ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 124



Bimo menyetir mobilnya ke arah cafe terpopuler di kalangan anak muda untuk sarapan bersama Meca.


Tak butuh waktu lama,akhirnya Bimo dan Meca telah sampai di cafe yang akan mereka kunjungi tersebut.


Setelah sampai,Mereka berdua langsung masuk ke dalam cafe tersebut.


Mereka berjalan berdampingan sambil bergandengan tangan.


Bimo dan Meca pun memutuskan untuk memilih tempat duduk di dekat jendela.


Setelah duduk,Mereka berdua langsung disambut oleh pelayan yang memberikan buku menu cafe pada mereka.


Mendapat buku menu,Meca pun langsung membaca setiap menu makanan yang telah tertera di buku menu tersebut.


Karena banyak makanan dan minuman,Meca pun jadi bingung ingin memilih makanan atau minuman mana yang akan Ia pesan nanti.


"Apa yang mau Kakak pesan?" Tanya Meca untuk meminta saran pada Bimo.


"Gue ikutin apa yang mau Elo pesan aja." Jawab Bimo.


"Kenapa malah ngikutin gue? Yang makan kan Kakak nanti." Sahut Meca.


"Ya udah. Kita mau pesan yang biasanya dipesan sama para pasangan yang datang disini. Makanan yang paling romantis." Ucap Bimo pada pelayan cafe tersebut.


"Emang ada? Tanya Meca seakan tak percaya jika ada menu yang ditawarkan khusus untuk orang yang berpacaran.


"Ada kok. Tadinya,saya mau menawarkan menu itu,tetapi awalnya saya kira kalian Kakak beradik,jadi saya nggak jadi menawarkan menu itu. Tetapi,setelah mendengarkan masnya tadi,kalian ternyata pasangan yang romantis." Sahut pelayan cafe tersebut.


Bimo dan Meca sama-sama diam setelah mendengar jika pelayan itu menyebut mereka Kakak beradik.


"Permisi,saya mau antar pesanan kalian dulu ya. " Ucap pelayan itu sambil membungkukkan tubuhnya sebagai tanda sopan lalu pergi dari hadapan Bimo dan Meca.


"Elo lihat! bahkan pelayan cafe nyangka kita kakak beradik,karena Elo manggil gue Kakak saat status kita pacaran." Rengek Bimo.


"Terus,gue mau manggil Kakak apa?" Tanya Meca.


"Sayang,bebeb,atau apalah." Jawab Bimo.


"Enggak gue nggak suka." Sahut Meca sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Meca merasa panggilan sayang atau bebeb terlihat lebay untuknya.


"Gimana kalau Elo manggil gue Bimo aja,nggak usah pakai Kakak?" Saran Bimo.


Meca pun tampak berpikir sejenak.


"Boleh. Lagipula,Kakak..eh maksud gue Elo cuma satu tahun lebih tua dari gue aja kan." Ucap Meca yang hampir keceplosan memanggil Bimo dengan sebutan Kakak lagi.


"Tapi sebenarnya..." Kata Bimo terpotong karena makanan yang Ia pesan dengan Meca tadi telah tersaji di meja.


"Silahkan makan." Ucap pelayan itu setelah menaruh makanan di atas meja Bimo dan Meca.


"Terima kasih." Ucap Meca dengan tersenyum.


Pelayan itu pun tersenyum lalu pergi dari hadapan Bimo dan Meca.


Setelah makanan tersaji,Meca pun mengajak Bimo segera memakan yang dipesan itu sebelum dingin.


Melihat Meca kelaparan,Bimo pun mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya tadi dan memutuskan untuk ikut makan bersama Meca.


Setelah makan,Bimo memutuskan untuk mengajak Meca ke taman hiburan.


Meca pun hanya menuruti kemana Bimo akan membawanya.


"Taman hiburan?" Tanya Meca setibanya di area taman hiburan.


"Iya. Ayo kita bersenang-senang disini." Sahut Bimo.


Bimo pun segera menggandeng tangan Meca untuk mengikutinya pergi.


Saat beberapa langkah berjalan,Meca berhenti setelah melihat mesin pencapit boneka.


"Kenapa berhenti?" Tanya Bimo.


"Gue selalu penasaran gimana cara dapetin boneka di mesin pencapit boneka itu." Jawab Meca sambil melihat mesin pencapit boneka.


"Mau gue ambilin boneka di mesin pencapit itu?" Tanya Bimo."


"Emang Elo bisa?" Tanya Meca dengan antusias.


Bimo tak langsung menjawabnya,Ia malah langsung pergi ke arah mesin pencapit boneka itu. Itu artinya Ia memang bisa memainkan mesin pencapit boneka itu.


Melihat Bimo pergi,Meca pun mengikuti Bimo ke arah mesin pencapit boneka itu diletakkan.


Setiba di depan mesin pencapit itu,Bimo langsung menggesek kartu kemudian mulai mengendalikan mesin tuas pada mesin tersebut.


Saat mencoba mengaitkan pencapitnya pada boneka,tiba-tiba meleset dan gagal masuk ke arah lubang.


Melihat Bimo gagal,Meca mendengus dengan kesal.


"Ya. Mungkin dua kali atau tiga kali akan berhasil." Sahut Meca dengan percaya diri.


Bimo pun mencoba satu kali lagi,tetapi lagi-lagi meleset dan gagal masuk lubang.


Bimo dan Meca terlihat kecewa telah gagal dua kali.


Ketiga kalinya ini,Bimo mencoba lebih berhati-hati dan konsentrasi saat memainkan mesin pencapit boneka itu.


Mata Meca melebar saat Bimo hampir memasukkan boneka di lubang.


Tetapi entah kenapa saat berada di atas lubang,bonekanya selalu jatuh dan gagal masuk lubang.


"Dasar!! Minggir biar gue yang main!!" Ucap Meca dengan kesal sambil mendorong tubuh Bimo agar menjauh dari mesin pencapit boneka itu.


"Emang Elo bisa?" Tanya Bimo.


"Gue baru bisa,karena lihatin Kakak main tadi." Jawab Meca sambil mengendalikan tuas pada mesin itu.


Dengan penuh konsentrasi,Meca pun mencoba mengaitkan pencapit pada mesin itu pada boneka lalu memasukkannya pada lubang.


Tetapi,lagi-lagi saat berada di atas lubang,bonekanya selalu jatuh dan gagal masuk lubang.


"Hahahahahah....makanya jangan sok bisa dulu. Sini biar gue aja." Ucap Bimo lalu menggeser tubuh Meca agar menjauh dari mesin tersebut.


Meca pun mendengus kesal,karena tidak bisa memainkan mesin pencapit boneka itu. Sekarang Ia hanya bisa menunggu Bimo mendapatkan boneka dari mesin pencapit itu.


Dalam beberapa kali percobaan,Bimo selalu gagal dan gagal mendapatkan boneka dari mesin tersebut.


Meca dan Bimo terlihat bergembira bercampur kesal karena mesin itu.


Mereka berteriak-teriak seakan hanya mereka berdua saja yang ada disana.


Padahal,dari tadi banyak orang yang memperhatikan mereka berdua saat bermain. Ada yang bilang mereka orang aneh dan ada juga yang tertawa melihat kelakuan mereka berdua saat memainkan mesin pencapit boneka itu.


Karena terlalu fokus ke mesin tersebut,Bimo tidak sadar jika banyak orang yang melihatnya dengan tatapan aneh.


Tetapi,karena Meca tidak bermain mesin tersebut,Ia akhirnya sadar jika ada banyak orang yang melihat kelakuannya dengan Bimo. Karena tak mau merasa malu,Meca pun memutuskan untuk menyudahi permainan mesin pencapit boneka tersebut


"Mari kita udahan aja mainnya." Ajak Meca sambil melirik sekeliling orang yang melihatnya.


"Kenapa? Ini kan belum dapet bonekanya." Ucap Bimo sambil masih memainkan mesin pencapit boneka itu.


"Banyak orang lihatin kita dengan tatapan aneh. Mending pergi aja,ayo!!" Ucap Meca lalu menarik tangan Bimo supaya pergi dari hadapan mesin tersebut.


"Eh,tapi kan Mec..." Ucap Bimo saat tangannya di tarik oleh Meca untuk mengikutinya pergi.


Akhirnya Meca berhasil mengajak Bimo untuk menyudahi permainan mesin pencapit boneka itu.


Bimo sempat mengelak dan ingin kembali mendapatkan boneka untuk nanti diberikan kepada Meca sebagai hadiah.


"Jangan kesal!! Gue nggak apa-apa kok nggak dapet boneka. Lagipula, permainan tadi hanya menghabiskan waktu kita berdua kan?" Ucap Meca untuk mencoba menenangkan kekesalan Bimo karena tidak mendapatkan boneka dari mesin tersebut.


"Bener juga. Mari kita cari permainan lain yang lebih menyenangkan." Sahut Bimo dengan muka sumringah.


Meca lega akhirnya Bimo menuruti sarannya.


Bimo dan Meca pun bergandengan tangan sambil mengobrol tentang permainan apa yang akan dimainkan oleh mereka berdua nanti. Yang pasti permainan yang seru dan tidak menjengkelkan seperti permainan yang sebelumnya dimainkan oleh mereka berdua.


Saat asyik ngobrol,tiba-tiba ponsel Bimo berbunyi.


Mendengar ponsel Bimo berbunyi,Meca pun menghentikan langkahnya lalu menyuruh Bimo untuk menjawab panggilan telepon dari ponselnya terlebih dahulu.


Saat melihat layar ponselnya,tertera nama 'Mama' di panggilan telepon.


Bimo pun segera menggeser tombol telepon warna hijau untuk menjawab panggilan telepon dari mamanya tersebut.


"Halo...Ma? Ada apa?"


"Bimo kamu cepat pulang!! Papa kamu datang dan nyariin kamu." Sahut Ibunya Bimo dengan suara yang terlihat cemas.


"Iya,Ma. Aku segera pulang." Ucap Bimo.


Setelah itu panggilan telepon antara Ibunya Bimo dan Bimo pun berakhir.


"Maaf,kita harus pulang sekarang." Ucap Bimo pada Meca.


"Oh..gitu. Iya nggak apa-apa kok." Sahut Meca yang bisa mengerti jika Bimo terlihat cemas setelah mendapat panggilan telepon tadi.


Bimo dan Meca pun segera masuk mobil dan pulang.


Sebelum pulang ke rumahnya,Bimo terlebih dahulu mengantar Meca pulang ke rumahnya.


Jangan Lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya


Happy reading ๐Ÿ˜