ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 140



Dua hari sebelumnya pada saat Bimo dan Rengga berkelahi pada malam hari di depan rumah Meca.


Setelah kejadian pada malam itu berlangsung,Bimo pun segera pulang dengan wajah yang masih lebam karena berkelahi.


Sekitar 15 menit di perjalanan,Ia pun telah sampai di rumahnya. Begitu sampai,Ia pun masuk ke dalam rumahnya dan langsung menuju ruang kerja Ayahnya untuk menemuinya.


Karena emosinya sudah tak tertahankan,Bimo pun langsung membuka pintu ruang kerja Ayahnya tanpa mengetuk terlebih dahulu.


Brak....


Suara pintu yang dibuka Bimo mengeluarkan bunyi cukup nyaring,sehingga membuat Ibunya Bimo terkejut dengan bunyi itu saat berada di kamarnya.


Karena penasaran dengan bunyi yang cukup nyaring itu,Ibunya Bimo pun keluar dari kamarnya guna memeriksa sumber bunyi yang Ia dengar tadi.


Saat Ibunya Bimo baru berjalan menuruni tangga,samar-samar Ia mendengar suara Bimo yang sedang marah. Dan suara Bimo itu terdengar jelas saat Ibunya Bimo melewati ruang kerja suaminya.


Cukup khawatir dengan Bimo,Ibunya Bimo pun langsung menghampiri anak putranya itu yang berada di ruang kerja suaminya.


"Aku kan udah bilang jangan ganggu Meca!! Ini nggak ada urusannya sama dia. Tapi,kenapa Papa malah melakukan ini semua??" Ucap Bimo dengan nada bicara meninggi.


"Ada apa?? Kok kamu marah-marah sama Papa kamu??" Tanya Ibunya Bimo saat sudah masuk ke dalam ruang kerja suaminya dan sekarang berada di belakang Bimo.


Mendengar suara Ibunya,lantas Bimo pun langsung menoleh ke belakang.


Saat Bimo menoleh ke arahnya,Ibunya Bimo sungguh terkejut setelah melihat wajah Bimo yang penuh dengan lebam dan bibirnya berdarah.


Lalu Ia pun segera menghampiri anaknya itu untuk melihat lebih dekat.


"Kamu kenapa? Kok wajah kamu lebam gini?" Tanya Ibunya Bimo dengan cemasnya.


"Seperti itulah anak kesayangan kamu. Dia selalu berbuat semaunya tanpa mikirin resikonya. Begitu dia diberi pengajaran sama orang tuanya,dia akan marah. Bukankah begitu putraku??" Sahut Ayahnya Bimo.


Bimo pun hanya tersenyum miring lalu berkata kembali "Papa tahu,aku seperti karena apa? Karena aku telah mewarisi sifat dari Papa. Papa sadar nggak? Kalau kematian Kak Sita itu juga karena Papa selalu berbuat semaunya tanpa mikirin resikonya. Apa sekarang aku saja yang salah?


"Bimo,apa yang kamu katakan?" Tanya Ibunya Bimo dengan cemasnya,karena takut jika suaminya marah terhadap Bimo.


"Hahahaha.....kamu memang pintar menjawab. Tapi,apa kamu pikir dengan mengungkit kematian Kakak kamu,Kamu akan menang dari Papa? Tidak akan." Ucap Ayahnya Bimo dengan menunjukkan senyum seringainya.


Amarahnya pun semakin menggebu-gebu setelah mendengar ucapan dari Ayahnya yang terdengar seperti sedang meremehkan kematian Kakak perempuannya itu. Bimo tidak habis pikir dengan Ayahnya,bisa-bisanya tidak ada rasa bersalah sedikitpun setelah apa yang dilakukannya itu telah membuat Bimo dan Ibunya sedih karena meninggalnya Kakak perempuannya.


Bimo pun sudah tidak tahan dengan amarahnya,teringin Ia menghajar Ayahnya sebagai balasan dari perilakunya.


Tetapi,apa bisa buat,tidak mungkin Ia memukul orang tuanya sendiri. Jika Ia melakukan itu,mungkin Ia sudah menjadi anak yang durhaka terhadap Ayah kandungnya sendiri.


Maka dari itu,Bimo hanya bisa diam dan berusaha menahan amarahnya yang menggebu-gebu itu.


"Semakin Papa teringin menang,semakin aku benci sama Papa." Ucap Bimo lalu beranjak pergi dari ruang kerja Papanya tanpa berpamitan padanya.


"Bimo!!" Panggil Ibunya Bimo.


Ibunya Bimo tampak menghela nafas lalu menghadap suaminya dan berkata "tidak sebaiknya Papa bilang kayak gitu ke Bimo. Kenapa Papa nggak pernah mikirin perasaan orang lain? Kenapa Papa selalu egois?"


Ayahnya Bimo pun berdiri dari duduknya lalu menghampiri istrinya yang sedang mengomelinya itu.


"Mama,cukup diam saja. Papa punya cara sendiri untuk memberi pengajaran untuk anak kita. Dia harus lebih dewasa." Ucap Ayahnya Bimo saat berada dihadapan Ibunya Bimo.


Seakan kehabisan kata-kata,Ibunya Bimo pun hanya diam dan menatap suaminya dengan tatapan sayu.


******


Seminggu sudah waktu berlalu sejak Bimo bertengkar dengan Ayahnya. Pagi hari ini, Bimo sudah duduk termangu di kursi kayu dengan di temani pemandangan yang indah di depannya yang begitu asri.


Membiarkan hembusan angin menerpa wajahnya dan rambutnya. Merasakan sejuknya udara dari tempat yang begitu alami ini.


Bimo berharap angin yang berhembus ini dapat membawa kesedihannya pergi bersama angin.


Jika Ia berada di tempat yang begitu asri ini,Ia jadi teringat dengan seorang perempuan yang sangat menyukai tempat yang berbau alami seperti tempat yang Ia kunjungi saat ini.


Kini Bimo tahu,mengapa perempuan itu sangat menyukai tempat yang begitu alami dan tenang ini. Alasannya adalah karena bisa menenangkan diri dari segala kesedihan dengan memandang pemandangan yang indah di mata dan merasakan udara sejuk serta angin yang sepoi-sepoi membuat diri sendiri lebih nyaman.Itulah yang bisa Bimo rasakan saat di tempat ini.


Tanpa pikir lama,Bimo pun melakukan seperti yang dikatakan perempuan itu.


Perlahan Ia memejamkan kedua matanya sambil menghirup udara yang segar disana.


Entah kenapa setelah Ia berada di tempat ini,Ia merasakan tubuhnya cukup rileks dan lebih tenang pastinya.


Seandainya perempuan itu ada disisinya sekarang ini,pasti Bimo akan lebih tenang dan rasa bersedihnya juga akan berkurang.


"Meca,gue harap Elo kembali seperti dulu dan menemani gue di tempat favorit Elo ini." Gumam Bimo sambil memandang lurus ke pemandangan yang indah didepannya.


Ya,perempuan yang dimaksud Bimo tidak lain dan tidak bukan adalah Meca.


Meca adalah seorang perempuan yang menyukai tempat yang begitu alami nan indah ini. Seperti pegunungan atau tempat alami yang belum tercampur tangan manusia.


Bimo ingat betul dengan semua yang disukai Meca seperti tempat yang Ia kunjungi saat ini. Saat itu,Meca sangat bahagia dapat berkunjung di tempat favoritnya. Saat itu,Bimo juga ikut bahagia saat melihat perempuan yang disayanginya bahagia.


Sebenarnya Ia berkunjung di tempat favorit Meca ini juga untuk menghilangkan kerinduannya terhadap Meca karena beberapa hari ini Ia tidak bertemu dengannya. Dengan berkunjung di tempat ini,Bimo dapat mengingat kebersamannya dengan Meca.


Walaupun tak bisa bertemu,ingin rasanya mendengar suara Meca,tetapi keinginan itu juga tak terpenuhi karena saat Bimo meneleponnya pasti Meca tak akan menjawabnya. Lagi-lagi Meca masih belum membuka hatinya untuknya. Situasi ini mungkin lebih sulit untuk mendekati Meca daripada sebelumnya.


Setelah cukup lama berdiam diri di tempat favorit Meca ini,akhirnya Bimo pun memutuskan untuk pergi.


Bimo pun membawa mobilnya pergi menuju kampus untuk kuliah.


Bimo pun telah sampai di kampusnya,begitu sampai Ia pun langsung berjalan masuk ke dalam kampus menuju ruang kelasnya.


Tetapi,sebelum itu Bimo ingin memastikan keberadaan seseorang yang dirindukannya yaitu Meca.


Ia pun memilih untuk berjalan kembali ke ruang kelas Meca untuk melihatnya disana.


Kini Bimo pun telah berada di depan kelas Meca,Ia memilih berdiri di depan pintu sambil melirik tempat setiap tempat duduk yang ada di ruang kelas itu.


Terus melihat kanan dan kiri,tetapi orang yang dirindukannya tak kunjung ditemukan.


Rasa kecewa dan sedih yang dirasakan Bimo saat ini setelah mengetahu orang yang dirindukannya tidak ada di depan matanya.


Lalu Bimo pun pergi dari depan ruang kelas Meca dengan perasaan yang sedih pastinya.


Saat Ia baru melangkahkan kakinya,Ia melihat seorang perempuan yang melewatinya sambil membawa buku pangkuan tangannya.


Bimo teringat jika perempuan itu adalah teman dekat Meca yang tidak lain adalah Dhira.


"Tunggu!! Elo Dhira kan?" Tanya Bimo sambil memegang tangan Dhira untuk membuatnya berhenti berjalan.


"I.. ya.. Kenapa?" Tanya Dhira dengan gugupnya.


Betapa terkejutnya dan bahagianya Dhira saat ini,saat tahu Bimo memanggil namanya. Itu berarti,Bimo masih belum melupakannya sejak masih di bangku SMA dulu. Hal kecil seperti itu saja,mampu membuat jantung Dhira berdegup kencang saat berhadapan langsung dengan Bimo.


"Boleh gue bicara sebentar sama Elo?" Tanya Bimo.


Kedua mata Dhira pun langsung terbelalak dengan sempurnanya,seakan tak percaya dengan pertanyaan Bimo barusan.


Tidak bisa dipungkiri senangnya Ia hari ini,sampai senyum di bibirnya tidak bisa tertahan lagi.


"Iya boleh." Sahut Dhira sambil tersenyum dengan manisnya.


Setelah mendapat persetujuan dari Dhira,lalu Bimo pun langsung mengajak Dhira untuk mengikutinya.


Sesekali Dhira melirik Bimo yang berjalan berdampingan bersamanya dengan wajah yang sumringah. Sedangkan Bimo hanya berjalan dengan pandangan lurus dan wajah yang datar.


Saat Bimo dan Dhira berjalan bersama,ada sepasang mata yang melihat mereka dengan tatapan benci dan seakan tak percaya setelah melihat Bimo dan Dhira jalan bersama. Yang membuatnya tambah benci adalah saat melihat wajah Dhira yang begitu bahagia saat bisa jalan bersama Bimo.


"Lihat aja Elo nanti!!" Gumam seseorang yang menatap Dhira dengan tatapan benci.


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya...


Tunggu kelanjutannya dan selamat membaca ๐Ÿ˜๐Ÿ˜