
Bimo pun mengajak Dhira ke taman depan kampus untuk berbincang-bincang dengannya mengenai Meca.
Bimo pun duduk di kursi kayu dan diikuti Dhira yang juga duduk bersanding disampingnya.
"Maaf,gue boleh tanya nggak?" Tanya Bimo yang memulai pembicaraan.
Dhira pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan.
"Gue tahu Elo kan temannya Meca. Orang yang dekat dengan Meca. Gue mau tanya,apa Elo pernah bertemu Meca belakangan ini?" Tanya Bimo.
Mendapat pertanyaan dari Bimo,senyum Dhira pun langsung sirna.
Bagaimana tidak?
Bimo bertemu dengannya bukan karena ingin berbincang-bincang secara pribadi dengannya,melainkan ingin menanyakan tentang Meca.
Betapa bodohnya Ia saat berpikir jika Bimo akan berpaling dengannya. Mungkin masalah masa lalu pun Bimo tidak akan mengingatnya,bagaimana bisa Bimo menyukainya?
Dhira menundukkan kepalanya sambil terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di pikirannya.
Melihat Dhira hanya diam saja,Bimo pun memanggil Dhira untuk mengejutkannya.
Setelah dipanggil oleh Bimo,Dhira pun langsung menengadahkan kepalanya lalu menghadap ke arah Bimo.
"Oh...Meca. Belakangan ini,gue nggak bertemu sama dia. Kenapa Elo tanya sama gue,bukannya Elo selalu bersama Meca ya?" Tanya Dhira balik.
"Gue ada masalah sama Meca belakangan ini. Jadi,sulit untuk bertemu sama dia. Tapi,Meca juga nggak pernah komunikasi dengan Elo lewat telpon atau sms?" Tanya Bimo sekali lagi untuk memastikan keberadaan Meca.
"Nggak pernah. Gue dan Meca jarang berkomunikasi lewat telpon atau sms." Jawab Dhira.
"Gue boleh minta tolong untuk telpon Meca sekarang?" Tanya Bimo.
"Boleh kok. Bentar..." Sahut Dhira lalu mencari ponselnya dan langsung mencari kontak Meca. Setelah itu,langsung meneleponnya.
Tut...tut...tut..
Mendengar sambungan telpon Dhira yang tersambung dengan Meca,membuat Bimo terperangah dan menunggu dengan senang.
"Gimana?" Tanya Bimo setelah Dhira menoleh ke arahnya.
"Sepertinya,nomor Meca sudah tidak aktif lagi. Sepertinya dia sudah ganti nomor." Ucap Dhira.
Seakan tak percaya,Bimo pun mencoba menelepon Meca dengan ponselnya sendiri untuk memastikan kebenaran dari ucapan Dhira.
Setelah panggilan teleponnya tersambung,ternyata yang muncul bukan suara Meca,melainkan suara operator yang menyatakan jika nomor Meca sudah tidak aktif lagi. Memang benar yang diucapkan oleh Dhira,jika Meca telah mengganti nomor ponselnya.
Merasa frustasi,Bimo pun mengacak-ngacak rambutnya sambil menundukkan kepalanya.
Melihat Bimo merasa sedih,Dhira pun turut sedih melihatnya. Ia memang tak tahu,apa yang membuat hubungan Meca dan Bimo retak,tetapi Ia bisa menyimpulkan jika Bimo lah yang membuat hubungan dengan Meca retak.
Dhira tidak tahu harus senang ataupun sedih mendengar jika hubungan Bimo dan Meca telah retak. Di satu sisi,Ia masih mengharapkan cinta dari Bimo,tetapi di sisi lain Ia juga tidak mau melihat Bimo ataupun Meca sedih karena hubungan mereka yang sedang tidak baik saat ini.
Yang bisa Dhira lakukan saat ini adalah mencoba menghibur Bimo.
"Apa Elo merasa sedih sekarang?" Tanya Dhira.
"Enggak. Gue merasa kesal,cuma merasa kesal." Ucap Bimo masih dengan menundukkan kepalanya.
"Bimo...." Ucap Dhira terpotong karena Bimo sudah menyela pembicaraannya.
"Makasih,ya atas waktu Elo. Gue duluan..." Pamit Bimo lalu beranjak dari duduknya dan langsung pergi dari hadapan Dhira.
Belum sempat Dhira menghentikan Bimo,Bimo sudah pergi menjauh dari darinya saja.
Keinginannya untuk menghibur Bimo pun gagal,Ia sekarang hanya menghela nafas dengan gusar.
"Dhira!!" Panggil seorang perempuan dengan suara cukup nyaring.
Dhira pun refleks menoleh ke arah sumber suara itu.
Kedua mata Dhira pun langsung terbelalak setelah mengetahui jika orang yang memanggilnya itu adalah Angel.
Flashback on
Saat Bimo dan Dhira berjalan bersama,Angel kebetulan melihat mereka. Ia menatap mereka dengan tatapan benci dan seakan tak percaya setelah melihat Bimo dan Dhira jalan bersama. Yang membuatnya tambah benci adalah saat melihat wajah Dhira yang begitu bahagia saat bisa jalan bersama Bimo tanpa merasa berdosa sedikitpun.
"Lihat aja Elo nanti!!" Gumam Angel dengan senyum menyeringai di bibirnya.
Lalu Angel pun memutuskan untuk mengikuti Bimo dan Dhira dibelakang mereka.
Setelah tahu mereka duduk di taman,Angel pun tidak langsung menghampiri mereka.
Ia memilih untuk melihat mereka dari kejauhan.
Tak butuh waktu lama,Bimo pun akhirnya pergi meninggalkan Dhira.
Inilah saatnya,Ia menghampiri Dhira dan membuat perhitungan dengannya.
Dari kejauhan,Ia langsung memanggil Dhira dengan suara nyaringnya yang terdengar seperti sedang membentak Dhira.
Flashback Off
Melihat Angel menghampirinya,Dhira pun merasa takut jika Angel melakukan kekerasan padanya lagi.
Ia pun memilih untuk menghindari Angel dengan melarikan diri.
Dhira pun tak mendengarkan perintah Angel,Ia bersikeras untuk melarikan diri darinya.
Tetapi,kelihatannya pelariannya tidak berhasil,karena Angel sudah menghadang di depannya terlebih dahulu.
"Mau kemana Elo? Gue mau bicara sama Elo." Ucap Angel saat berada dihadapan Dhira.
"Apa yang akan Elo lakuin ke gue?" Tanya Dhira dengan ketakutan.
"Ikut gue!!" Ucap Angel sambil menarik tangan Dhira agar mengikutinya.
"Nggak mau... " Ucap Dhira yang mencoba melepas genggaman tangan Angel dari tangannya.
Walaupun Dhira meronta-ronta,Angel tidak memperdulikannya. Ia tetap menarik tangan Dhira untuk membawanya sampai ke tempat tujuannya.
Untung saja,Dhira hanya berhadapan dengan Angel. Kedua teman Angel yaitu Lina dan Dea tidak ikut menghakiminya saat ini. Dhira tak habis pikir jika Ia harus berhadapan dengan Angel,Dea,dan Lina.
Bisa-bisa Ia habis di tangan mereka bertiga.
Sampailah Angel membawa Dhira ke tempat tujuannya yaitu gudang kampus.
Alasan Ia membawa Dhira disini adalah karena tempatnya yang sepi dan pastinya tidak ada orang yang mendengar pembicaraanya.
Setelah sampai di tempat tujuannya,Angel pun melepas genggaman tangannya dari Dhira.
"Kelihatannya Elo belum menyerah deketin Bimo ya? Tanpa rasa bersalah,Elo berjalan bersama Bimo dengan wajah sok polos Elo itu." Ucap Angel dengan menunjukkan senyum seringainya pada Dhira.
Dhira pun tidak bisa berkata-kata,Ia hanya diam sambil menundukkan kepalanya karena takut.
"Gimana cara gue untuk bisa buat Elo nyerah untuk dapatin Bimo? Apa gue harus membunuh Elo?" Tanya Angel yang terdengar seperti sebuah ancaman bagi Dhira.
"Maaf,Ngel. Kalau gue boleh jujur,memang gue nggak bisa lupain Bimo. Tapi,mulai sekarang gue akan berusaha lupain Bimo. Yang pasti,alasan gue lupain Bimo bukan karena ancaman Elo atau perintah dari Elo." Ucap Dhira sambil mendongakkan kepalanya pada saat mengucapkan kalimat akhirnya.
"Maksud Elo?" Tanya Angel sambil mengerutkan dahinya karena bingung.
"Asal Elo tahu,Bimo nyariin gue itu hanya tanya soal Meca dan Meca.Pikirannya udah dipenuhi oleh Meca.Bimo sudah sungguh-sungguh mencintai Meca. Dia nggak bakal cinta lagi sama Elo. Jadi,Elo jangan salahin gue lagi kalau Bimo benci sama Elo. Karena Bimo sudah lupakan masa lalu kita,dia sekarang sedang mencari masa depannya." Jelas Dhira.
Angel pun terdiam sesaat sambil memikirkan semua ucapan Dhira itu.
"Terus,Elo pikir gue akan berubah pikiran karena ucapan Elo itu? Enggak. Gue nggak akan melupakan masa lalu itu. Gue..tetap benci sama Elo. Paham?" Ucap Angel sambil melototkan kedua matanya pada Dhira dengan tak lupa menunjukkan senyum seringainya.
Setelah berbicara dengan Dhira,Angel pun pergi dari hadapan Dhira begitu saja.
"Gue tahu,Ngel. Elo pasti juga akan menyerah untuk dapatin cintanya Bimo,sama kayak gue." Gumam Dhira saat Angel sudah pergi menjauh dari hadapannya.
Flashback masa lalu Dhira dan Angel
Dhira dan Angel adalah teman baik pada waktu SMA. Mereka membentuk geng bersama Dea dan Lina.
Persahabatan mereka berempat terbentuk karena pada saat waktu itu,mereka ber-empat berada di dalam kelas yang sama.
Bercanda,bersenang-senang bersama setiap hari.
Tetapi,tibalah pada suatu hari yang membuat persahabatan antara Angel dan Dhira mulai retak.
Pada suatu hari,Angel meminjam sebuah bolpoin kepada Dhira.
Dhira meminta kepada Angel,untuk mengambilnya sendiri didalam tasnya.
Angel pun menuruti perintah Dhira dan langsung mengambil bolpoin di tas Dhira.
Angel pun menggeledah tas Dhira untuk menemukan kotak pensilnya.
Pada saat Angel menggeledah tas Dhira,Ia pun dibuat penasaran dengan satu kotak coklat dengan kartu ucapan diatas kotak coklat itu.
Angel pun tersenyum setelah mengetahui jika sahabatnya itu mulai mengagumi seorang laki-laki. Apalagi,sampai membawa coklat untuk menyatakan perasaanya.
"Dasar,mau nembak orang nggak bilang-bilang sama temennya sendiri!!" Gumam Angel sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
Karena penasaran,Angel pun mengambil satu kotak coklat itu untuk melihat siapa orang yang akan ditembak Dhira melalui kartu ucapan yang ditempel diatas kotak coklat itu.
Saat Angel membuka kartu ucapan itu,Ia membungkam mulutnya seakan tak percaya jika orang yang akan ditembak Dhira adalah kekasihnya saat ini yaitu Bimo.
Bukankah Dhira tahu jika Angel sekarang sedang berpacaran dengan Bimo?
Tetapi mengapa Dhira malah menusuknya dari belakang seperti ini?
Mengapa Dhira mengkhianatinya? Bukankah Ia dan Dhira bersahabat?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus melintas dipikiran Angel sambil terus membaca kartu ucapan yang berisi pernyataan cinta Dhira kepada Bimo.
Tanpa sadar,air mata Angel mulai jatuh di pipinya. Hatinya sakit karena dikhianati oleh sahabatnya sendiri.
Masa lalu antara Angel dan Dhira di sambung di bab selanjutnya ya...
Karena kalau diselesaikan di bab ini,akan panjang banget nantinya ๐
Jadi,ditunggu aja ya next up nya....
Jadilah orang sabar,karena orang sabar katanya disayang tuhan ๐๐
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya...
Tunggu kelanjutannya dan selamat membaca ๐๐