
Setelah beberapa menit di angkot,akhirnya Meca turun di jalanan sekitar toserbanya.
Ia pun berlari ke arah toserbanya.
Setelah sampai di depan tosebarnya,Ia bertemu dengan bapak pemilik toserba dan menyapanya.
"Pak,apa saya terlambat lagi?" Tanya Meca dengan ngos-ngosan karena berlari.
"Enggak. Tepat waktu kok. Kamu kenapa harus lari-lari gini? Apa kamu diganggu lagi sama penjahat saat di jalan?" Tanya Bapak pemilik toserba.
"Syukur kalau nggak terlambat. Saya lari bukan karena digangguin penjahat jalan lagi,melainkan saya takut terlambat lagi pak." Jelas Meca.
"Oh...begitu. Ya udah kamu masuk sana!" Kata Bapak pemilik toserba.
"Iya Pak." Jawab Meca lalu berjalan masuk ke toserba.
Meca pun langsung memakai rompi seragam kerja.
Ia mulai mengerjakan tugasnya sebagai karyawan toserba.
Beberapa waktu,Pelanggan berdatangan dan Meca melayaninya.
"Mbak kasir!" Panggil pelanggan pada Meca yang sedang merunduk ke bawah untuk menata barang di tempat kasir.
Mendengar panggilan itu,Meca langsung berdiri tegak.
"Rengga? Bukannya Elo masih kuliah? Kok malah kesini?" Tanya Meca.
Pelanggan yang memanggilnya itu adalah Rengga.
Rengga masih tak menyerah untuk menemui Meca,bahkan Ia pergi ke tempat kerja Meca untuk sekedar menemuinya.
"Gue bolos kuliah." Jawab Rengga dengan mudahnya.
"Apa! Jadi,Elo bolos cuma gara-gara mau nemuin gue aja?" Tanya Meca.
"Mec,gue nyariin Elo ada yang mau gue omongin sama Elo." Kata Rengga.
"Omongin apa?" Tanya Meca.
"Soal rencana perjodohan kita." Jawab Rengga.
"Oh...tentang itu. Elo nggak usah khawatir tentang perjodohan itu,rencana perjodohan gue sama Elo itu udah dibatalin." Kata Meca.
"Gue udah tau soal itu." Kata Rengga.
"Gue mau tanya sama Elo. Elo yakin mau batalin rencana perjodohan itu?" Tanya Rengga balik.
Meca sedikit bingung dengan pertanyaan Rengga.
Meca pikir Rengga akan senang jika perjodohan antara Ia dan Rengga dibatalkan,tetapi dilihat dari reaksi Rengga saat perjodohan itu dibatalkan malah Ia terlihat ragu-ragu akan keputusan itu.
"Iya lah. Gue nggak suka sama yang namanya perjodohan. Kalau bisa gue milih jodoh gue sendiri. Elo sendiri juga nggak suka kan kalau dijodohin sama orang yang nggak Elo cintai?" Tanya Meca.
"Iya bener apa kata Elo. Tapi,gue nggak tahu kenapa saat denger perjodohan itu dibatalin gue ngerasa sedih." Jawab Rengga.
"Jadi,sebenarnya apa maksud Elo ngomongin soal perjodohan ini sama gue. Gue semakin bingung?" Tanya Meca dengan bingungnya.
"Gue mau Elo nggak batalin perjodohan itu,karena..." Kata Rengga terpotong karena didahului oleh suara teriakan dari seseorang yang baru saja masuk ke dalam toserba.
"Meca!" Teriak Bimo saat memasuki toserba.
Meca dan Rengga pun menoleh ke arah Bimo secara bersamaan.
Bimo pun menghampiri Meca dan Rengga ke tempat kasir.
"Apa yang kalian bicarakan tadi?" Tanya Bimo.
Meca dan Rengga hanya diam dan saling pandang satu sama lain.
Saat Rengga akan menjawab pertanyaan Bimo,Meca langsung angkat bicara.
"Enggak ngomong apa-apa kok." Jawab Meca.
"Jangan bohong! Apa laki-laki ini nyatain cinta ke Elo?" Tanya Bimo.
"Enggak Kak. Huh...Ok,tadi Rengga cuma mau minta maaf soal ninggalin gue sendiri di jalanan yang sepi itu. Ya kan Reng?" Bohong Meca sambil mengode Rengga agar mengiyakan pertanyaannya dengan memasang wajah yang memelas.
Melihat Meca seperti memohon dengannya,Rengga pun mengiyakan pertanyaan Meca dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Meca bernapas lega saat tahu Rengga menolongnya.
Meca terpaksa membohongi Bimo karena belum siap untuk cerita kepada Bimo tentang perjodohannya dengan Rengga. Toh,kalaupun cerita juga tidak ada gunannya karena rencana perjodohannya dengan Rengga sudah dibatalkan. Jika Ia cerita sekarang,pasti Bimo akan mengajukan pertanyaan yang banyak sekali pada Meca melebihi seorang wartawan.
Meca tahu Bimo akan cemburu dan marah jika tahu soal perjodohannya dengan Rengga karena Bimo menyukai Meca.
Menurut Meca,Saat ini Ia sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Rengga. Ia menganggap Rengga hanya sebagai teman saja.