
Walaupun wajah laki-laki tampak tidak asing baginya karena hampir setiap hari Ia bertemu dengan laki-laki tersebut.
Siapa lagi kalau bukan Bimo Ardiansyah.
Bimo pun menghampiri Meca yang sedang berdiri mematung menatap Bimo.
"Elo masih deg-deg an ya?" Tanya Bimo pada Meca sambil menaikkan kedua alisnya.
"Enggak. Mau apa lagi sih Kak?" Tanya Meca kesal.
"Elo belum ngucapin terima kasih ke gue." Jawab Bimo.
"Te ri ma ka sih Kak." Kata Meca sambil mengeja perkataannya pada Bimo karena sudah kesal.
"Gue nggak mau ucapan aja. Gue mau Elo ikut sama gue pergi ke suatu tempat yang pernah Elo ingin kunjungi." Kata Bimo.
"Gue nggak bisa. Gue harus kerja di toserba." Kata Meca sambil melangkahkan kakinya hendak pergi meninggalkan Bimo,tetapi ditahan oleh Bimo.
"Tunggu dulu dong! Jam kerja Elo kan masih nanti siang Mec. Elo pulang lebih awal dari kampus kan gara-gara kabur tadi. Yang bantu Elo kabur siapa kalau bukan gue. Jadi Elo harus balas budi sama gue." Kata Bimo panjang lebar.
"Iya deh iya. Beneran mau ke tempat yang pengen gue kunjungi?" Tanya Meca meyakinkan Bimo.
"Iya. Memangnya kenapa kok Elo tanya gitu?" Tanya Bimo penasaran.
"Nggak apa-apa kok. Ya udah,ayo!" Kata Meca sambil masuk ke dalam mobil Bimo tanpa dipersilahkan oleh Bimo.
"Hei! Elo langsung masuk aja gitu ke mobil gue." Heran Bimo pada Meca.
"Jangan cerewet! Ayo berangkat sekarang,gue nggak punya waktu banyak." Teriak Meca yang ada di dalam mobil Bimo.
Bimo hanya menghembuskan nafasnya pelan menghadapi perilaku Meca yang sangat menyebalkan padanya.
Bimo pun akhirnya memutuskan untuk masuk mobil bersama Meca.
"Alamat tempat yang ingin Elo kunjungi dimana?" Tanya Bimo.
"Bentar,gue share alamatnya ke Kakak." Jawab Meca sambil mengambil handphonennya di saku celananya untuk mengeshare alamat yang Meca maksud.
Tak lama,Bimo menerima pesan alamat dari Meca.
Setelah melihat alamat itu,Bimo langsung menghidupkan mesin mobilnya untuk menuju ke alamat yang Meca maksud.
Setelah itu Bimo dan Meca berangkat.
Selang beberapa lama,Bimo dan Meca pun sampai di tempat yang ingin Meca kunjungi.
Sebuah tempat yang mempunyai udara yang sejuk dan pemandangan yang indah yaitu dataran tinggi yang dikelilingi pegunungan serta bukit-bukit.
Meca sangat suka tempat yang sejuk dan tenang seperti pegunungan.
Tempat yang belum dicampuri oleh tangan manusia.
Setelah sampai,Meca dan Bimo segera keluar dari mobil.
"Jadi,Elo pengen ke dataran tinggi gini?" Tanya Bimo.
"Iya, gue memang suka udara sejuk dan suasana tenang kayak gini." Jawab Meca.
"Kalau Elo mau kesini,Elo harus ajak gue!" Kata Bimo sambil jalan pergi mendahului Meca.
Meca menanggapinya dengan menyengirkan mulutnya karena heran pada Bimo.
Bimo dan Meca pun memilih tempat duduk yang sedikit dekat dengan sebuah danau sekitar pegunungan tersebut.
Mereka duduk di kursi kayu yang bercat biru tua.
"Biasanya Elo nglakuin apa ke tempat ini?" Tanya Bimo
"Menghirup udara segar disini,melihat pemandangan,memfoto pemandangan. Itu yang biasanya gue lakuin disini." Jawab Meca.
"Elo suka nglakuin hal yang membosankan seperti itu?" Tanya Bimo dengan nada bicara yang mengejek.
"Membosankan? Kak,Elo nggak tahu cara menikmati ketenangan ya?" Tanya Meca dengan nada bicara yang agak kesal.
"Menikmati ketenangan? Apaan tuh?" Tanya Bimo bingung.
"Gini carannya,pertama tutup mata terus hirup udara yang segar disini dengan pikiran yang tenang. Dengan cara ini Kakak bisa menikmati ketenangan." Kata Meca sambil mempraktekkan apa yang Ia ucapkan.
Bimo yang melihat wajah Meca yang tenang dengan sedikit senyum di wajahnya membuat Bimo merasa tenang dan nyaman saat memandang wajah Meca yang seperti itu.