
Bimo pagi-pagi keluar dari rumahnya. Ia bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Tetapi sebelum itu,Ia sejak kemarin teringin untuk menemui Meca. Maka dari itu,hari ini Ia berencana untuk menjemput Meca untuk pergi ke kampus bersama.
Setelah siap,Ia pun berangkat menuju rumah Meca.
********
Sementara itu,Meca tengah sarapan bersama Ibunya di meja makan dengan lauk seadanya.
Keheningan terjadi di meja makan. Suara yang terdengar hanya suara piring dan sendok yang digunakan untuk makan.
Ibu Meca pun berinisiatif untuk angkat bicara.
"Kamu masih marah sama Ibu soal tadi malam?" Tanya Ibu Meca.
Setelah ditanya Ibunya,Meca pun menghentikan makannya dahulu.
"Enggak kok bu....Aku udah lupain soal tadi malam. Tapi,saat aku pulang kerja nanti,Ibu nggak boleh bicarain soal jodoh lagi sama aku. Janji?" Kata Meca.
"Huh....iya-iya. Ibu nggak ngomongin soal jodoh lagi saat kamu pulang kerja. Tapi kalau Ibu ngomongin soal jodoh ke kamu saat waktu senggang boleh kan?" Tanya Ibu Meca dengan nada bicara sedikit meledek.
"Ibu....!!! Teriak Meca dengan kesalnya.
Ibu Meca hanya tertawa mendengar teriakan lucu anaknya.
Tok...tok....tok....
Suara ketukan pintu membuat Ibu Meca dan Meca terkejut dan saling pandang satu sama lain.
"Siapa Mec? Pagi-pagi gini namu?" Tanya Ibu Meca.
"Meca buka dulu pintunya." Kata Meca.
"Eh...Ibu aja,kamu terusin makannya aja. Nanti kamu terlambat kuliahnya." Kata Ibu Meca.
Ibu Meca pun berdiri dan berjalan menuju pintu rumahnya untuk menemui siapa orang yang mengetuk pintu.
Krek....
Suara pintu terbuka, setelah pintunya dibuka oleh Ibu Meca, Ia sangat gembira saat melihat orang yang berkunjung ke rumahnya adalah Bimo.
"Nak Bimo ternyata. Ayo masuk...Mecanya lagi sarapan tadi." Kata Ibu Meca dengan ramahnya.
Bimo pun membalas keramahan Ibu Meca dengan senyum ramahnya.
"Iya...bu. Terima kasih." Kata Bimo.
"Mec,ada yang nyariin kamu." Teriak Ibu Meca yang masih berada di depan pintu.
Suara Ibunya terdengar sampai tempat makan Meca.
Mendengar ada yang mencarinya,Meca pun langsung menyudahi sarapannya.
Ia pun berjalan menghampiri Ibunya yang dari tadi memanggil namanya.
"Nga...pain Kakak kesini?" Tanya Meca dengan gugup.
"Mec,kamu nggak boleh gitu. Ada orang yang mau bertemu sama kamu,malah kamu ngomong kayak gitu." Kata Ibu Meca.
"Mec,gue kesini mau anter Elo ke kampus." Kata Bimo.
"Nggak perlu. Gue bisa sendiri." Timpal Meca lalu pergi berjalan ke arah keluar pintu rumahnya.
Melihat kelakuan anaknya yang keras kepala,Ibu Meca menghampiri Meca lalu mencubit lengan anaknya itu.
"Ahh...sakit bu..." Rengek Meca pada Ibunya.
"Kamu itu ya....Kenapa jadi kayak gini,nggak ngehargai orang banget. Ibu nggak pernah ngajar kamu kayak gini." Omel Ibu Meca sambil memukul lengan anaknya.
Melihat Meca dipukul oleh ibunya,Bimo pun tidak tega lalu menghentikan Ibu Meca agar tidak memukul Meca lagi.
"Udah...ibu! Jangan mukulin Meca. Ini salah saya karena maksa Meca buat penuhin kemauan saya. Mending,Ibu mukulin saya aja." Kata Bimo sambil berdiri di depan Meca untuk melindunginya dari Ibunya.
"Nggak bisa gitu,ini itu salah anak Ibu. Biar Ibu yang ngajar Meca." Kata Ibu Meca.
"Kalau Ibu mukul Meca,berarti saya juga ikut terluka. Karena saya juga ngerasain apa yang Meca rasain." Kata Bimo lalu menoleh ke arah Meca setelah menyelesaikan ucapannya.
Bimo dan Meca pun saling tatap satu sama lain dengan sangat lekat.
Ibu Meca yang melihat anaknya sedang jatuh cinta pun ikut bahagia.
Ia senyum-senyum sendiri melihat kedua orang yang sedang bertatapan mesra itu.
"Ehem...ehem...Mau tatap-tatapan sampai kapan nih?" Ledek Ibu Meca.
Bimo dan Meca pun tersadar lalu membuang muka antara satu sama lain.
"Ya udah,kalian berangkat sana. Hati-hati di jalan." Kata Ibu Meca.
Tiba-tiba Ibu Meca menghampiri Meca lalu membisikkan sesuatu di telinga Meca.
"Mec,setelah ini terusin tatap-tatapannya. Maafin Ibu udah hentikan keromantisan kalian." Bisik Ibu Meca pada Meca.
"Ibu...!!!" Teriak Meca pada Ibunya karena kesal digoda oleh Ibunya.
Setelah puas menggoda anaknya,Ibu Meca pun tertawa dengan lepasnya lalu lari dari hadapan Meca dan Bimo dengan senangnya.
"Ibu Elo ngomong apa?" Tanya Bimo dengan penasarannya.
"Enggak ngomong apa-apa." Jawab Meca dengan sewotnya.
Meca pun keluar dari rumahnya tanpa menghiraukan Bimo yang berada disampingnya.
Bimo bingung melihat wajah Meca yang terlihat marah setelah Ibunya membisikkan sesuatu kepadanya.
Ia tidak tahu apa yang dibisikkan ibu Meca pada Meca sampai-sampai Meca kesal setelah mendengarnya.
Lalu Bimo pun memutuskan untuk berjalan mengikuti Meca dari belakangnya.