ALWAYS COOL GIRL

ALWAYS COOL GIRL
Bab 158



Tak memakan waktu yang lama,akhirnya sampailah Meca ke rumah sakit.


Kebetulan kondisi jalanan tidak begitu ramai,karena di siang hari bolong seperti ini banyak orang yang istirahat dari rutinitasnya dan tak banyak orang yang keluar rumah untuk berkendara.


Maka dari itu,mudah untuk segera sampai di rumah sakit.


Begitu sampai,pastilah Meca langsung menuju ke ruang inap Rengga.


Kini,Meca sudah di depan ruang inap Rengga. Lantas,Ia pun langsung memutar gagang pintu ruang inap Rengga lalu langsung masuk ke dalam ruang inap tersebut.


Saat Meca masuk,ruang inap Rengga tampak sepi. Hanya ada Rengga seorang di ruangan tersebut.


Dan lagi-lagi Ibunya Rengga tidak ada saat Ia tengah menjenguk Rengga di ruangannya.


Tetapi,Meca tak mau berprasangka buruk lagi kepada Ibunya Rengga.


Ia pun memutuskan untuk bertanya kepada Rengga.


Begitu melihat Meca sampai,Rengga pun langsung bangun dari berbaringnya.


"Mec,Elo sudah sampai." Ucap Rengga sambil tersenyum bahagia.


"Iya. Oh...ya. Tante dimana,kok nggak kelihatan?" Tanya Meca sambil berjalan menghampiri tempat tidur Rengga.


"Ibu gue pulang untuk mengambil baju ganti." Sahut Rengga.


Meca pun mengangguk-angguk mengerti.


Ya,mungkin ada sebuah alasan mengapa Ibunya Rengga selalu tidak ada saat Ia menjenguk Rengga.


Seperti saat ini,Ibunya Rengga memintanya menjaga Rengga karena Ia akan pulang untuk mengambil baju ganti.


Mulai dari sekarang,Meca tak mau lagi berprasangka buruk kepada Ibunya Rengga.


"Mec!


Panggilan dari Rengga,membuat lamunan Meca membuyar. Ia pun langsung menoleh ke arah Rengga.


"Kenapa?"


"Gue boleh minta bantuan ngga?"


"Bantuan apa?"


"Gue mau keluar ke taman untuk menghirup udara segar. Gue bosan disini terus. Elo mau ngga bawa gue kesana?"


"Mau aja sih. Tapi,emang nggak apa-apa,kan Elo masih dalam kondisi pemulihan?


"Gue sudah sehat kok. Kepala gue juga nggak sakit. Gimana?"


Meca tampak berpikir sejenak,Ia masih bingung dan takut untuk mengiyakan permintaan Rengga tersebut. Ia takut jika terjadi apa-apa dengan Rengga.


"Tapi,gimana kalau...tante...


"Tenang aja!! Gue sudah izin sama Ibu gue."


Meca pun akhirnya hanya bisa pasrah menuruti permintaan Rengga. Ia sudah tak bisa lagi membuat alasan untuk menolak permintaan dari Rengga tersebut.


Meca berharap tidak akan ada sesuatu hal yang terjadi saat membawa Rengga nanti ke taman.


"Ya udah. Bentar,gue ambil kursi roda dulu!"


Rengga pun menyahuti perkataan Meca dengan anggukan kepalanya sambil tersenyum senang.


Tak butuh waktu lama,Meca pun akhirnya kembali dengan mendorong kursi roda di kedua tangannya.


Meca pun membantu Rengga untuk beralih duduk di kursi roda dengan hati-hati.


Setelah berhasil menempatkan Rengga di kursi roda,tak lupa Meca mengambil infus yang terhubung dengan tangan Rengga.


Lalu,Meca pun mendorong kursi roda tersebut untuk keluar menuju taman.


Tibalah Meca dan Rengga di taman rumah sakit ini. Begitu sampai,Meca pun langsung duduk di kursi taman dan Rengga tetap di kursi rodanya.


Taman di rumah sakit ini seperti taman umumnya,semua tampak hijau karena banyak pohon berada di taman tersebut. Belum lagi rumput hijau yang tertata rapi di atas tanah. Membuat suasana menjadi tenang dan nyaman.


Entah kenapa saat berada di taman ini,Meca jadi teringat kebersamaannya dengan Bimo di taman rumah Bimo lalu.


Saat itu,Ia banyak mendengar masa lalu Bimo dan kehidupannya.


Ia begitu tertarik dengan apa yang diceritakan oleh Bimo. Sampai Ia lupa waktu karenanya.


Tiba-tiba rasa rindunya dengan Bimo mulai tumbuh di hatinya. Seolah-olah Meca lupa jika Rengga sedang ada di sampingnya.


Parahnya,Ia malah memikirkan Bimo tanpa menghiraukan keberadaan Rengga.


"Mec!


"Meca!!


Dua kali Rengga memanggil Meca,tetapi tidak ada sahutan satu pun darinya.


Meca malah tampak melamun sambil tersenyum tipis.


Rengga bertanya-tanya di dalam batinnya,kira-kira apa yang tengah di pikirkan oleh Meca sampai tersenyum-senyum sendiri dan tak menghiraukannya saat Ia memanggil namanya??


Lalu,Rengga pun memutuskan untuk menyenggol lengan Meca dengan pelan agar Meca tidak melamun lagi.


"Mec! Panggil Rengga dengan pelan sambil menyenggol lengan Meca dengan pelan juga.


Meca pun langsung terkejut saat Rengga menyenggolnya. Ia pun refleks menengok ke arah Rengga sambil bertanya " Kenapa?"


"Elo lagi mikirin apa?"


Tak mungkin,bila Meca harus jujur jika Ia tengah memikirkan Bimo di hadapan Rengga. Apalagi,Ia tahu kalau Rengga sangat suka kepadanya. Meca pun memilih untuk berbohong meskipun terlihat gugup saat menjawab pertanyaan Rengga tadi.


"Mec!! Maaf,sudah repotin Elo untuk bolak-balik ke rumah sakit demi jagain gue."


"Nggak apa-apa kok. Gue senang bisa menjaga Elo."


Ucapan yang baru dilontarkan oleh Meca barusan sangat membuat Rengga berpikiran lebih terhadap Meca.


Ia berpikir jika Meca mulai membuka hatinya sedikit untuknya.


Ia pun tersenyum sambil menanyakan kembali perkataan Meca barusan.


"Elo senang bisa jagain gue?"


Meca pun merasa aneh dengan situasi saat ini. Tatapan mata Rengga menandakan jika Ia sedang bahagia.


Tunggu,apa ada yang salah dengan perkataannya?


Kenapa Rengga terlihat begitu senang??


Meca pun segera meluruskan perkataannya tadi sebelum Rengga berharap lebih hanya karena perkataannya yang dibilang cukup romantis. Padahal,menurut Meca perkataannya tadi hanyalah ucapan biasa dan tak mengandung arti tersirat. Tetapi,beda lagi artinya jika diterima oleh orang yang tengah jatuh cinta seperti Rengga.


"Maksud gue,gue senang bisa membantu Ibu Elo untuk jagain Elo. Kan,Ibu Elo lagi sibuk."


"Jadi,Elo nglakuin ini semua demi Ibu gue?" Tanya Rengga dengan raut wajah yang muram,beda sekali dengan sebelumnya.


Meca pun terdiam sesaat,Ia merasa serba salah saat ini.


Meca merasa perkataannya selalu membuat Rengga salah paham.


Kini,Meca harus mencari jawaban yang tepat agar tidak membuat salah paham lagi padanya.


"Ya demi Elo juga. Lagipula,Elo kan juga teman gue. Kalau teman harus saling tolong-menolong." Ucap Meca sambil tersenyum.


Rengga pun terdiam setelah mendengar penjelasan dari Meca. Raut mukanya masih terlihat muram,setelah Meca lagi-lagi mengatakan jika Ia hanyalah temannya saja.


Lima menit berlalu,tetapi Rengga tetap diam dan tak mau mengajak bicara Meca.


Tak mau dalam situasi aneh seperti ini,Meca pun memikirkan sesuatu hal yang baik untuk dibicarakan agar situasi aneh seperti ini tidak berlanjutan.


Ia mencoba berpikir dengan keras.


Tiba-tiba Meca teringat dengan kejadian kemarin yaitu mengenai ponselnya.


Ya,Ia ingin bertanya kepada Rengga tentang ponselnya.


Meca ingin tahu alasan,mengapa Rengga berbohong kepadanya jika baterai ponselnya telah habis.


"Rengga!! Apa Elo ingat apa yang terjadi dengan ponsel gue kemarin? Soalnya,waktu Elo bilang baterai gue habis ternyata setelah gue cek baterai gue masih cukup penuh. Gue bingung kenapa ponsel gue mati,sedangkan baterainya masih banyak. Gue takut kalau ponsel gue rusak.


Apa Elo lihat sesuatu yang terjadi di ponsel gue,sebelum ponsel gue mati?"


Bagai petir di siang bolong,Rengga pun sungguh terkejut dengan pertanyaan Meca tersebut. Ia merasa bingung dan gugup untuk menjelaskan apa yang telah terjadi.


Ia yakin,pasti Meca sudah merasa curiga terhadapnya.


Apa yang harus Ia katakan untuk menjawab pertanyaan Meca tersebut??


Apa Ia harus pura-pura tidak tahu tentang ponselnya Meca??


Ya,mungkin itu bisa untuk mengelabuhi Meca sesaat.


"Masa?? Gue nggak tahu soal itu. Karena saat gue mau pakai,ponsel Elo sudah nggak nyala. Gue kira,baterai ponsel Elo sudah habis." Jawab Rengga dengan senyum yang dipaksakan.


"Tapi,kenapa Elo lihat jam di ponsel gue. Bukannya di ruangan ada jam dinding?"


Rengga pun seperti mati kutu. Lagi-lagi pertanyaan Meca membuat Ia gugup dan takut akan menjawabnya. Kini,Ia harus memutar otak kembali untuk menemukan jawaban yang tepat atas pertanyaan Meca tersebut.


Ia berpikir sampai kepalanya mulai merasa sakit. Anehnya,rasa sakitnya semakin kuat di setiap detiknya.


Apa ini akibatnya karena Ia terlalu berpikir terlalu keras demi mengelabuhi Meca?


Otaknya yang baru akan pulih pun seketika kambuh kembali.


Rengga pun merasa tidak kuat lagi,Ia merasa sakit yang begitu hebat di area kepalanya.


Ahggg.....ahgg....


Meca pun terkejut setelah mendengar erangan kesakitan dari mulut Rengga.


Meca pun langsung menoleh ke arah Rengga dengan muka panik.


"Elo kenapa,Reng??"


"Kepala gue sakit,Mec. Ahgg.." Ucap Rengga sambil memegang kepalanya yang terasa sakit.


"Tolong!! Disini ada yang kesakitan!!" Teriak Meca kepada orang-orang yang tengah berada di taman. Ia berlari ke sekumpulan orang yang berada di taman untuk meminta tolong.


Rengga pun sudah tak kuat lagi menahan rasa sakitnya,lama-kelamaan penglihatannya pun mulai gelap dan akhirnya Rengga pun jatuh pingsan di kursi rodanya.


********


Karma is real for Rengga?๐Ÿค•๐Ÿค•


Nantikan terus kelanjutan ceritanya.....๐Ÿ˜„๐Ÿ˜„


Jangan lupa klik ikon ๐Ÿ‘untuk menaikkan popularitas novel saya....๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Happy reading ๐Ÿฅฐ๐Ÿฅฐ