
Melihat perilaku Ibunya,Meca langsung tertawa terbahak-bahak. Emang Ibu dengan anak sama ngeselinnya kalau diajak bicara.
Bimo pun hanya tersenyum kecut menanggapi jawaban Ibu Meca yang ngeselin.
"Bu,jangan lah kayak gitu. Pura-pura aja kalau Ibu nggak kenal sama Kak Bimo. Biar Kak Bimonya seneng perkenalannya diterima." Kata Meca sambil tertawa.
"Iya deh,maafin Ibu ya sekali lagi." Kata Ibu Meca pada Bimo.
"Oiya nak,mau mampir dulu. Biar Ibu bikinin kopi atau teh." Tawar Ibu Meca pada Bimo.
"Nggak usah Bu terima kasih,saya mau langsung pulang aja. Karena ini juga udah malam." Kata Bimo.
"Oh...gitu.Ya udah terima kasih ya udah nganterin Meca pulang. Terus maafin Ibu tadi udah nuduh kamu yang enggak-enggak." Kata Ibu Meca sambil mengelus tangan Bimo pelan.
"Iya Bu sama-sama dan masalah Ibu yang nuduh saya tadi,saya udah maafin Bu. Ya udah ya Bu saya pulang dulu. Mec gue duluan." Pamit Bimo pada Ibu Meca dan Meca.
Meca menanggapi Bimo hanya dengan anggukan kepalanya.
"Hati-hati ya nak bawa mobilnya." Kata Ibu Meca dengan ramahnya.
Bimo yang tadinya berjalan menghadap ke depan langsung berbalik badan setelah mendengar ucapan Ibu Meca.
Bimo menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Ibu Meca.
Tak lama mobil Bimo pun sudah semakin jauh dari rumah Meca.
"Kamu harus ceritain semua yang menimpa kamu tadi." Kata Ibu Meca pada Meca dengan serius.
Meca hanya menganggukkan kepalanya pertanda Ia mengerti dengan maksud Ibunya.
Ibu Meca dan Meca pun masuk kedalam rumahnya.
Ibu Meca langsung duduk di kursi ruang tamu diikuti juga dengan Meca yang duduk di kursi di depan Ibunya.
"Ibu sekarang mau tanya,kenapa kamu pulang terlambat kayak gini?" Tanya Ibu Meca.
"Tadi itu waktu aku di mobil sama Kak Bimo. Kak Bimo hampir nabrak anak kecil,tapi untungnya dia nya nggak apa-apa. Cuma pingsan aja. Terus sama aku dan Kak Bimo dibawa ke rumah sakit. Eh ternyata anak kecil itu pingsan buka sebabnya hampir ketabrak tadi tapi gara-gara kelaparan." Jelas Meca.
"Oh... jadi gitu. Tapi anak kecil itu udah nggak apa-apa kan?" Tanya Ibu Meca khawatir.
"Nggak apa-apa kok bu... tadi Kak Bimo udah beliin dia makanan biar nggak kelaparan. Soalnya dia itu anak jalanan gitu bu.... ya jadi nggak ada yang ngurus kan." Kata Meca.
"Tunggu, yang beliin makanan nak Bimo?" Tanya Ibu Meca heran.
"Wah... berarti nak Bimo itu laki-laki baik ya. Buktinya dia suka memberi terus juga ramah." Kata Ibu Meca.
"Bukannya Ibu tadi nggak suka sama Bimo?" Tanya Meca heran.
"Tadi kan Ibu cuma salah paham aja. Mec berapa lama kamu kenal sama dia?" Tanya Ibu Meca
"Kenapa ini? Ibu terlihat mencurigakan." Tanya Meca sambil menyipitkan matanya curiga kepada Ibunya.
"Jawab dulu pertanyaan Ibu!" Suruh Ibu Meca.
"Seminggu lah perkiraan." Jawab Meca dengan singkat.
"Oh...Ibu seneng banget kalau kamu bisa kenal sama Bimo. Secara kamu kan belum punya pacar selama ini terus nanti...." Kata Ibu Meca terpotong karena Meca menyelanya.
"Tunggu bu.... kayaknya aku tau maksud Ibu. Apa Ibu nyuruh aku pacaran sama Kak Bimo?" Tanya Meca dengan curiga.
"Bener banget. Kamu emang pinter banget kayak Ibu." Kata Ibu Meca dengan bangganya.
"Ibu,aku nggak pengen pacaran dulu. Dan juga aku mau milih laki-laki yang baik." Kata Meca
"Bukannya Bimo itu laki-laki yang baik?dan juga dia kan tipe idela kamu. Udah tinggi,ganteng dan sifatnya baik menurut Ibu." Jelas Ibu Meca.
"Aku nggak mau mikirin itu dulu Bu....
Aku mau masuk kamar dulu ya..." Kata Meca sambil berdiri dan berjalan menuju kamarnya.
"Meca...sampai kapan kamu mau jomblo?" Teriak Ibu Meca kepada Meca karena Meca sudah masuk ke dalam kamarnya.
Ibunya hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan gusar melihat periku anaknya.
Memang Ibu Meca mengharapkan Meca untuk bisa menjalin hubungan dengan laki-laki sejak Meca kelas 3 SMA,yang pasti laki-lakinya juga harus baik dan tidak berperilaku yang macam-macam pada Meca. Tetapi Meca selalu tidak menghiraukan itu.
Menurut Meca memilih laki-laki yang baik di jaman sekarang itu sulit.
Maka dari itu,Ia masih belum pusing-pusing memikirkan tentang pacaran.
Mungkin ada pepatah mengatakan'Jodoh itu di tangan Tuhan'.
Kata-kata itu membuat Meca percaya jika Ia belum bisa mempunyai pacar sekarang mungkin Tuhan belum merencanakan laki-laki untuk menjadi pendamping Meca. Mungkin kelak jika Tuhan sudah berkehendak Ia akan bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik sesuai rencana Tuhan.
Mungkin kata-kata itu bisa dijadikan prinsip oleh Meca.