ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bimo Tukang Maksa



Lalu Bimo pun memutuskan untuk menyusul Meca di apotek.


Meca pun telah mendapatkan obat yang ada di resep tadi,Ia tinggal membayarnya.


"Semuanya jadi Rp. 70.000." Kata penjaga apotek pada Meca.


"Iya...bentar." Ucap Meca lalu merogoh sakunya untuk mengambil uang.


Ternyata uang yang Ia bawa tidak cukup,Ia hanya mempunyai uang sebesar Rp.50.000 saja.


Meca diam sejenak sambil berpikir bagaimana cara membayarnya.


Sementara itu,Bimo sedang memandang Meca dari kejauhan.


Ia heran mengapa raut wajah Meca seperti orang yang sedang bingung.


Setelah diperhatikan,akhirnya Bimo mengerti mengapa Meca terlihat bingung.


Lalu Ia pun langsung menghampiri Meca.


Bimo pun langsung mengeluarkan dompetnya.


"Berapa harga semua obat ini?" Tanya Bimo pada apoteker.


Meca pun langsung menoleh ke arah Bimo. Ia terkejut dengan kehadiran Bimo disampingnya.


"Semuanya jadi Rp.70.000." Jawab apoteker tersebut.


Bimo pun langsung mengeluarkan uang 100.000 dari dompetnya lalu menyerahkan ke apoteker tersebut.


"Maaf ya Kak...jadinya Kakak yang bayarin. Apa gini aja uang gue yang 50.000 ini Kakak bawa aja,terus yang sisanya gue bisa bayar nanti ke Kakak." Tawar Meca sambil menyodorkan uang 50.000 ke Bimo.


"Enggak usah. Gue bukan tempat orang minjem uang." Tolak Bimo.


"Tapi Kak...." Kata Meca terpotong karena disela oleh Bimo.


"Gue tahu gimana cara Elo bales utang ke gue." Sela Bimo sambil tersenyum licik.


Entah kenapa,Meca merasakan hawa yang tidak enak saat Bimo mengucapkan perkataannya tadi.


"Gi...mana?" Tanya Meca dengan ragu-ragu.


"Mas,ini kembaliannya." Sela apoteker disaat Meca dan Bimo sedang berbicara.


"Terima kasih..." Sahut Bimo sambil mengambil uang kembaliannya dan obat yang sudah dibelinya.


Tanpa aba-aba Bimo pun langsung menggandeng tangan Meca untuk pergi dengannya.


Bimo menggandeng tangan Meca dengan tangan kananya,sedangkan tangan kirinya menenteng kresek yang berisi obat yang sudah Ia beli tadi.


Meca pun tersentak kaget dengan perilaku Bimo padanya.


Bimo pun tak menggubris Meca.


Bahkan untuk menoleh pada Meca pun tidak.


"Gue akan marah,kalau Kakak kayak gini." Kata Meca saking kesalnya dengan Bimo.


Seketika Bimo pun langsung berhenti dan menoleh ke arah Meca.


Meca menatap Bimo dengan tatapan tajam seperti ingin menerkam Bimo.


"Jangan marah...gue nggak akan macem-macem. Gue cuma mau ajak Elo ke rumah gue. Gue mau nunjukkin orang yang pernah Elo tolong di rumah gue." Kata Bimo.


Meca pun bingung setelah Bimo mengatakan 'orang yang pernah Ia tolong'. Meca pun masih berfikir,tetapi Ia tetap saja tidak bisa mengingat siapa orang yang dimaksud oleh Bimo.


"Siapa Kak?" Tanya Meca dengan penasarannya.


"Makanya kalau penasaran,ikut ke rumah gue." Timpal Bimo.


"Tapi kan gue...." Ucapan Meca lagi-lagi dipotong oleh Bimo.


"Nggak boleh ada alasan Elo mau kerja. Gue tau masih lama jam kerja Elo." Sela Bimo.


Meca pun hanya menyengirkan mulutnya.


Tak tahu mengapa Bimo bisa tahu apa yang sedang dipirkan Meca.


Kali ini Meca hanya bisa pasrah,karena sudah tidak ada alasan lain untuk menolak Bimo.


Toh,Meca juga penasaran siapa orang yang ada dirumah Bimo yang pernah Ia tolong.


"Gimana mau kan?" Tanya Bimo untuk menyakinkan Meca sekali lagi.


"Iya,iya...gue mau. Gue emang nggak bisa nolak permintaan Kakak." Ucap Meca agak sedikit kesal.


"Gitu dong..." Kata Bimo sambil tersenyum puas.


Seperti biasa,Bimo memang banyak cara untuk bisa dekat-dekat terus dengan Meca.


Kali ini Bimo ingin menunjukkan sesuatu yang ada dirumahnya pada Meca.


Tak lama-lama lagi,akhirnya Meca dan Bimo pun segera pergi mencari kendaraan untuk menuju ke rumah Bimo.


Meca pun juga masih digandeng oleh Bimo.


Meca mencoba melepaskan pun tidak bisa karena Bimo terus menggenggamnya dengan erat.


Tolong like dan Vote 🙁