ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 133



Jam terus berdenting,malam hari kian larut.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam.


Setelah makan malam,Meca memutuskan untuk pergi ke kamarnya.


Saat berada di kamarnya,Meca terus melihat jam dinding yang menempel di tembok kamarnya untuk melihat waktu yang terus saja berputar.


Tut..tut..tut...


Bunyi ponsel Meca menandakan adanya sebuah panggilan masuk. Bunyi ponselnya berhasil membuyarkan fokus Meca pada jam dinding yang dari tadi dilihatnya itu.


Tanpa pikir lama,Meca pun langsung melihat nama orang yang tertera di layar panggilan telponnya itu.


Meca pun mengeryitkan dahinya setelah melihat nomor yang tidak dikenal yang tertera di panggilan teleponnya.


Dengan ragu-ragu,Meca pun mencoba mengangkat panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal itu.


"Halo,dengan siapa ya?"


"Apakah kamu lupa tentang kesepakatan antara kita? Ini udah waktunya!!"


Meca pun terperangah setelah mendengar suara orang yang meneleponnya itu.


Ya,Meca tahu betul dengan suara orang yang tengah melakukan panggilan telepon dengannya itu. Bahkan,maksud dari ucapan orang itu pun Meca sangat paham.


Orang itu tidak lain adalah Ayahnya Bimo.


Meca pun mencoba menjauhkan ponselnya dari telinganya untuk menghilangkan rasa takutnya.


"Halo!!""


Mendengar suara Ayahnya Bimo yang mulai meninggi,Meca pun segera meletakkan ponselnya kembali ke telinganya.


"Iya. Beri saya waktu sedikit lagi. Sa..ya..akan bertemu dengan Bimo dulu."


"Baiklah. Waktu kamu hanya sampai jam 10 malam. Kalau kamu terlambat,saya anggap kamu setuju dengan kesepakatan yang saya buat."


Sebelum Meca menjawab,Ayahnya Bimo langsung menutup panggilan teleponnya dahulu tanpa kata perpisahan.


Sebelum kehabisan waktu,Meca pun segera menelepon Bimo untuk mengajaknya bertemu.


Setelah teleponnya tersambung dengan ponsel Bimo,Meca pun langsung mengutarakan tujuannya untuk mengajak Bimo bertemu.


Tanpa penolakan,Bimo pun langsung mengiyakan permintaan Meca tersebut.


Angin malam yang sepoi-sepoi yang berhembus membuat suasana malam menjadi sedikit dingin.


Entah apa yang dipikirkan oleh Meca,sehingga Ia mengajak Bimo bertemu di rooftop kampus pada malam hari seperti ini. Mungkin Ia hanya ingin tempat yang tidak begitu ramai,sehingga bisa membicarakan tujuannya dengan baik dan tentunya lebih tenang.


Untung saja,kampus masih belum tutup karena belum terlalu malam.


Sambil menunggu Bimo,Meca pun berdiri di pinggir rooftop dengan melihat suasana malam dari atas rooftop kampus yang begitu indah yang mampu menenangkan pikirannya yang terus berkecamuk sekarang.


"Meca!!" Panggil Bimo.


Merasa namanya dipanggil,Meca pun langsung menoleh dan menghampiri Bimo yang berlari ke arahnya.


"Kenapa Elo ngajak bertemu disini? Ini kan udah malam." Ucap Bimo begitu sampai di hadapan Meca.


"Maaf. Gue ngerepotin Elo." Ucap Meca.


"Gue nggak masalah kok. Tapi,disini kan dingin,apalagi kampus sebentar lagi akan tutup. Sebenarnya ada apa Elo nyuruh gue kesini?" Tanya Bimo setelah mengomeli Meca seperti biasanya.


"Sebenarnya gue mau ceritain masalah yang penting sama Elo.Tentang...." Ucap Meca yang masih tak sanggup untuk menceritakan semua masalahnya pada Bimo.


"Tentang apa? Ceritakan!!" Suruh Bimo yang sudah penasaran dengan kelanjutan ucapan Meca tersebut.


"Sebenarnya gue buat kesepakatan lagi sama Ayah Elo. Kesepakatan ini harus gue setujui,karena menyangkut beasiswa kuliah gue. Jadi..." Ucap Meca yang belum terselesaikan karena langsung disela oleh Bimo.


"Jadi,gue harus putus sama Elo untuk menyetujui kesepakatan antara Elo dan Papa gue? Iya kan?" Tanya Bimo yang telah berhasil menerka apa yang akan diucapkan Meca nanti kepadanya.


Meca pun menganggukkan kepalanya dengan terpaksa guna menanggapi pertanyaan Bimo tersebut.


Setelah mengutarakan tujuannya itu,Meca pun tak berani untuk menatap wajah Bimo. Ia hanya menundukkan kepalanya sambil menahan kesedihan yang membuatnya ingin menjatuhkan air matanya.


Hancur. Sakit. Kecewa.Perasaan itulah yang diderita oleh Bimo saat ini.


Bimo tahu Meca melakukan ini semua karena terpaksa,tetapi bagaimanapun juga Ia juga merasa kecewa terhadap keputusan Meca.


Padahal,Meca sudah berjanji padanya untuk tidak mengecawakan dirinya dan pernah bilang padanya jika Meca ingin berkorban untuknya.


Bukankah janji dan ucapan Meca itu hanya palsu dan cuma perkataan yang manis di mulut Meca saja?


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘๐Ÿปuntuk menaikkan popularitas novel saya...


Happy reading ๐Ÿ˜๐Ÿ˜