
Setelah itu Sina pun kembali masuk ke dalam rumahnya.
Sina langsung menuju kamarnya untuk menyelesaikan cerita novel yang dibuatnya.
Setelah sampai kamarnya,Sina pun langsung mengambil laptopnya yang berada di atas meja.
Ia mengambil laptopnya untuk dibawa ke atas ranjang tempat tidurnya.
Ia pun duduk di tempat tidurnya lalu mulai mengetik kata-kata di laptopnya untuk dibuat cerita novelnya.
Saat Ia mengetik,tiba-tiba Sina mendengar suara tapak kaki seseorang.
Ia berpikir pasti itu Bimo atau Ibunya.
Dia pun tak menghiraukannya dan lanjut mengetik cerita di laptopnya.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu kamar Sina terdengar olehnya.
Ia pun langsung membukanya karena Ia pikir itu Ibunya atau Bimo.
Ia pun menghampiri pintu kamarnya lalu memegang gagang pintu untuk membuka pintu kamarnya.
Saat Ia membuka pintunya, muncul orang yang berpakain serba hitam dengan masker di wajahnya lalu topi dikepalanya. Masker dan topinya itu pun juga hitam. Tiba-tiba orang itu langsung membekap mulut Sina dengan sapu tangan yang sudah diberi racun agar Sina pingsan.
Sina pun terkejut dan sempat melawan orang itu,tetapi Ia sudah tidak ada tenaga karena menghirup racun dari sapu tangan tersebut.
Sina pun jatuh pingsan.
Setelah melihat Sina pingsan,orang berpakaian serba hitam itu mendudukkan Sina lalu mengeluarkan pisau dari saku jaket yang Ia pakai.
Tanpa aba-aba Ia langsung memotong urat nadi di leher Sina.
Sirrr...
Bunyi gesekan pisau yang digoreskan ke leher Sina.
Seketika leher Sina keluar darah banyak.
Orang serba hitam itu beberapa kali memastikan bila Sina benar-benar mati.
Ia memeriksa hembusan nafas dari hidung Sina.
Ternyata Sina masih hidup,orang itu pun mencoba untuk memotong nadi di pergelangan tangan Sina.
Setelah nadi di pergelangan tangan Sina putus,Ia memeriksa lagi hembusan nafas dari hidung Sina.
Orang itu pun tersenyum puas setelah melihat Sina benar-benar mati.
Orang itu pun menggelatakkan Sina begitu saja,lalu Ia membersihkan darah yang bercecer di lantai untuk meninggalkan jejak.
Lalu Orang itu pun keluar dari kamar Sina dan meninggalkan rumah Sina.
Setelah satu jam,Ibu Vina dan Bimo pun pulang ke rumahnya.
Bimo langsung memakirkan mobilnya ke bagasi rumahnya.
Ibu Vina dan Bimo pun turun dari mobil.Lalu mereka masuk ke dalam rumah.
"Kamu taruh belanjaannya disitu dulu,Mama mau kekamar Sina." Kata Ibunya Bimo sambil menunjuk ke meja yang berada diruang tamu.
"Iya Ma..." Jawab Bimo.
Saat Bimo hendak melangkahkan kakinya,tiba-tiba Ia melihat noda merah di lantai rumahnya.
"Noda apa itu?" Gumam Bimo sambil melihat noda merah itu.
Bimo pun berjongkok untuk melihat secara dekat noda merah itu.
Bimo pun mencoba menyentuh dengan jari telunjukknya,tetapi tiba-tiba Ibunya berteriak memanggilnya.
Bimo pun tidak jadi menyentuh noda merah itu dan langsung menghampiri Ibunya yang berteriak memanggilnya itu.
Bimo pun langsung menghampiri Ibunya yang berada di kamar Sina.
Entah kenapa Bimo mulai merasakan perasaan yang tidak enak.
"Ada apa Ma?" Tanya Bimo dengan wajah yang penuh kekhawatiran.
"Sina bim..." Ucap Ibunya Bimo terpotong karena tidak bisa membendung air matanya.
Bimo pun langsung menoleh ke arah Sina.
Bimo pun terkejut bukan main saat melihat Kakaknya terkujur kaku dengan darah yang mengalir dari pergelangan tangannya dan lehernya.
Bimo pun menghampiri Sina dengan perasaan yang campur aduk. Ada perasaan sedih,tak percaya dan terkejut melihat Kakaknya meninggal.
Padahal satu jam sebelumnya,Ia masih berbincang dengan kakaknya,begitu Ia pergi dan kembali Ia langsung melihat kakaknya meninggal.
Bimo pun mencoba menggoyang-goyangkan tubuh Kakaknya yang terbujur kaku itu.Ia berharap dengan cara itu,Ia bisa membuat Kakaknya bangun kembali.
"Kak Sina..bangun Kak..jangan ninggalin aku sama Mama." lirih Bimo sambil meneteskan air matanya yang mulai tidak bisa lagi dibendung.
Sina pun hanya diam dan memejamkan matanya.
Melihat Kakanya diam tanpa bergerak Bimo pun hanya bisa menangis,begitu juga dengan Ibu Vina.
Tolong Like dan Vote 🙁🙁