
Hari yang cerah siap menyambut pagi ini.
Sinar matahari yang tidak terlalu terik membuat orang senang untuk keluar rumah.
Apalagi hari ini adalah hari minggu. Hari yang ditunggu-tunggu untuk beristirahat dari kepenatan selama bekerja ataupun beraktifitas dari kegiatan sehari-hari.
Pagi ini Meca baru bangun dari tidurnya.
Merasa haus,Meca pun beranjak dari tempat tidur lalu keluar dari kamar tidurnya untuk mencari minuman.
Berjalannya sedikit terhuyung karena baru bangun dari tidurnya.
"Mec!!" Panggil seseorang.
Dengan mata yang masih berat,Meca pun mencoba membuka matanya untuk melihat siapa orang yang memanggilnya.
Samar-samar Meca melihat laki-laki yang tengah duduk di kursi sofanya.
Setelah melihat dengan jelas,tampaklah laki-laki yang tidak asing bagi Meca.
"Kak Bimo?" Ucap Meca dengan terkejutnya karena sepagi ini Bimo sudah ada di rumahnya.
Tak kalah terkejutnya Bimo saat melihat tampilan Meca yang lain di matanya.
Bagaimana tidak? Penampilan Meca saat ini sangat membuat pikiran Bimo menjadi kotor.
Saat ini Meca menggunakan kaos lumayan panjang dengan celana pendek yang tertutupi kaosnya tersebut.
Paha Meca yang terekspos membuat mata Bimo melotot.
Tidak seperti biasanya yang selalu memakai celana jeans panjang yang menutupi pahanya.
"Kok Kakak bisa kesini?" Tanya Meca dari kejauhan dengan masih berdiri.
Bimo pun tidak menjawab pertanyaan Meca dan masih melihat paha Meca dengan mulut ternganga
Melihat Bimo diam,Meca pun menghampirinya.
Melihat Meca mendekat,Bimo pun akhirnya tersadar jika Ia sudah mengingkari kepercayaan Ibunya Meca padanya.
Flashback
Pagi ini,Bimo berencana mengajak Meca keluar rumah untuk kencan pertama setelah kejadian mesra saat tersesat di hutan kemarin yang membuktikan jika mereka sama-sama suka dan Bimo sudah memutuskan jika Ia dengan Meca mulai berpacaran hari ini.
Setiba Bimo di rumah Meca,dengan kebetulan Ia melihat Ibunya Meca baru keluar dari pintu rumah.
Bimo pun segera menghampiri Ibunya Meca tersebut.
"Pagi tante.." Sapa Bimo dengan menunjukkan senyum manisnya.
"Pagi... Lho..Bimo pagi-pagi udah kesini,mau ketemu Meca ya pasti." Sahut Ibunya Meca.
"Iya tante. Mau ijin ngajak Meca keluar." Ucap Bimo.
"Oh...iya boleh kok. Tapi,kamu tunggu di dalem dulu ya..soalnya Meca belum bangun. Paling lima menitan lagi Meca udah bangun. Kamu masuk aja dulu.." Ucap Ibunya Meca.
"Lho..emangnya tante mau kemana?" Tanya Bimo.
"Tante mau ke pasar dulu bentar. Kamu masuk aja." Ucap Ibunya Meca.
"Tante,tapi nggak apa-apa saya masuk? Kan cuma ada saya sama Meca di dalam rumah." Tanya Bimo dengan ragu-ragu karena Ia tau biasanya orang tua akan khawatir jika anak perempuannya di rumah dengan laki-laki,apalagi hanya berdua.
"Tante percaya kamu adalah laki-laki yang baik. Maka dari itu,jangan merusak kepercayaan tante." Jawab Ibunya Meca sambil menepuk pundak bagian kanan Bimo dengan pelan.
Seakan tahu maksud Ibunya Meca,Bimo pun menganggukkan kepalanya.
Lalu Ibunya Meca berpamitan pada Bimo untuk pergi.
Setelah Ibunya Meca pergi,Bimo pun masuk ke dalam rumah Meca lalu duduk di sofa untuk menunggu Meca bangun.
Flashback Off
Bimo pun mencoba sadar dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Enggak,enggak gue harus sadar.' Batin Bimo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hei!! Berhenti disitu!!" Suruh Bimo karena melihat Meca mulai mendekatinya.
"Kenapa? Kok Kakak aneh gini sih?" Tanya Meca karena tak mengerti dengan maksud Bimo yang menyuruhnya berhenti.
"Hei!! Kenapa Kakak dorong gue?" Tanya Meca dengan terkejutnya karena tiba-tiba Bimo mendorongnya.
"Kembali ke kamar Elo!!! terus siap-siap sana!!" Suruh Bimo dengan masih mendorong Meca.
Meca pun masih bingung dengan Bimo.
Ia terus menatap Bimo dengan ekspresi kebingungan.
Telah sampai di depan kamar Meca,Bimo pun membuka pintu kamar Meca lalu mendorong Meca untuk masuk ke dalam kamarnya.
Setelah Meca masuk, Bimo pun lalu menutup pintu kamar Meca.
"Dasar orang aneh!!" Umpat Meca pada Bimo setelah sampai di dalam kamarnya.
Bimo pun menghembuskan nafas dengan lega setelah berhasil menahan nafsu laki-lakinya.
Lalu Bimo pun kembali duduk di sofa untuk menunggu Meca kembali.
Tak butuh waktu lama,Meca pun telah selesai bersiap-siap. Setelah selesai,Meca pun keluar dari kamarnya.
Seperti biasa,Meca hanya menggunakan hoodie crop berwarna hitam dengan celana jeans berwarna biru dan tas ransel kecil di punggungnya.
Tak lupa Ia menguncir rambutnya ke atas.
Melihat Meca keluar dari kamarnya,Bimo pun merasa heran. Karena Meca bersiap-siap hanya membutuhkan waktu yang cukup sedikit,setahu Bimo jika cewek sedang bersiap-siap pasti mereka akan lama sampai para lelaki lelah menunggu.
Tetapi,lain halnya dengan Meca.
Tanpa basa-basi, lalu Bimo pun beranjak dari duduknya dan menghampiri Meca.
"Ayo!!" Ajak Bimo sambil menggandeng tangan Meca untuk berjalan mengikutinya.
"Mau kemana?" Tanya Meca.
"Kencan." Jawab Bimo dengan singkat.
Mendengar kata 'kencan' membuat Meca terkejut. Ia pun menghentikan langkahnya dengan menarik tangan Bimo yang menggandengnya.
"Kencan? Apa kita udah pacaran?" Tanya Meca beberapa kali untuk memastikan kebenaran dari ucapan Bimo.
"Elo udah lupa ya..kita udah ciuman di hutan. Gue tahu,kalau Elo udah cinta sama gue lewat ciuman itu. Jadi,kalau kita saling cinta,berarti kita udah pacaran." Jelas Bimo dengan nada bicara meninggi karena kesal dengan kepolosan Meca tentang hal percintaan.
"Tapi...gue masih nggak ngerti." Ucap Meca sambil menggeleng-gelengkan kepalanya karena masih tidak paham dengan penjelasan Bimo.
"Terserahlah. Ayo kita keluar jalan-jalan." Sahut Bimo yang menyerah dengan kepolosan Meca.
"Eh,tunggu!!" Ucap Meca sebelum Bimo menariknya pergi.
"Apa lagi sih,Mec?" Tanya Bimo dengan kesalnya.
"Gue belum ijin sama Ibu untuk keluar dari rumah." Jawab Meca.
"Gue tadi udah ijinin Elo." Sahut Bimo.
"Kok bisa?" Tanya Meca.
"Bisa lah. Ayoklah..jangan ngomong aja,nanti kita nggak pergi-pergi." Sahut Bimo dengan kesalnya.
Bimo pun segera menggandeng tangan Meca lalu menariknya keluar sebelum Meca mengajaknya berbincang lagi.
Bimo tak peduli,Meca yang terus bertanya padanya tentang bagaimana bisa Ia meminta ijin pada Ibunya,sedangkan Ibunya sedang tidak ada di rumah.
Bimo pun segera mengajak Meca naik mobilnya lalu berangkat.
****
Di waktu yang sama,tapi tempat yang berbeda. Seorang laki-laki paruh baya tiba di bandara pesawat bersama sekretarisnya.
Laki-laki itu pulang dari perjalanan bisnisnya yang ada di Amerika.
Laki-laki paruh baya itu pulang karena mendengar kabar kurang sedap tentang anak laki-laki satu-satunya.
Siapakah laki-laki paruh baya itu?
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel ini.
Happy reading ๐