
Pada percobaan pertama tak berhasil,Meca terus mencoba agar laju mobil Bimo berhenti dengan berteriak " Tunggu,Bim. Gue mau ngomong!!"
Tak lama,kemudian mobil Bimo berhenti,Meca pikir Bimo akan menemuinya sebentar. Tetapi,setelah beberapa menit Meca tunggu di luar mobil Bimo,Bimo juga tak kunjung keluar dari mobilnya.
Justru mobil Bimo malah berjalan kembali dan seperti tidak menghiraukan keberadaan Meca.
"Bim!!" Teriak Meca sambil melihat mobil Bimo yang mulai berjalan menjauh darinya.
Meca merasa kecewa saat Bimo tak menghiraukannya. Mungkin memang benar yang dipikirkan oleh Meca,jika Bimo akan pergi untuk melupakannya. Maka dari itu,Bimo enggan untuk menemuinya.
Memang benar jika Meca mengharapkan Bimo untuk melupakannya,tetapi Meca tak mengharapkan jika Bimo pergi jauh hanya untuk melupakannya.
Kini,Meca hanya bisa menerima kenyataan apabila Bimo sudah tidak mencintainya lagi. Kini hubungannya dengan Bimo telah berakhir.
Lalu,Meca pun memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kampusnya.
Saat Ia berbalik badan,sudah ada Angel,Lina dan Dea yang siap untuk menghadangnya.
Dengan tangan yang dilipat di atas dada dan wajah yang sombong,Angel berdiri di depan Meca bersama kedua temannya yang senantiasa berada di belakangnya.
"Bagaimana rasanya ditolak?" Ledek Angel sambil menahan tawanya.
Saat Angel bertanya,Lina dan Dea ikut tertawa ringan mendengar ledekan Angel kepada Meca.
"Huh.....terserah Elo mau ngomong apa. Gue nggak ada waktu buat ladenin Elo." Ucap Meca lalu melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Angel.
Saat Meca baru akan melangkahkan kakinya,Angel segera menghentikannya dengan sebuah pertanyaan yang dilontarkan dari mulutnya.
"Hei!! Elo nggak mau tahu kemana perginya Bimo?" Tanya Angel masih dengan lagak sombongnya.
Meca pun terdiam sesaat setelah mendengar pertanyaan Angel itu.
Ia pun kembali menatap Angel seraya berkata "Memangnya kemana perginya?"
"Ha..ha...ha...Ternyata Elo sama aja kayak cewek lainnya yang kepo sama kehidupan Bimo. Gue mau tanya deh,memangnya seberapa penting Bimo untuk Elo?" Tanya Angel sambil tersenyum sinis.
Meca terlihat tersenyum tipis lalu mendekatkan mulutnya di telinga Angel sambil berkata pelan "Ya,Bimo penting banget buat gue,karena dia pernah jadi pacar gue."
Setelah berbisik pada Angel,lalu Meca menampakkan senyum miringnya lalu berjalan untuk pergi dari hadapan Angel.
Angel masih berdiri kaku di tempat berdirinya. Ada rasa percaya dan rasa ragu-ragu dengan ucapan Meca tadi.
Jika Meca memang pernah jadi pacar Bimo,berarti memang Bimo sudah tidak mencintainya lagi.
Apa seharusnya Ia harus melupakan Bimo dan tidak mengharapkan cinta darinya lagi??
*******
Sekitar 30 menit,Bimo akhirnya sampai di bandara.
Setelah sampai di bandara,Bimo langsung menunggu keberangkatannya yang waktunya kurang 15 menit lagi.
Ayah dan Ibunya juga sudah bersamanya di bandara ini.
Bimo dan kedua orang tuanya sedang menunggu keberangkatannya di kursi tunggu.
Melihat anaknya terlihat murung dengan menundukkan kepalanya,Ibunya Bimo mencoba mendekati putranya itu untuk menghiburnya.
"Bim,Kenapa kamu terlihat murung dari tadi?" Tanya Ibunya Bimo
Mendengar Ibunya bertanya,Bimo pun langsung menengadahkan kepalanya lalu menoleh ke arah Ibunya dengan senyum tipis yang tercetak di bibirnya.
"Nggak apa-apa kok bu. Cuma lagi lelah aja." Ucap Bimo dengan pelan.
Sebenarnya Ibunya Bimo tahu,jika Bimo tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Terlihat dari senyum Bimo yang dipaksakan saat putranya itu mengatakan jika Ia tidak apa-apa.
Ibunya Bimo tahu betul jika putranya itu sangat mencintai Meca.
Ibunya Bimo bisa menduga jika Bimo sedih juga karena,hubungan Bimo dan Meca saat ini mungkin sedang buruk karena masalah yang muncul selepas Ayahnya Bimo pulang.
Saat ini,Ibunya Bimo tidak tahu harus berbuat apa,Ia hanya bisa mencoba untuk menghibur Bimo supaya rasa sedihnya sedikit berkurang.
"Bim,jangan terlalu sedih dengan semua ini! Ibu tahu pasti berat untuk kamu meninggalkan orang yang kamu sayangi disini. Tapi,bukan berarti kamu nggak bisa pulang kok. Kamu masih bisa bertemu dengan orang yang kamu sayangi nanti saat kamu sudah selesai kuliah di Amerika." Ucap Ibunya Bimo yang mencoba menenangkan Bimo.
Bimo pun tersenyum setelah mendengar setiap perkataan Ibunya. Jika dipikir-pikir memang benar apa yang telah dikatakan Ibunya itu.
Buat apa sedih? Toh,juga tidak bisa membuat Bimo batal kuliah di Amerika.
Yang harus Bimo lakukan sekarang adalah bersungguh-sungguh dalam belajar disana,supaya Ia bisa cepat menyelesaikan kuliahnya disana dan segera pulang menemui Meca.
Saat Ia pulang nanti,tidak ada penghalang lagi baginya untuk mendekati Meca. Bahkan,Ayahnya sekalipun titik.
Tak terasa keberangkatannya kurang 10 menit lagi,Ayahnya Bimo menyuruh Istrinya dan Bimo untuk bersiap-siap menuju pesawat yang akan ditumpangi mereka nanti.
Ibunya Bimo dan Bimo pun langsung menuruti arahan Ayahnya.
Lalu,mereka pun berjalan menuju lobi guna memeriksa tiket pesawat.
Saat hampir sampai,tiba-tiba Bimo merasa perutnya sakit serta ingin mengeluarkan hajatnya.
Tanpa pikir lama,Bimo pun segera izin kepada orang tuanya untuk pergi ke toilet sebentar.
Melihat Bimo kesakitan,lantas Ayahnya Bimo maupun Ibunya Bimo segera memberi izin kepada anaknya itu untuk ke toilet. Tetapi,Ayahnya Bimo menyuruh untuk cepat,karena waktu keberangkatannya hampir tiba.
Bimo pun mengiyakan perintah Ayahnya. Lalu Ia langsung berlari untuk mencari toilet.
Sekitar 5 menit di toilet,akhirnya Bimo telah keluar dari toilet sesudah mengeluarkan hajatnya.
Setelah itu,Bimo pun berjalan menuju lobi untuk menemui kedua orang tuanya yang sedang menunggunya.
Saat Ia sedang berjalan,tiba-tiba Bimo melihat Meca berada di bandara.
Bimo berpikir,ini pasti hanya halusinasinya saja. Karena memang Bimo terus memikirkan Meca sejak pergi dari kampusnya tadi.
Tetapi,halusinasinya itu terlihat nyata. Dari penglihatan Bimo,Meca saat ini sedang berjongkok sambil menangis tersedu-sedu.
Jika memang ini halusinasinya,mengapa banyak orang yang melihat Meca di sekitar tempat Meca berjongkok sekarang?
Tidak,ini bukan halusinasi belaka.
Lalu,Bimo pun langsung berlari menghampiri Meca. Ia merasa tak tega melihat Meca menangis,apalagi disaksikan oleh banyak orang di sekitarnya.
Setelah Bimo berada di depan Meca,kini Bimo tahu memang bukan halusinasinya saja. Memang benar jika Meca ada di bandara saat ini dan sedang berada di hadapannya.
Tetapi yang jadi pertanyaan,mengapa Meca saat ini berada di bandara dengan menangis tersedu-sedu??
Mungkinkah Meca tak ingin Bimo pergi,maka dari itu Meca menyusulnya di bandara?
Tapi,bukankah Meca ingin Bimo pergi,supaya Ia dapat melupakannya?
Sebelum berbicara kepada Meca,Bimo terus memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dipikirannya itu.
Penasaran dengan kejadian selanjutnya?
Ikutin terus ceritanya.....๐๐
Jangan lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya.
Happy reading ๐ฅฐ๐ฅฐ