
Hari kian berganti membawa semua cerita di setiap waktunya. Di setiap cerita yang akan terjadi,selalu membawa kesedihan atau kebahagiaan. Kebanyakan orang akan berharap jika di setiap harinya merasakan kebahagiaan tanpa merasakan kesedihan.
Tetapi,tidak semua harapan bisa terwujud.
Hanya takdirlah yang bisa membuat harapan kita terwujud.
Di pagi ini Meca berangkat ke kampusnya seperti biasa.
Bimo juga mengantarnya ke kampus,tetapi tidak sampai di depan kampus,Meca sudah meminta turun. Alasannya masih sama yaitu tidak mau citra diri Bimo turun setelah semua orang tahu jika Bimo menjalin hubungan dengan wanita sepertinya.
Akhirnya Meca memutuskan untuk berjalan sendiri di kampus tanpa ada Bimo disampingnya.
Walaupun Bimo sedikit tidak suka dengan cara Meca,tetapi Ia sudah janji padanya untuk tidak berdekatan selama berada di kampus. Dan janjinya itu,tidak akan Ia ingkari.
Kini Meca sudah ada di dalam kelasnya. Semua orang yang ada di dalam kelas Meca pun langsung diam setelah mendapati jika dosennya masuk ke dalam ruang kelas. Mereka segera menyimak apa yang disampaikan dosen,begitu juga dengan Meca.
Saat di tengah-tengah pembelajaran,tiba-tiba ada seorang perempuan berseragam masuk ke dalam ruang kelas Meca dan menyampaikan sesuatu kepada dosen yang mengajar Meca.
"Disini ada yang namanya Meca?" Tanya Dosen yang mengajar di ruang kelas Meca.
"Saya." Ucap Meca sambil mengangkat tangannya.
"Kamu tolong ikutin Ibu ini ke ruangan kepala direktur!!" Suruh dosen tersebut.
Meca pun mengangguk pelan lalu beranjak dari duduknya dan mengikuti perempuan yang baru masuk ke dalam ruang kelasnya tadi.
Sebelum meninggalkan kelas,tak lupa Meca berpamitan dengan Dosen yang mengajarnya.
Meca merasa penasaran,mengapa Ia disuruh ke ruang kepala direktur di tengah-tengah pembelajaran berlangsung.
Karena penasaran,Meca pun memutuskan untuk menanyakannya pada perempuan yang sekarang ada di depannya itu.
"Permisi!!" Ucap Meca.
Seorang perempuan itu pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke belakang agar menghadap ke wajah Meca.
"Maaf,saya mau tanya. Kenapa saya disuruh ke ruang kepala direktur? Apa saya membuat masalah?" Tanya Meca.
"Saya hanya menjalankan kewajiban saya. Saya nggak tahu apa-apa. Kamu akan tahu begitu kamu masuk nanti." Sahut seorang perempuan yang berseragam tersebut.
"Oh..iya. Terima kasih." Ucap Meca sambil tersenyum.
Seusai bertanya,Meca dan seorang perempuan yang berseragam itu pun melanjutkan kembali perjalanan mereka menuju ruang kepala direktur.
Setelah sampai di depan ruang kepala direktur,seorang perempuan berseragam itu pun mempersilahkan Meca masuk dan pamit pergi pada Meca setelah selesai melaksanakan tugasnya.
Sebelum perempuan itu pergi,tak lupa Meca mengucapkan terima kasih karena sudah mengantarkannya ke ruang kepala direktur.
Dengan hati yang ragu-ragu,perlahan Meca membuka kenop pintu ruangan tersebut.
Pintu perlahan terbuka seiring Meca mendorong pintu tersebut.
Setelah Meca masuk,tampak seorang laki-laki yang sudah berumur sedang duduk di kursi kerjanya sambil melihat dokumen yang dipegangnya.
"Permisi. Bapak mencari saya?" Tanya Meca.
Pertanyaan Meca telah membuyarkan fokusnya pada dokumen yang Ia baca tadi.
Kepala direktur itu pun langsung menutup dokumennya lalu menghadap ke arah Meca.
"Kamu yang bernama Mecalina Putri?" Tanya Bapak kepala direktur itu.
"Iya." Jawab Meca dengan singkat.
"Dari dokumen yang saya baca tadi. Kamu adalah anak penerima beasiswa dari kampus ini. Kamu bahkan mengalahkan beberapa anak yang ikut tes,dan kamu mendapat juara satu. Apa itu benar?" Ucap Bapak kepala direktur itu.
"Iya. Tapi,ada apa sebenarnya saya dipanggil kesini?" Tanya Meca.
"Sebenarnya kamu akan saya perkenalkan dengan orang yang memberi beasiswa kepada kamu. Apakah kamu ingin tahu?" Tanya Bapak kepala direktur itu.
"Iya,boleh." Sahut Meca.
"Tunggu sebentar disini!! Saya akan memanggil orangnya disini." Ucap Bapak kepala direktur itu.
Lalu Bapak kepala direktur itu beranjak dari duduknya lalu pergi keluar dari ruangannya.
Sedangkan Meca masih berdiri di ruangan sambil menunggu kedatangan orang yang dimaksud oleh Bapak Kepala direktur.
Meca tidak habis pikir jika Ia dipanggil oleh Kepala direktur hanya untuk mempertemukannya dengan orang yang memberi beasiswa padanya.
Menurut Meca hal itu tidak begitu penting,sampai harus memanggilnya saat pelajaran kuliahnya berlangsung.
Entah kenapa,Meca merasa ada maksud tertentu di balik Ia dipanggil ke ruang kepala direktur saat ini.
"Ini dia orang yang selama ini memberikan beasiswa kepada kamu." Ucap Bapak kepala direktur saat tiba di ruangannya kembali bersama seseorang Ia maksud tadi.
Mendengar suara Bapak kepala direktur itu,Meca pun langsung menoleh ke belakang.
Betapa terkejutnya Meca saat mengetahui jika orang yang ada disamping Bapak Kepala direktur itu adalah orang yang Ia kenal baru-baru ini. Apalagi,Bapak kepala direktur tadi mengatakan jika orang yang disampingnya itu adalah orang yang selama ini memberikan beasiswa padanya.
"Senang bisa bertemu kembali." Ucap orang yang berada di samping Bapak kepala direktur itu sambil menunjukkan senyum jahatnya.
Ya,Meca masih mengenal betul dengan senyuman jahat orang itu. Peringainya,sikap,dan perilakunya masih terlintas di benak Meca.
Siapa lagi kalau bukan Ayahnya Bimo.
Kira-kira apa yang akan dilakukan Ayahnya Bimo pada Meca ?
Ikuti terus ceritanya ya ๐
Jangan Lupa klik ikon ๐๐ปuntuk menaikkan popularitas novel saya.
Happy reading ๐