ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 132



Sejak Meca menerima kesepakatan dari Ayahnya Bimo,Meca terus memikirkannya di setiap kegiatannya sehari-hari dari mulai makan,mandi,atau bahkan dalam kuliah pun Ia tidak bisa fokus dengan pelajaran yang diterimanya.


Walaupun Meca memikirkannya sehari-hari,tetapi tetap saja Ia belum bisa memutuskan apa yang harus Ia lakukan untuk kesepakatan antaranya dan Ayahnya Bimo.


Dua hari sudah Meca lewati dalam satu minggu ini,berarti waktu Ia hanya sisa empat hari lagi untuk membuat keputusannya itu.Dua hari ini,Meca belum juga membuat keputusan yang pasti.


Atau bahkan menceritakan masalahnya pada orang terdekatnya,seperti Ibunya sendiri.


Untuk hari ini,Meca memutuskan untuk bertemu Bimo guna memperbincangkan atas masalah kesepakatan antara Ia dan Ayahnya Bimo.


Meca dan Bimo pun memutuskan untuk bertemu di cafe sambil minum.


Kini mereka berdua telah duduk berhadapan dengan ditemani secangkir kopi di meja.


"Mec,kenapa ajak gue ketemu? Elo kangen ya sama gue?" Tanya Bimo dengan gombalan konyolnya.


Meca pun terdiam sesaat,Ia tidak mungkin langsung mengatakan tujuannya jika Ia akan menceritakan tentang kesepakatan antara Ia dan Ayahnya pada Bimo.


Meca pun memilih untuk perlahan-lahan menceritakannya dan tidak langsung ke intinya.


"Bim!! Elo beneran suka sama gue?" Tanya Meca.


Bimo pun tertawa pelan setelah mendengar pertanyaan Meca yang menurutnya agak konyol itu.


"Kenapa Elo masih tanya? Apa selama ini bukti gue kurang kalau gue sangat cinta sama Elo?" Tanya Bimo balik.


"Nggak gitu. Sekarang gue tanya sama Elo,Apa mungkin Elo masih cinta sama gue setelah gue bikin Elo sakit hati lagi?" Tanya Meca dengan keseriusan dalam setiap ucapannya.


"Apa sebenarnya maksud ucapan Elo itu? Apa Elo ada masalah?" Tanya Bimo dengan curiga dengan ucapan Meca yang seolah-olah ingin meminta putus dengannya.


Diam. Itulah yang dilakukan Meca saat Bimo bertanya padanya.


Meca pun memilih untuk mengambil secangkir kopi lalu meminumnya perlahan untuk menenangkan pikirannya sejenak.


Setelah meminum kopi,Meca pun meletakkan kembali secangkir kopi itu di atas meja lalu berusaha untuk tegar menghadap ke arah Bimo.


"Sebenarnya gue nggak ada masalah kok. Gue hanya asal nanya aja. Itu hanya semua kekhawatiran gue aja,makanya gue nanya langsung sama Elo." Sahut Meca sambil menunjukkan senyuman yang Ia paksakan agar Bimo tidak curiga dengan alibi yang dibuatnya.


Lagi-lagi Meca belum siap untuk jujur pada Bimo tentang masalahnya dengan Ayahnya Bimo. Ia memilih untuk berbohong pada Bimo lagi.


Entah kenapa,begitu sulit untuk jujur pada Bimo. Meca hanya takut jika Bimo sedih dan khawatir jika Ia menceritakan semua masalahnya dengan Ayahnya Bimo.


Entah yang dilakukannya saat ini benar atau salah,tetapi yang pasti Ia tidak membuat Bimo sedih itu sudah lebih baik untuk Meca.


Walaupun Meca sudah menjawab pertanyaanya,Bimo masih belum bisa pasti dengan jawaban Meca tersebut.


Bimo bukanlah orang bodoh yang mudah dibohongi. Terlihat jelas saat Meca tadi nampak bersedih saat menanyakan pertanyaan yang membuat Bimo curiga.


Tetapi,keanehan terjadi setelah Meca memberikan jawabannya dengan wajah yang ceria seolah-olah Ia sedang berusaha tegar dihadapan Bimo untuk menutupi kesedihan yang dialaminya.


Bimo pun memutuskan untuk berpura-pura percaya akan jawaban Meca tersebut.


Tetapi yang jelas,di hatinya Bimo tetap sulit percaya setelah melihat kegelisahan yang tampak di wajah Meca.


"Gue harap Elo nggak bikin gue sakit hati lagi. Gue berharap dapat cinta yang lebih dari rasa cinta gue sama Elo,Mec." Ucap Bimo.


Meca pun hanya mengangguk pelan sambil tersenyum menanggapi ucapan Bimo.


Meca lebih baik memendamnya agar tidak membuat Bimo kecewa lagi.


*******


Hari demi hari telah dilalui oleh Meca,tak terasa satu minggu ini sudah berlalu dengan cepat. Kini tiba saatnya untuk Meca memutuskan atas kesepakatan antara Ia dan Ayahnya Bimo.


Lagi-lagi Meca belum bisa membuat keputusan yang pasti.


Rasa bimbang,ragu,dan takut bercampur aduk di benak Meca. Perasaanya itulah yang menyebabkan Meca sulit untuk membuat keputusan.


Sampai malam hari ini,Meca masih belum juga menghubungi Ayahnya Bimo untuk memberikan jawabannya.


Meca masih takut dan ragu untuk membuat keputusannya.


Saat ini Meca tengah makan malam bersama Ibunya. Ia pun tak bisa fokus makan,Ia terus melamun dan memikirkan tentang kesepakatan yang dibuat oleh Ayahnya Bimo.


Meca pun sampai tak sadar,jika Ibunya terus memperhatikannya.


"Kenapa nggak dimakan? Kenapa Kamu kelihatan sedih beberapa hari ini?" Tanya Ibunya Meca yang tampak khawatir dengan perilaku Meca dalam seminggu ini.


Memang dalam seminggu ini,Meca jarang tersenyum,kecuali pada pelanggan toserbanya. Di dalam rumah,Meca hanya berada di dalam kamarnya dan jarang keluar. Jika keluar dari kamarnya pun hanya untuk makan ataupun mandi.


Meca hampir tidak pernah berkumpul dengan Ibunya selama seminggu ini.


Ibunya pikir jika Meca sedang sibuk dengan kuliahnya sehingga jarang berkomunikasi dengannya,tetapi yang membuat Ibunya khawatir adalah tentang kesehatan Meca jika anak putrinya itu jarang menghabiskan makanannya dalam beberapa hari ini.


Mendengar pertanyaan dari Ibunya,Meca pun mencoba menghadap ke arah Ibunya dengan perasaan yang masih penuh dengan kegundahan.


"Ibu!! Apa yang Ibu pikirkan jika Aku berhenti kuliah dan langsung bekerja saja?" Tanya Meca untuk memastikan pendapat dari Ibunya guna membuat keputusan yang pasti atas jawaban dari kesepakatan antara Ia dan Ayahnya Bimo.


Ibunya Meca pun tersentak mendengar pertanyaan Meca yang menyimpang dari pembicaraanya sebelumnya.


"Apa maksud kamu? Tentu aja kamu harus tetap kuliah untuk menggapai cita-cita kamu. Kamu nggak boleh menyiakan beasiswa yang kamu dapat untuk kuliah disana." Sahut Ibunya Meca dengan tegas.


Sebenarnya diawal,Meca berpikir untuk tidak menyetujui kesepakatan yang Ayahnya Bimo berikan kepadanya. Ia berpikir untuk tidak menyetujuinya,karena tidak ingin membuat Bimo kecewa. Tetapi,keputusannya itu masih belum pasti,maka dari itu Ia juga harus mendengarkan pendapat dari Ibunya yang selama ini selalu mendukungnya.


Setelah mendengarkan Perkataan Ibunya tadi,membuat Meca tersadar dan berpikir dua kali untuk berencana putus kuliah.


Memang benar apa yang dikatakan Ibunya itu.Meca bahkan telah berjanji pada dirinya sendiri dan tentunya pada Ibunya untuk kuliah dengan rajin supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,sehingga dapat membanggakan Ibunya. Jika Ia memutuskan untuk putus kuliah,berarti itu sama saja Ia mengingakari janjinya terhadap dirinya sendiri dan Ibunya.


Jika begitu,maka pilihan mana yang Meca pilih untuk membuat keputusannya?


Jika Ia menyetujui kesepakatan Ayahnya Bimo,maka Ia akan putus dengan Bimo.


Dan apabila Ia tidak menyetujui kesepakatan Ayahnya Bimo,maka Ia harus putus kuliah,karena tidak mungkin Meca bisa mencukupi semua biaya kuliah disana tanpa adanya bantuan beasiswa. Apalagi,Ibunya tidak bekerja dan Meca hanya bekerja di toserba saja.


Hayo ๐Ÿ˜ฒ๐Ÿ˜ฒ tebak apa yang akan diputuskan Meca nanti??


Apakah Ia akan setuju atau tidak setuju dengan kesepakatan antara Ia dan Ayahnya Bimo??


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya.


Happy reading ๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„