ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 110



Setelah tahu jika Meca mau membantunya,Ibunya Rengga pun pamit pada Meca dan Rengga. Sebelum berpamitan,tak lupa Ibunya Rengga mengucapkan terima kasih pada Meca karena telah menolongnya untuk menjaga anaknya.


Meca dan Rengga pun kini hanya berdua setelah Ibunya Rengga perlahan menghilang dari hadapan mereka.


"Mec,jangan dengerin Ibu gue ya..Gue udah sehat beneran kok. Nggak perlu Elo jagaian segala." Ucap Rengga.


"Ibu Elo hanya khawatir sama Elo,Rengga.


Dia nggak mau kalau Elo kenapa-napa.


Jadi,dia nyuruh gue untuk jagaian Elo.


Tenang aja,gue nggak bakal jagain Elo kayak anak kecil kok. Gue cuma minta kalau Elo merasa sakit segera hubungi gue. Gue usahain dateng nyamperin Elo." Jelas Meca.


"Jadi,setiap waktu gue bisa dong hubungin Elo?" Tanya Rengga sambil mencodongkan badannya agak rendah agar menyamai tinggi badan Meca.


"Enggak bisa. Itu beda urusannya." Jawab Meca dengan nada datar.


Setelah menjawab pertanyaan Rengga,Meca pun pergi dari hadapan Rengga tanpa mengajak Rengga untuk pergi dengannya.


"Mec,kok Elo ninggalin gue? Elo kan harus jagain gue.." Teriak Rengga lalu berjalan menyusul Meca yang berjalan mendahuluinya.


Disamping sisi,ada dua mata yang sedang mengamati tingkah laku Meca dan Rengga.


Dia tersenyum malas sambil berdecak sebal melihat kedua insan yang dipikirnya sedang bermesraan di halaman kampus itu.


"Elo cepet banget dapet pengganti gue,Mec." Gumam orang itu sambil menyunggingkan senyumnya.


******


Rengga berusaha menyusul Meca yang belum jauh darinya.


Setelah dilihat jaraknya dengan Meca semakin dekat,Rengga pun segera menarik tangan Meca supaya berhenti berjalan.


"Ada apa sih?" Tanya Meca dengan malasnya.


"Kenapa Elo ninggalin gue,Elo kan harus jagain gue,Mec." Ucap Rengga.


"Huh..kata Elo nggak mau diperlakukan kayak anak kecil,tapi sekarang Elo malah berperilaku kayak anak kecil gini. Apa-apa suruh nungguin." Kata Meca dengan kesalnya.


"Anak kecil?" Tanya Rengga dengan nada bicara agak meninggi.


"Iya. Gue akan jagain Elo,tapi Elo nya jangan berperilaku manja gini." Jawab Meca lalu pergi dari hadapan Rengga lagi.


Rengga pun hanya bengong dan menatap punggung Meca yang mulai menjauh lagi darinya.


Lebih parahnya lagi,motor itu hampir menyrempet Meca.


"Awas Mec!!" Teriak Rengga.


Sebelum motor itu menyrempet Meca,Rengga pun segera menarik tangan Meca lalu menempatkannya ke pelukannya.


Disamping itu,Meca pun tak kalah terkejutnya saat Rengga berteriak lalu langsung menariknya dan memeluknya.


Belum sempat Ia menoleh ke arah motor tadi,Rengga pun telah menariknya di pelukannya.


"Hei!! Kalau bawa motor jangan kenceng-kenceng. Elo kira nih jalan raya apa!!" Bentak Rengga pada pengendara motor yang akan menyrempet Meca tadi.


Mendengar teriakan dari Rengga,Meca pun ikut melihat pengendara motor yang akan menyrempetnya tersebut.


Saat melihat pengendara motor tersebut,Meca samar-samar melihat seorang laki-laki yang sedang berdiri sambil mengamatinya.


Setelah dilihat dengan jelas,ternyata laki-laki yang dari tadi mengamatinya adalah Bimo.


Terlihat Bimo terus memandangi Meca dan Rengga yang sedang berpelukan.


Dilihat dari tatapan matanya,Bimo terlihat marah. Tatapan matanya seolah mengisyaratkan kepada Meca untuk melepas pelukannya dari Rengga.


Meca terus mengamati Bimo dari kejauhan dengan tatapan sayu. Ia terus memandang Bimo,tetapi ada yang aneh dengan tatapan Bimo. Sekejap Bimo menatap Rengga,lalu menatap Meca lagi.


Meca pun baru tersadar mengapa Bimo menatapnya dan Rengga secara bergantian. Mungkin karena Ia dan Rengga sekarang sedang berpelukan.


Tanpa pikir lama,Meca pun langsung melepas pelukan Rengga darinya.


Setelah melepas pelukan Rengga,Meca pun langsung menoleh ke arah Bimo.


Tetapi saat Ia menoleh,Bimo sudah tidak ada di tempatnya. Meca pun terus menoleh kanan dan kiri untuk memastikan kemana perginya Bimo,tetapi hasilnya nihil.


Meca tidak dapat melihat seorang Bimo disekitarnya.


Meca pun bingung dengan dirinya,jelas-jelas tadi Ia melihat Bimo dari kejauhan.


Tetapi,setelah Ia menoleh Bimo sudah tidak ada di penglihatannya.


Apa Ia sedang berhalusinasi karena terus merasa bersalah pada Bimo atau yang dilihat tadi memang Bimo?


Dua pertanyaan itu kini mengiang-ngiang di pikiran Meca.