meca yang telah pergi.


Sebelum Meca masuk ke dalam kelasnya,Bimo pun segera menelepon Meca untuk memberitahunya jika Ia ingin menemuinya di rooftop sebentar.


Teleponnya pun langsung tersambung,di panggilan telepon tersebut,Meca pun mengiyakan kemauan Bimo untuk bertemu dengannya di rooftop.


Kini Meca telah sampai di rooftop,Ia segera mencari dimana Bimo berada.


Ternyata Bimo sudah ada di pinggir rooftop sambil menunggunya datang.


Tanpa pikir lama,Meca pun menghampiri Bimo.


"Ada apa?" Tanya Meca sesampainya Ia di depan Bimo


"Kenapa Elo nggak mau ngaku kalau gue sedang pacaran sama Elo ke semua orang?" Tanya Bimo to the point.


"Maaf. Gue cuma nggak mau kalau orang-orang ngehina Elo,karena Elo pacaran sama cewek biasa kayak gue." Jawab Meca.


"Gue nggak pernah malu punya pacar kayak Elo. Jadi,Elo jangan dengerin ejekan cewek-cewek tadi yang membuat Elo sedih nantinya." Ucap Bimo.


"Gue sebenarnya nggak peduli sama omongan mereka tentang gue,tapi sekali lagi gue cuma nggak mau Elo diejek sama mereka. Jadi,untuk sekarang jangan anggep gue pacar dulu kalau sedang di kampus. Ok?" Saran Meca.


"Gue mana bisa,Mec?" Rengek Bimo.


"Pasti bisa. Lagi pula,kita kan masih bisa bertemu di luar jam kuliah. Please...ya.." Ucap Meca mencoba memohon dengan wajah yang memelas.


Melihat wajah Meca yang menyedihkan,Bimo pun akhirnya mengiyakan kemauan Meca dengan anggukan kepalanya.


Mendapat persetujuan dari Bimo,Meca pun senang kembali.


Senyumnya pun merekah di wajahnya.


Entah kenapa saat melihat Meca tersenyum,Bimo pun ikut bahagia.


Melihat Meca tersenyum seperti itu,membuat wajah Meca terlihat manis menurut Bimo. Karena kemanisan Meca,Bimo pun ingin menciumnya.


Saat Meca lengah,Bimo pun segera mencium bibir Meca dengan singkat.


Meca pun terkejut sesaat dan belum menormalkan jantungnya yang berdebar karena perilaku Bimo tersebut.


"Elo manis,buat gue nggak bisa tahan." Ucap Bimo dengan nada menggoda.


"Dasar orang mesum!! Jan...gan lakukan itu lagi!! " Suruh Meca dengan terbata-bata karena masih gugup.


Melihat Meca gugup,Bimo pun malah ingin menggoda Meca. Ia mendekati Meca dengan tatapan yang menggoda.


Karena Meca takut,Meca pun memilih lari terbirit-birit meninggalkan rooftop untuk menghindari Bimo.


Melihat Meca takut,membuat Bimo tertawa karena tingkah laku Meca yang lucu saat ketakutan.


Jangan Lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya


Happy reading ๐Ÿ˜