ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 161



Flashback On


Bimo sudah tak mau mencoba menelepon Meca lagi. Ia sudah lelah akan penantiannya.


Ingin rasanya langsung berjumpa dengan Meca dan menanyakan semua pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di pikirannya.


Tetapi,hal itu tak mungkin terjadi karena  Bimo harus kuliah disini dan itupun masih membutuhkan waktu yang lama untuk menyelesaikan kuliahnya.


Apalagi Ia belum sampai seminggu di Amerika. Tak mungkin bila Ia meminta pulang ke Indonesia,apalagi hanya karena ingin bertemu langsung dengan Meca.


Pasti Ayahnya akan marah besar dan kemungkinan akan melakukan sesuatu hal yang bisa mengancam kehidupan Meca.


Tidak!! Bimo tidak menginginkan itu.


Tapi,apa yang harus Ia lakukan kini?


Apa Ia harus berdiam diri disini sampai nanti Meca akan hilang dari genggamannya?


Tidak!! Bimo tidak ingin semua hal itu terjadi.


Ya,Ia harus memikirkan bagaimana caranya untuk menemui Meca tanpa sepengetahuan Ayahnya maupun Ibunya.


Bimo pun berhasil menemukan ide dari otaknya setelah sejenak Ia berpikir.


Jika tak ingin ketahuan oleh Ayah maupun Ibunya,Bimo harus diam-diam pergi saat tak ada satu orang pun melihatnya.


Ya,memang hanya cara itu Bimo bisa bertemu dengan Meca. Semoga saja,Ia berhasil menggunakan cara ini.


Untuk pulang ke Indonesia,pasti banyak sekali yang harus di persiapkannya.


Dari mengurusi paspornya,perlengkapannya untuk kesana.


Sebelum kewalahan akan semua hal itu,Bimo pun segera mempersiapkannya.


Sebenarnya mudah saja berkemas barang bawaanya untuk pulang ke Indonesia,tetapi untuk mengurusi pasporlah yang membuat Bimo agak kebingungan. Memang karena Ayahnya lah yang mengurusi semua keberangkatannya ke Amerika ini,jadi Bimo tidak tahu betul mengurusi paspor tersebut.


Tapi,bukan Bimo namanya jika mudah menyerah hanya dengan satu hal.


Bimo pun tak habis akal,Ia memutuskan untuk mencari informasi mengenai paspor di internet.


Setelah membaca dan mempelajari apa yang ada di internet, Bimo pun dengan mudah mencerna semua informasi tersebut dan melakukan semua langkah-langkah membuat paspor sesuai dengan apa yang di perintahkan di internet.


Tak terasa malam hari pun tiba. Setelah selesai mengurusi paspor untuk keberangkatannya di Indonesia,malam ini Bimo berencana untuk mengemasi barang dan pakaiannya.


Tak banyak barang dan pakaian yang Bimo bawa ke negara asalnya. Lagipula,disana Ia hanya menetap selama satu minggu saja,setelah itu Ia akan kembali lagi ke Amerika.


Tak butuh waktu lama,akhirnya Bimo telah selesai mengemasi barang dan pakaiannya. Semua barang dan pakaiannya telah Ia masukkan ke dalam koper.


Kini,Bimo tinggal menunggu waktu yang tepat untuk keluar dari hotel tanpa ketahuan oleh Ayah maupun Ibunya.


Tak lupa Bimo menulis surat untuk Ayah dan Ibunya supaya mereka tidak khawatir dengan keberadaannya.


Bimo pun mengambil kertas beserta pena untuk menulis surat.


Ma,Pa.....jangan khawatir,aku nggak pergi kemana-mana kok. Aku pergi ke Indonesia hanya untuk memastikan sesuatu. Setelah masalah disana selesai,aku janji akan segera pulang. Maaf....kalau membuat Papa sama Mama khawatir karena aku pergi tanpa pamit kepada kalian....


Tolong jangan cari Bimo dulu....


Aku janji Pa,Ma....aku akan segera kembali.


I love you Pa,Ma.....


Setelah selesai menulis surat untuk Ayah dan Ibunya,Bimo pun menaruh surat tersebut di meja belajarnya. Tak lupa Ia menindihi satu lembar surat tersebut dengan sebuah buku tebal agar tidak terbang terbawa angin saat jendela kamarnya terbuka nanti.


Waktu berlalu dengan cepat,tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hiri.


Ya,ini saatnya Bimo menyelinap keluar dari kamarnya.


Perlahan-lahan Bimo membuka kamarnya sambil menarik koper bawaanya.


Kedua matanya terus celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.


"Pasti Papa sama Mama sudah tidur." Gumam Bimo dengan suara pelan.


Bimo pun mulai berjalan menjauh dari kamarnya. Tak terasa Ia telah berjalan mengendap-ngendap sampai ke ruang tamu.


Tinggal beberapa langkah lagi,Bimo bisa keluar dari hotel.


Ia pun terus celingak-celinguk sambil berjalan seperti pencuri.


Akhirnya Bimo telah sampai di depan pintu keluar,saat Ia akan membukanya tiba-tiba ada suara mobil masuk ke halaman hotel.


Bimo pun mengurungkan niatnya untuk membuka pintu terlebih dahulu. Ia memilih untuk melihat mobil siapa yang datang dini hari begini ke hotelnya.


Bimo pun mengintip di balik jendela yang tertutup tirai.


"Itu kan mobil Papa. Gue harus sembunyi." Gumam Bimo dengan suara ketakutan.


Ternyata Ayahnya belum pulang kerja sampai dini hari seperti ini.


Untung saja,Bimo tadi tidak terburu-buru keluar. Jika tidak,Ia akan ketahuan oleh Ayahnya.


Sebelum Ayahnya masuk ke dalam,Bimo pun segera bersembunyi di balik tirai jendela yang sangat besar itu.


Bimo takut ketahuan oleh Ayahnya saat Ayahnya nanti masuk ke dalam hotel.


Deg...deg...deg....


Jantung Bimo berpacu lebih cepat karena takut. Bimo sampai menutup mulutnya dengan telapak tangannya agar tak mengeluarkan suara sedikitpun.


Krek.......krek.....


Pintu pun mulai terbuka,itu artinya Ayahnya sudah masuk ke dalam hotel.


"Huh.....capeknya......" Keluh Ayahnya Bimo saat baru masuk ke dalam hotel.


Bimo pun terus mengawasi gerak-gerik Ayahnya. Untung saja,Ayahnya tidak menengok kesana kemari. Jadi,Ayahnya tidak mengetahui jika Ia sedang bersembunyi di balik tirai jendela tersebut.


Bimo pun terus berdoa,agar Ayahnya tidak mengetahui keberadaannya.


Syukurlah!! Ayahnya sudah masuk ke dalam kamarnya dan itu artinya Bimo telah selamat dari persembunyiannya.


Bimo pun memastikan sekali lagi jika Ayahnya telah masuk ke kamarnya. Ia pun menengok sebentar,lalu melanjutkan kembali tujuannya yaitu keluar dari hotel ini.


Dengan hati-hati,Bimo pun memutar gagang pintu hotel tersebut.


Setelah berhasil terbuka,Bimo pun segera keluar dan menutup kembali pintu tersebut dengan hati-hati pula supaya tidak mengeluarkan suara.


Akhirnya,Bimo berhasil juga keluar dari hotelnya. Kini,yang harus dilakukan Bimo adalah mencari kendaraan untuk menuju ke bandara.


Karena hotelnya ada di sekitar kota,Bimo tidaklah sulit untuk menemukan kendaraan.


Bimo pun menghentikan taksi dan naik taksi tersebut menuju bandara.


Hanya butuh waktu sekitar 30 menit untuk sampai di bandara.


Sesampainya Bimo di bandara,Ia pun langsung menyerahkan paspornya lalu tinggal menunggu jam keberangkatannya menuju Indonesia.


Tak butuh waktu lama,akhirnya pesawatnya akan berangkat.


Bimo pun segera bersiap-siap untuk keberangkatannya.


Ia sudah tak sabar untuk sampai ke Indonesia dan tentunya tak sabar bertemu dengan Meca.


Di dalam pesawat,Bimo memilih untuk tidur supaya nanti saat kembali ke Indonesia tidak mengantuk. Karena memang semalam Ia belum tidur gara-gara mengurusi paspor ditambah lagi menyiapkan segala sesuatu untuk pulang ke Indonesia.


Waktu berlalu cepat,Kini Bimo telah sampai di tempat tujuannya yaitu Indonesia.


Setelah sampai di bandara,Bimo pun langsung mencari taksi.


Karena sudah tak sabar ingin menemui Meca,Bimo pun memutuskan untuk langsung pergi ke rumah Meca tanpa pulang ke rumahnya terlebih dahulu.


Begitu sampai,Ia pun langsung mengetuk pintu rumah Meca sambil berkata "permisi"


Merasa tak ada sahutan dari Meca maupun Ibunya,lalu Bimo pun mencoba memanggil nama Meca.


"Meca!!" Ini Bimo!!" Teriak Bimo masih dengan mengetuk pintu rumah Meca.


"Apa nggak ada orang ya...di dalam?" Gumam Bimo.


Apa yang harus Ia lakukan saat ini?


Bimo tak mau menelepon Meca lagi. Bukan karena alasan,tetapi Bimo sangat yakin jika Meca tak akan mengangkat telepon darinya.


Bimo tak mau merasa kesal saat di hari bahagia ini.


Kebetulan sekali ada dua anak cewek berseragam SMA sedang lewat di depan rumahnya Meca.


Bimo pun memutuskan untuk bertanya kepada dua anak cewek tersebut mengenai keberadaan Meca.


"Permisi....Saya boleh tanya sesuatu?" Tanya Bimo sambil menghampiri dua anak cewek yang berseragam SMA itu.


"Wah....ganteng banget." Puji kedua cewek yang berseragam itu setelah melihat wajah Bimo. Mereka terlihat kagum dengan wajah yang bahagia,mereka seperti sedang melihat seorang pangeran.


Mendapat pujian dari kedua cewek itu membuat Bimo agak malu.


Ia pun lantas bertanya lagi pada kedua cewek itu supaya rasa malunya hilang.


"Apa kalian tahu kemana perginya


penghuni rumah ini?"


"Oh...itu. Kita nggak tahu,karena saya dan teman saya baru pulang dari sekolah."


"Ah...bener juga." Gumam Bimo.


"Emangnya Kakak mau cari siapa?"


"Mau cari Meca. Kalian bisa telepon Meca untuk Kakak?"


"Kita nggak punya nomornya Kak Meca. Tapi,kenapa nggak Kakak sendiri aja yang telepon?"


"Dia nggak akan jawab telepon Kakak."


"Gue baru inget kalau gue tadi bawa ponsel Mama. Gue cek dulu kalau ada nomor teleponnya Ibunya Kak Meca." Ucap salah satu cewek tadi kepada temannya.


"Coba Elo cek!! Bentar ya...Kak...." Ucap teman si cewek yang membawa ponsel Mamanya tersebut.


Bimo hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Ada. Gue langsung telepon ya...."


Cewek itu pun langsung menelepon Ibunya Meca. Setelah tersambung dengan Ibunya Meca. Cewek itu langsung mengutarakan tujuan menelepon Ibunya Meca. Sebelum itu,cewek itu dan Ibunya Meca sempat berbasa-basi sejenak.


Tak butuh waktu lama,akhirnya cewek itu pun mendapat informasi mengenai keberadaan Ibunya Meca dan Meca.


"Kak, Ibunya Kak Meca dan Meca ada di rumah sakit xxxxxx."


"Apa salah satu dari mereka ada yang sakit?" Tanya Bimo dengan mata yang terbelalak karena terkejut.


"Katanya,tadi sedang menjenguk orang sakit."


Bimo pun langsung menghela nafasnya dengan lega.


"Terima kasih ya.. untuk bantuannya. Kakak permisi dulu..."


"Eh,Kak...tunggu!!"


Lantas Bimo pun menghentikan langkahnya lalu berbalik badan dan menghadap ke arah dua anak cewek itu lagi seraya berkata "Iya. Kenapa?"


"Boleh kita foto selfie sama Kakak? Anggap aja itu balas budi Kakak sama kita." Ucap salah satu cewek itu dengan senyum-senyum malu.


"Eh....i..ya. Boleh kok." Ucap Bimo dengan gugup.


Mendapat persetujuan dari Bimo,kedua cewek tadi langsung bersorak ria.


Lalu,mereka pun mendekati Bimo. Tak lupa juga mengarahkan ponselnya ke atas untuk foto selfie bersama Bimo.


Karena Bimo lebih tinggi daripada kedua cewek tadi,Ia pun agak merundukkan tubuhnya agar sama dengan mereka.


Dalam hitungan 3,akhirnya foto selfie antara kedua cewek tadi dengan Bimo pun telah selesai.


Tampak kedua cewek tadi sangat senang bisa berfoto dengan laki-laki setampan Bimo.


"Ya udah...Kakak permisi dulu ya...." Pamit Bimo


"Iya Kak. Terima kasih ya fotonya...


"Iya..sama-sama."


Setelah berpamitan dengan kedua anak cewek tadi,lalu Bimo pun langsung melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit xxxxxx untuk menjumpai Meca disana.


Bimo penasaran siapa yang sakit,sampai Ibunya Meca dan Meca menjenguknya secara bersamaan.


Setelah kurang lebih 15 menit dalam perjalanan,akhirnya Bimo pun telah sampai di rumah sakit xxxxx.


Begitu sampai,Bimo pun segera masuk ke dalam rumah sakit itu.


Ia pun berjalan sambil menengok kanan dan kiri.


Saat Bimo melewati taman rumah sakit,Ia pun menghentikan langkahnya secara tiba-tiba saat mengetahui kekasih hatinya sedang bermesraan dengan laki-laki lain.


Ya,Bimo melihat Meca dipeluk oleh laki-laki lain.


Tetapi,Bimo belum tahu betul siapa laki-laki yang memeluk Meca tersebut karena penglihatannya terhalang oleh pohon yang ada di taman.


Bimo pun mencoba mendekati Meca dan laki-laki itu.


Setelah jaraknya lebih dekat dengan Meca,kini Bimo tahu siapa laki-laki itu.


Ya,laki-laki itu adalah Rengga.


Bimo berharap prasangka buruknya terhadap Meca tidaklah benar,tetapi apa yang baru saja dilihatnya tadi membuat Bimo kesal karena prasangka buruknya  benar terjadi.


Kenapa Ia harus mengalami ini semua?


Bimo merasa nasibnya begitu malang.


Jauh-jauh datang dari Amerika untuk menemui kekasih hati yang dirindukannya, sampai Ia harus menyelinap untuk bisa menemui kekasih hatinya. Ia berharap saat Ia datang,kekasih hatinya akan menyambutnya dengan hangat. Melepaskan kerinduan di antara mereka dengan menghabiskan waktu bersama.


Tetapi,mengapa Bimo tidak mendapatkan semua itu. Yang Ia dapat malah kepahitan yang harus Ia terima. Bahwa kekasih hatinya sedang bermesraan dengan laki-laki lain. Apalagi laki-laki itu adalah musuhnya selama ini yaitu Rengga.


Sungguh malang!


Flashback Off


******


Dilanjut di bab selanjutnya ya.....


Kalau author terusin di bab ini ...nanti bakal panjang banget.


Tunggu saja ya...untuk kisah Meca dan Bimo selanjutnya.....😉😉


Spoilernya akan ada adegan uwu kok 🥰😄


Jangan lupa klik ikon 👍untuk menaikkan popularitas novel saya....


Pleaseee😟😟


Happy reading 🥰🥰