
Tak lama kemudian,Pak supir pun mengabari Meca jika sudah sampai di rumahnya.
Meca pun mengangguk mengerti dengan ucapan Pak supir.
Setelah itu,Meca kembali mengeluarkan tubuh Bimo dari taksi lalu membopohnya kembali.
"Tunggu dulu,pak. Saya masuk dulu sebentar,nanti saya kembali."
"Iya,mbak."
Lalu,Meca pun langsung membopoh Bimo ke rumahnya. Karena pintu rumahnya terkunci,Meca pun mengambil kunci rumahnya yang telah Ia minta dari Ibunya tadi di rumah sakit.
Meca pun segera membuka pintu rumahnya dengan kunci.
Setelah terbuka,Meca pun membopoh Bimo untuk masuk ke dalam rumahnya.
Meca memutuskan untuk membawa Bimo ke dalam kamarnya.
Sesudah sampai di kamarnya,Ia pun meletakkan Bimo di ranjang tempat tidurnya dengan hati-hati.
Seperti janjinya kepada pak supir tadi,Meca akan kembali untuk membayar biaya taksi dan pastinya tak lupa Ia nanti akan mengambil koper milik Bimo yang berada di dalam bagasi taksi tersebut.
Meca pun telah menghampiri Pak supir tadi. Tanpa basa-basi,Meca pun segera menanyakan tagihannya pada pak supir.
Setelah pak supir itu memberitahunya,lantas Meca pun langsung membayar tagihan yang diberikan oleh pak supir tersebut.
Dirasa uangnya masih cukup untuk membayar tagihan tersebut,Meca pun membayar dengan uangnya sendiri.
Meca juga merasa tak enak hati jika harus menggunakan uang Bimo.
Tak lupa,Meca meminta pak supir untuk mengambil koper Bimo yang berada di dalam bagasi.
Pak supir pun langsung bertindak,Ia segera mengeluarkan koper dari penumpangnya itu.
Setelah Meca membayar tagihan dan mendapatkan koper milik Bimo,Ia pun berpamitan kepada pak supir. Sebelum berpamitan tak lupa juga Meca mengucapkan terima kasih kepada pak supir tersebut.
******
Meca pun kembali ke dalam rumahnya,Ia langsung masuk ke kamarnya untuk melihat kondisi Bimo.
Masih sama dengan sebelumnya,Bimo masih tertidur dengan lelapnya.
Karena Bimo tertidur masih dengan memakai sepatu,lantas Meca pun berpikiran untuk melepas sepatunya.
Meca pun segera menghampiri Bimo,lalu melepas kedua sepatunya dan kaos kakinya supaya Bimo lebih nyaman saat tidur. Tak lupa juga,Meca menyelimuti Bimo agar tak kedinginan.
Sebelum beranjak pergi dari ranjang,Meca duduk sebentar di samping Bimo tidur.
Meca memandang laki-laki di depannya itu dengan tatapan sayunya.
"Kenapa Elo nggak percaya sama gue? Gue tu...cintanya hanya sama Elo,Bim." Gumam Meca sambil mengelus dengan lembut kepala Bimo.
"Huh...Maaf,gue selalu buat Elo sedih gini. Gue janji,setelah ini gue nggak akan buat Elo sedih dan salah paham lagi sama gue."
Di saat tengah asik bergumam,tiba-tiba Meca menguap. Itu artinya Ia sudah mulai mengantuk.
Karena waktu juga sudah begitu malam,akhirnya Meca pun memutuskan untuk tidur.
Lalu,Meca pun beranjak pergi keluar dari kamarnya.
Karena kamarnya dipakai oleh Bimo,maka dari itu Meca memilih untuk tidur di kamar Ibunya mumpung Ibunya tidak ada di rumah,Ia bisa menggunakan kamar Ibunya dahulu.
******
Tit....tit....tit....
Bunyi alarm ponsel Meca bergema di kamar Ibunya.
Mendengar alarm ponselnya berbunyi,Meca pun segera meraih ponselnya lalu mematikan bunyi alarm tersebut.
Meca memang tadi malam memasang alarm di ponselnya supaya Ia tidak terlambat bangun untuk menyiapkan sarapan untuk Bimo.
Ya,pagi ini Meca mempunyai keinginan untuk membuat sarapan untuk Bimo.
Meca merasa kasihan dengan Bimo,karena Ia yakin dari kemarin perut Bimo belum terisi apa-apa selain minuman alkohol yang tidak menyehatkan itu.
Maka dari itu,Meca pun memutuskan untuk membuat sarapan agar Bimo kembali sehat dan mabuknya sedikit berkurang.
Sebelum memasak,Meca terlebih dahulu memilih untuk mandi.
Tak butuh waktu lama,Meca pun telah selesai mandi.
Seperti biasa,Meca akan berpakaian ala kadarnya. Ia hanya memakai hoodie panjang nan besar dengan celana sepaha.
Setelah selesai bersiap diri,Meca pun segera meluncur ke dapur.
Di sisi lain ada Bimo yang baru bangun dari tidurnya.
Ia mencoba membuka kedua matanya yang masih berat untuk terbuka.
Saat Ia baru bangun,tiba-tiba Ia merasa pusing pada kepalanya.
Mungkin rasa pusing itu di sebabkan oleh mabuknya semalam.
"Gue ada dimana?" Gumam Bimo sambil melihat ke kanan dan ke kiri.
Bimo merasa bingung dengan kamar yang Ia pakai. Nuansa kamar ini seperti kamar perempuan.
Tapi ini kamar siapa?
Dan siapa orang yang membawanya kemari?
Bimo mencoba mengingat kejadian semalam saat Ia mabuk.
Sialnya,Bimo tak bisa mengingatnya setelah berpikir dengan keras.
Yang Ia ingat hanya saat Ia berada di bar saja. Setelah itu,Bimo tak tahu apa yang terjadi sampai Ia di bawa di kamar ini.
Bimo pun turun dari ranjang tempat tidur,Ia akan beranjak pergi dari kamar ini.
Bimo ingin tahu siapa orang yang membawanya pulang dari bar kemarin.
Akhirnya Bimo pun keluar dari kamar.
Entah kenapa Bimo seperti tidak asing dengan rumah ini.
Rasa-rasanya Ia pernah singgah di rumah ini.
Kedua matanya terus menelisik setiap ruangan dari rumah ini.
Tiba-tiba mulut Bimo menganga saat melihat Meca yang ada di dapur.
Bimo menganga bukan karena terkejut saat melihat Meca.
Ia menganga karena melihat Meca sedang menguncir rambutnya. Di pandangannya,seakan-akan Meca menguncir rambutnya dengan gerakan slowmo.
Di setiap Meca mengambil rambutnya untuk dia kucir,semakin Bimo terpesona dengan paras cantik Meca.
"Memang cantik." Ucap Bimo tanpa sadarnya.
Kini,Bimo tahu siapa orang yang membawanya pulang kemarin. Yang pasti adalah Meca.
Jadi,Ia tadi tidur di kamar Meca?
Bimo tersenyum senang saat melihat Meca masih perhatian dengannya.
Buktinya,Meca kemarin merawatnya saat sedang mabuk dan kini Meca membuat makanan untuknya.
Apa dia kemarin memang benar salah paham saja terhadap Meca?
Jika Meca memang sudah bersama Rengga,tapi mengapa dia masih peduli dengannya?
Ya,benar mungkin kemarin Ia hanya salah paham saja pada Meca.
Bimo pun menghampiri Meca yang sedang memasak. Ia berjalan dengan pelan supaya Meca tak tahu kehadirannya.
Setelah sampai di belakang Meca,Bimo pun memeluk pinggang Meca dari belakang.
Mendapat pelukan dari Bimo,Meca pun sungguh terkejut.
Karena masih gugup,Meca memilih untuk tidak langsung menghadap ke arah Bimo.
"Elo..suda...h ba..ngun." Ucap Meca dengan terbata-bata karena gugup.
"Meca!! Maaf,karena sudah salah paham sama Elo. Maaf,kalau gue egois."
Meca pun tersenyum tipis mendengarkan permintaan maaf Bimo. Ia lalu berbalik badan dan memberanikan diri menatap Bimo.
"Tolong percaya sama gue! Kalau Elo ingin hubungan kita langgeng,kita harus percaya satu sama lain. Jika ada kesalahpahaman harus diselesaikan dengan baik dahulu." Ucap Meca dengan nada bicara yang lembut.
Bimo pun mengangguk mengerti dengan perkataan Meca. Mendengar suara Meca,membuat Bimo merasa lebih tenang.
"Meca! Boleh,gue minta sesuatu?" Tanya Bimo dengan tatapan menggodanya.
"Apa?"
Bimo pun mendekatkan bibirnya ke telinga Meca lalu membisikan sesuatu.
"Gue mau ciuman dari Elo."
Meca pun langsung mendorong tubuh Bimo agar menjauh darinya.
"Gue nggak mau!
"Kenapa?" Tanya Bimo sambil merengek pada Meca.
Meca menutup hidungnya sambil berkata "Bau Elo alkohol,gue nggak suka. Sana mandi dulu!!
"Jadi,kalau bau gue wangi Elo mau cium gue?" Tanya Bimo sambil menunjukkan senyum menggodanya.
Meca pun langsung terdiam seribu bahasa. Sepertinya alasan yang di buatnya kurang tepat.
"Enggak gi..tu!! Ya udah ah...mandi sana!! Ucap Meca sambil mendorong Bimo untuk pergi ke kamar mandi.
Meca tak peduli dengan ocehan Bimo,Ia terus mendorong Bimo supaya masuk ke dalam kamar mandi.
Setelah berhasil mendorong Bimo sampai kamar mandi,baru Meca kembali tenang dan memasak kembali di dapur.
Sesudah beberapa menit berbaur di dapur,akhirnya Meca telah menyelesaikan masakannya.
Ia berhasil membuat sup,telur dadar dan pastinya nasi.
Karena di kulkas hanya ada sedikit bahan,jadi Meca hanya bisa memasak makanan yang sederhana saja.
Tepat sekali saat Meca selesai masak,Bimo juga telah selesai dari kegiatannya yaitu mandi.
Bimo terlihat lebih segar setelah Ia mandi.
Setelah mandi,Bimo pun menghampiri Meca di meja makan.
"Ayo makan!! Gue buatkan sup supaya mabuk Elo agak berkurang."
Bimo pun duduk di kursi berhadapan dengan Meca.
"Makasih ya....untuk sarapannya."
"Iya...sama-sama. Oh..iya tentang Rengga,gue akan jelasin semua. Elo dengerin sambil makan aja."
"Emang Elo nggak ikut makan?"
"Gue belum lapar. Gue biasanya makannya agak siangan."
Bimo pun mengangguk mengerti. Tanpa malu-malu Bimo segera mengambil sup dan telur dadar untuk lauknya.
Bimo memang merasa lapar saat baru bangun dari tidurnya tadi.
"Tentang Rengga sebenarnya gue cuma balas budi sama dia. Gue belakangan ini dekat sama dia,karena gue jagain dia di rumah sakit."
Bimo pun menghentikan makannya sejenak lalu berkata "Balas budi? Emang apa yang Rengga lakukan ke Elo,sampai Elo harus balas budi sama dia?"
"Sebenarnya gini......
Meca pun mulai menceritakan kejadian sebelum Rengga jatuh sakit karenanya.
Ia bercerita dengan detail supaya Bimo tidak salah paham lagi padanya.
"Oh...gitu. Tapi,kenapa Elo sulit untuk menjawab telepon dari gue?"
"Eh...itu. Karena gue terlalu sibuk harus kuliah dan belum lagi gue pulangnya dimintai tolong sama Ibunya Rengga untuk menjaganya."
Meca memilih untuk tak bercerita tentang Rengga yang mematikan ponselnya supaya Ia tidak bisa berteleponan dengan Bimo.
Meca tak mau Bimo mengetahuinya,jika nanti Ia jujur pada Bimo,pasti akan ada keributan antara Bimo dengan Rengga.
Itu yang tidak Meca inginkan,maka dari itu Meca memilih untuk menjawab pertanyaan Bimo tersebut dengan alasan lainnya.
"Jadi,ini benar salah paham gue aja. Maaf,Mec!"
"Ya,nggak apa-apa. Tapi,setelah ini tolong dengerin gue dulu,jangan ambil kesimpulan sendiri!"
"Iya,pasti."
"Ya udah,Elo sambung makannya."
Bimo pun menuruti perkataan Meca,Ia melanjutkan kembali makannya sampai kenyang.
Tak lama kemudian,Bimo telah menyelesaikan makan paginya. Ia menghabiskan makanannya sampai tak tersisa.
Melihat Bimo telah selesai makan,Meca pun segera beranjak dari duduknya lalu mengambil piring bekas Bimo untuk dicuci.
Saat Meca akan mengambilnya,tiba-tiba Bimo langsung mencegahnya.
"Biar gue yang cuci piringnya."
"Nggak apa-apa gue aja."
"Elo sudah masak untuk gue,jadi gue harus balas budi dengan cuci piring." Ucap Bimo sambil membawa piring yang Ia pakai tadi ke tempat cuci piring.
Meca pun akhirnya mengalah untuk tidak mencuci piring. Ia membiarkan Bimo melakukan apa yang dia suka.
Entah apa yang dipikirkan Meca,saat ini Ia ingin memeluk Bimo dari belakang.
Meca ingin sesekali menunjukkan rasa sayangnya untuk Bimo. Tapi,Ia terlalu malu untuk melakukan hal-hal seperti itu.
Meca pun mencoba mendekati Bimo perlahan-lahan.
Saat Meca berada tepat di belakang Bimo,Ia pun mencoba mengalungkan kedua tangannya ke pinggang Bimo.
Meca masih saja ragu-ragu untuk memeluk Bimo. Antara maju dan mundur untuk melakukan hal itu.
"Meca!!" Tiba-tiba Bimo berbalik badan dan menghadap Meca.
Meca pun terkejut dan langsung mengurungkan niatnya untuk memeluk Bimo tadi. Ia pun memundurkan tubuhnya secara otomatis.
"Kenapa Elo terlihat gugup?" Tanya Bimo setelah melihat wajah Meca memerah.
"Eng..gak..apa-apa." Ucap Meca tanpa menoleh ke arah Bimo.
Tak mau larut dalam gugupnya,Meca pun pergi berlalu dari hadapan Bimo.
'Gue nggak akan lewatkan kesempatan ini.' Batin Bimo.
Bimo pikir ini adalah waktu yang tepat untuk mencium Meca.
Bimo pun menarik tangan Meca,lalu mengunci tubuh Meca di depan wastafel cuci piring.
Meca pastinya terkejut dengan perbuatan Bimo ini. Kedua matanya terbelalak dengan sempurna.
"Elo harus mengabulkan permintaan gue tadi." Ucap Bimo sambil menunjukkan senyum smirknya.
"Perminta..an?"
"Tutup mata Elo!"
Entah apa yang terjadi dengan Meca,Ia dengan mudahnya menuruti perkataan Bimo.
Meca seperti tersihir dengan tatapan dan perkataan Bimo. Ia pun perlahan menutup kedua matanya.
Bimo pun tersenyum tipis melihat Meca menutup kedua matanya. Tak mau menunggu lebih lama lagi,Bimo pun segera mendekatkan wajahnya ke wajah Meca.
Perlahan-lahan Bimo mulai menutup kedua matanya. Jarak wajahnya dengan wajah Meca pun hanya beberapa senti saja.
5 senti....3 senti....2 senti....dan..
"Meca!! Ibu pulang!" Teriak Ibunya Meca tiba-tiba.
Mendengar suara Ibunya,Meca pun langsung membuka kedua matanya dan melihat Ibunya yang ternyata sudah di dalam rumah.
"Ibu!"
********
Hayo.....Meca!! 🥲🥲
Kamu ketahuan 🙊🙊
Jangan lupa klik ikon 👍untuk menaikkan popularitas novel saya....
Please...😟😟
Happy reading 🥰🥰