
Dan lebih anehnya lagi,Bimo memajukan wajahnya lebih dekat pada Meca sambil memiringkan kepalanya.
Semakin dekat,dekat,dan...
Cup...
Satu kecupan lembut dari bibir Bimo ke bibir Meca.
Karena terkejut,Meca pun membelalakkan matanya saat bibirnya dan bibir Bimo bertemu.
Ingin rasanya Meca mendorong Bimo dan melepas bibir Bimo darinya,tetapi entah kenapa Meca merasakan kelembutan di dalam ciuman Bimo ini.
Tidak seperti saat Bimo menciumnya waktu di toserba lalu yang sedikit kasar.
Perlahan Meca memejamkan matanya dan menikmati ******* lembut dari bibir Bimo.
Merasa tidak ada perlawanan dari Meca,Bimo pun semakin memperdalam ciumannya dengan lembut pastinya supaya Meca merasa nyaman.
Kruyuk...kruyuk....kruyuk...
Tiba-tiba suara perut Meca bergemuruh saat Ia dan Bimo sedang berciuman dengan lembutnya.
Cacing-cacing di perut Meca meminta makanan di dalam sana.
Mendengar suara keroncongan dari perut Meca,Bimo pun melepas bibirnya dari bibir Meca. Ia melihat Meca masih memejamkan matanya.
"Elo lapar ya?" Tanya Bimo sambil menahan tawa.
Mendengar pertanyaan dari Bimo,lalu Meca pun membuka kedua matanya yang dari tadi masih Ia pejamkan.
"O.h..i.ya. Ayo segera keluar dari hutan ini." Sahut Meca dengan gagap dan buru-buru.
Lalu Meca pun segera melarikan diri dari hadapan Bimo sebelum Bimo melihat wajahnya yang sedang gugup itu.
Betapa malunya Meca,disaat momen seperti ini perutnya malah berbunyi.
Dan Ia pun tidak menyadari jika perutnya tadi keroncongan saat berciuman tadi.
Pasti Bimo berpikir jika Meca sangat menikmati ciumannya sampai Ia tidak sadar jika perutnya mengeluarkan bunyi.
Sambil berjalan,Meca terus memikirkan semua itu.
Melihat Meca gugup,Bimo pun hanya tersenyum. Menurut Bimo saat Meca gugup seperti itu,Meca terlihat lucu dan menggemaskan.
Bimo pun lalu memutuskan untuk menyusul Meca yang lari dahulu darinya.
Merasa Bimo sekarang ada di dekatnya,Meca pun langsung memalingkan wajahnya ke samping untuk menghindari tatapan mata dari Bimo.
"Mec." Panggil Bimo.
'Kenapa sih manggil-manggil segala. Lihat aja kalau nanti bahas tentang ciuman tadi,gue akan nonjok muka Elo,Kak.' Batin Meca dengan kesalnya.
"Mec,kok Elo lihat samping sih saat gue panggil." Ucap Bimo.
Mendengar ejekan dari Bimo,dengan terpaksa Meca menoleh ke wajah Bimo.
"Elo..." Ucap Bimo yang sengaja Ia potong supaya Meca terlihat gugup dan terlihat lucu di matanya.
Mendengar perkataan Bimo yang dipotong seperti itu,membuat Meca bersiap-siap untuk menonjok wajah Bimo dengan kepalan tangannya yang sudah Ia siapkan dari tadi.
'Lihat aja kalau Kakak bicara soal ciuman tadi.' Batin Meca sambil mengepalkan tangan kanannya dan menunjukkan wajah seramnya pada Bimo.
Bimo terkejut saat raut muka Meca tidak terlihat gugup lagi. Malah Meca menunjukkan raut muka menakutkan yang siap untuk menerkamnya.
Tentu saja raut muka Meca saat ini tidak menggemaskan ataupun lucu.
Jika diperhatikan dengan seksama,memang wajah Meca menunjukkan kemarahan padanya.
Tak mau melihat Meca marah,Bimo pun segera mengucapkan apa ucapan yang tadinya Ia potong tadi sebelum Meca menerkamnya dengan habis.
"Elo kok bisa tersesat sih?" Tanya Bimo.
Mendengar pertanyaan dari Bimo,Meca pun merasa lega saat Bimo tidak membicarakan tentang ciuman Bimo dengannya tadi.
Lalu Meca pun mengurungkan niatnya untuk menonjok muka Bimo dengan kepalan tangannya dan membiarkan tangannya tidak mengepal lagi.
"Oh..itu. Gue tersesat karena nolong anak burung yang jatuh dari sarangnya terus gue cari sarangnya dan gue nggak sadar kalau udah masuk hutan." Jawab Meca.
"Apa? Jadi,Elo masuk ke hutan gara-gara itu? Ya ampun..Mec,Kenapa Elo ceroboh banget?" Tanya Bimo seakan-akan tak percaya dengan penjelasan Meca.
"Kenapa sih emangnya? Gue kasihan lihat anak burung itu kepisah dari Ibunya. Coba kalau Kakak yang jadi anak burung itu,pasti Kakak juga akan sedih." Sahut Meca.
"Iya deh. Elo memang selalu bener,tapi Elo juga jangan bahayakan keselamatan Elo." Ucap Bimo.
"Iya. Ya udah ayo cepat keluar dari hutan ini,gue udah laper Kak." Rengek Meca karena dari tadi perutnya mengeluarkan bunyi,sedangkan Bimo terus mengajaknya bicara sehingga bisa memakan waktu untuk keluar dari hutan ini nanti.
Bimo pun mengangguk lalu menggandeng tangan Meca sebelum pergi.
Meca pun sempat terkejut,tetapi Ia tidak menolak gandengan tangan Bimo.
Justru Ia mengaitkan kelima jarinya ke jari-jari Bimo.
Bimo pun tersenyum dengan bahagia,akhirnya Meca tidak cuek dan menjauh lagi darinya.
"Ayo!!" Ajak Bimo dengan senyuman manis seperti gulali.
Meca pun mengangguk pelan sambil membalas senyuman Bimo dengan senyuman manisnya.
Tangan Bimo sebelah kanan memegang ponselnya yang Ia jadikan sebagai senter,sedangkan tangan kirinya menggandeng tangan Meca.
Mereka lalu berjalan beriringan untuk mencari jalan keluar dari hutan ini.
Hubungan Meca dan Bimo yang manis akan dimulai nih...☺☺
Jangan lupa ikutin terus ceritanya dan yang paling penting jangan lupa like dan Vote...
Tekan ikon ini 👍untuk menaikkan popularitas novel ini.