
Sebelum pulang ke rumahnya,Bimo terlebih dahulu mengantar Meca pulang ke rumahnya.
Tak butuh waktu lama,Bimo pun telah sampai di depan rumah Meca
Setelah sampai,Meca pun segera turun dari mobil Bimo,begitu juga dengan Bimo.
"Makasih ya Mec,Elo udah beri waktu Elo untuk bersama gue tadi." Ucap Bimo sebelum berpisah dengan Meca.
"Iya. Gue juga terima kasih sama Elo." Sahut Meca dengan tersenyum tipis.
"Ya udah,gue pulang duluan ya.." Pamit Bimo.
"Ya. Eh,Bimo.."Ucap Meca berusaha menghentikan Bimo sebelum beranjak pergi untuk bertanya mengapa Bimo terlihat cemas setelah mendapat panggilan telepon tadi.
Bimo menghentikan langkahnya lalu menoleh pada Meca kembali.
"Hati-hati." Ucap Meca.
Meca mengurungkan niatnya untuk menanyakan tentang hal yang akan tanyakan tadi. Pikir Meca,masih bisa menanyakan esoknya ataupun saat bertemu Bimo lagi.
"Iya. Sampai jumpa." Ucap Bimo sambil melambaikan tangannya.
Meca pun membalas lambaian tangan Bimo sambil tersenyum.
Meca pun terus melihat Bimo sampai Bimo benar-benar pergi dari rumahnya.
"Semoga Bimo baik-baik aja." Gumam Meca setelah Bimo telah pergi dari rumahnya.
Meca berharap tidak ada yang membuat Bimo sedih setelah mendapat panggilan telepon tadi.
*****
Entah kenapa Bimo merasakan firasat yang tidak enak setelah mendapat panggilan telepon dari Ibunya yang mengatakan jika Ayahnya pulang,apalagi saat sampai rumah langsung menanyakan keberadaanya.
Tetapi,bagaimanapun juga Bimo telah menyiapkan mentalnya untuk bertemu ayahnya nanti.
Bimo pun telah sampai di depan rumahnya. Sebelum masuk ke dalam rumahnya,Bimo menarik napasnya lalu menghembuskan nafasnya dengan pelan untuk mengurangi rasa cemasnya.
Begitu,Ia masuk ke dalam rumah,Ia langsung disambut oleh Ibunya.
"Bimo,kamu disuruh temui Papa kamu di ruang kerjanya." Ucap Ibunya Bimo dengan nada panik.
"Iya,Ma." Sahut Bimo.
Bimo pun segera pergi menuju ruang kerja ayahnya untuk menemuinya.
Sebelum masuk,Bimo pun mengetuk pintu ruang kerja ayahnya.
Tok...tok..tok...
Bunyi ketukan pintu dari tangan Bimo pun bergema,sehingga ayahnya mendengarnya.
"Masuk!!" Suruh ayahnya Bimo yang berada di dalam ruang kerjanya.
Bimo pun segera masuk dan menemui ayahnya yang sedang duduk di kursi kerja.
"Ada apa,Pa?" Tanya Bimo.
"Papa langsung to the point aja. Papa dengar dari pihak kampus,kamu menghabiskan uang yang banyak hanya untuk mengadakan acara yang tidak berguna. Apa itu benar?" Ucap Ayahnya Bimo dengan nada pelan.
Memang Ayahnya Bimo bukan tipe orang yang suka basa-basi. Ia tipekal orang yang tegas dan keras.
Buktinya,setelah mendengar jika Bimo berulah di kampus,Ia langsung tegas bertindak pada Bimo.
Lalu,Ia memutuskan untuk pulang dari perjalanan bisnisnya di Amerika hanya untuk menemui Bimo dan memberikan Bimo pelajaran atas ulahnya tersebut.
"Papa,nggak pernah nyuruh kamu untuk bersantai. Kamu harus belajar!!! Berani-beraninya kamu bermalas-malasan disini!!" Ucap Ayahnya Bimo sambil membentak Bimo saat ucapan terakhir.
Bimo pun hanya diam dengan raut muka kesal.
Walaupun Ia menjawab dan menjelaskan kesalahannya pada ayahnya,pasti ayahnya tidak menghiraukannya.
Bimo sudah terbiasa dengan sikap ayahnya yang selalu keras padanya sejak kecil,maka dari itu saat ayahnya marah Bimo hanya bisa diam dan menjawab setiap pertanyaanya dengan jawaban yang singkat.
"Oh..Papa tau,kenapa kamu bilang nggak mau kuliah di luar negeri karena ingin jagain Mama kamu. Alasan kamu itu sebenarnya hanya akal bulus kamu aja kan buat ngelabuhin Papa supaya kamu nggak dipaksa kuliah di luar negeri?" Ucap Ayahnya Bimo.
"Enggak. Aku memang mau jagain Mama disini. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi,kayak aku kehilangan Kakak Sita dulu." Sahut Bimo mencoba menyindir soal kematian Kakaknya yang disebabkan oleh Ayahnya sendiri.
"Jangan buat alasan lagi!! Mulai sekarang,Papa nggak akan percaya sama alasan yang kamu buat itu." Ucap Ayahnya Bimo.
Memang kenyataanya,Ayah Bimo tidak pernah mempercayai Bimo dan selalu memutuskan semuanya sendiri.
Itulah yang membuat Bimo benci terhadap Ayahnya sendiri.
"Kali ini Papa tidak mau penolakan,mulai semester depan,kamu harus kuliah di luar negeri. Ingat,Papa nggak mau penolakan lagi dari kamu!!" Ucap Ayahnya Bimo dengan penekanan.
Bimo pun sudah menduga jika Ayahnya akan memindahkannya di luar negeri.
Bagaimana pun juga,Bimo tidak bisa melaksanakan perintah Ayahnya itu dengan mudah.
Apalagi,Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu menemani Ibunya di sini. Ia tak mau meninggalkan Ibunya sendiri disini,terlebih lagi Ayahnya juga jarang pulang ke rumah.
Hal itu yang membuat Bimo khawatir jika harus meninggalkan Ibunya sendiri.
Bimo seperti trauma jika kejadian Kakaknya akan terulang lagi.
"Sebaiknya kamu pikirkan semua yang Papa perintahkan tadi." Ingat Ayahnya Bimo pada Bimo.
"Baik.Kalau tidak ada yang dibicarakan lagi,aku permisi." Pamit Bimo pada Ayahnya.
Bimo memilih pergi dari hadapan Ayahnya,karena sudah cukup Ia berdebat dengan Ayahnya. Sungguh lelah!
"Keluarlah!!" Suruh Ayah Bimo.
Setelah mendapat persetujuan dari Ayahnya,Bimo pun langsung balik badan dan keluar dari ruang kerja Ayahnya tersebut.
Setelah melihat Bimo telah hilang dari hadapannya,Ayahnya Bimo menyunggingkan senyumannya.
"Bagaimanapun juga,aku akan tetap buat Bimo menuruti perintahku kali ini." Gumam Ayahnya Bimo.
Ayahnya Bimo mengambil ponselnya lalu mencari kontak yang akan Ia telepon saat ini. Setelah ketemu,Ia pun langsung menelepon orang tersebut.
"Tolong cari tahu tentang Bimo. Ikuti dia!!" Perintah Ayahnya Bimo pada seseorang yang diteleponnya.
***
Selepas dari ruang kerja Ayahnya,Bimo langsung pergi menuju kamar tidurnya untuk menenangkan pikirannya sejenak.
Setiba di kamarnya,Bimo langsung duduk di tempat tidurnya sambil merenungkan setiap perkataan dari Ayahnya tadi.
"Enggak!! Gue nggak bakal ke luar negeri." Gumam Bimo dengan penuh keyakinan.
Bimo sudah memutuskan keputusannya itu dengan sangat yakin,sebisa mungkin Ia akan berusaha membuat Ayahnya membatalkan keberangkatannya untuk kuliah di luar negeri.
Jangan Lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya
Happy reading ๐