
Rengga heran mengapa dari tadi Meca tampak kebingungan. Ia sudah memanggil-manggil Meca beberapa kali,tetapi tidak ada satu pun sahutan yang keluar dari mulut Meca. Bahkan,menoleh ke arahnya pun tidak. Malah Meca terlihat menengok kanan dan kiri secara bergantian seolah tidak menghiraukan keberadaanya sekarang.
"Mec,Elo nggak apa-apa kan?" Tanya Rengga.
Tetap saja tidak ada sahutan dari mulut Meca. Meca masih terlihat melamun dengan raut muka seperti sedang kebingungan.
Tak sedikit akal,Rengga pun menyenggol lengan Meca supaya Meca tersadar dari lamunannya.
"Mec!!" Ucap Rengga dengan nada agak meninggi sambil menyenggol lengan Meca.
Dengan cara Rengga tadi,Meca pun tersadar dari lamunannya lalu tersentak.
Lalu Meca pun menoleh ke arah Rengga.
"Ada apa?" Tanya Meca.
"Elo nggak apa-apa kan? Kenapa raut wajah Elo kayak lagi kebingungan gitu?" Tanya Rengga dengan penasarannya.
"Oh..gue nggak apa-apa kok. Gue cuma masih merasa kaget aja karena ada motor yang mau nyrempet gue tadi." Bohong Meca.
Meca tidak mau jujur pada Rengga tentang hal yang membuat Ia kebingungan tadi.
Ia merasa tidak perlu menceritakan tentang Bimo di depan Rengga.
"Oh...gue kira Elo kenapa-kenapa." Sahut Rengga.
"Oiya makasih ya udah nolong gue tadi. Untung aja ada Elo,kalau enggak mungkin gue udah jatuh." Ucap Meca.
"Iya sama-sama. Ya udah...ayok masuk kelas." Sahut Rengga.
Meca pun hanya menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan senyum tipisnya.
Lalu Meca dan Rengga pun pergi ke kelas bersama.
******
Tak terasa waktu pulang dari kuliah pun tiba. Semua orang yang berangkat pagi pun telah menyelesaikan kuliahnya hari ini.
Begitu juga dengan Meca,Ia baru keluar dari ruang kelasnya dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kampus.
"Mec!!" Teriak seorang laki-laki dari belakang.
Mendengar namanya dipanggil,Meca pun segera menoleh kebelakang.
Meca melihat sosok Rengga yang sedang berusaha menyusulnya.
"Ada apa?" Tanya Meca begitu Rengga telah berada di depannya.
Setelah mendapat tawaran Rengga,Meca masih berpikir terlebih dahulu sebelum menerima tawarannya.
Saat Ia berpikir,tiba-tiba matanya langsung terbelalak setelah melihat sosok Bimo lagi dengan tatapan sama seperti sebelumnya. Meca melihat Bimo sedang menatapnya dengan tatapan kesal.
"Mec,gimana mau nggak pulang bareng?" Tanya Rengga berusaha menyakinkan Meca.
"Reng,Elo lihat ada Kak Bimo nggak disana?" Tanya Meca sambil menunjuk jari telunjuknya untuk menunjukkan dimana Ia melihat Bimo tadi.
Sekarang Meca tidak mau menutupi kejanggalan dari penglihatannya lagi. Ia terpaksa menanyakan pada Rengga untuk memastikan bila yang dilihatnya adalah bukan halusinasi lagi.
Setelah mendengar pertanyaan Meca,Rengga pun segera menoleh ke arah yang ditunjukkan oleh Meca tadi.
Setelah Rengga melihat dengan jelas,Ia pun tidak melihat Bimo berada di tempat yang Meca maksud tadi.
"Nggak ada kok Mec,gue nggak lihat Bimo disana." Timpal Rengga.
Seakan tak percaya,Meca pun menoleh kembali ke arah Ia melihat Bimo tadi.
Dan betapa terkejutnya Meca setelah melihat lagi,ternyata Ia tidak melihat keberadaan Bimo lagi disana.
"Haaa...kok bisa sih? Gue tadi beneran lihat Kak Bimo disana.." Gumam Meca dengan raut wajah seolah tak percaya.
"Mungkin Elo salah lihat." Tutur Rengga pada Meca.
Ini benar-benar aneh menurut Meca,tak tahu kenapa Ia terus melihat keberadaan Bimo. Dan lebih anehnya,Ia melihat Bimo disaat Ia sedang bersama Rengga.
Seakan-akan Bimo sedang mengawasinya jika Ia sedang bersama Rengga.
"Mec,Elo kok ngelamun lagi sih? Gimana jadi pulang nggak?" Tanya Rengga sekali lagi.
"Eh..gue pulang sendiri aja Reng..makasih untuk tawarannya. Gue duluan yah.." Ucap Meca tanpa basa-basi lalu langsung pergi dari hadapan Rengga.
Rengga pun hanya diam dan bingung dengan sikap Meca yang tiba-tiba kebingungan tanpa alasan yang jelas
"Kenapa sama si Meca,belakangan ini kok aneh banget?" Gumam Rengga sambil memandangi punggung Meca yang mulai menjauh darinya.
Meca memutuskan untuk menolak tawaran Rengga untuk pulang bersama adalah karena Ia tidak ingin melihat Bimo lagi di penglihatannya.
Meca pikir jika Ia menjauhi Rengga,Bimo tidak muncul lagi di penglihatannya.
Walaupun itu adalah alasan yang tidak masuk akal,tetapi hanya cara itu yang bisa Meca lakukan untuk tidak melihat Bimo lagi di penglihatannya.
Meca berharap dengan cara Ia menjaga jarak dari Rengga,pikirannya menjadi tenang dan tidak berhalusinasi melihat keberadaan Bimo lagi.
Jika Meca berhalusinasi lagi,bisa-bisa Ia dibuat gila karena melihat seseorang yang orang lain saja tidak melihatnya.