ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 156



Hari ini,saatnya Bimo untuk pergi kuliah di kampusnya yang ada di Amerika.


Pagi ini,Bimo menjalani hari dengan lesu dan tubuhnya terasa lelah.


Bagaimana tidak?


Kemarin malam,Ia tidak bisa tidur nyenyak karena terus memikirkan Meca dan Rengga,yang Ia duga sedang bersama.


Ia terus berpikir negatif tentang mereka berdua itu.


Sebenarnya,Bimo tak mau berpikir negatif pada Meca,tetapi mau bagaimana lagi rasa cemburunya dan kesalnya sudah membabi buta di hatinya.


Apalagi,saat Ia mendapati jika ponselnya Meca langsung tidak aktif setelah Meca ketahuan jika sedang bersama Rengga.


Beberapa kali telah Bimo coba untuk menelepon Meca. Tetapi,hasilnya tetap nihil. Tidak ada satupun,panggilan telepon darinya yang terjawab oleh Meca.


Hal itulah,yang membuat Bimo tidak cukup tidur tadi malam.


Padahal,keesokan harinya Ia harus masuk kuliah pertama di kampus yang telah di pilihkan oleh Ayahnya.


Setelah menjalankan rutinitas pagi seperti biasa. Lalu,Bimo pun langsung bergegas pergi ke kampus.


Waktu pertama masuk kuliah,Bimo pun diantarkan oleh Ayahnya sendiri.


Karena baru pertama kali,pasti Bimo belum mengetahui letak pasti kampus yang dipilihkan Ayahnya itu. Maka dari itu,Ayahnya memutuskan untuk mengantar putranya itu.


Tak butuh waktu lama,akhirnya sampailah Bimo ke kampus yang Ayahnya maksud.


Begitu sampai,Bimo pun langsung keluar dari mobil Ayahnya dan berpamitan kepada


Ayahnya.


Setelah Ayahnya pergi,baru Bimo berjalan masuk ke dalam kampus tersebut.


Memang jika dilihat kampus yang akan Bimo tempati ini,kualitas tempat dan peralatan mengajar disana lebih bagus daripada tempat kampusnya dulu.


Itulah,mengapa Ayahnya dari dulu memintanya untuk kuliah di luar negeri.


Usai kelasnya telah selesai,Bimo pun langsung keluar dari ruang kelas kampusnya.


Ia pun tak berniat untuk mencari teman asing di kampusnya ini. Ia pun juga tak menyapa teman-teman satu kelasnya.


Ia menjadi pendiam dan antisosial saat di Amerika.


Walaupun Bimo tak ingin bergaul dengan teman asing,tetapi banyak orang yang mendekatinya khususnya para perempuan.


Kebanyakan dari mereka ingin berkenalan dengan Bimo karena ketampanannya.


Menanggapi hal itu,Bimo pun hanya bisa menolaknya dengan cara yang baik.


Walaupun menggunakan cara yang baik,tapi banyak yang menyebutnya sombong karena enggan berkenalan dengan mereka.


Bimo pun tak mempermasalahkan hal itu,saat ini Ia hanya ingin menjaga hatinya untuk Meca semata.


Ia berharap Meca juga akan melakukan hal yang sama sepertinya disana.


*******


Meca teringat jika malam ini,Ia tidak bisa pulang ke rumah dan harus menemani Ibunya Rengga untuk menjaga Rengga.


Maka dari itu,Ia harus mengabari Ibunya supaya Ibunya tidak mengkhawatirkannya.


Meca pun mencoba mencari ponselnya di tas ransel kecilnya.


Setelah dicari,Ia tak menemukan ponselnya tersebut.


Meca pun mencoba mengingat dimana kali terakhir Ia membawa ponselnya.


Ia ingat ponselnya kali terakhir Ia gunakan saat Bimo menelepon dirinya.


Lalu,Meca pun langsung terpikirkan jika ponselnya tertinggal di dalam ruang inap Rengga. Tetapi,untuk letak pasti ponselnya itu,Meca masih belum mengingatnya.


Akhirnya Meca pun memutuskan untuk mencari ponselnya di ruang inap Rengga setelah Ia keluar dari toilet nanti.


Sesampainya di ruang inap Rengga,Meca pun langsung mencari-cari ponselnya di setiap sudur ruangan tersebut.


Dari meja,kursi tunggu dan kursi sofa yang ada di sebelah pojok ruangan inap Rengga.


"Elo sedang cari apa?" Tanya Rengga setelah mendapati Meca yang terlihat kebingungan.


"Apa gue ganggu istirahat Elo?"


"Enggak. Gue tadi cuma memejamkan mata aja. Elo cari apa?"


"Gue sedang cari ponsel gue. Elo tahu nggak ada dimana?soalnya gue cari tetap aja nggak ada."


Meca pun langsung mengiyakan pertanyaan Rengga. Memang benar,jika ponsel yang di pegang Rengga itu adalah ponsel miliknya.


Meca pun langsung mengambil ponselnya yang berada di tangan Rengga dengan segera.


Saat Ia akan membuka ponselnya,ternyata ponselnya tengah mati.


"Kenapa ponsel gue mati?" Gumam Meca.


"Oh...itu baterainya habis." Ucap Rengga tiba-tiba.


"Masa? Kok Elo tahu?" Tanya Meca.


Rengga pun tampak terdiam sesaat untuk memikirkan alibinya.


Setelah berhasil menemukan alibi yang tepat,dengan segera Rengga menjawab pertanyaan Meca.


"Tadi,gue mau lihat waktu di ponsel Elo. Ternyata,saat gue mau lihat ponsel Elo udah mati. Mungkin,aja baterainya habis."


Mungkin itu adalah alibi yang tepat untuk membuat Meca lebih percaya kepadanya.


Rengga terpaksa berbohong karena Ia tak mau jika nanti Meca membuka ponselnya,Meca akan tahu bahwa Bimo terus meneleponnya. Setelah tahu Bimo meneleponnya,pasti Meca akan menelepon balik Bimo. Itulah yang tidak Rengga inginkan,karena hal itu bisa merusak kebersamaannya dengan Meca nanti.


"Oh..gitu. Tapi,gue nggak bawa charger. Apalagi,gue harus mengabari Ibu gue." Ucap Meca dengan cemas.


"Jangan bingung!! Nanti kan bisa minta Ibu gue untuk telfon Ibu Elo." Ucap Rengga sambil tersenyum tipis.


"Ya udah kalau begitu. Tapi,ngomong-ngomong dimana tante? Dari tadi gue nggak lihat."


"Ibu gue lagi mengurusi biaya adminitrasi rumah sakit gue." Sahut Rengga.


Meca pun hanya menganggukkan kepalanya menanggapi perkataan Rengga.


Tiba-tiba Rengga berusaha bangun dari berbaringnya.


Meca pun sempat terkejut karena kondisi Rengga yang masih belum stabil untuk bangun dari istirahatnya pasca operasi.


"Kenapa Elo mau bangun? Elo kan harus banyak istirahat." Ucap Meca dengan cemas.


Dengan segera Meca pun langsung duduk di kursi sebelah ranjang tempat tidur Rengga dan membantunya supaya Ia tidak jatuh.


"Gue nggak apa-apa kok. Gue lelah kalau tiduran terus." Ucap Rengga.


"Tapi,Elo kan habis operasi. Elo nggak boleh banyak gerak." Ucap Meca.


Rengga pun tersenyum senang mendapat perhatian dari Meca.


"Gue merasa kalau sakitnya gue ini,membawa berkah untuk gue." Ucap Rengga sambil tersenyum senang.


Meca pun tampak kebingungan dengan maksud perkataan Rengga tersebut.


Lalu Ia pun bertanya "Membawa berkah? Elo harusnya bersyukur dapat selamat. Tapi,Elo malah bilang ini semua berkah."


Rengga tampak tersenyum saat akan menyanggah ucapan Meca.


"Bisa berduaan sama Elo adalah berkah. Gue sangat senang."


"Apa?" Tanya Meca.


"Gue akan terus berjuang untuk dapatin hati Elo. Itu yang gue rasakan saat ini." Ucap Rengga sambil tersenyum manis.


Meca pun tak bisa menanggapi perkataan Rengga tersebut.


Ia bingung harus bagaimana jika Rengga terus menyatakan perasaanya padanya.


Sebenarnya Meca tak ingin memberi harapan pada Rengga atas hatinya.


Tetapi,mau bagaimana lagi Ia tak mampu untuk menghentikan Rengga untuk berharap pada hatinya.


Kini apa yang harus dilakukan Meca?


Di lain sisi,Meca tak mau Rengga terus berharap padanya. Apalagi sudah jelas Meca tak bisa mencintai Rengga. Sayangnya,hatinya telah tertutup oleh Bimo seorang.


Tetapi,di lain sisi Meca juga tak ingin menyakiti hati Rengga dengan cara menolaknya atau berkata jujur tentang perasaanya.


*******


Gimana menurut readers perilaku Meca??


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘untuk menaikkan popularitas novel saya....๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Happy reading ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ